Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan Masing-masing, dalam hal Keterampilan,Musik, Kesenian, Pelajaran, dan sebagainya.
My name is Muhammad Wahyu, I am a teacher in islamic boarding school. I am 25 years old and I not yet married, so whos want to marrisd with me don’t forget call in this number 081388######.
“Assalamu’alaikum Sir,” seru seorang anak prempuan imut yang berhijab.
“Yes, What do you want ask to me?” Tanya Wahyu Ramah.
“I forgod to working your home-work,” Jawab Prempuan itu takut.
“I am forgive you, but don’t repeat again! You undertand Matam!” Kata Wahyu Tegas.
“Thanks sir, I will don’t repeat again!” serunya dengan wajah senang.
Hahhh sebenarnya..., saya ingin Marah padanya. Tapi karena dia murid yang tidak pernah lupa mengerjakan tugas, saya memaafkannya.
“Wahyu!” sapa seorang lelaki lalu menghampiri Wahyu yang sedang duduk di bawah pohon. “Saya mencarimu sejak tadi, saya ingin mendengar ceritamu!” Kata Haikal penasaran.
“Hemm Baiklah, saya akan menceritakan tentang Pengorbanan” seru Wahyu, yang di dengar oleh Haikal dengan serius.
****
“Wahyu! Wahyu! Kamu dimana sayang, sekarang kamu harus belajar mengaji!” seru seorang Wanita Cantik sembari meraba sekitarnya.
“Hihihi padahal saya ada di belakang Ibu. Saya mau mengerjai Ibu, sebelum Ibu menyadari keberadaan saya.” serunya dengan suara kecil, lalu melangkah dengan pelan menuju pintu.
“Wahyu! ...stop ini your place and close the door! After that sitdown in front of me!” Seru Wanita tersebut tegas dan membuat Wahyu kaget.
“Iya Ibu.”
“Why you Not answer?, When i am calling your name.”
“Maaf Bu, saya....” Jawab Wahyu lalu menundukan kepalanya karena tatapan wanita tersebut.
“Answer me by English, Not by Indonesian language.”
“I yem polgiping with you,” kata wahyu dengan lucu.
“Oke i am forgiving you, but don’t repeat again.” “Next open the letter of Yasin!”
Saya lalu membaca surat Yasin ayat 1 sampai 10 dengan banyak kesalah, seperti pengucapan antara qof dan kaf, ta dan tha, tajwid dan lainnya. Karena kesal saya mengatakan, “ Bagaimana Ibu mengetahui kalau saya salah dalam membaca Quran? Ibu saja tidak dapat melihat al-quran dan car mengucapkan saya?” saya lalu menutup mulut, dan merasa menyesal dengan ucapan saya.
Saya dapat melihat Ibu terkejut lalu terdiam, setelah beberapa menit ia lalu berdiri dan pergi meninggalkanku di ruangan tamu.
Saya lalu pergi ke rumah Eka sahabat saya, setelah sampai di sana terdapat banyak Anak-anak sedang mengaji.
“Assalamu’alaikum!, Eka main yu.”
“Walaikumsalam Wahyu, maaf saya tidak bisa main karena hari ini Guru ngaji saya datang. Kalau mau ayu belajar mengaji bersama,” Kata Eka sembari mengajak Wahyu masuk.
Saat saya masuk kedalam rumah, saya melihat sosok Prempuan caktik yang sedang duduk sembari membaca Al-Quran. Lalu saya bertanya pada Eka, “Siapa Prempuan cantik itu?” “Beliau Guru ngaji saya, Namanya Kakak Amalia Putri. Kamu tau Kak Amelia masih muda umurnya 20 tahun,” jawabnya dengan suara kecil.
“Kakak Amel, teman saya Wahyu ikut belajar bareng ya.” Kata Eka, sembari menunjuk Wahyu
“Iya,” Jawabnya lembut.
Saya lalu mengaji, dan setelah selesai mengaji Kak Amel menyebutkan kesalahan saya. kesalahan saya sangat banyak, membuat saya malu di depan Kakak Amel. Sedangkan Eka lebih bagus mengajinya di bandingkan saya.
“Kakak mengajinya bagus sekali,” seru Wahyu.
