Terlalu banyak kenyataan pahit yang harus Dia terima. Karena jatuh cinta kepada Seseorang yang juga dicintai Orang lain, itu benar-benar sulit. Tapi cinta itu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, bukan begitu? Sebenarnya perjuangan dan pengorbanan seperti apa yang cinta inginkan?
***
"Park In Jae!! Park In Jae!!” Seru ribuan Fans In Jae yang memadati tempat itu.
In Jae melambaikan tangannya sembari memamerkan senyum termanisnya ke arah Fans setianya.
Gadis cantik yang memiliki perawakan ideal itu berjalan anggun menuju belakang panggung.
"In Jae!!” panggil Seorang Pria berperawakan tinggi dan memiliki senyum manis itu melambaikan tangannya. In Jae ikut melambai sembari menghambur ke pelukan Pria itu.
“Hei.. Ada apa? Kenapa tiba-tiba memeluku seperti ini?”
“Aku merindukanmu Eun-Jung”
Eun-Jungtersenyum tipis. Ia mengusap pelan rambut coklat In Jae. Saat ia ingin melepaskan pelukan mereka, pergerakannya terhenti karena In Jae semakin mengeratkan pelukannya.
"Emm … Bisa Kita lanjutkan pelukan ini nanti? Orang-Orang sedang melihat Kita” Bisik Eun-Jung.
“Maaf ..”In Jae tersipu malu, sembari melepaskan pelukannya.
“Apa Kau besok ada waktu? Aku ingin mengajakmu pergi?”
In Jae berpikir sejenak. Sedetik kemudian Ia mengangguk cepat.
“Aku akan menjemputmu besok, Ok?”
“Baiklah”
“Kau mau Kuantar pulang?” Tawar Eun-Jung.
“Sebenarnya Aku mau, tapi Aku harus ada di sini sampai acara selesai" Eun-Jung mengacak-acak rambut In Jae pelan.
“Aku akan menunggumu jika Kau mau”
“Tidak Tidak. Kau pulang saja acaranya akan selesai sampai larut malam dan Aku harus pergi Ke Gedung LEA Entertainment”
Eun-Jung mengangguk mengerti.
“Baiklah, sampai jumpa besok”
Minho tersenyum sekilas lalu pergi meninggalkan In Jae yang terus melambaikan tangannya sampai Sosok Eun-Jung tak terlihat lagi di obsidiannya.
"In Jae!” panggil Manager Han.
In Jae bergeming. Ia terus menatap lurus di tempat dimana sosok Eun-Jung tersenyum kepadanya.
“Hei!” Manager Han menepuk bahu In Jae. Ia tersentak kaget dan menatap Managernya dengan raut wajah yang sarat akan keterkejutan aneh yang sulit diartikan.
“Ma .. Manager Han?” Ucap In Jae gagap. Ia masih terkejut akibat ulah Managernya itu.
“Apa yang sedang Kau lihat?” Manager Han ikut menatap ke arah pandang In Jae sebelumnya tempat Eun-Jung pergi.
“Tidak ada” Jawab In Jae bohong. Tidak mungkin Ia mengatakan bahwa Ia baru saja bertemu dengan Eun-Jung. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Manager Han nantinya.
“Sebaiknya Kau jangan terlibat skandal apapun yang bisa merusak popularitasmu”
In Jae mengangguk lemah.
‘You have a massage .. You have a massage’
Secepat kilat In Jae menyambar benda kotak canggih yang berada diatas nakas tempat tidurnya.
To: Park In-Jae
From: Kim Eun-Jung
Keluarlah Aku ada di depan Gedung Apartemenmu
Dengan senyum mereka In-Jae berlari keluar Apartemennya menuju Lift. Beberapa menit Ia pun sampai di luar gedung.
“Eun Jung!”
“Hai!”
Eun Jung membukakan pintu mobil sedan hitamnya dan mempersilahkan In Jae masuk.
“Kita mau ke mana?” In Jae menatap penuh harap pria di sampingnya yang tengah fokus menyetir.
“Lihat saja nanti”
Di Seoul Love House
“Love House? Kenapa mengajakku ke sini?”
