- Aku jatuh, kepada hati yang dingin tak tersentuh -
Semilir angin menerbangkan rambut perempuan yang sedang duduk di sebuah kursi dengan kanvas dan kuas. Jika di lihat dari jauh, perempuan itu terlihat menggoreskan kanvasnya asal, tapi jika di lihat dari dekat, gambar yang baru setengah jadi itu sangat bagus di lihat. Warna-warni mewarnai kanvas yang awalnya berawarna putih tanpa noda, menghasilkan seni yang bernilai.
Mata secoklat madu itu terlihat serius, bibirnya tersenyum tatkala lukisan nya sudah selesai di buat. Sebuah lukisan yang menggambarkan seorang lelaki tengah bermain piano. Perempuan itu segera membereskan kekacauan yang di buatnya, memasukan kuas dan warna yang tersisa ke dalam tas dan membuang barang yang sudah tidak di pakai ke dalam tempat sampah.
Setelah berjalan melewati beberapa rumah, perempuan itu berhenti di depan rumah ber cat gading dengan halaman yang asri. Perempuan itu membenarkan tas yang di pakainya sebelum melangkah menuju rumah.
"Permisi.. "
Tidak lama setelahnya, pintu rumah terbuka menampilkan seorang lelaki dengan ekspresi dingin.
"Raga, aku udah penuhin janji. Lukisanku sudah jadi" Ujar perempuan itu antusias.
Raga hanya menatapnya datar, tidak ada yang bisa menebak bagaimana perasaan lelaki itu.
"Tha" Panggil Raga datar tanpa menanggapi ucapan gadis itu sebelumnya.
Agatha tersenyum manis, berharap senyumannya bisa meluluhkan sikap dingin Raga.
"Ya?"
"Berhenti"
Agatha menatap Raga dengan ekspresi bingung, tidak mengerti, ya Agatha tidak pernah mengerti apapun tentang lelaki itu sekalipun dia sangat mencintainya. Raga seperti membangun tembok kokoh yang tidak sembarangan orang bisa masuk ke dalam nya.
"Maksud kamu apa Raga? Aku ngga ngerti"
"Berhenti deketin gue" Tiga kata yang keluar dari bibir Raga membuat Agatha melunturkan senyumnya. Agatha memegang erat lukisannya, melampiaskan perasaan kecewa aats jawaban Raga. Kenapa Raga tidak pernah memberikannya kesempatan barang sedikitpun?
"Kasih tahu aku alasannya Ga. Aku ngga bakalan berhenti sebelum kamu kasih penjelasan!" Ujar Agatha tegas.
Jika bisa memilih, Agatha memilih tidak jatuh cinta kepada Raga. Karena mencintai lelaki itu hanya memperparah luka.
"Ngga perlu tahu" Jawab Raga singkat. Tapi Agatha adalah orang yang selalu ingin penjelasan, sekalipun itu akan menyakitinya.
"Aku ngga akan berhenti sebelum kamu kasih aku penjelasan!" Ujar Agatha keukeuh.
Raga tetap pada ekspresinya, dingin dan datar. Sementara Agatha sudah kalut dengan pemikiran-pemikiran yang terlintas di otaknya.
"Oke. Gue masih cinta sama Cahaya"
Air mata Agatha luruh tanpa ia minta, matanya menunduk, senyumnya kembali terbit meskipun dengan air mata yang membasahi pipi.
"Cahaya? Dia ninggalin kamu dan memilih lekaki lain. Kamu masih menunggunya, Raga?" Tanya Agatha tidak percaya.
Dulu, Cahaya seperti warna-warni yang mewarnai hidup Raga yang bagai kanvas putih kosong. Agatha hanyalah kuas yang berkorban melukiskan warna di kanvas. Raga selalu ada untuk cahaya, selalu siap kapanpun Cahaya butuh, selalu memperlakukan Cahaya bak gelas yang mudah pecah. Sedangkan Agatha hanyalah pemeran piguran di tengah-tengah hubungan Cahaya dan Raga.
"Itu bukan urusan lo!"
Dari awal, Agatha yang mengenal Raga terlebih dahulu. Agatha yang setiap istirahat menyelinap ke kelas Raga hanya untuk menyimpan susu kotak dan roti, menatap Raga dari kejauhan dan mencintai Raga dalam diam. Kedatangan Cahaya awalnya membuat Agatha senang karena mendapat teman baru, tapi karena kedatangan cahaya juga, Raga semakin sulit ia gapai. Raga mencintai Cahaya, begitu juga sebaliknya.