“Alhamdulilah karena Kakak sering belajar, Dan juga karena seseorang yang membuat kakak pintar mengaji seperti sekarang. Jika tidak bertemu dengannya saat itu, mungkin Kakak masih tetap tidak dapat mengaji.”
“Maksudnya?” Tanya Eka dan Wahyu berbarengan.
Amel tersenyum dengan ketidak pahaman muridnya, lalu dia menceritakan kejadian masa lalunya. Kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
“Saat Kakak berumur 12 tahun, Kakak sering melawan pada orang tua. Kakak jarang sholat dan tidak bisa mengaji, membuat orang tua Kakak bingung. Sampai suatu hari Kakak bertemu dengan seorang Prempuan yang berdiri di depan rumah, dia berdiri seperti menunggu seseorang. “Misi saya mau masuk!” seru saya ketus, karena dia tidak bergeser saya mendorongnya membuat dia terjatuh. Orang tua saya yang melihat kejadian tersebut marah dan berkata, “Amel kenapa kamu mendorong zahra?” “Karena dia menghalangi jalan.” Seru saya ketus.
Setelah beberapa hari prempuan tersebut datang kembali, ternyata dia adalah guru ngaji saya. tetapi saya tidak memperdulikannya dan pergi meninggalkannya untuk bermain. Sampailah hari dimana dia mendapat upah, “Zahra ini uang buat kamu, terima kasih karena telah mengajari Amel.” “ Maaf Pak saya tidak dapat menerima uang ini, karena saya tidak pernah mengajari Amel.” “maksudnya??” “Setiap saya kemari Amel,selalu pergi meninggalkan saya.”
Pernyataan Kak Zahra membuat Ayah Marah, semenjak itu ketika Kak Zahra datang mengajar Ayah atau Ibu selalu mengawasi kami. Dia mengajari saya dengan lemah lembut, perkataannyapun sopan. Sampai suatu hari saya mengetahui kalau beliau ternyata Buta.
“Ayah, bagaimana mungkin orang buta seperti dia mengajari saya mengaji?” seru saya Kesal. “Memang Apa salahnya kalau Kakak Zahra buta, Bukankah dia mengajarimu dengan baik.” “Ayah! setiap saya mengucapkan Surat Alfatiha, selalu saja salah. Padahal dia saja tidak dapat melihat, dia hanya orang Bodoh dan Buta.” Perkataanku tersebut membuat Ayah dan Ibu Marah, sedangkan Kak Zahra hanya diam menunduk.
Setelah kejadian tersebut, Kak Zahra tidak datang ke rumah untuk mengajariku. Setelah seminggu kemudian Kak Zahra datang bersama seorang Prempuan Tua, kedatangan Kak Zahra membuat orang tuaku Bahagia. “Ibu, Bapak, dan Amel. Saya datang kemari untuk membuktikan kalau saya memang Buta tetapi tidak Bodoh, sebagai buktinya saya megajak Ustadzah Fitri.” Kata Kak Zahra lalu ter senyum.
Kak Zahra Lalu mengaji surat Al Kaffi dengan sangat merdu, membuat saya meneteskan air mata tanpa saya sadari. Setelah itu Kak Zahra mengajariku kembali, walau kadang saya suka mengusilinya.
Saat itu saya dan Kak Zahra sedang belajar, lalu Teman-teman saya datang untuk mengajak bermain. Saya bilang tidak ingin bermain, lalu teman saya melihat Kak Zahra lalu menariknya dengan kasar. “Pasti karena kamu Amel tidak bermain bersama kami,” kata Yani lalu mendorong Kak Zahra sampai terjatuh. Saya yang ingin menolong Kak Zahra di tahan oleh Ayu dan Nisa. “Ini semua bukan salah Kak Zahra, saya sendiri yang ingin belajar. Saya akan bermain dengan kalian jadi tolong jangan sakiti Kak Zahra,” kata saya sembari memohon.
