Semua tamu undangan sudah pulang, hanya beberapa teman dekat dan keluarga yang masih berada di aula resepsi pernikahan Vivian dan Louis. Pasangan pengantin baru itu tak henti-hentinya mengumbar senyum mereka kepada semua orang yang ada bersama mereka berdua di dalam ruangan itu.
Astrid, teman dekat Vivian menghampiri nya untuk berpamitan pulang.
"Sekali lagi selamat ya, cantik. Kalian happy terus ya sampai kakek nenek, pokoknya kalian harus saling mencintai sampai tua ya!" ucapnya panjang lebar lalu memeluk Vivian dan memeluk Louis.
Setelah itu Astrid pergi, dia sempat menoleh kebelakang dia terlihat sedikit cemas tapi dia memilih untuk pergi saja.
Ardi, Bagas dan teman-teman kerja Louis juga sahabatnya Juki, juga menghampiri kedua pasangan pengantin baru yang dari tadi sudah sangat lelah berdiri.
"Bro, kita balik dulu ya. Selamat buat kalian berdua. Cepet kasih ponakan ya buat abang-abang kalian ini!" celetuk Bagas membuat pipi Vivian yang sudah merah karena pemerah pipi bertambah merona.
Setelah acar selesai, kedua orang tua Louis juga harus pulang. Sementara pasangan pengantin itu bermalam di hotel yang sudah di reservasi untuk mereka.
Vivian mang sudah tidak punya orang tua lagi, dia adalah gadis dari panti asuhan yang kebetulan bekerja di kantor milik Louis.
Sosoknya yang rupawan dan tutur katanya yang lembut membuat Louis jatuh hati padanya dan menikahinya setelah mereka berpacaran selama Enam bulan.
Vivian dan Louis tiba di kamar mereka, Louis segera membantu Vivian melepaskan segala atribut yang di pakai sebagai hiasan rambut.
"Sayang, kamu mandi duluan saja. Semakin malam akan semakin dingin!" ucap Louis dengan lembut.
Vivian pun dengan senyum manisnya menurut apa yang di katakan oleh Louis, dia pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara Loius berdiri di balkon sambil menghisap sebatang rokok.
Beberapa menit kemudian, Vivian keluar dengan memakai jubah mandi dan sebuah handuk yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya.
Louis segera membuang puntung rokok nya dan menginjaknya dengan sepatunya. Dia masuk kembali ke dalam kamar dan menutup pintu balkon lalu menguncinya.
Louis mencium puncak kepala Vivian dan masuk kedalam kamar mandi. Louis sudah tidak sabar untuk segera keluar dan bertemu Vivian.
Sekarang sudah lewat tengah malam, ada perasaan aneh yang melanda Vivian. Seperti biasanya pada hari Selasa ketika lewat tengah malam, dia akan mengalami hal yang aneh dalam dirinya. Sisir yang di gunakan oleh Vivian terjatuh, dia sudah tidak dapat mengendalikan dirinya lagi.
"Aghhh!" teriak Vivian.
Louis yang mendengar teriakan Vivian bergegas keluar dari kamar mandi, dia segera mendekati Vivian. Tapi betapa terkejutnya Louis ketika melihat Vivian, matanya bukan mata Vivian matanya merah dan menakutkan.
Wajahnya datar dan mulutnya tertutup sangat rapat.
Louis mundur kebelakang, Vivian dan sesuatu yang lain dalam dirinya itu juag hanya diam menatapnya dengan tatapan tajam tanpa berkedip.
Tiba-tiba ponsel Louis berdering. Dengan cepat dia meraihnya dan menggeser tombol hijau.
"Halo..." jawab Louis yang masih panik.
"Louis, apa Vivian baik-baik saja?" tanya suara seorang wanita di ujung telepon.
Louis kembali melihat ke arah layar, dia melihat Astrid yang menghubunginya.
"Louis... halo..!" panggil Astrid cemas.
"Astrid, sebenarnya ada apa dengan Vivian?" tanya Louis.
"Itu yang mau aku jelaskan, aku lupa mengatakannya padamu. Setiap Selasa malam waktu tengah malam, Vivian akan... bagaimana aku menjelaskannya!" Astrid bingung sendiri.
"Pokoknya jangan ruangan di tempat mu gelap ya, atau di akan mengamuk!" ucap Astrid.
Louis terlihat mendesah, dia sungguh tidak menyangka akan ada hal seperti ini terjadi padanya dan Vivian di malam pertama mereka.
"Sebenarnya ada apa dengan Vivian, apa hal ini berbahaya?" tanya Louis.
"Dia sudah seperti itu sejak kecil, Seorang paranormal mengatakan, yang di dalamnya adalah saudari nya yang tidak sempat di lahir kan oleh ibunya dan meninggal bersama dengan ibunya saat dia di lahir kan. Asal tidak dalam gelap, dia hanya akan diam tanpa bicara. Jangan dekati dia saat seperti itu. Saat azan subuh tiba, dia akan kembali menjadi Vivian seutuhnya. Louis aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini!" jelas Astrid.
Louis mematikan panggilan teleponnya, dia kembali menelpon asistennya dan meminta agar jangan sampai terjadi pemadaman listrik di hotel.
Louis hanya bisa duduk diam memperhatikan Vivian dari tepi ranjang pengantin yang dihiasi dengan kelopak mawar merah.