Hari ini cukup cerah dengan matahari yang mengintip di balik awan. aku dan 3 rekan ku berencana untuk pergi ke hutan angker di pulau Kalimantan. biar ku kenalkan terlebih dulu siapa aku, aku adalah Bima Abimana, pria berusia 23 tahun aku seorang YouTubers yang terkenal dengan konten horor. beberapa hari lalu para subscribers ku mulai menurun, beberapa dari mereka juga memberontak dan mengatakan Chanel ku adalah sebuah kebohongan dan settingan yang menipu publik dan untuk membuktikan aku tidak berbohong, aku dan 3 tim ku benar-benar datang ketempat angker yang berada di Kalimantan.
satu hari sudah kami lewati, tak ada yang terjadi di pulau Kalimantan itu. aku dan yang lain pun mulai berdebat.
"Dam Lo bilang pulau ini angker, tapi mana buktinya. semua hanya sia-sia, mana kita udah jauh-jauh dari Jakarta," protes ku pada Adam sang juru kamera di YouTube ku.
"Bim sebelumnya Lo udah setuju kita datang ketempat ini, harusnya Lo gak usah protes," sahut Adam pria berkulit hitam dengan kaos kotak-kotak.
"udah, percuma kalian ribut gak ada gunanya," sela Melodi, gadis berkerudung biru malam.
"terserah gue mau pergi dulu..." kata ku dengan kesal. jelas aku kesal, waktu ku terbuang sia-sia dan tak dapat apa-apa.
aku pun pergi dengan membawa handphone iPhone 11 di tangan ku, dengan niatan pergi untuk memotret. dan tanpa ku sadari aku semakin dalam masuk ke hutan belantara. hari sudah mulai gelap, dan yap dengan bodohnya aku baru menyadari itu.
"gue di mana? astaga udah mau gelap.." gumam ku sambil mengusap kepala ku frustasi.
setelah berjalan 10 menit lamanya aku mendengar suara seorang perempuan menangis seketika itu bulu kudukku berdiri, dan jantung ku berdetak tak beraturan. dengan kamera ponsel yang menyala aku berjalan mengikuti suara isak tangis itu.
aku menelan ludah ku ketika melihat gadis cantik tengah menangis sambil menutup wajahnya dan bersandar di sebuah sumur tua yang sudah tidak di gunakan lagi. 'dia pasti setan' pikir ku setelah melihatnya. namun ku tidak lari. karena tujuan ku kemari memang ingin menangkap makhluk tak kasat mata.
aku maju dengan kamera ponsel yang terus menyala. "anjrit!!" kata ku setelah ponsel ku mati karena kehabisan baterai. gadis berkulit putih dan bertubuh molek itu menoleh ku setelah mendengar suara ku.
"Si..siapa kau.." tanyanya dengan suara lemah.
"dia bukan hantu," batin ku setelah melihat kakinya menyentuh tanah.
aku terdiam di tempat gadis di depan ku itu rupanya buta, ku tahu itu karena tatapannya yang kosong. jujur gadis itu sangat cantik, dia terlihat manis dengan bibir pink kecil, mata kucing yang indah dan hidupnya yang mancung. bisa di bilang dia Jennie blackpink versi Indonesia.
"aku Bima Abimana, kebetulan aku tersesat," sahutku dan duduk di dekatnya "kenapa kau di sini?" tanyaku.
"sama seperti mu aku tersesat, tadinya aku ingin mencari kucingku dan setelah terjatuh aku baru sadar aku berada di dalam hutan." katanya dengan logat khas orang Jakarta.
gadis itu menyapu air mata di pipinya dengan tatapan lurus kedepan. dia benar dia baru terjatuh, hal itu dapat di buktikan dari goresan di lututnya dan tangannya yang kotor. aku pun berinisiatif untuk membantunya ku dayung air sumur di belakang ku, setelah yakin airnya bersih ku ambil sapu tangan di saku celana ku dan ku robek menjadi dua bagian. satu ku celupkan ke air yang bersih yang ku dapatkan dan satunya ku pegangi.
"maaf sebelumnya, bolehkah aku membersihkan luka dan tangan mu, aku tidak akan memaksa jika kau keberatan," kataku sopan. gadis itu diam sebentar kemudian mengiyakan ucapan ku dengan satu anggukan.
setelah di iyakan aku pun membalut luka gadis itu dengan sapu tangan ku yang tak basah, sesaat dia meringis dan menutup mata. "maaf ya," kataku.
ku raih telapak tangannya, tangannya cukup dingin mungkin karena terlalu lama duduk di tempat ini. perlahan ku sapu kain yang basah ke telapak tangannya yang kotor. setelah selesai gadis berusia di bawah 20 tahunan itu tersenyum dan berujar "terima kasih."
deg!! jantung ku langsung berdebar kencang membuat ku bertanya di benak ku "apa begini rasanya cinta pandangan pertama." hanya karena dia tersenyum seluruh dunia seakan berhenti dan ikut menoleh padanya yang manis.
