Suara ayam menyadarkan mimpiku, dengan mata sipit aku mengambil telepon genggam di atas meja. Dibalik cahaya telepon genggamku menujukkan jam enam pagi. Aku beranjak keluar dari ruangan pribadiku dengan celana pendek dan baju tanpa lengan. Dengan mata agak sipit tak terlihat satu orang pun di dalam rumahku kecuali suara kompor gas di dalam dapur. Lalu aku berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Setelah sampai di dalam kamar mandi, aku memutar keran untuk mengisi bak kosong di depanku.
Alunan lagu terdengar dari dalam kamar mandi dan diimbangi dengan suara air yang mengalir dari dalam keran. Sepuluh menit berselang sudah tidak terdengar lagi suara di dalam kamar mandi, melainkan suara pintu tua terbuat dari besi berkarat. Dengan badan segar aku bergegas masuk ke ruangan pribadiku dan memakai pakaian sehari-hari. Sedang asiknya bernyanyi sambil memakai pakaian, terdengar suara ibuku yang memangil-mangil namaku.
“Ron,… Roni…. Roni….” teriakan ibuku yang terdengar jelas ditelingaku.
“Iya Bu, ada apa?” jawabku sambil berjalan menuju dapur.
“Tolong belikan cabe, tepung, dan minyak goreng di warung.” perintah ibuku dengan menyodorkan uang dua puluh ribu rupiah.
“Iya Bu,” jawabku. Uang aku ambil dari tangan ibuku, dan bergegas pergi menuju warung yang berjarak dua ratus meter lebih dari rumahku.
Barang yang dimaksud ibuku sudah aku dapatkan, kemudian aku pulang kerumah dan segera mungkin memberikan pesanan ibuku. Karena hari ini aku sudah ada janji dengan temanku Sandi untuk mengantarnya ke Mall. Setelah sampai rumah, pesanan aku berikan ibuku.
“Ini Bu, pesanannya.” Kataku sambil menaruh barang belanjaan ke atas meja.
“Iya Ron, makasih ya?” jawab ibuku.
“Iya Bu, sama-sama.” Jawabku.
Aku kembali masuk kedalam kamar dan mengambil telepon genggam siapa tau ada pesan masuk, ternyata benar ada satu pesan masuk dari Sandi. Pesan aku buka yang berisi nanti kalau pergi aku disuruh bawa uang, buat jaga-jaga kalau nanti uangnya tidak cukup. Sudah pasti kalau aku pergi kan selalu bawa uang.
Matahari semakin naik dan menampakkan dirinya dari balik pohon-pohon yang rindang. Aku mengeluarkan sepeda motor dari garasi dan memanaskan mesin sambil mengelap badannya. Setelah sepeda motor terlihat bersih, aku bergegas makan pagi lalu berangkat menuju rumah Sandi. Dengan cekatan aku menghabiskan makananku hingga tersisa beberapa biji nasi dan beberapa tetes kuah sop.
Sepeda motor aku tunggangi menerobos barisan besi yang terbuka. Tanpa uluk salam, aku mengendarai motor dengan cekatan ke desa tetangga tepatnya rumah Sandi. Aku dan Sandi memang berteman, tetapi kita bukan teman dari kecil melainkan teman yang dipertemukan di bangku sekolah SMP. Kita selalu bersama kemanapun dan dimanapun, bukan berarti kita ini pasangan sesuka jenis karena setiap tempat yang kita datangi adalah tempat-tempat berkumpul semua teman-temanku yang lain.
Setelah sampai di depan rumah tertutup gerbang tinggi, aku menelpon Sandi. Tetapi tidak ada jawaban darinya. Kuberanikan membuka gerbang lalu masuk dan memarkirkan motor kesayanganku di depan pintu garasi rumahnya. Dari kejauhan terlihat seorang laki-laki setengah tua memakai celana pendek, pakian tipis putih tanpa lengan, dan berambut hitam sedang memegang selang hijau yang mengeluarkan air diatas bunga kamboja. Aku mendekati orang setengah tua itu dan bertanya keberadaan temanku.