"Kenapa? Kenapa kamu ngga pernah membalas perasaanku Raga? Aku mengenal kamu jauh sebelum kedatangan Cahaya, tapi kenapa Cahaya bisa mendapat tempat di hati kamu sedangkan aku ngga?" Tanya Agatha frustasi.
"Karena lo bukan Cahaya" Ujar Raga tegas.
Raga masuk ke dalam rumah dan membanting pintu dengan kasar. Agatha menatap nanar pintu rumah Raga, di tatapnya lukisan yang susah payah ia buat.
Brakk
Agatha melempar lukisannya, melampiaskan emosi yang entah kepada siapa harus ia tumpahkan. Agatha tidak bisa menyalahkan Raga karena lelaki itu tidak mencintainya, pun tidak bisa menyalahkan Cahaya karena telah berhasil mendapatkan tempat di hati Raga. Bahkan setelah tahu Cahaya meninggalkannya karena selingkuh, Raga tetap mencintai Cahaya. Dan dengan bodohnya, setelah tahu Raga masih mencintai Cahaya, Agatha masih mencintai Raga.
Benar, kita tidak bisa memilih kepada siapa akan jatuh cinta. Tapi jika cinta itu memberikan luka, lebih baik mencoba melupakan secara perlahan.
---
"Kenapa lo tiba-tiba menanyakan Cahaya?" Tanya Rayyan setelah menyesap kopi hitam kesukaannya.
Agatha menghela nafas berat, "Aku pengen tahu alasan dia selingkuh dari Raga"
Rayyan menatap Agatha dengan pandangan yang sulit di artikan, "Setelah lo tahu, apa yang akan lo lakukan?"
Agatha terdiam tidak mampu menjawab pertanyaan Rayyan, ya apa yang ingin ia lakukan? apa ia akan membuat Cahaya kembali kepada Raga supaya hidup lelaki itu kembali berwarna? Apa setelahnya dia rela melihat kembali kebersamaan Cahaya dan Raga?
"Cahaya adalah warna di hidup Raga" Ujar Agatha dengan mata memandang ke luar jendela Cafe yang menampikan taman. Sementara Rayyan masih memandang Agatha.
"Terus gimana sama lo?"
Agatha tertawa pelan, menatanya menunduk selama beberapa detik sebelum kembali menatap ke arah taman.
"Dari dulu, aku hanyalah pemeran piguran di hidup Raga"
"Kalau tahu dari awal hanya sebagai pemeran piguran, kenapa lo masih tetap bertahan? Lo nyakitin diri lo sendiri"
"Aku pengen nyoba, ternyata tidak permah ada kesempatan untuk aku bisa membuatnya jatuh cinta. Apa aku sejelek itu sampai Raga tidak pernah melirikku?"
Rayyan yang awalnya mendengarkan dengan seriua menjadi tertawa mendengar ucapan terakhir Agatha.
"Kok malah ketawa sih? Aku jelek banget ya?" Tanya Agatha kesal.
"Bukan hanya jelel, lo lebih dari itu" Ujar Rayyan sambil tersenyum jahil.
"Ih Rayyan!" Ujar Agatha kesal.
"Lo cantik Tha, lo manis dan baik. Kekurangan lo cuma 1, cinta sama orang yang ngga cinta balik sama lo"
Ucapan Rayyan membuat pipi Agatha bersemu, ya perempuan mana yang tidak senang saat ada lelaki yang memuji nya? Agatha hanyalah perempuan biasa.
"Aku pengen ketemu Cahaya" Ujar Agatha kembali ke topik utama nya menemui Rayyan. Rayyan masih ada hubungan kerabat dengan Cahaya, jadi tidak mungkin lelaki itu tidak tahu kemana Cahaya pergi.
"Gue ngga bisa Tha, gue udah janji"
"Aku mohon, izinin aku ketemu Cahaya"
Rayyan mengela nafas berat, di satu sisi dia sudah janji. Di sisi lain, dia kasihan melihat Agatha.
"Gue akan temuin lo sama dia, tapi ada syaratnya?"
"Apa syaratnya?" Tanya Agatha penasaran.
---