"kamu berasal dari mana?" tanya ku dengan gugup.
"aku dari desa di samping pulau ini," sahutnya lembut.
"begitukah? ku kira kau dari Jakarta atau kota besar lainnya, soalnya kau terlihat sangat fasih berbicara seperti anak kota," kata ku dengan senyum lebar.
gadis itu langsung murung dengan nada sedih dia berkata "dulu aku sempat tinggal di Jakarta cukup lama, lebih tepatnya sekitar 3 tahunan, dan itu ku lakukan untuk pengobatan mataku, namun ya.. seperti yang kau lihat itu percuma, aku tetap gadis buta yang merepotkan."
mendengar itu membuat ku ikut sedih, aku mulai membayangkan bagaimana hidup di kegelapan pasti menakutkan dan juga melelahkan.
"kau tidak boleh bicara begitu, aku yakin banyak yang menyayangi mu, dan mungkin keluarga mu sekarang tengah mencari mu," kataku menguatkannya.
dia hanya diam tanpa sepatah kata pun, aku menarik napas panjang lalu berujar "hari sudah mau gelap lebih baik kita pergi mencari jalan keluar."
"tidak! aku akan menunggu ibuku di sini, seperti yang kau bilang pasti ada yang mencari ku, dan ku yakin orang itu pasti ibu, aku akan tetap di sini!!" tegasnya.
"baiklah kalau itu mau mu aku akan di sini menunggu ibumu bersama mu," sahut ku.
gadis itu kembali tersenyum dan berucap lagi "terima kasih sekali lagi."
aku menatap gaun putihnya yang basah, membuat ku berpikir 'sedari tadi cuaca cerah tak ada hujan bagaimana pakaiannya basah?' karena semakin penasaran aku mulai bertanya "kenapa pakaian mu basah?"
"aku jatuh ke sumur di belakang mu," sahutnya dengan raut datar dan tak lama ia tertawa kecil "aku bercanda, seperti yang ku bilang aku terjatuh dan jatuhnya ke lubang air yang sedikit besar."
aku tertawa mendengar jawabannya, setelah beberapa detik berlalu ku lepas kemeja ku dan ku pakaikan padanya, kedua keningnya berkerut dengan bibir yang sedikit manyun. "apa yang kau lakukan?"
"bukan apa-apa, hanya saja aku tak ingin kau kedinginan," jawab ku.
kami pun mulai berbincang. Dia gadis yang banyak bicara, dia menceritakan segalanya dengan raut gembira tak ada kesedihan. Namanya Isabella ku tahu itu setelah berbincang dengannya. dan jujur semakin lama kami berbincang perasaan cinta ku padanya semakin besar, tutur katanya yang lembut dan senyumannya yang renyah membuatku tak bisa berhenti memandangnya.
malam pun semakin gelap, aku mulai bertanya pada Isabella "Sudah malam apa kau tidak takut?" dia lalu menjawab ku "untuk apa aku takut? kan ada kamu."
jawabannya benar-benar menusuk hatiku, apa begini rasanya di gombalin seorang wanita? sangat mendebarkan.
"aku bercanda, aku tidak takut karena bagiku mau itu pagi, siang ataupun malam, itu sama hanya kegelapan."
aku langsung menggenggam tangannya "Bell ku harap kau percaya pada ku, ikut lah dengan ku ke Jakarta dan aku janji akan ku cari dokter terbaik untuk mengobati mata mu."
Isabella melepaskan genggaman ku "kau terlambat," Isabella lalu memeluk ku dan menangis.
"kau terlambat, kita sekarang berbeda," katanya dengan nada penuh penyesalan.
aku membalas pelukan Isabella dengan kedua mata yang menutup dan tiba-tiba suara tangisnya menghilang dan bersama dengan itu Isabella mulai tidak bisa ku rasakan di pelupuk ku.
aku membuka mata, yang tadinya gelap gulita mendadak terang benderang. "Siang? bagaimana mana bisa?" batinku.
saat ku menoleh ke kiri ku lihat Isabella yang berjalan dengan tongkat ke arah ku, gadis itu tampak cemas dengan terus memanggil nama hewan peliharaannya. "Abel.. Abel.."