“Ayo keluar”
Eun Jung keluar tanpa menjawab pertanyaan In Jae.
"Kenapa dia mengajakku kesini? Benar-benar tidak romantis!" Pikir In Jae.
Na Young tersentak kaget saat Seseorang menarik ujung Mantelnya.
“Kakak …”
Seorang anak kecil dengan kepala botak dan wajah pucat tersenyum ceria ke arahnya.
“Hai, Aera!” Sapa Eun Jung
“Hai, Dokter Jung”
“Apa kabarmu gadis kecil?”
“Apa? gadis?” Batin In Jae
“Kenapa kakak menatapku seperti itu?”
dan Eun Jung menatap In Jae aneh.
“Tidak apa-apa”
Eun Jung mengangguk mengerti.
"Kau pasti baru pertama kali ke sini, Kau terkejut kepalaku botak dan Aku seorang Gadis. Benarkan?” Tanya Aera Seakan tau apa yang ada di pikiran In Jae.
“Eee .. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakitimu”
“Tidak apa-apa, biar Kuberi tau Ini rumah para penderita kanker. Jadi Kau tak perlu heran melihatku”Aera tersenyum ceria.
“Oh iya, In Jae. Aku mengajakmu ke sini untuk menghibur mereka” ucap Eun Jung.
“Park In Jae?? Kau Park In Jae?” tanya Minji antusias.
Eun Jung mengangguk.
“Kakak, Aku fansmu. Bagaimana bisa Aku tidak mengenalimu?”Aera memeluk erat tubuh In Jae yang lebih tinggi darinya itu.
“Benarkah?”
“Tentu saja! Aku sangat suka lagu-lagumu. Ada satu yang paling aku suka”
“Yang mana?” Aera menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berusaha mengingat judul lagu favoritnya.
“Eee … You are my spirit”
“Kenapa Kau suka lagu itu? Penjualan lagu itu sangat buruk”
“Karena lagu itu Aku punya semangat untuk hidup” jawabnya yakin penuh semangat.
In Jae tertegun mendengar jawaban Aera.
"Aera!” panggil Wanita paruh baya dari arah belakang mereka.
“Bibi Youra! Ayo ke sini!” Seru Aera. Wanita paruh baya dengan rambut hitam sebahu itu berlari kecil menghampiri Mereka.
“Halo, Dokter Jung. Ayo masuk” sapa Bibi
“Iya Bibi”
In Jae menghempaskan tubuhnya ke tempat tidurnya. Ia melirik jam dinding yang menempel di dinding.
“Sudah jam 10 malam ternyata” batinnya.
Seharian Di Love house, membuatnya melupakan segalanya. Pikirannya masih tertuju pada para penderita kanker di rumah itu. Melihat bibir-bibir pucat mereka melengkung membentuk bulan sabit dan keceriaan mereka seakan mereka tak memiliki beban sama sekali
You have a massage .. You have a massage ..’
Na Young merogoh tasnya lalu mengambil posisi duduk bersila d iatas tempat tidur.
To : Park In Jae
From : Manager Han
In Jae, besok Kau harus datang menemui Direktur Choi. Jam 9 pagi, jangan terlambat!
In Jae menaruh smartphonenya di atas meja kecil samping tempat tidurnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya. Sedetik kemudian Dia pun terlelap.
Di Ruang Direktur Choi
Beberapa menit Manager Han menunggu di luar dengan sangat cemas.
‘ceklek’
Sontak Manager Han Menoleh ke arah pintu dan mendapati In Jae dengan wajah datar.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa”
“Kenapa wajahmu datar seperti itu?” Manager Han menatap In Jae cemas.
“Apa terlihat seperti itu?”
Manager Han mengangguk mantap. In Jae memegangi wajahnya.
“Apa yang Direktur katakan?”
“Bukan hal penting”
“Cepat beritahu Aku!” rengek Manager Han.
“Sudah Kubilang bukan hal penting”In Jae melangkah cepat meninggalkan Manager Han.
