Di suatu pagi yang cerah dinegeri paman Sam, terlihat sepasang sejoli sedang menikmati masa-masa indah pacaran mereka.
Mereka adalah Simon(32) dan Soraya(22). Mereka telah berpacaran selama 6 tahun dan memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Kedua orangtua mereka juga telah setuju.
* * *
Suatu hari penyakit lama Simon kambuh di hari pernikahan dan dia harus segera dibawa ke rumah sakit.
Ya! Simon menderita tumor otak dan penyakit tersebut telah sangat parah.
Soraya yang telah siap di gereja menyadari bahwa Simon belum juga datang. Dan dia menjadi curiga dan gelisah.
"Apakah dia benar-benar ingin menikahimu?" Tanya Blaire, ibu dari Soraya.
"Tentu saja ibu. Dia telah berjanji kepadaku." Jawab Soraya
"Tapi... Kenapa dia belum juga hadir?" Tanya Blaire turut gelisah.
"Mungkin Simon mengalami kemacetan parah bu." Jawab Soraya meyakinkan ibunya.
"Kita tunggu saja. Apakah Simon benar-benar datang atau tidak." Ucap Harrison, ayah Simon.
Disaat mereka sedang gelisah, telpon Bianca, ibu Simon berbunyi.
"Halo, dengan Bianca disini." Ucap Bianca di telpon.
"Kami dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa anak anda sekarang berada di rumah sakit." Balas suara di seberang.
"Apa?! Si.. Simon!" Teriak Bianca terkejut.
"Ada apa mam?" Tanya Harrison.
"Si.. Simon pa. Simon masuk rumah sakit." Jawab Bianca lirih.
"Apa? Simon masuk rumah sakit?" Tanya Soraya kaget.
"Iya. Baru saja ibu dapat telpon dari rumah sakit." Jawab Bianca agak tenang.
"Ibu, ayah, ayo kita ke rumah sakit. Aku khawatir dengan keadaan Simon." Mohon Soraya.
"Baiklah. Kalian juga ikutlah." Ucap Bruce ayah Soraya.
Mereka pun segera berangkat ke rumah sakit.
* * *
Rumah Sakit Los Angeles.
"Suster, boleh kita tahu kamar tempat Simon dirawat?" Tanya Bianca.
"Anda...?" Tanya sang suster.
"Oh.. Saya ibunya Simon." Jawab Bianca.
"Kalau begitu, Simon dirawat di ruang ICU lantai 3." Timpal suster.
"Terima kasih sus." Ucap Bianca.
Mereka segera naik ke lantai 3.
Sesampainya di ruang ICU lantai 3, mereka langsung masuk ke dalam secara perlahan untuk melihat keadaan Simon. Namun, hanya 1 orang yang boleh masuk. Keluarga Simon lebih memilih Soraya untuk masuk ke dalam. Ayah dan ibu Soraya juga setuju.
"Simon, ya Tuhan. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Soraya mendekat.
"Aku.. Baik-baik saja." Jawab Simon lirih sambil tersenyum.
"Kau membuatku khawatir." Balas Soraya terisak manja.
"Tenanglah bidadariku. Biarpun aku sakit, aku tetap akan menikahimu." Timpal Simon berusaha mengelus pipi Soraya.
Soraya tersenyum dan memandang Simon. Dia mendekatkan wajahnya dan mencium sekilas bibir Simon.
"Cepat sembuh. Aku akan datang lagi besok." Ucap Soraya.
Simon hanya mengangguk lemah.
* * *
Ruang tunggu ICU.
"Bagaimana keadaan Simon, Soraya?" Tanya Bianca."
"Saat ini dia kelihatan baik-baik saja." Jawab Soraya dengan tersenyum.
"Syukurlah." Balas Bianca lega.
Saat mereka sedang berbicara, datanglah sang dokter.
"Keluarga Simon?" Tanya Dokter.
"Ya dok." Jawab Harrison.
"Ini data medis dari Simon. Menurut hasil pemeriksaan saya, Simon mengalami tumor otak ganas dan tidak bisa disembuhkan lagi." Ucap dokter menjelaskan.
"Apa? Tumor otak ganas?" Tanya Harrison tidak percaya.
"Iya. Apakah dulu Simon sering mengeluh sakit di bagian kepalanya?" Tanya dokter.
"Tidak dok. Simon itu orangnya agak tertutup." Jawab Harrison.
"Kalau begitu, mulai sekarang lebih seringlah ajak dia berkomunikasi." Ucap sang dokter.
"Baik dok. Terima kasih." Balas Harrison.
"Pa... Penyakit Simon. Tidak..." Ucap Bianca terisak.
"Tenanglah ma. Iya papa tahu. Penyakit Simon ini sangat parah." Balas Harrison.
