Orang-orang akan bahagia begitu hujan turun , mereka akan bermain dibawah rintik hujan yang lembut dan minum coklat panas di saat hujan deras berpetir. Namun beda halnya dengan Amelia , ia gemetaran saat hujan turun dan selalu bersembunyi untuk menghindari suara petir yang menggelegar. Amelia mengalami trauma masa kecil yang membuatnya mengidap "Ombrophobia" . Suatu phobia dimana pengidapnya akan sangat takut terhadap semua hal yang berkaitan dengan hujan.
Sama seperti saat ini , cuaca sedang sangat buruk . Terjadi hujan badai setiap hari namun dengan adanya sang pacar, Gavin yang menemaninya , Amelia tidak akan terlalu takut lagi .
" Sayang , tidak apa-apa . Ada aku disini jangan takut " Gavin memeluk Amelia dan mengelus rambutnya agar Amelia tidak ketakutan.
Semua orang iri dengan Amelia yang memiliki pacar yang mau menerima kekurangannya. Namun mereka juga mengatakan Gavin sangat beruntung karena sang pacar jago memasak . Makan pagi , siang dan malam semuanya disiapkan oleh Amel.
Waktu yang dimiliki Gavin untuk bermain bersama teman-temannya belakangan ini sangat sedikit . Ini diakibatkan oleh hujan yang terus turun setiap sore hari di akhir tahun .
"Gavin , ayo kita ke warnet siang ini ! " ajak teman Gavin .
"Tidak bisa . Aku harus menemani Amel " jawab Gavin yang sedang membereskan barang dan bersiap pulang.
"Ah , kamu selalu tidak punya waktu ! Setiap sore kau selalu menemani pacarmu. Lalu kapan kamu punya waktu sendiri ? "
Teman-teman Gavin mulai mengeluh kalau Gavin terlalu memanjakan pacarnya. Awalnya Gavin hanya biasa saja tapi lama kelamaan Gavin mulai merasa kesal dan merasa perkataan temannya memang benar.
" Sayang , hari ini aku pergi main bareng teman "
"Tapi Gavin , ini sudah mendung " Amel memegang tangan Gavin seolah menahannya untuk pergi.
" Baiklah...baiklah . Aku akan menemanimu hari ini " Gavin hanya bisa pasrah dan membatalkan janji temu dengan temannya.
Di akhir pekan ini kantor tempat Gavin bekerja mengadakan perpisahan dengan salah satu pekerja . Acara ini dilaksanakan tepat pada jam enam malam sampai jam sepuluh malam .
"Amel , hari ini aku harus pergi ke acara perpisahannya Doni . Kamu baik baik dirumah ya "
" ••• " Amelia hanya diam dan menunduk.
" Aku pergi ya " seru Gavin yang sudah mau membuka pintu. Namun dia terhenti oleh Amelia yang menghadang di depannya.
" Laporan cuaca mengatakan malam ini akan hujan " ucapnya.
"Tidak bisakah kamu membiarkan ku bermain bahkan sehari saja ? " Gavin melonggarkan dasinya dan menatap pacarnya.
" Tapi aku takut "
" Aku capek tau. Rekan kantorku selalu mengatakan , aku terlalu memanjakanmu ada juga yang mengatakan aku takut pada pacar . Sekarang kalau aku tidak datang , akan bagaimana pandangan mereka tentang diriku ? "
"Tapi itu kan perkataan orang lain . Jangan hiraukan saja mereka dan semua akan baik-baik saja "
" Amel , laporan cuaca itu belum tentu benar . Lihat setiap kali kamu melihat laporan cuaca yang mengatakan akan hujan tapi hujan tidak kunjung turun. Biarkan aku pergi , oke ? "
"TIDAK ! Kamu akan mabuk nanti dan akan berbahaya pulang dalam keadaan mabuk. " Amelia tiba-tiba menjawab dengan keras.
" Akan ada orang yang mengantarku pulang " Gavin berusaha untuk tetap lembut pada Amel.
"Mereka juga mabuk " Amelia tetap bersikeras tidak mengijinkan Gavin pergi.
" Sudahlah terserah mu saja . Pokoknya hari aku akan tetap pergi." ujar Gavin . Dia mengeser Amel kesamping dan membuka pintu .
