Mohon tinggalkan jejak kalian baik berupa komen, like, dan subcribenya. Jangan kalah sama mantan. Mantan saja bisa meninggalkan jejak. Masa kalian nggak. Eaaak!
"Dihamili siapa kamu, hah!"
"Ampun, Pak!"
*******
Vera gadis remaja nan cantik juga memiliki wajah imut. Ia keturunan dari keluarga yang sangat sederhana.
Vera merupakan siswi favorit di sekolah SMP nusa bangsa. Banyak yang mengidolakan Vera terutama kaum adam yang tergila-gila akan kecantikan Vera.
Setiap pagi ia ke sekolah dengan mengendarai kendaraan roda dua. Jarak tempuh ke sekolah memakan waktu 20 menit.
"Mak, Pak. Vera berangkat sekolah, ya." Vera menyalami tangan kedua orangtuanya. Mereka tengah sarapan.
"Hati-hati ya, Nduk." Pesan Bambang sang ayah.
"Belajarlah, yang pintar biar bisa membanggakan kedua orangtua. Jangan bikin malu," ucap Halimah menasehati Vera.
"Iya, Mak."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam ...."
Vera pun berjalan ke arah depan ia meraih sepatu hitam miliknya dari rak sepatu. Lalu, ia kenakan.
Kemudian Vera menghidupkan starter kuda besi kesayangannya.
Di tengah perjalanan menuju sekolah Vera membelokkan motornya. Ia janjian dengan seseorang pria berbeda usia. Terpaut jauh dengannya. Pria tersebut adalah seorang pengangguran.
Vera bolos sekolah ia memilih menemui kekasihnya itu.
Sesuai dengan arahan Nathan. Vera mengikuti jalan setapak arah ke kebun.
Sampailah, Vera ke tempat yang ia tuju.
Kendaraan roda dua itu iya parkirkan di bawah pohon jengkol.
"Hai!" Vera menyapa Nathan. Pria itu keluar dari gubuk tak berpenghuni.
"Kemari lah," ucapnya.
Gadis 16 tahun itu menyambut pelukan Nathan dengan hangat.
Nathan menyentuh bibir ranum milik Vera dengan lembut.
"Kita coba yuk, di dalam sana."
"Tapi--,"
"Jangan takut. Aku akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu," katanya penuh keyakinan.
"Janji?"
"Iya." Nathan mengaitkan jari kelingking ke jari Vera.
Kemudian Nathan mengajak Vera masuk ke dalam gubuk itu. Dan melakukan hubungan terlarang.
Kesucian Vera ia serahkan kepada Nathan. Ia sangat mencintai pria pengangguran itu tanpa syarat. Mereka melakukan berulang kali.
Seharian penuh Vera berada di dalam gubuk itu. Menanti jam sekolah berakhir.
*
*
*
Dua bulan kemudian ...
Vera telat datang bulan hatinya cemas. Ada yang berbeda dari tubuhnya mungkinkah, dia hamil?
Pulang sekolah mampir ke apotek untuk membeli tespek.
Esok harinya Vera memakai tespek itu. Sungguh hasil yang sangat mengejutkan.
Muncul garis dua pada benda pipih itu.
Jduar!
Bagai disambar petir di siang bolong.Vera menangisi kebodohannya ia terduduk di lantai kamar mandi.
Benda pipih itu itu cepat-cepat ia simpan. Sebagai tanda bukti agar ia bisa meminta pertanggungjawaban dari Nathan.
[Aku tidak sekolah. Temui aku di tempat biasa.] Pesan wasthap ia kirim ke Nathan.
Drrrt ...
[Ok, Sayang.] Balasan dari Nathan.
*
*
*
"Ada apa, Sayang? Bukankah, hari ini kamu ulangan," ucap Nathan. Sambil mengecup punggung telapak tangan Vera.
Vera menepisnya. Ia mengambil tespek di dalam saku tas ranselnya.
"Ini,"
"Apa ini?"
"Coba lihat dulu." Vera berucap dengan datar. Air matanya membasahi pipi putihnya.
"Tespek?"
Vera menatap Nathan. "Garis dua."
"Artinya?" Nathan belum juga mengerti apa maksudnya.
"A--aku. Hamil ...,"
"Apa?!"
Nathan menjambak rambutnya kasar.
"Tidak mungkin."
"Mungkin. Kita sering melakukannya," balas Vera sengit.
Vera menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Ia merosot dan bersimpuh di kaki Nathan.
