Kesalahan dan penyesalan
jika saya dapat mengulang waktu? Saya akan menghiraukan semua perkataanaanmu. Jika saya dapat mengulang waktu kembali? Pasti saya tidak akan menyakiti perasaanmu. Jika saja saya tidak berkata dengan emosi? Tentu kejadian ini tidak akan terjadi.
Halo Nama saya Febriyansnyah, biasanya saya di panggil Febri. Saya seorang Guru di sekolah Madrasah, dan merupakan lulusan Bahasa Arab di universitas Negri di Jakarta. Oh iya saya berumur 26 tahun, di umur ini saya mempunyai impian untuk menikah.
Kenapa saya ingin menikah di umur sekarang ini? Hmmm tentu karena saya sudah mampu dan siap menjadi Imam Keluarga.
Yang terpenting, saya sudah menemukan calon yang cocok sebagai pendamping hidup saya.
Namanya fajar hasanah, umurnya 22 tahun. Dia merupakan Guru di madrasah ini juga, tetapi sayangnya Hasanah sudah keluar karena dia mencari perkerjaan yang dekat dengan rumahnya.
Saya bukanlah tipe lelaki yang akan mengajak seorang wanita pacaran. Jika saya suka dan sudah memantapkan hati, saya akan melamarnya.
Tentu saja Fajar bukanlah juga wanita yang ingin di ajak pacaran, saya yakin itu. Oleh karena itu keluarga saya berniat melamarnya malam ini.
“Asalamu’alaikum,” salam saya lalu mengetuk pintu yang sudah terbuka dengan pelan.
“Wa'alaikumsalam, mari masuk..” kata Ayah Fajar. Dia lalu mengizinkan keluarga saya duduk di atas kursi.
Saya lalu membuka percakapan dan niat saya datang kesini.
“Jadi Bapak dan Ibu, niat saya kesini karena ingin melamar Putri Bapak Fajar.” Kata Febri gugup.
“Iya Bapak sudah mendengarnya dari Fajar, tetapi Bapak tidak dapat memutuskannya karena yang menikah bukanlah Bapak tetapi Fajar hahaha,” kata Ayah Fajar melucu lalu mempersilahkan Putrinya berbicara.
“ Sebelum saya menerima lamaran Mas Febri, ada beberapa yang akan sampaikan. Yang pertama, walau saya memakai cadar dan memakai pakaian seperti jubah ini. Saya bukanlah orang yang menundukan pandangan saya, karena saya masih sering melirik lelaki yang melewati saya. yang ke 2, saya memiliki tubuh yang gendut dan beberapa tempat terdapat gumpalan lemak. Yang ke 3, wajah saya tak secantik Kakak saya. dan... yang terakhir....., saya sudah tidak... perawan.” kata Fajar menunduk setelah mengatakan perkataan terakhirnya.
Febrian terkejut mendengar perkataan terakhir Fajar.
Di lalu berkata, “Saya tak masalah dengan yang alasan pertama sampai ke tiga. Tapi perkataan terakhirmu pasti bohong, bukan!?" Tanya saya tak percaya. Fajar hanya diam dan menundukan kepalanya.
“Pak, Fajar pasti berbohong.” Tanyaku kepada pada Ayah Wanita di depanku.
“Febri, semua yang di katakan Fajar jujur. Karena dia tidak mau kamu menyesal setelah pernikahan, karena itu dia mengatakannya," jelas Ayahnya dengan wajah sedih.
Aku lantas kaget dan tidak menerima semua ini. Aku lalu berkata dengan nada menghina, “Saya gak menyangka, wanita yang saya kira suci ternyata kotor. Buat apa kamu menggunakan pakaian seperti itu, sebaiknya kamu melepaskan pakaian itu dan menggantinya menjadi pakaian terbuka. Mungkin yang kamu maksud dari lemak yang menumpuk adalah kehamilanmu, dan Apakah kau menggunakan pakaian itu untuk menutupinya. Haaahhhhh benar-benar wanita kotor..” hina saya.
Tanpa berfikir terlebih dahulu, saya mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Itulah alasan mengapa Allah menciptakan kepala di atas mulu. Supaya sebelum berbicara kita berfikir terlebih dahulu.
Tapi saat itu, saya sungguh terhasut setan dan tak menyesal sama sekali atas perkataan itu.
Perkatanan saya tersebut tentu membuat kaget orang tuanya dan keluarga Fajar. Ayah Fajar ingin berdiri untuk menampar saya tetapi Fajar menahannya dan menggelengkan kepalanya. Bapaknya lalu duduk dan menahan emosinya, lalu dia melihat putrinya yang meneteskan air mata yang terhalang cadarnya.
