“Kamu suka risolles?” Kata Miko waktu itu.
“Iya … aku suka banget sama risolles, apalagi risolles mozarella… hmmmm enak banget.” Kata Fiona waktu itu.
“Dasar kau ini, risolles cubby…” Kata Miko menggodaku.
“Dasar sok keren…” kata Fiona mencoba membela dirinya.
Miko dan Fiona memang sudah berteman sejak kecil. Hingga mereka dewasa seperti sekarang ini. Fiona memang mengagumi Miko sejak kecil, selain keren dia juga cerdas. Menjadi idola satu sekolah sejak dia SD. Sedangkan Fiona hanyalah sahabatnya sejak dulu dan tak berubah sampai sekarang. Sampai mereka sama-sama dewasa dan kuliah dengan jurusan yang sama juga.
Sampai sekarang pun mereka ke kampus selalu bersama. Karena selain rumah mereka berdekatan, mereka juga satu kampus. Hal itu mereka lakukan sejak SD. Sampai banyak yang mengira mereka pacaran tapi nyatanya tidak. Mereka hanya sebatas berteman saja. Miko sering berganti pasangan dari sejak SMA. Banyak teman-teman Miko yang mencari tahu tentang Miko pada Fiona. Seringkali Fiona merasa kesal karena harus menjadi bayang-bayang Miko untuk para gadis-gadis yang menggilainya. Bahkan sekarang di kampus pun juga sama, banyak gadis-gasis yang meneriakkan namanya, juga senior-senior pun tak kalah ingin mendekatinya. Ya… tak bisa dipungkiri, Miko memang mempunyai pesona yang memikat banyak gadis.
Kali ini gadis yang tergila-gila pada Miko adalah Nara, teman akrab Fiona di kelas. Fiona merasa remuk hatinya, bahkan teman dekatnya sendiri menyukai Miko. Fiona harus rela mengirimkan segala sesuatu yang diberikan Nara pada Miko. Berusaha mendekatkan Miko dengan Nara.
“Miko,,, kali ini sekali aja Lu makan malem sama Nara. Kalau Lu emang nggak suka sama dia, bilang aja terus terang jangan gue yang bilang. Gue nggak enak sama Nara.” Kata Fiona memohon pada Miko.
“Fiona… Risolles Cubby, gue kan udah bilang sama Lu, gue nggak suka sama Nara. Lu kan tau tipe gue kayak gimana. Lagian Lu nggak ada capek-capeknya ya dijadiin tumbal sama cewek-cewek itu.” Ucap Miko sambil menstater motornya.
“Ya capeklah …. Gue capek banget malah. Gue juga pengen nggak dilibatin mulu sama percintaan Lu, tapi apalah daya nasib gue yang Cuma jadi kurir cinta Lu.”Kata Fiona pada Miko. “Padahal gue pengen berada di posisi yang berbeda.” Ucap Fiona dalam hati.
“Heh Risolles cubby …mau naik enggak? Bengong mulu.” Kata Miko.
“Iye… dasar bawel.” Ucap Fiona ngomel.
Sampai di kampus mereka masuk kelas barengan. Fiona duduk di dekat Nara, sedangkan Miko duduk di dekat anak laki-laki lainnya. Ada satu teman mereka yang namanya Hana, sepertinya Miko menyukai Hana. Lihat saja, Hana begitu sempurna. Fiona meminta maaf pada Nara, karena tidak bisa mendekatkannya dengan Miko. Nara pun bisa mengerti, tidak mudah memang dekat dengan Miko sang super star di kampus ini.
Fiona memang tidak terlalu dekat dengan Hana, tapi mereka juga berteman. Miko sepertinya memberi perhatian lebih pada Hana.
“Risolles Cubby, nanti Lu pulang sendiri ya…gue ada acara.” Kata Miko yang menghampiri Fiona di meja. Kemudian dia pergi. Fiona sudah tau jika Miko akan pergi dengan Hana. Fiona mendesah kesal, lagi-lagi seperti ini.
Nara sempet bertanya pada Fiona,”Fi … Elu pernah nggak sih suka sama Miko. Apalagi kalian sering bersama sejak kalian kecil?”