“Assalamu’alaikum Pak,” salamku kepada bapak itu.
“Wa’alaikum salam Dek, mau cari Mas Sandi ya?” jawabnya sambil tersenyum.
“Iya Pak, kok bapak tahu?” tanyaku bingung kepadanya.
“Oh, tadi Mas Sandi bilang kalau ada temannya yang mau kesini. Katanya disuruh nunggu dulu, kalau Mas Sandi sedang nganterin adiknya sekolah.” jawabnya.
“Iya sudah Pak, makasih.” jawabku meninggalkan orang setengah tua itu dan menuju kursi didepan pintu rumah.
Sumpal telinga berkabel aku keluarkan dari saku celanaku, dan kuputar musik dari telepon genggam untuk menghilangkan kebosanan. Aku menunggu Sandi hampir menghabiskan enam putaran lagu, tetapi dia masih belum juga menampakkan dirinya. Padahal jarak sekolahan adiknya dengan rumahnya tidak jauh-jauh amat, jalanan yang dilewati juga bebas macet. Setengah jam lebih aku menunggu dan akhirnya Sandi terlihat masuk dari pintu gerbang.
“Eh, San. Darimana saja kamu? Kok lama sekalai?” tanyaku sembari mematikan lagu yang sedang aku putar.
“Maaf Ron, tadi ban motorku bocor. Jadi aku tambalin dulu.” jawabnya dan turun dari sepeda motornya..
“Kenapa tidak ngasih tau? Kan aku bisa menyusul kesana.” jawabku sambil kesal.
“Tadi aku teleponan sama Siska Ron, maaf tidak sempat ngabarin.” jawabnya sambil menepuk bahu kananku.
“Oh, ya sudah kalau begitu.” jawabku.
Temanku yang satu ini memang sudah memiliki pacar, tidak seperti aku dan teman-teman sekelompokku. Kemudian Sandi memasukkan sepeda motornya ke dalam garasi, dan aku memutar balik motorku. Sembari memasang helm, Sandi langsung saja naik di belakang dan mengagetkanku.
“Ayo Ron, berangkat!!!” katanya sambil memukul helm yang kupakai.
“Sialan, naik tidak bilang-bilang.” jawabku marah.
“Sudah,… Ayo berangkat, keburu siang ini. Hahaha…” ajaknya paksa.
Aku langsung berangkat menuju tempat yang dimaksud Sandi, setengah jam perjalanan kami terjebak macet. Seperti ini biasa terjadi di kehidupan kota besar, ramainya kendaraan memadati jalan. Lima belas menit kemudian kami berhasil lolos dari kemacetan lalu lintas, dan sepuluh menit kemudian sepeda motor saya belokkan ke tempat parkir samping Mall terkenal di kota saya.
Kami masuk melewati pintu kaca besar, dan disambut pameran-pameran hari valentine. Setelah melihat pameran yang ada di dalam Mall, kami melanjutkan mencari barang yang akan diberikan kepada Siska. Sandi mengajakku kesini untuk menemani memilih hadiah kepada Siska di hari yang spesial ini. Berhentilah kami di salah satu tempat penjualan coklat dan barang-barang spesial valentine di salah satu toko Mall.
“Selamat siang Mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya dari salah satu pegawai cantik.
“Iya Mbak, saya mau lihat-lihat dulu.” jawab Sandi sambil melihat barang-barang.
“San, kamu mau ngasih Siska apa?” tanyaku meminta penjelasan.
“Aku cuma mau ngasih coklat sama boneka saja.” jawab Sandi dengan tegas.
“Oh iya Mas, kami punya paket valentine coklat sama boneka. Silahkan dilihat kalau memang si Mas terkesan dengan barang kami.” Kata dari pegawai toko yang mendengar obrolan kami.
Sandi melihat-lihat barang yang dimaksud pegawai tadi, dia tertarik dengan salah satu barang yang kelihatannya bagus. Sandi tidak mementingkan berapa harga yang tercantum di label, karena baginya harga itu tak dipermasalahkan. Tetapi kalau bagiku harga adalah salah satu hal yang paling dipikirkan dalam jual beli.