"Nikahi aku."
Nathan ikut terduduk menghadap Vera.
"Tidak bisa,"
Plak!
Vera melayangkan tamparannya ke wajah Nathan.
"Mana janjimu, hah!"
"Aku tidak bisa menikah denganmu. Kita berbeda keyakinan ...,"
"Apa?!"
Lemaslah tubuh Vera ia tak sanggup menelan pil pahit begitu saja. Air matanya mengalir deras.
"Kecuali--,"
"Kecuali kamu ikut denganku." Nathan frustasi.
"Mustahil! Aku tidak bisa!" Vera menolaknya.
"Ya, sudah. Hanya itu pilihannya."
Vera dan Nathan terdiam merutuki kesalahan yang dilakukan tanpa ikatan pernikahan.
"Baik. Akan kupikirkan." Vera berdiri. Ia menghidupkan starter motornya. Meninggalkan Nathan yang masih termenung.
*
*
*
Sesampainya di rumah.
"Assalamualaikum." Vera memberi salam.
"Waalaikum salam ...,"
"Kok, baru pulang?" tanya Halimah.
"Iya, Mak. Ada tugas dadakan." Vera melengos pergi. Ia menutupi matanya dengan poni. Mata Vera bengkak karena menangis.
"Ya, sudah. Istirahat sana terus, makan."
Dua puluh menit kemudian ....
Ketika Halimah masuk ke dalam kamar Vera ia tak sengaja melihat bungkus kertas tespeck di keranjang sampah.
Deg!
Jantung Halimah nyeri.
Vera sedang mandi. Halimah menunggunya sampai selesai.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka.
Halimah duduk di sisi ranjang.
"Mamak. Bikin kaget saja,"
"Kamu punya pacar, Ra?" tanya Halimah menyelidik.
"P--punya." Vera menunduk. Ia meremas ujung bajunya.
"Kamu h--hamil?"
Vera terkesiap. "Tidak."
"Jangan bohong! Ini apa, hah?!"
"Siapa hamil, Mak?!" Sambar Bambang dari luar. Lalu ia masuk ke kamar Vera.
Bambang adalah sosok ayah yang galak dan temperamen.
"Kamu hamil?"
Vera berlari dan bersimpuh di bawah kaki Bambang.
"Dihamili siapa kamu, hah?!" Bambang menatap tajam bak seekor elang.
Dijambaknya rambut Vera tiada ampun.
"Ampun, Pak!" Vera memohon dengan iba.
Plak!
Plak!
Kedua pipi Vera ditampar bambang secara bergantian.
"Laki-laki mana yang menghamili mu, hah?!"
Halimah memeluk Vera agar tak diserang Bambang.
"Panggil laki-laki breng*** itu ke mari!"
"Dia mau bertanggung jawab, Pak. Asal--,"
"Asal, apa?!"
"Vera pindah keyakinan."
Jleb!
Bagai terhunus pedang yang menancap tepat di jantung Bambang.
"Astaghfirullah, Vera!"
Bambang tak kuat menumpu bobot tubuhnya.
"Istighfar, Pak ...," Halimah menenangkan suaminya.
"Sekarang kamu pilih dia atau Bapak?"
Hening Vera mengumpulkan keberanian untuk menyatakan bahwa ia ....
"Pilih dia."
Blarr!
Kilat menyambar berbarengan ucapan Vera.
"Baik." Bambang berdiri. "Mulai sekarang kamu bukan anakku lagi. Pergi dari rumah ini sekarang juga!"
"Duh, Gusti. Aku telah gagal mendidik putriku ...," Bambang merintih dan mengusap wajahnya kasar. Lelaki 48 tahun itu menangis.
"Bapaak!" Vera berlutut.
"Jangan panggil aku bapak."
Halimah tak kuasa menahan amarah Bambang.
"Maafkan, Vera, Mak. Milih dia. Vera malu jika hamil tak memiliki suami."
Halimah membisu ia enggan berbicara sepatah kata pun.
"Pergi sekarang juga!" Bambang melempar tas kosong itu. "Kemasi barang-barang mu,"
Vera dengan mantap mengisi tas kosong itu. Berurai air mata. Setelah selesai ia pun pergi.
Seminggu kemudian ....
Vera dan Nathan menikah tanpa restu dari kedua orangtua Vera.
"Tuhan. Aku gagal membimbing anakku ke jalanmu."
Bambang jatuh sakit. Hingga ajal menjemputnya.
Sekian