Pertanyaan Nara membuat Fiona seperti tertampar, ia bahkan berusaha keras menyembunyikan perasaannya itu pada Miko. Fiona tak ingin persahabatannya dengan Miko rusak Cuma karena rasa cinta. Ia ingin selalu bersama Miko meski hanya sekedar menjadi sahabat. Setidaknya ia bisa selalu ada di dekat Miko.
“Gue sama Miko hanya sahabat, nggak lebih dari itu Nara.” Ucap Fiona lembut.
Nara hampir tak percaya dengan yang dikatakan Fiona, tidak mungkin laki-laki dan perempuan yang selalu bersama tidak pernah ada rasa sedikitpun. “Masa sih Lu nggak pernah ada rasa meskipun sedikit sama Miko?”
“Enggak ada Nara …ya udah yuk pulang.” Jawab Fiona berusaha menyembunyikannya.
Beberapa hari kemudian akhirnya Miko jadian juga sama Hana. Mereka terlihat kemana-mana sering bersama, bahkan sekarang Miko dan Fiona tak pernah berangkat bareng lagi. Karena Miko selalu menjemput Hana di rumahnya. Miko memang sudah bucin banget kalau lagi kasmaran.
Fiona pun lebih memilih menyibukkan diri untuk mengejar beasiswa S2. Dia tak mau tahu lagi urusan Miko dengan Hana. Hal itu berlanjut sampai di semester akhir.
Hingga suatu ketika Miko mendatangi Hana di perpustakaan. “Nih risolles kesukaan Lu … kenapa tadi lupa bawa. Mama kan udah buatin buat Lu.”
“Makasih ….” Kata Fiona singkat. Miko pun kemudian duduk di depan Fiona.
“Lu kenapa sih, akhir-akhir ini Lu kayak berubah. Nggak kayak dulu lagi.” Kata Miko.
Fiona menghela nafas panjang, kemudian meletakkan buku dan bolpoinnya di meja. “Gue mau fokus ke beasiswa gue, gue nggak ada waktu buat main-main lagi.” Fiona pun akhirnya kembali mengambil bolpoin dan bukunya.
“Ayolah …. Jangan kaku kayak gini. Lu nggak mau ke warung risolles deket SD kita dulu?” Tanya Miko.
“Gue udah kesana kemarin, kata Budhe Endang hari ini warungnya tutup.” Ucap Fiona tanpa melihat pada Miko.
“Ya udahlah, bingung gue sama Lu. Lu jadi aneh akhir-akhir ini. Oya, satu hal lagi, Lu kenapa nggak cerita sama gue kalau Lu jalan sama Juan? Gue udah bilang sama Lu, kalau Lu deket sama cowok setidaknya Lu cerita sama gue, kayak gue cerita sama Lu. Gue nggak mau Lu dibohongi sama cowok-cowok yang ngak jelas.” Miko mulai berceramah.
Fiona kembali meletakkan bolpoinnya.”Gue tanya sama Lu? Emang Lu ada waktu buat gue? Nggak ada badut. Buat sekedar menyapa gue aja nggak bisa, apalagi gue mau cerita sama Lu. Lu udah sibuk dengan dunia Lu sendiri. Jadi, menurut gue, gue mau jalan atau deket sama siapa pun itu terserah gue, ini bukan urusan Lu.” Kata Fiona mengambil buku dan bolpoinnya lalu pergi karena dia tidak ingin ada kegaduhan di perpustakaan.
“Heh … risolles… main pergi aja lu ah.” Miko pun mengejar Fiona.
Miko menarik tangan Fiona dari belakang.”Lu kenapa sih? Lu marah sama gue? Ok,.. sory mungkin sekarang gue nggak ada waktu buat Lu, tapi kan setidaknya Lu bisa telpon gue, kirim wa ke gue. Gampang kan?” ucap Miko membela diri.
“Denger ya Mik, dari dulu Lu selalu ngelarang gue deket sama siapapun. Tapi Lu selalu dekat sama semua cewek yang Lu suka. Lu nggak ngebiarin gue deket sama cowok yang gue suka. Kenapa? Gue juga pengen kayak Lu, deket sama cowok mana aja kayak Lu.” Fiona menjelaskan sedikit kencang.
“Mik …. Nggak biasanya Lu manggil gue gitu. Heh Risolles, Lu kenapa sih? Lu bilang sama gue, Lu kenapa?” Tanya Miko panik.
