Perpustakaan.
Merupakan tempat yang paling sepi di negeri ini. Bahkan sangat sepi jika dibandingkan dengan makam kosong yang biasanya sering digunakan sebagai tempat seminar tatacara menghasut umat manusia oleh para jin-jin yang biasanya juga diiringi oleh iringan orkes gamelan Jawa.
"Udah?" Tanya seseorang. Yang posisinya lebih tinggi. Membawahi seseorang. "Kamu nggak capek? Aku udah....." Dia terengah-engah. Waduh kenapa ini??? Apakah mereka sedang 'itu' hanya karena sepi?? Ya ndak tau.....
"Belum.........,.belum apa-apa ini..." Jawabnya. Pelan. Di gelap gulita. Sama terengah-engahnya. "Kowe sih!!! Gak gelem ngewangi!! Iki mung sampe istirahat kedua harus dikumpulin....... Mana masih kurang banyak lagi......." Ujar si Jaka. Anak yang "pintar dan rajin", yang sedang mengerjakan pr-nya di sekolah saat jam istirahat. Ya sudah jelas kalo mereka sedang bukan 'itu'. Kalian ini........ pikiran lebih kotor dari sungai Citarum.
"Hehh???" Zora mengangkat sebelah alisnya, "ya bantulah dirimu sendiri!! Enak saja minta contekan.........."
"Hehhh!!! Di perpustakaan nggak boleh berisik!! Menggangu yang lain......!!!!." Bu Wiwik mengeluarkan suaranya. Sambil memegang tabloid yang cover-nya pasti selebriti yang mwahaha mangtapz......
"Yang lain? " Jaka bertanya-tanya dalam pikirannya, "..perpustakaannya aja sepi gini. Kadang saya bingung, ini perpustakaan apa kuburan....?"
"Yah, karena lebih sepi dari kuburan itulah jadi tempat yang paling nikmat untuk tidur. " Ucap si Zora. Anak yang pintar dan rajin sesungguhnya. Tapi sangat suka mendekati maut, maksudnya tidur.
"Terus si Joko ini mesti ora nggarap pr meneh iki......"
"He eh!! Betul!!!!" Zora, dengan semangat. Memang si Yudha ini, suka melihat orang lain menderita.
"Owalah to cah bagus, cah bagus.......!" Bu Wiwik, dengan nada khas javanese parents ketika hendak menasihati anak mereka. ".........ngono kui yo digarap. Sudah dikasih tugas, ya dikerjakan dengan sebaik mungkin......" Dan kita teruskan saja dengan blablablablablablabla. Zora sendiri cuma menutup telinga. Sementara Jaka harus mengiyakan sembari menggoreskan tintanya. "Nggeh....nggeh....iya...iya....."
"Hehhffffttt......" Jaka menghela napas. " Kayak gini gunanya apa ya buat kerja?"
"Heh???!!"
"Iya, emang waktu besok cari kerja ditanyain, bisa bikin pantun nggak? Bisa itung-itungan aljabar nggak?! Bisa himpunan nggak??!!" Nggak, kan?" Untuk kali itu, Jaka sangat filosofis. Dia untuk pertama kalinya bisa menyamai para pemikir tersohor dari bumi Yunani, dataran China, hingga tanah Arab.
"Hmmm.......aneh......" Komentar singkat dari Zora. ".... makanya rankingnya bisa jeblok gitu......" Batinnya. "Goblok!!!! Goblok...... pantes goblok!!!!"
"Loh?!! Bener kan??!!! Kita cuma belajar ini itu yang bahkan pengaruhnya di masa depan itu sedikit......."
"Koe ki kepiye tho le? Cah bagus....cah bagus......" Bu Wiwik, memulai Javanese mother style-nya lagi. ".....owalah.......... Sekarang saya tanya sama kamu, kamu nanem biji semangka buat dipanen buahnya, ya nggak?" Tanya Bu Wiwik. Jaka agak mulai melemot.
"Heh??? Saya nggak nanem semangka di rumah saya bu........" Jawab si Jaka dengan "pandainya".....
" Nggak.....coba bayangin aja. Kamu nanem biji semangka, terus yang dipanen itu buahnya kan?"
"Ya...iyalah...!!!!" Spontan Jaka, menyalak. "....tapi, di dalem buah semangkanya juga masih ada bijinya bu......."sambungnya.
"Nah!!!! Itu!!!!!"
"E.....apanya?" Jaka kebingungan.
"Yah itu jawaban pertanyaanmu tadi....cah bagus!!!" Bu Wiwik yang makin lama makin gemas dengan kelemotan Jaka. "......kamu dikasih tugas kayak gitu bukan sekedar cuma supaya kamu tau materinya........,"
"Terus supaya biar apa lagi?"
"........tapi yang paling utama kamu belajar disiplin. Tugasmu ada tenggat waktunya kan? Kalo mengumpulkan sebelumnya, kamu jadi disiplin, kan?"
".......iya........"
"......banyak pejabat-pejabat sekarang nggak disiplin. Korupsi. Melanggar aturan. Kamu mungkin bisa aja jadi kayak mereka cuma karena kebiasaan nggak ngumpulin tugas tepat waktu. Mau?"
"Ya.....nggak lah!!!!!" Spontanitas Jaka kembali lagi. " Saya Jaka Perjaka, saudara jauh dari Jaka Widada!!! Saya tak akan menjadi pejabat yang korup!!!!" Bunyinya.
"Jaka Widada......kek kenal........ Bukannya dia yang dagang bakso itu ya??" Entah bagaimana pikiran Zora bisa sampai ke tetangganya yang pengusaha bola-bola daging itu.
