Hai nama saya Ayu surya, teman saya biasanya memanggil saya Ayu. Saya tipikal orang yang gak bisa marah dan selalu mengalah. Sekarang saya seorang mahasiswa jurusan pendidikan Bahasa Inggris, yang belajar sambil melamar pekerjaan sebagai seorang guru.
Awalnya saat saya kuliah semesters 1, saya dan teman saya Nisa melamar berkerja sebagai guru paud di Jakarta. Kami tak melamar hanya ke satu tempat, tetapi ke beberapa tempat lainnya.
Kami melamar pekerjaan untuk mencari pengalaman. Bagaimana rasanya menjadi guru dan tentu untuk mendapat gaji juga hehehe. Seperti sekali dayung dua pulau terlampaui keren bukan.
“Nisa, kamu bawakan semua berkas-berkas untuk melamar hari ini?.” Tanya Ayu pada Nisa yang sedang makan.
Nisa lalu menoleh pada Ayu kemudian menjawab, “Bawa” sambil memunceratkan nasi yang masih ada dalam mulutnya.
“Ihhhhh Nisa jorok, untung gak kena saya..” Kata Ayu menjauhi Nisa, kemudia Nisa menelan makanannya dan kembali berkata, “Maaf Ayu, kamu bertanya saat saya sedang makan. Alhasil muncerat deh makanannya,” Nisa pun nyengir.
“Ayu kamu sama Nisa mau melamar kerja ya?" tanya Sarah karena mendengar percakapan Nisa dan Ayu.
“Iya,” jawab Ayu singkat.
“Sarah ikut ya,” katanya yang terdengar meminta.
“Memangnya kamu Bawa berkas-berkas untuk melamar?” tanya Ayu.
“Enggak, kamu juga kenapa gak memberitahu saya kalau ingin melamar kerja hari ini. Giliran Nisa di beritahu,” kata Sarah yang merasa tak adil.
Nisa yang mendengar namanya di sebut lalu berkata, “Sarah, saya juga baru tahu tadi pagi.." beritahunya.
“Kalau gitu, kenapa kamu gak ajak saya juga Ayu?” tanya sarah menatap Ayu yang pilih-pilih mengajak orang.
“Yaudah..., nanti kalau saya mau melamar lagi saya ajak kamu.." Kata Ayu yang tak ingin ribut.
Lalu Ayu dan Nisa pergi melamar setelah pulang kuliah. Mereka ketempat tujuan mengendarai sepeda motor milik Agung teman kuliah mereka berdua.
Awalnya Agung tidak ingin meminjamkan, karena dia ingin pulang. Tetapi berkat rayuan maut Nisa(MEMAKSA), Agung kemudian meminjamkan motor miliknya.
Nisa yang tidak bisa mengndarai motor, jadi Ayu yang memboncengnya. Padahal postur tubuh mereka sangatlah berbeda Ayu kecil sedang kan Nisa gemuk.
Setelah perjalanan kurang lebih satu jam. Mereka sampai di tempat tujuan di Jakarta selatan.
Di dalam ruangan berukuran 3x4 meter. Mereka menemui guru disana dan menyerahkan berkas-berkas mereka.
Setelah bertanya-tanya sekitar 15 menit mereka pun memohon izin pulang.
Saat mereka ingin pergi ketempat melamar selanjutnya Nisa berkata, “Ayu, Guru tadi judes bangat mukanya. Gak senyum sama sekali,”
“Itu karena kita belum kenal, kalau sudah kenal mungkin saja baik,” balas Ayu sambil tersenyum.
Setelah melamar, mereka lalu ke kampus, untuk mengembalikan motor Agung.
“Agung makasih ya, sudah minjamin motornya. Bensinya sudah kami isi,” kata Ayu sembari memberikan kunci motor kepada Agung.
“iya sama-sama Ayu, makasih juga sudah ngisiin bensin saya..” Kata Agung seyum lalu menerima kunci motornya.