"tidak!! tidak!!" aku menjerit ketika menyadari beberapa langkah lagi Isabella akan terjatuh ke dalam sumur kayu di samping ku yang mana pinggirannya sudah rusak.
secepat yang ku bisa ku raih tubuh Isabella, namun itu percuma tangan ku hanya melalui pinggangnya layaknya angin. Isabella pun jatuh ke dalam sumur di detik itu pula aku menangis sejadi-jadinya, dan tanpa pikir panjang aku melompat ke dalam sumur.
setelah di dalam sumur ku peluk Isabella sambil berkata "aku mencintaimu, aku akan selalu bersama mu.."
aku tak peduli akan hidup ku, karena ku sadar kebahagiaan ku ada padanya. ku tahu ini gila namun begitulah cinta, tidak ada logika di dalamnya.
aku terus memeluknya, aku juga terus memohon pada Tuhan untuk bisa bersamanya. dia memang gadis buta namun itu tak masalah, karena aku bisa menuntunnya. dia sudah tiada itu juga tidak apa aku bisa mati menemaninya.
"Bima..."
"Bima..."
"Bima.."
terdengar seseorang memanggil ku, dan secara perlahan ku buka mataku sambil bergumam "Isabella.."
semua kembali ke kenyataan, aku tersandar di sumur dengan langit gelap yang di hiasi bulan dan bintang. aku menangis sejadi-jadinya, banyak warga berkumpul sambil membawa obor dan 3 teman ku juga hadir mereka nampak cemas dan bergantian memeluk ku.
"Tolong Isabella..." kataku dan di tatap heran banyak orang.
"Isabella.." gumam seorang warga yang juga ada di sana, seorang wanita tua dengan rambut sebahu.
"di mana dia?" tanya wanita itu.
aku pun menunjuk sumur di belakang ku, setelahnya para warga mengambil tali dan beberapa alat lainnya untuk menolong Isabella. aku ingin masuk ke sumur itu menemui Isabella, namun tiga teman ku melarang ku sambil menahan tubuhku.
tubuh Isabella pun dianggap dan diletakkan di tanah, tubuhnya membiru dengan wajah yang begitu pucat. aku langsung memberontak dan memeluk Isabella, aku menangis sambil memeluk jasadnya. ku tau dia telah tiada tapi ku masih berharap dia membuka mata dan tersenyum lebar seperti sebelumnya.
wanita tua yang tadi bertanya dan merupakan ibu Isabella langsung jatuh pingsan setelah menemukan jasad putrinya yang sedikit membusuk dengan bau yang menyengat.
Aneh, tapi ini nyata, Isabella memakai kemeja hitam yang tadi ku pasangkan padanya, dan itu membuat hati ku semakin sakit dan hancur bagai kaca yang terjatuh ketanah.
Hanya satu suara yang terdengar dari heningnya malam di tengah gerumbungan orang-orang, "Isabella" Jeritan ku dengan derai air mata.
🖤🖤🖤
Setelah Isabella di makamkan semua orang pergi kecuali aku, ku tetap ada berdiri di sisi batu nisannya dengan pakaian serba hitam. Isabella dinyatakan hilang seminggu lalu, seandainya aku ada saat itu mungkin aku bisa memeluk Isabella dan menyelamatkannya. Siapa yang harus ku salah kan? waktu? atau Tuhan?
saat ku duduk meringkuk sambil menangis seseorang memelukku dari belakang.
"semua ini tidak salah mu, berhentilah menangis."
"Isabella.." kata ku dan benar saja setelah ku menoleh Isabella duduk di samping ku.
kami berpelukan seerat-eratnya seolah tidak ingin melepaskan satu sama lain. setelah lama waktu berlalu Isabella melepas pelukannya lalu berkata "Rama.. aku tak ingin kau menangis, ku juga tak ingin kau menyalahkan dirimu, tidak ada siapapun yang salah dalam hal ini, bertemu dengan mu adalah anugerah terbesar di hidup ku."
"izinkan aku bersama mu.." pinta ku.
"kita akan selalu bersama, aku akan selalu ada di sini," dia memegang dada ku "di hati mu."
"Rama jaga dirimu baik-baik, terus lah hidup dan jangan pernah menyerah," katanya dengan senyuman.
"apa kau tidak mencintai ku?" tanya ku.
"aku mencintaimu... sebesar langit yang di ciptakan Tuhan. tapi kita sekarang berbeda, dan perbedaan itu sangat lah besar, kita bisa bersama tapi tidak sekarang," katanya lalu dia tersenyum "aku sangat mencintaimu, sampai jumpa Rama..." Isabella pun menghilang secara perlahan.
kenapa harus begini, kenapa jarak antara raga harus di tambah dengan jarak bumi dan surga?
apa cinta selalu sepahit ini?