"KALAU KAMU TETAP INGIN PERGI MAKA KITA AKAN PUTUS ! " Amelia berteriak keras sehingga emosi Gavin tidak tertahan lagi.
"Baiklah terserahmu saja ! Aku juga sudah lelah pacaran denganmu " ...... BRAKK !! Gavin membanting pintu dan pergi begitu saja .
"huhuhu...Gavin , kamu sangat jahat !" Amelia jatuh terduduk dilantai dan menangis di ruang apartemen yang kosong. Suara tangisannya menggema di ruangan itu .
10.05 PM ....
"uh , pusing sekali . Sepertinya aku kebanyakan minum alkohol " gumam Gavin. Langkah kakinya tidak stabil akibat mabuk ditambah lagi hujan yang turun sangat deras .
Ia hendak menyebrang menuju mobilnya untuk tidur sebentar karena masik mabuk . Namun karena mabuk dan pandangan yang kabur akibat hujan , Gavin tidak melihat ada mobil yang melaju ke dirinya . Mobil tersebut tidak sempat untuk mengerem dan menabrak....
Tit...tit...tit...
Bunyi alat pengukur detak jantung terdengar jelas ditelinga Gavin. " Kamu sudah sadar , Vin ? " tanya seseorang.
"Amel ?! " Gavin masih belum bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara.
"Ini aku , Doni " ternyata itu adalah Doni
"Dimana Amel ? Dia tidak datang ? " Gavin menoleh kesana-kemari mencari Amelia
"Amelia , dia sudah pergi " jawab Doni.
"Oh iya , aku lupa . Dia mengatakan akan putus denganku bila aku tetap pergi ke acara . Tidak apa-apa , nanti aku akan mencarinya"
"Bukan itu maksudku . Amelia...dia...dia " Doni berbicara dengan terpatah-patah.
" Apa ? Katakanlah dengan benar "
" Dia sudah meninggal "
"Tidak...tidak mungkin . Katakan padaku Doni , kamu bohong kan " Gavin bangun dan mencengkram erat badan Doni .
"Iya , tadi malam.... "
Setelah acara tadi malam , Doni yang hendak pulang bertemu dengan Amelia didepan pintu restoran . Doni terkejut karena seorang Amelia yang mengidap Ombrophobia berani menerobos hujan yang sangat deras untuk datang ke tempat ini .
"Doni , dimana Gavin ? "
"Di..dia disa......" belum selesai mengucapkan ucapannya Doni melihat ada mobil yang menuju ke Gavin dan akan segera menabraknya.
"GAVIIIIN ! " Amelia melepas payung yang dibawanya dan berlari ketempat Gavin berdiri.
BOOM ! Amelia tertabrak sedangkan Gavin selamat karena diselamatkan oleh Amelia.
"Begitulah ceritanya Gavin . Kamu jangan terlalu bersedih ya "
Tidak lama kemudian dokter masuk ...
"Kamu adalah pacar kedua dari nona Amelia . Pacar pertamanya meninggal karena kecelakaan saat mabuk dan hujan . Dan itulah yang menyebabkan nona Amelia takut akan hujan . Lalu anda hampir mengalami hal yang sama jika nona Amelia tidak menyelamatkanmu " cerita dokter.
" Carikanlah dia pasangan baru . Pasangan yang bisa memenuhi kekurangannya " itulah kalimat terakhir Amelia yang dititipkan kepada dokter .
Setelah hal itu , Gavin juga mengalami phobia takut hujan . Setiap hujan , dia akan selalu berteriak dan menangis " Amelia ! Dimana kamu , aku sangat takut " . Bahkan penyakit Gavin lebih parah dari Amel . Dia selalu terbayang saat Amelia tertabrak dan sekarang tidak ada lagi yang memasakkan makanan untuknya . Di awal saat Amelia tidak ada , Gavin selalu merasa kosong dan hampa .
"Hargailah dia , tanpa memperdulikan perkataan orang lain . Karena dia lebih penting dibanding semuanya "
Thanks For Reading ... Mohon maaf bila endingnya gak nyambung , karena author sedang galau 🤣.