“Hei! Nanti malam Kau harus melakukan beberapa pemotretan!” teriak Manager Han.
To: Yoona Lim
From: Kim Eun Jung
Temui Aku di tempat biasa.
Pesan singkat dari Eun Jung, membuat Gadis dengan rambut panjang hitam pekat yang di biarkan tergerai dan dress biru gelap yang membalut tubuhnya, tertegun.
Di Caffe
“Ada apa?” Tanya Yoona memecah keheningan.
Manik hitam Eun Jung terus mengamati setiap inci wajah Gadis cantik di depannya.
“Jangan hanya menatapku!”
Sontak Eun Jung tersadar.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Eun Jung.
“Tentu saja. Apa Aku terlihat tidak sehat?”
“Aaa .. tidak tidak”
“Bagaimana kabar In Jae?”
Seketika Eun Jung tertegun.
“In Jae?” Ulang Eun Jung tak percaya.
Yoona mengangguk.
“Kenapa bertanya tentang Dia?”
Manik hitam Eun Jung kini beralih pada dinding kaca di sampingnya yang menyuguhkan suasana jalanan kota.
“Kudengar Kalian pergi ke Love house” Ucap Yoona lalu menyesap caffucino yang masih mengepul.
“Siapa yang memberitahumu?”
“Min Yoo Joon”
“Apa??” Manik hitam Eun Jung membulat sempurna.
“Kemarin malam Dia mengajakku makan malam dan Dia menceritakan kedekatan kalian selama Aku tidak ada di Seoul”
“Pasti menyenangkan” Ucap Eun Jung pelan. Wajah cerianya seketika menghilang. Berganti dengan wajah sendu.
“Tentu saja! Dia sangat lucu dan romantis. Dia masih sama seperti dulu” Yoona tersenyum antusias.
Seketika dada Eun Jung terasa sesak dan tangannya mengepal kuat.
Tiba-tiba Eun Jung berdiri dari kursinya, membuat Yura sedikit tersentak, kaget.
“Aku pergi dulu, karena akan ada rapat dengan para dokter di rumah sakitku” Eun Jung melangkah lebar keluar Caffe.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu! Tapi keadaan yang memaksaku menyakitimu!” pekik Yoona dalam hati. Kaki jenjangnya Ia paksa melangkah lebar keluar Caffe dengan menutup mulutnya untuk menahan suara tangisnya.
'Brakk’
Tanpa sengaja di depan pintu Ia menabrak seseorang.
“Maafkan Aku”
“Yoona Lim?”
Yoona mendongak mendapati Pria dengan kupluk hitam dan mengenakan jaket hitam di depannya.
“Kau baik-baik saja?”
Seketika Yura menghambur ke pelukan Pria di depannya.
“Yoo Joon.. Izinkan Aku memelukmu sebentar saja” Bisik Yoona parau. Yoo Joon mendekap erat tubuh Yoona yang telah mencuri hatinya sejak lama.
“Kapanpun Kau inginkan Aku, Aku akan datang dan memberi segala ketenangan untukmu” Batin Yoo Joon.
To: Yoona Lim
From: Min Yoo Joon
Eun Jung kecelakan! Cepatlah ke rumah sakit, sekarang!
Yoona sesaat tertegun membaca pesan Yoo Joon. Ia tadinya ingin istirahat sebentar, tapi dengan langkah cepat Ia merogoh tasnya dan pergi ke rumah sakit.
Di Rumah Sakit Seoul
Yoona terus memaksa kaki letihnya berlari menuju ICU. Seketika Ia membeku di depan pintu ICU. Butiran bening membanjiri matanya.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Ucap Seorang Gadis disamping tempat Eun Jung terbaring lemah.
“In Jae?” gumam Yoona. Ia mengurungkan niatnya untuk menemui Eun Jung dan berlari keluar rumah sakit.
Di Taman Rumah sakit
“Apa yang cinta inginkan? Cinta telah membuatku merelakannya. Setidaknya izinkan Aku menggenggam tangannya saat ini … Kumohon” Ucapnya lirih. Ia memukul kuat dadanya.
“Ini terlalu sakit …”
THE END