“Mbak, saya memilih yang ini saja.” kata Sandi sambil menunjukkan barang yang diinginkan.
“Iya Mas, pembayaran ada di kasir depan.” jawab pegawai toko tangannya menunjuk arah kasir.
Kami menuju ke mesin kasir dan membawa boneka yang dipilih Sandi. Sapaan manis dari pegawai toko membuatku senang dengan keramahannya.
“Selamat siang Mas, ada yang bisa saya bantu?” tanya dari penjaga kasir sambil tersenyum.
“Ini Mbak, saya mau membayar.” jawab Sandi sambil menunjukkan boneka pilihannya.
“Iya Mas, sebentar ya.” jawaban dari pegawai toko sambil mengambil boneka dari tangan Sandi.
“Semuanya 150 ribu rupiah Mas, mau dibayar kredit apa langsung?” kata pegawai toko melanjutkan bicaranya.
“Langsung saja Mbak, ini uangnya.” jawab Sandi memberikan uangnya.
“Iya Mas, uangnya pas ya. Ini bonekanya.” Kata dari penjaga kasir.
Setelah keluar dari toko, kami keluar menuju parkiran dan melanjutkan perjalanan ke rumah. Perjalanan kami kali ini tidak terhalang kendala, dan aku mengantarkan Sandi sampai ke depan gerbang rumahnya.
“Terima kasih ya Ron. Besok lagi ya? Hha…” kata Sandi setelah turun dari sepeda motor.
“Iya, sama-sama San. lain kali kalau tidak ada waktu ya.” jawabku langsung pergi meninggalkan Sandi.
Aku tidak langsung pulang, melainkan pergi ke tempat game online yang sering aku kunjungi bersama teman-temanku. Biasanya aku, Sandi dan teman-temanku yang lain selalu nongkrong ke tempat itu sehabis pulang kuliah. Lima belas menit perjalanan aku sampai di tempat tujuan, kulihat salah satu sepeda motor Dinar parkir di depan game online. Kemudian aku parkirkan sepeda motor dan masuk ke tempat tersebut.
“Nar, kamu sudah dari tadi disini?” tanyaku sambil menepuk pundaknya.
“Eh… kamu Ron, ngagetin saja. Aku sudah dari jam delapan tadi Ron.” jawaban dinar terkejut melihatku.
“Gimana? Ada event apa sekarang?” tanyaku sambil duduk disampingnya.
“Event di hari valentine Ron. Kalau beruntung nanti bisa dapet bundle arcana.” jawab Dinar yang matanya masih tertuju layar LCD.
“Kamu sudah dapat?” tanyaku.
“Belum Ron, mungkin pertandingan ini dapat. Semoga saja… hehe…” jawab Dinar sambil bergurau.
“Habis ini main bareng aku ya Nar?” tanyaku sambil menyalakan komputer samping Dinar.
“Iya Ron. Ini sebentar lagi selesai kok.” jawabnya.
Setelah permainan Dinar selesai, kami berdua bermain game online bersama. Game online yang kami mainkan yaitu Dota 2, game ini sudah terkenal di dunia. terkadang permainan ini sering dibuat turnamen setiap tahun sekali. Permainan kami berakhir selama satu jam lebih, kami menunggu hadiah event setelah permainan. Dan akhirnya aku mendapat hadiah bundle arcana dan Dinar mendapat bundle common dari event valentine. Hari ini aku sangat senang bisa mendapat hadiah yang dicari-cari oleh penggemar permainan ini.
Kami melanjutkan permainan sampai tak kenal waktu, di hari valentine ini aku bersenang-senang dengan teman-teman. Permainan berlangsung sampai larut malam, selama bermain dota 2 kami saling tertawa melihat kekonyolan teman saat bermain atau ekspresi para gamers. Dan inilah kebahagiaan yang aku dapatkan dari permainan game dan mendapat hadiah dari event valentine.
*TAMAT*
Maaf ceritanya kurang menghibur 😓