"Veno!" Seru Rena.
Rena segera menghampiri Veno yang terduduk di jalan itu, Rena takut sesuatu yang buruk terjadi pada Veno, karena Rena tau, bahwa mobil yang hampir menabraknya tadi itu sudah direncanakan.
"Aku gak apa-apa, sepertinya mobil tadi bukan mobil sembarangan." Kata Veno.
Mati. Batin Rena.
"Ah? Masa sih?" Pura-pura Rena.
"Benar. Ashhh shh." Jawab Veno sambil meringis.
"Ah Ven! Kata nya gak sakit?! Itu justru kamu meringis, udah, sekarang kasih tau aku, rumah kamu dimana?" Ucap Rena tegas.
"Ini gak apa apa kok, bener deh, mending kamu cepet pulang, nanti ada penjahat loh."
Veno berucap sembari menyuruh Rena pulang duluan, karena ia takut Rena kenapa napa di jalan pulang jika terlalu lama menemani Veno.
"Em... Ya udah deh kalau kamu maksa, hati hati ya, kalau ada apa apa hubungi aku aja." Ucap Rena sembari pergi menjauh.
Aku harus ke markas. Batin nya.
"Halo, cari tau dan tangkap orang yang hampir membunuhku barusan." Ucap nya memberi perintah lewat telepon genggam nya.
Ya, saat ini Rena sudah berada di dalam mobil nya. Ia tak benar-benar pergi meninggalkan Veno sendirian. Ia hanya memantau saja semenjak tadi.
Tak berapa lama, Veno mencoba berdiri, namun ia tak sadar bahwa ia kehilangan banyak darah, sehingga penglihatan nya berbayang serta tubuhnya tidak seimbang.
Rena segera berlari ke arah Veno, ia membawa tubuh Veno masuk ke dalam mobil dan membawa nya ke rumah yang ia tempati. Tak lupa, Rena pun memanggil dokter.
"Cepet periksa dia, atau Gue sebarin rahasia Lo ke Pacar Lo mau?" Ancam Rena.
"Jangan donk, Lo mah kaga asik." Ucap nya dan segera memeriksa Veno.
"Dia gak apa apa, dia hanya kecape-an aja, dan masalah mobil itu, gak ada apa apa, dia cuma lecet aja, nanti juga sembuh."
"Hm, resep?"
"Gak usah pakai resep, 3 hari juga dah sembuh tuh human." Kata nya dan langsung ngibrit keluar dari rumah Rena.
Karena ranjang nya terpakai untuk tubuh Veno, terpaksa Rena harus tidur di sofa panjang miliknya.
Tengah malam, Veno mengigau, ia terlihat seperti memimpikan seseorang.
"Jangan tinggalin, pliss jangan tinggalin."
"Hei, bangun..." Ucap Rena dan menepuk-nepuk pipi Veno.
"Hng, jangan tinggalin." Veno sontak memeluk Rena, dan Rena hanya terdiam karena kaget.
Ketika sadar, Rena sontak berdiri, namun baru mengambil ancang-ancang Veno sudah berbicara.
"Disini aja, Gue masih pengen peluk Lo."
Sampai pagi masih seperti itu, tulang pinggang Rena terasa remuk karena posisinya yang seperti itu dan hampir 4 jam dia terdiam.