Ayu dan Nisa pulang, beberapa hari kemudian Nisa dapat kabar kalau Ayu diterima kerja.
Ayu sangat senang, tetapi takdir berkata lain, karena jam kerja bertabrakan dengan waktu kuliah setiap hari Selasa, Rabu, Kamis.
Sedangkan pekerjaan tersebut hari Senin sampai Jumat full time. Mau tak mau dia menolaknya.
Awalnya kami ingin pidah ke kelas intensif, yang kuliah setiap hari Sabtu dan Minggu(dari pagi sampai malam). Tetapi tidak jadi, karena pindah ke kelas intensif tidak mudah dan kalaupun kami pindah ke kelas intensif pekerjaan tersebut sudah diberikan kepada orang lain.
“Hei Ayu, Nisa kalian kenapa murung sekali?” tanya Yuli.
“Begini Yuli, Aku dan Nisa sudah keterima kerja, tapi karena jadwal kerja sama kuliah sama, lalu kami melepas pekerjaan kami dan lebih memilih pendidikan ini.” Kata Ayu sedih.
“Kenapa kamu gak, pindah ke kelas intensif?.” Tanya Yuli kembali.
“Kalaupun pindah perkerjaan tersebut tidak akan bisa menjadi perkerjaan saya karena butuh waktu, dan kelas intensif sangatlah cepat membahas pelajaran, sudah pasti kita ketinggalan.” Jawab Ayu.
Sarah yang sedari tadi menguping percakapan mereka lalu berkata, “Yasudah sabar ya, sekarang kita belajar aja dengan giat memahami setiap matakuliah. Sehingga kita pandai, ketika kita sudah lulus kuliah bukan kita yang mencari pekerjaan tetapi pekerjaan yang mencari kita. Menjadi guru yang memiliki ilmu..” Kata Sarah sembari senyum.
“Tumben Sarah ngomongnya benar,” kata Yuli menyenggol Sarah. Ayu dan Nisa lalu tersenyum.
Lalu Nisa berkata, “Sarah tadi itu kata-kata Bu Yulidar dosen kita kan.”
“hahaha iya, Nisa tau aja.” Kata Sarah nyegir.
“Sarah, Saya juga minta Maaf gak ajak kamu melamar kerja ya..” Kata Ayu.
“ Gak apa-apa kok,” kata sarah senyum lalu berkata kembali, “Walaupun awalnya kesal” sembari mengepalkan tangannya dengan berwajah senyum.
“Sebenarnya saya dan Nisa melamar bekerja ke beberapa tempat juga untuk kalian, kan kita teman.” Kata Ayu. “Hahaha iya kita teman dalam senang, gak dalam sedih,” Ledek Sarah. “Enggaklah kita teman dalam senang maupun sedih,” kata Ayu.
Jadi inilah cerita saya saat mencari pekerjaan, ya walaupun gak terima berkerja di sekolah. Tapi saya bisa mencari pengalaman saya bekerja sebagai guru les, setiap setelah magrib Anak-anak tetangga datang untuk belajar.
Semua gak di mulai dari yang besar, tetapi dari yang dari kecil lalu menjadi besar. Itulah kehidupan.
Dan ketika saya mengajari les pada Anak-anak, saya menyadari susahnya menjadi guru. Saya dapat merakan perasaan guru saya ketika murid yang saya ajarkan tak mematuhi perkataan saya, dan sibuk dengan kesibukannya masing-masing, seperti ngobrol atau bermain.
Walaupun murid saya hanya ada 5 Anak, tetapi saya merasakan sangat berat mengajarnya. Bagaimana dengan guru saya di sekolah mengajar murid sebanyak 40 murid. Sekarang saya mengerti susahnya menjadi guru. Jadi untuk Anak-anak jadilah murid yang mematuhi guru, jika memang itu untuk kebaikanmu.