"Ya udah itu. Sama kamu itu disuruh buat kumpulan pantun kan? Itu juga sekalian belajar menjaga dan menghargai budaya kita....... Bagus itu. Kan nggak lucu juga kan, kalo budaya kita malah diaku-akuin negara lain?" Bu Wiwik masih terus menjelaskan.
"......oh......iya juga ya........"
"Nah....itu!!!!! Tujuan utamanya bukan supaya kamu paham materinya, tapi pengembangan sikap dan nilai-nilai positifnya itu tujuan utamanya. Bagaimana kamu menyikapi masalah yang ada di soal dan kreativitasmu dalam menyelesaikan. Itu baru buah semangkanya. Kalo materinya sama nilainya, yah anggep aja itu bijinya.........,"
"....pasti berguna di masa depan apa yang kamu pelajari hari ini......yah walaupun mungkin cuma buat bantu adekmu atau mungkin anakmu besok kalo kamu udah punya........" Akhir dari "watering watermelon seeds principal" karangan Bu Wiwik.
"Terus sama ada satu lagi. Itu dulu pernah ada murid-murid yang rambutnya gondrong. Seragamnya nggak sesuai aturan. Setiap ditegur, mesti ngomongnya, 'lhoh Bu, orang-orang kayak Isaac Newton, Einstein, Beethoven itu rambutnya aja berantakan loh Bu. Berarti kan sudah jelas, rambut sama baju itu tak memengaruhi prestasi!!' Gitu kata mereka. "
"Terus sama Bu guru, digimanain mereka?"
"Ya saya bilang sama mereka, ' Emang kamu pinter kayak mereka????!!! Emang hasil karyamu sefenomenal kayak mereka???!!!! Nggak kan???' Saya gituin mereka. Mereka ya cuma diem kicep......." Cerita Bu Wiwik.
"Terus, akhirnya mereka gimana???"
"Yah, terus mereka diem gitu terus. Sampe lulus. Terus akhirnya mereka dateng lagi ke sini. Reuni. Bilang kalo mereka udah sukses. Ada yang udah S2, dokter, insinyur, ada juga yang balik nyerang Belanda....."
"Nyerang Belanda??? Emang di sana mereka perang gitu???" Jaka, penasaran dengan kata-kata itu. PR yang harusnya dikerjakan olehnya harus tertunda.
"Nggak...... maksudnya ya sekolah di sana......."
"ooooohhhhh...... Bisa gitu ya???!!!" Si Jaka makin tak percaya.
"Yah...... semoga bisa jadi motivasimu......."
"Siap!!!!!"
"Wow.........saya salah mengira......." Zoraa, dalam tangan sandaran kepalanya. Hendak tepuk tangan,tapi tangan masih jadi sandaran.
"Apane sing salah mengira le?" Bu Wiwik, penasaran akan omongannya yang seperti orang (sok) bijak. Terputus-putus. Kadang terlalu banyak, atau malah terlalu sedikit.
"Ya, saya pikir bu Wiwik cuma satu diantara banyak yang menjadi peserta abadi CPNS, terus akhirnya jadi pustakawan pemakan gaji buta hanya karena perpustakaannya sepi.... Cerewetnya sekelas sama ibu saya, hobi nonton sinetron sama acara gosip nggak jelas, yang isinya cuma artis-artis pada nyabu atau berzina......." Jelas Zora. Kompleks sekali. Dari CPNS, perzinahan antar artis dan selebriti, hingga ibunya ikut diseret
"..... ternyata seorang cendhekkiawan, motivator, yang sedang menyamar......." Pungkas Zora. (Cendhek = pendek. Jadi mungkin maksudnya ya.........ya kalian pikir sendiri anjir!!!! Kita sedang bercerita, bukan duduk bersama membedah isi cerita!!)
"Heh!!! Sembarangan!!!! " Bu Wiwik, tidak terima dengan anggapan Yudha. "Saya udah hampir kepala enam!!!! Lidah saya udah berpengalaman kalo cuma makan asam garam manis pare pahit kehidupan!!!!.....Orang-orang, guru-guru kayak saya itu udah jarang sekarang, karena saiki kabeh ditontone mung biji, akreditasi. Cuma melihat apa yang ada di luar. Orang-orang sekarang sudah lupa untuk melihat lebih dalam...... " Bu Wiwik, menitikkan penjelasannya.
"Yah...bener juga sih......" Zora mengangguk.
"Orang kalo udah mau finish itu makin bijak ya!!!" Celetuk dari si Zora.
"Heh!!!!! Cah dhemit!!!!! Saya masih sehat, kuat, bertenaga seperti ini!!!!! Udah dibilang mau finish aja......." Bu Wiwik tak terima. Ya maklumlah, disumpahi purna nyawa alias mati.....
Tiba-tiba si Zora setengah membungkuk.
"Iki ngopo meneh iki????...."
"Sungkem ke ibu para dedhemit........ Ibu Wiwik Setyaningsih."
"Heh!!!!! Kurang ajar!!!!!!"
"Loh, bener kan? Katanya guru itu orang tua di sekolah. Kalo anaknya yang murid ini dibilang setan, berarti gurunya itu bapak/ibunya setan dong......???"
"Hihhh!!!!!!"
"Udah pergi sana!!!! Mengganggu kedamaian perpustakaan aja!!!"
Kemudian dia mulai menghidupkan mesinnya.
"Kemana?" Jaka, penasaran dengan Zora yang mulai memanaskan mesin-mesin miliknya.
"Anda tuli kah??? Keluar!!!!! Udah diusir saya....... Lagian tempat ini sudah tak bisa ditiduri lagi...."
"Oh iya..... semoga dapet untuk ditiduri......."
"Hmmm........." Zora memakai sepatunya. "kok kayak ambigu ya tadi??.......ah terserah......"
--------