"Ayah.. Apakah Simon sanggup bertahan?" Tanya Soraya pada Bruce.
"Kita tidak pernah tahu nak. Semua itu Tuhan yang akan mengaturnya." Jawab Bruce.
"Bruce, kau dan keluargamu pulanglah dulu. Biar kita yang menjaga Simon disini." Ucap Harrison.
"Tidak apa-apa jika kutinggalkan?" Tanya Bruce khawatir.
"Tidak apa-apa. Lagian kalian juga sudah lelah. Pulang dan beristirahatlah." Jawab Harrison.
"Baiklah. Kita pamit dulu Harrison." Ucap Bruce berpamitan.
* * *
Sesampainya dirumah, Soraya tidak bisa tidur dan terus memikirkan Simon.
Besoknya.
"Harrison." Panggil Bruce.
"Oh.. Kalian." Ucap Harrison terkejut.
"Ini sarapan buat kalian." Ucap Bruce memeberikan bekal sarapan kepada keluarga Simon.
"Terima kasih." Balas Harrison.
"Bagaimana keadaan Simon?" Tanya Bruce sambil duduk.
"Tadi malam dokter datang lagi dan mengatakan bahwa waktu Simon tidak panjang lagi." Jawab Harrison.
"Segitu parahkah?" Tanya Blaire yang baru datang bersama Soraya.
Harrison hanya mengangguk.
"Ya ampun Simon..." Ucap Soraya lirih.
Suster keluar dari ruang ICU.
"Keluarga dari Soraya dan Simon silahkan masuk." Panggil suster.
Mereka pun masuk ke ruang ICU.
Dengan suasana penuh haru dan sedih, keluarga Soraya dan Simon hanya mampu menangis.
"Soraya..." Panggil Simon lemah.
"I.. Iya." Balas Soraya lirih.
"Dok, permintaan saya adalah... Agar saya bisa menikah dengan gadis ini disini sebelum saya meninggal." Ucap Simon lirih.
"Anda yakin?" Tanya dokter.
"Saya yakin dok. Karena dialah gadis pilihan saya." Jawab Simon mantap.
"Baiklah. Saudari Soraya, silahkan berdiri di samping saudara Simon. Aku yang akan menjadi imam pernikahan kalian." Ucap dokter.
Lalu...
"Soraya, apakah anda janji akan menjadi istri yang baik buat Simon, dan menjaganya setiap waktu?" Tanya dokter.
"Saya berjanji." Jawab Soraya.
"Simon, apakah anda janji akan menjadi suami yang baik dan teladan bagi anak-anakmu kelak?" Tanya dokter lagi.
"Saya berjanji." Jawab Simon.
"Dengan ini saya meresmikan kalian sebagai pasangan suami istri yang sah!" Ucap dokter.
"Aku mencintaimu." Ucap Simon memandang Soraya.
"Aku... Juga mencintaimu." Balas Soraya dengan terisak.
Mereka memasang cincin pernikahan.
Simon mendekati wajah Soraya dan mencium sekilas bibir Soraya dan memeluk istrinya.
Namun, pelukan itu tidak pernah lepas dari tubuh Soraya. Ya! Simon telah menghembuskan nafas terakhirnya setelah dia membuat janji suci terakhirnya. Dia meninggal di pelukan orang yang dicintainya.
Senyum tersungging di bibirnya. Soraya menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan keluarganya.
"Tidak Simon! Bangunlah! Kau telah berjanji untuk menjagaku! Bangunlah!" Teriak Soraya terisak.
"Sudahlah nak. Simon sudah tiada." Ucap Bianca menenangkan Soraya.
"Tidak! Dia belum tiada. Dia masih ada! Bangunlah Simon! Cepat bangun!" Teriak Soraya terisak menggoyang tubuh Simon.
"Soraya, semuanya telah diatur oleh Tuhan. Simon telah tiada. Ikhlaskanlah kepergiannya." Ucap Bruce.
"Tidak ayah... Dia... Simon..." Timpal Soraya lirih.
"Kami mengerti kesedihanmu. Ikhlaskanlah dia. Dia sudah tenang di surga." Bujuk Blaire.
* * *
Penghormatan terakhir diberikan kepada Simon sebelum petinya di masukkan ke liang kubur.
Soraya tidak dapat menerima kenyataan bahwa Simon telah tiada. Dia menangis sejadi-jadinya.
Lalu...
Perlahan-lahan peti itu masuk ke liang kubur dan hilang dibalik tanah. Ya, Simon telah pergi untuk selamanya meninggalkan kenangan yang pahit bagi Soraya.
"Suamiku, aku berjanji akan menjaga janji suci pernikahan kita. Hanya kaulah seseorang yang paling spesial di hatiku. Aku mencintaimu." Begitulah isi hati Soraya kepada Simon.