Pukul 00.00 wib, ketika semua orang sudah terlelap dalam tidurnya. Akira malah mengendap-endap keluar dari rumahnya. Diluar melihat pagar yang terkunci dengan gembok ia nekat untuk memanjat pagar dan segera melarikan diri.
Disepanjang jalan yang sudah nampak sepi, Akira terlihat menggigil karena udara yang memang cukup dingin kepalanya celingukan seperti mencari sesuatu hingga tiba-tiba..
"Hey," sapa seseorang.
Akira menoleh kearah sumber suara kemudian bibirnya membentangkan senyuman.
"Hiro!!" Katanya dengan nada bahagia.
"Pasti kamu manjat pagar lagi ya," tanya Hiro.
Akira terkikik sebentar kemudian menarik tangan Hiro dan mereka pun berlari bersama. Lalu memutuskan untuk berdiam diri di sebuah taman. Dua anak remaja yang tengah di mabuk cinta itupun merebahkan tubuhnya diantara rerumputan mereka berdua menunjuk bintang-bintang sambil menebar harapan.
"Aku yakin suatu saat kita bisa lebih dekat sedekat bintang di sana," Kata Akira sembari menunjuk dua bintang yang saling berdekatan.
Hiro tersenyum, kemudian jarinya menunjuk kearah bintang yang berdiri sendirian namun cahayanya lah yang paling terang.
"Kamu lihat bintang itu?" Tanyanya.
Akira menoleh sebentar ke wajah kekasihnya itu lalu kembali memandang kearah langit.
"Iya aku melihatnya."
"Suatu saat jika masa ini sudah habis dan kamu merindukanku, carilah bintang yang seperti ini karena di sana akan ada aku."
Suasana hening seketika saat Hiro mengucapkan kalimat tadi. Akira terbangun dan terlihat melamun.
"Aku nggak mau kamu jadi bintang di atas sana aku hanya ingin kamu menjadi milikku di dunia ini hari ini, esok dan seterusnya."
Hiro merangkul bahu Akira.
"Aku mencintaimu dan akan terus seperti itu meskipun nantinya aku tiada aku akan tetap hidup, disini! di hatimu," tegasnya.
Akira menatap dalam-dalam kedua bola mata kekasihnya itu hingga tanpa sadar ia menitikkan air mata yang kemudian segera Hiro seka.
"Kita pulang yuk! sudah terlalu malam aku takut mama dan papamu khawatir," ajak Hiro.
Akira mengangguk pelan kali ini anggukannya terlihat begitu berat.
°°°
Sama dengan malam sebelum nya malam-malam berikut nya selalu mereka lalui dengan tawa dan bahagia meskipun terkadang terselip rasa kecewa yang mendalam di hati keduanya.
Hingga tak terasa sudah 40-Hari mereka bertemu dengan cara seperti ini.
Malam ini Akira kembali melakukan aksinya demi sang kekasih. Kali ini ia kembali ke taman waktu itu, matanya berusaha mencari sesuatu sambil terus berjalan di sekitar taman ia terus memanggil nama sang kekasih.
"Hiro.. Hiro.. kamu dimana? Hiro.. Jangan nakutin aku dong aku udah takut nih."
Akira terus mengitari taman yang penuh dengan bunga, sembari terus mencari-cari keberadaan kekasih nya.
"Dooorr!!!" Teriak Hiro mengagetkan Akira.
aaaaaaa
plakk!!
Akira yang reflek langsung menghadiahkan kekasihnya itu dengan sebuah pukulan.
Bukannya marah Hiro malah tertawa dan mencubit kedua pipi Akira.
"Maafin aku ya," ucapnya.
Bibir Akira yang mungil itu dikerucutkan, matanya sendiri ia sipitkan.
"Kebiasaan deh selalu aja ngagetin aku, hobi banget ya kamu."
"Iya-iya maaf, oh ya aku punya hadiah nih buat kamu."
"Ah apa?" Tanya Akira bahagia dan penasaran.
"Tutup mata dulu."
Akira mengangguk kemudian menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan ngintip ya awas kalau ngintip hadiahnya aku kasih kucing hehe."
"Iya bawel deh buru aku penasaran tahu!" Jawabnya tak sabar.
Tak lama kemudian...
"Udah belom?"
"Udah kok sekarang kamu boleh buka matamu."
Akira mengangguk lagi, perlahan ia membuka kedua mata, di hadapannya ia melihat Hiro yang menyodorkan setangkai mawar yang ia petik dari taman.
Akira tersenyum bahagia, segera ia raih pemberian kekasihnya itu. Setelahnya Hiro meraih salah satu tangan Akira dan menyematkan cincin ke jari manisnya, sebuah cincin yang ia buat dari tulang daun.
"I love you today, tomorrow and forever," Ucapnya penuh kasih sayang.
Akira sendiri merasa haru, malam ini tangisannya pecah bukan hanya karena bahagia tapi juga karena kecewa sebab malam ini adalah malam terakhir mereka berdua bertemu karena bagaimana pun cinta beda alam tak akan pernah bisa bersatu selamanya di dunia.
Tubuh Hiro perlahan memudar, Akira menangis mencoba menggenggam tapi tak lagi bisa digenggam ia hanya bisa memandangi kekasihnya yang sebentar lagi genap menghilang.
"Selamat tinggal," Ucap Hiro lirih.
Akira diam seribu bahasa tak tahu harus berkata apa. Tangisannya semakin pecah saat Hiro sudah benar-benar pergi.
"Hiro!!!!!" Teriaknya lantang.
Setelah melepas semua kesedihannya, Akira berjalan gontai meninggalkan taman, matanya memandang jalanan yang merenggut nyawa kekasihnya. Ia mengutuk jalan tersebut kemudian bergegas pergi dari sana.
°°°
Malam berikutnya, tak ada lagi kata temu bagi mereka berdua, tapi perkataan Hiro beberapa hari lalu mengingatkannya pada sesuatu. Ia membuka gorden kamarnya dan melihat bintang-bintang di atas sana.
Matanya beredar menatap kearah langit mencari-cari sesuatu hingga ia menemukan sebuah bintang yang berderang paling terang, seperti katanya malam itu bahwa ia akan menjelma menjadi bintang yang paling terang di atas sana. Akira tersenyum, tak kuasa menahan tangis ia pun meneteskan air matanya sambil berkata...
"i miss you!"
°°TAMAT°°
Terimakasih ya yang sudah mampir dukung cerpenku ya dengan cara, like, dan komen^^