Aku lalu berdiri dan berkata pada orang tuaku, “Ma, Pa, ayo pulang. Saya gak mau lama-lama di rumah ini,” lalu saya keluar dari rumah itu tanpa permisi terlebih dahulu.
Didepan rumah, samar-samar aku mendengar perkataan orang tuaku.
“Pak, Ibu, Fajar, maafkan perkataan Febri yang sangat kasar, Baiklah kami izin pulang Assalamu’alaikum..”
“Wa'alaikumsalam,” jawab keluarga itu.
Sesampai di rumah, orang tuaku tentu menasehati diriku. Tetapi aku tak memperdulikan perkataan mereka.
Saat ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana diriku bisa jatuh cinta pada wanita seperti Fajar? Sungguh mengesalkan.
Suatu hari, aku sedang berjalan-jalan menenangkan pikiran. Aku lalu mendengar suara ramai lalu mendekatinya.
Suara ramai ternyata berasal dari sebuah mesjid, lalu aku mendekati dan memasuki mesjid tersebut.
Aku duduk di antar para jama'ah, mendengarkan ceramah yang sedang di sampaikan oleh ustadzah setempat..
Ustadzah tersebut membahas tentang berhijab. Dia mengatakan bahwa prempuan wajib menutup aurat. Banyak prempuan berhijab tetapi kelakuannya buruk. tetapi bagaimana kalau dia tak berhijab, mungkin saja kelakuannya bisa lebih buruk. Jadi janganlah salahkan hijab yang di gunakannya, karena hijab itu awal untuk merubah diriya menjadi lebih baik. Dan jika ada seseorang mempunyai salah pada kita, sebaiknya kita tanyai terlebih dahulu “mengapa dia begitu? Dan apa penyebabnya?” baru membuat keputusan.
Diriku yang mendengar perkataan ustad tersebut seketika terketuk. Aku kembali teringat akan perkataanku pada Wanita itu.
Diriku menyadari atas kesalahannya yang telah menghina Fajar, tanpa tahu alasan mengapa Fajar tidak perawan. Karena setan sudah lebih dulu menguasai hatiku.
Sebulan kemudian, akhirnya diriku memberanikan diri ke rumah Fajar. Sesampai disana orang tua Fajar menyambutku dengan baik dan lembut.
Di wajah mereka tidak ada sama sekali kekesalan maupun kekecewaan terhadapku
Aku yang gugup lalu berkata terbata-bata, “Saya kesini.. ingin meminta maaf.. pada keluarga.... terutama pada Fajar,”
Kulihat Ayah Fajar senyum mendengar perkataanku kemudian dia berkata, “Kami sekeluarga sudah memaafkanmu, terutama Fajar..”
“..jika boleh bertanya, saya ingin tahu, mengapa Fajar tidak Perawan?” tanyaku to the point.
Mereka kembali tersenyum, lalu Pria tua itu mempersilahkan Istrinya untuk berbicara.
“Penyebabnya dia terjatuh dari sepeda, karena rasa takutnya besar dia tidak berani untuk di jahit..” Kata Ibu Fajar mengingat kejadian beberapa tahun silam.
Mendengar itu diriku kaget, aku benar-benar salah sangka pada Wanita itu.
"Maaf!" seruku kembali dengan suara lirih.
Aku yang sangat bersalah pada Fajar lantas ingin meminta maaf secara langsung pada Wanita itu.
"Bapak, boleh saya bertemu dengan Fajar?" pintaku pada Pria tua itu.
“Maaf ya nak Febri, Fajar tidak ada..” beritahu Pria itu.
"Dia sedang pergi bersama calon suaminya dan juga adiknya,” lanjutnya
Aku yang mendengar prihal calon suami kembali kaget. Pria itu lalu menceritakan bahwa tiga minggu yang lalu datang seorang lelaki melamarnya, dan lelaki tersebut menerima semua kekurangan Fajar. Mereka juga sudah menetapkan tanggal pernikahan mereka.
Diriku sungguh terpukul dengan apa yang aku dengar. Seandai saat itu, aku mendengar terlebih dahulu penjelasan Fajar sebelum diriku berkata yang tidak sepantasnya.
Jika seandainya aku dapat memutar waktu, aku ingin kembali kemasa aku melamarku. Mungkin, kamu bisa menjadi tulang rusukku. Sayangnya kamu sudah akan menjadi tulang rusuk lelaki lain yang lebih menerimamu dari pada aku.