“Lu yang kenapa? Lu sekarang berubah nggak seperti badut ancol yang gue kenal dulu, Lu sibuk dengan dunia Lu, Lu enak-enakan jalan sama cewek Lu, sementara Lu nglarang gue jalan sama cowok yang gue suka.Kenapa?” Kata Fiona dengan nada keras dan seperti orang kesurupan sampai semua orang yang lewat melihat mereka.
Hana pacar Miko pun datang dan bertanya pada Miko apa yang terjadi. Apakah mereka berdua berantem sampai satu kampus sedang melihat mereka.
“Miko, ada apa?” Tanya Hana.
“Tanya aja sama Risolles cubby … dia aneh akhir-akhir ini.” Katanya pada Hana.
“Fiona, kenapa?” Tanya Hana pada Fiona.
Fiona tak menjawab, dia memilih untuk pergi.
“Heh … risolles jangan kabur Lu.” Teriak Miko ingin menghalangi Fiona pergi tapi Hana mencegahnya.”Mungkin dia butuh waktu sendiri Mik, udah biarin.”
Sejak saat itu, hubungan Fiona dan Miko renggang tak seperti dulu lagi. Yang awalnya mereka sahabat dekat tak lagi ada kedekatan itu, meskipun rumah mereka berdampingan. Hingga akhirnya mereka lulus kuliah dan bekerja pada pekerjaan masing-masing.
Sampai pada keluarga mereka mengadakan makan malam bersama, Miko pun mengajak Hana yang sudah lama ia pacari. Dan Fiona mangajak Thomas lelaki yang sedang dekat dengannya saat ini.
Ketika Fiona datang Miko langsung melihatnya, Fiona terlihat semakin cantik dengan gaya dandanannya yang kasual. Miko tercengang dengan penampilan Fiona, Fiona terlihat sangat cantik. Ketika waktu luang, Miko menarik tangan Fiona ke taman.
“Siapa dia?” Tanya Miko
“Kenapa? Apa seperti ini cara Lu menyapa gue setelah sekian purnama kita nggak pernah saling sapa?” Tanya Fiona pada Miko.
“Oke, gue minta maaf Fiona. Gue kangen sama Lu Risolles, gue kangen kebersamaan kita kayak dulu. Kemana-mana kita bisa bareng.” Kata Miko.
“Miko … kita bukan anak-anak lagi, kita sudah dewasa sekarang. Lu juga bakal menikah dengan Hana kan, begitu juga dengan gue. Gue akan menikah dengan Thomas. Lelaki pilihan gue.” Ucap Fiona tegas.
“Apa menikah? Secepat itu Lu ngambil keputusan untuk masa depan panjang Lu, Lu bahkan nggak tau siapa dia. Gue perlu cari tau siapa dia, gue ingin Lu di tangan laki-laki yang tepat, kalau dia bukan cowok baik-baik Lu masih ada waktu untuk pergi.” Kata Miko dengan menggebu.
“Terus siapa laki-laki yang tepat buat gue? Elu?” Fiona mencoba menanyakan semua isi hatinya pada Miko. Tapi Miko hanya diam tak bicara satu kata pun.
“Kenapa Lu diem aja, Lu nggak bisa jawab? Kenapa Thomas nggak pantes buat gue? Emangnya Lu pantes buat gue?” Tanya Fiona pada Miko.
“Karena gue perlu tau siapa aja cowok yang deket sama Lu, bahkan sekarang Lu memutuskan untuk menikah dengan orang yang belum gue kenal?” Miko hanya bisa menjawab itu.
“Gue tanya apa alasan Lu ngomong kayak gitu, dari dulu gue tanya alasan itu Miko. Tapi Lu nggak pernah bisa jawab, yang Lu jawab Cuma Lu butuh tau cowok mana yang deket sama gue. Apa itu sebuah alasan Miko, bukan, itu bukan sebuah alasan. Lu tau kenapa gue selama ini menghindar dari Lu, gue berusaha mengobati hati gue sendiri Mik, belasan hingga puluhan tahun gue diem, gue berusaha diem agar persahabatan kita nggak berubah, tapi Lu yang udah merubah semuanya. Lu merubah semuanya …” Ucap Fiona dengan air mata.
