Kata orang jika ingin mendapatkan apa yang diinginkan harus terus berusaha dan berdo'a. Jangan lupa sabar dalam menunggu. Seperti aku, yang saat ini sedang menunggu sebuah kebenaran.
Kebenaran tentang kehidupanku. Tentang siapa aku sebenarnya. Mungkin benar kata orang lebih baik memberitahu secara langsung kebenaran itu walau kenyataannya sangatlah pahit, dari pada harus mendengar sebuah kebenaran dari orang lain.
Aku Zaskia Bulan Firdausi. Biasa dipanggil Bulan. Dirumah, ada dua keluarga. Satu keluarga dari kami dan satu lagi dari bibi ditambah nenek. Semua yang ada dirumah tampak sangat menyayangiku. Tapi itu jika hanya dilihat dari satu sisi saja. Kedua keluarga tak ada satupun yang tulus menyayangiku. Aku tak tahu apa alasannya, tapi yang pasti aku akan menunggu.
Skip..
"Bulan... Ayo sarapan!" teriak bunda dari ruang makan. Maklum bunda teriak, rumah kami besar dan kamarku dilantai dua paling belakang.
"Iya bun," jawabku teriak sambil menuruni anak tangga dengan cepat.
Disana hanya ada nenek, ayah, dan bunda tentunya. Kenapa adikku tidak ada? Karena dia sedang berkemah.
Sampai di meja makan aku langsung mendudukkan diriku disamping nenek. Padahal kursi itu biasa diisi oleh Nia, adikku. Tapi ku pikir, tak akan ada masalah bukan? Tapi dugaanku salah nenek malah berteriak padaku.
"Heh! Siapa yang suruh kamu duduk disini hah!" Tanya nenek dengan berteriak dan membuat semua yang ada dirumah bergegas menonton.
Kenapa mereka hanya menonton? Kenapa tak ada yang membela? Padahal orang tua ku ada disana. Aku tak sengaja mendengar alasannya mereka melakukan itu. Mereka kecewa pada orang tuaku karena... ada rahasia besar yang disembunyikan bertahun-tahun lamanya dan itu membuat marah nenek. Dan aku tak tahu apa masalanya. Tapi selalu saja aku yang terkena imbasnya semenjak malam itu.
....——————......
"Sana pergi! Kau itu bukan cucuku! Yang boleh menduduki kursi disebelahku hanya Nia!" sambungnya.
"ma-af" ucapku sambil menunduk.
Aku bingung dengan ucapannya tadi. Bukan cucunya? Tapi, selama ini memang beliau tidak pernah menyukaiku dari kecil dan aku tahu itu. Walau begitu beliau tak pernah berkata kasar dan membentakku seperti tadi. Dan ya, tadi.. apa maksud dari ucapannya?
Semenjak kejadian itu, aku tak pernah duduk di meja makan jika ada nenek. Semenjak itu aku tak pernah lagi bersikap hangat kepada mereka. Hanya wajah datar dan cuek yang ada saat bersama mereka.Yang ku tahu mereka menyembunyikan rahasia yang besar tentang diriku.
Ya, saat itu aku berusia 10 tahun. Mungkin mereka pikir aku masih terlalu kecil untuk mengerti tentang keadaan sekitarnya. Tapi mereka salah! Salah besar! Aku mengetahui secuil rahasia itu tentang diriku.
Bagaimana bisa? Karena salah satu dari mereka mengatakannya saat emosi. Kata orang saat emosi bisa jadi apa yang dikatakan itu sebuah kebenaran. Awalnya aku tak percaya, tapi hal itu membuatku berpikir keras. Apa mungkin itu benar? Tapi kenapa mereka menyembunyikannya? Itulah pertanyaan yang selalu mengahantuiku semenjak itu.
....——————......
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tujuh tahun sudah berlalu. Dan tahun ini, aku berharap bisa mendapatkan jawaban dari teka teki hidupku yang ku simpan rapat sendiri tanpa ada yang tahu. Sebuah kebenaran tentang siapa aku.
Aku pikir mereka akan memberitahukan hal itu padaku saat usiaku mungkin genap 17 tahun. Aku tetap menunggu hingga hari itu tiba. Tapi apa yang ku dapat? Dihari itu, aku tak mendapat sebuah jawaban melainkan pertanyaan dilempar kepadaku.
Flashback on...
"Bulan, hari ini ulang tahunmu yang ke 17. Apa yang kamu inginkan dari kami?" tanya ayah
"Iya kak, katakan saja. Aku akan memberikannya untukmu" kata Nia dengan semangat
"Apa kalian yakin dengan yang kalian katakan?" tanyaku sedikit hangat. Pasalnya aku sedikit senang mungkin ini akan menjadi hari terakhir dari penantianku akan sebuah kebenaran itu.
Mereka semua mengangguk,
'itu berarti aku bisa meminta jawabannya sekarang' pikirku.
"Emm... aku ingin tahu sebuah kebenaran" ucapku sedikit ragu tapi tak mengalihkan pandanganku pada mereka bertiga
"Kebenaran? Kebenaran tentang apa?" tanya ayah
"Apa yang kamu katakan, lan ?" tanya bunda lembut
"Benarkah tak ada yang kalian sembunyikan dariku selama ini? Apa kalian tidak ingin mengatakan sesuatu tentang diriku?" tanyaku to the poin
Ya, kalian boleh menganggapku tidak sopan. Tapi, aku tak suka basa-basi.
"Apa yang kamu katakan, lan ?" tanya bunda lembut
'Aku jadi curiga dengan mereka. Bunda tidak akan mengulang perkataanya saat mengatakan sesuatu selama ini, jika itu bukan kebohongan. Tapi apa mungkin mereka membohongiku? Apa Nia tahu tentang ini? Kenapa ekspresi mereka terlihat terkejut?' pikirku
"Aku hanya menginginkan kejujuran kalian dihari ulang tahunku kali ini. Apa itu sulit untuk kalian?" tanyaku sedikit menaikkan salah satu alis
"Tidak ada yang kami sembunyikan darimu. Dan apa yang kau maksud kebenaran? Tentang apa?" tanya ayah
"Kebenaran tentang siapa diriku!" jawabku lantang
Deg! Ayah terlihat terkejut apalagi bunda. Tapi sepertinya Nia tidak terlibat. Dia hanya menonton saja sambil memakan mangga yang sudah ia kupas tadi. Atau dia hanya berpura-pura menutupi keterkejutannya?' pikirku
Setelah perdebatan yang sangat panjang malam itu, akhir dari kata-kata ayah membuatku harus berbuat apa? Aku bingung harus bersikap seperti apa.
'Kau akan mendapatkan jawabannya setelah lulus SMA nanti atau kau harus menunggu 3 tahun lagi' kata ayah
Flashback Off...
Apa ini? Aku harus menunggu lagi, tapi sampai kapan? 3 tahun? Aku tak percaya itu. Akankah mereka mengatakannya setelah itu, atau kembali membuatku menunggu?
Kesabaran yang aku miliki hampir habis. Aku hanya manusia biasa yang kapasitas kesabaranku hanya sedikit.
Tapi aku akan berusaha menunggu hingga waktu yang dijanjikan itu tiba. Semoga Tuhan memberiku umur panjang agar aku bisa mengetahui kebenarannya setelah bertahun-tahun menunggu.
30921@ 17:05
df_f