“Apa maksud Lu bicara kayak gitu Fi, … kenapa gue merubah semuanya?” Tanya Miko.
“Miko,… Lu berlagak nggak tau atau emang Lu nggak punya hati?” Tanya Fiona.
“Apa sih maksud Lu? Jangan buat gue semakin bingung.” Miko semakin bingung dengan pernyataan Fiona.
“Lu selalu bilang ke gue, untuk selalu cerita kalau gue deket sama cowok lain, tapi setelah gue cerita Lu selalu bilang mereka nggak pantes buat gue, gue ngalah gue berusaha jauh dari mereka, tapi setiap gue deket sama cowok, nggak ada satu pun cowok yang menurut Lu cocok sama gue. Gue berpikir Lu ngelarang gue deket sama cowok , karena Lu nggak mau gue dimiliki sama orang lain, karena Lu nggak mau kehilangan gue. Iya kan?” Ucap Fiona menggebu.
Miko hanya terdiam, dia mengingat semua dari awal. Dari kecil mereka berteman, dari bagaimana dia selalu ingin melindungi Fiona, dari bagaimana dia selalu nggak suka jika Fiona dekat dengan cowok lain. Dia baru sadar sekarang, dia mencintai Fiona bukan orang lain, bukan juga Hana. Fiona pun pergi bersama Thomas.
Miko yang menyadari semuanya akhirnya bicara dengan Hana, kalau dia tidak bisa lagi melanjutkan hubungan mereka. Miko menceritakan semua pada Hana. Hana pun menangis sejadi-jadinya. Dia tak terima, apalagi selangkah lagi mereka menuju hari pernikahan, tapi Miko menghancurkan segalanya.
Sebelum hari pernikahan Fiona dan Thomas, Miko datang ke rumah Fiona, tapi Fiona tak mau menemui Miko. Miko meletakkan 1 box risolles kesukaan Fiona di depan pintu kamar Fiona.
Setelah Miko pergi, akhirnya Fiona keluar dan mengambil risolles yang ditaruh Miko. Ada sepucuk surat yang dikirimkan Miko yang isinya Miko menyesal, Miko terlambat menyadarinya, Miko baru sadar sekarang kalau ternyata selama ini dia sangat menyayangi Fiona. Fiona pun menangis sejadi-jadinya.
Fiona pun berlari menemui Miko. Dia mengejar Miko sampai di ujung jalan.
“Miko tunggu ….” Teriak Fiona.
Miko pun menghentikan langkahnya. Kemudian dia berlari ke arah Fiona, Miko menghapus air mata di pipi Fiona,”Kenapa kamu menangis, Risolles? Harusnya kamu bahagia, nanti kamu akan menikah dengan pria yang kamu cintai.” Ucap Miko.
Fiona menampar Miko, tapi Miko malah tersenyum. Menurutnya itu pantas ia terima karena kesalahannya pada masa lalu.
“Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Hah? Kenapa di saat seperti kamu baru menyadarinya? Aku pikir kamu cerdas, ternyata kamu sangat bodoh Miko, kamu bodoh.” Ucap Fiona dengan nada bergetar.
“Aku memang bodoh Fi, aku memang bodoh. Aku terlalu hanyut dalam pikiranku sendiri. sampai aku lupa dengan hatiku.” Ucap Miko.
“Sekarang apa dengan kamu melakukan ini bakal membuat aku menerima kamu? Kamu salah Mik, kamu datang di saat yang salah. Aku sudah jauh move on dari perasaanku ke kamu, aku sudah mencintai Thomas dengan sepenuh hati, tidak ada lagi ruang di hatiku buat kamu.” Ucap Fiona sendu.
“Aku tahu Fiona, aku tahu. Aku hanya ingin mengungkapkan semuanya sama kamu. Aku nggakmasak ingin menyesal seumur hidupku karena tidak mengatakan padamu.” Ungkap Miko.
Mereka sama-sama menangis dalam penyesalan, mereka pun berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Mereka berjanji untuk selalu menjadi sahabat. Meskipun dengan keadaan yang berbeda. Karena sebentar lagi Fiona akan menikah dengan Thomas.
Setelah Fiona menikah dengan Thomas, Miko pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya dan untuk mencari masa depannya. Tapi Miko, Fiona, dan juga Thomas tetap menjadi sahabat yang baik sampai sekarang.