Kami lalu pergi bermain di dekat sungai, tanpa kami sadari ternyata Kak Zahra mengikuti kami dari belakang. Beliau mengikuti kami dari suara jejak kaki kami, seperti yang kita ketahui walaupun beliau buta tetapi pendengarannya tajam.
lalu Kak Zahra memegang tangan Yani, Yani yang terkejut lalu mendorong Kak Zahra sampai jatuh dan terpeleset. Kak Zahra bertahan dengan dahan pohon yang rapuh, yang di bawahnya sungai. Tentu saja membuat kami kaget, dan kami mencoba menolongnya dengan menariknya. “Hei pegang tanganku!” seru Ayu yang berbadan lebih besar di antara kami. “Hei pegang tanganku!” “Ayu! Kak Zahra tidak dapat melihat,” seruku menangis. Membuat mereka terkejut, dan melihat Kak Zahra yang mulai meneteskan Air mata. Dahan yang tersebut lalu patah dan Kak Zahra terjatuh, saya segera berlari dan meminta pertolongan.
Saat saya sampai di pinggir sungai, saya meliat Kak Zahra sudah di tolong oleh Bapak-Bapak yang sedang memancing Ikan di sungai. Saya lalu menghampiri Kak Zahra yang tidak berdaya, saya melihat keningnya berdarah. Lalu Kak Zahra di bawa ke Rumah sakit terdekat.
Saya dan teman-teman di omeli, karena hampir saja menghilangkan nyawa Kak Zahra. Setelah Kak Zahra sadar kami meminta maaf, tetapi Kak Zahra hanya tersenyum lembut dan mengatakan “Kakak tidak Apa-apa jadi kalian tidak perlu merasa bersalah.” Itulah yang Kak Zahra katakan dengan senyum yang lembut.
Setiap hari saya kesana menjenguk Kak Zahra, dan Kak Zahra selalu mengajari saya mengaji walaupun dia sakit. Dia mengajari apa saja yang dia ketahui, dan bercerita tentang Nabi maupun sahabat-sahabat nabi. Sedangkan Ayu,Yani dan Nisa kadang ikut belajar bersama kami.
Ketika esoknya saya ingin kesana, Ayah mengatakan bahwa Kak Zahra sudah keluar dari rumah sakit. Tentu saja membuatku senang, tetapi kesenangan itu hilang ketika Ayah mengatakan “Amel tadi pagi Zahra datang kesini. Dia akan pergi ke suatu tempat yang tidak dia beritahu, dan jika memang kalian jodoh kalian akan di pertemukan entah itu berapa lama.”” Cerita Amel membuat Wahyu menyadari kesalahannya.
Saya sekarang harus minta maaf pada Ibu, saya sangat menyayanginya. “serunya dalam hati.” Sampai di rumah saya langsung menyadari keberadaan Ibu yang sedang mengaji Al-quran dengan merdu, saya lalu memeluknya.
“Ibu maafkan perkataanku padamu, saya tidak akan mengulanginya. Saya sangat bersnyukur mempunyai Ibu!” kataku terurai air mata dengan suara bergetar.
Ibu lalu membalas pelukanku dan berkata, “Yes my sweety , i have forgive you but don’t repeat again. You must know, i make it for you future. Because mother is firs teacher for his child, do you understand my sweety.”
“Yes Mom.”
“Begitulah ceritanya Haikal,” seru Wahyu senyum.
“Hiks.. sungguh mengharukan, terimakasih ya.”
Haahhh jadi menceritakan masa lalu, saya merindukanmu Bu. Andaikan engkau berada di dekatku, saya akan merawatmu dengan kasih sayang. Kaki ini tidak sabar menghampirimu, tangan ini tak sabar memelukmu, dan mata ini tidak sabar memandang wajahmu yang meneduhkan hati dan senyummu yang menenangkan jiwa.
“TEENG,TEENG” sudah saatnya memasuki kelas.
“Good Afternoon studens!”
“ Good Afternoon Teacher,” Jawab Anak murid berbarengan.
“Before we begin our study, we begin the pray.” Seru wahyu, “Oke before we begin our study, i will say something.”
“My children do you know? Mom can be a teacher, but the Teacher can’t be a Mom. But there is the teacher very love with her student , until she enter to hospital.”
“Sir, i am soory. i am not understan what do you say?” Seru murid laki-laki.
“If you not understand what i say, you can ask to other pupils but don’t ask to me okey.” Kata wahyu tegas lalu tersenyum.
I never forget, my morher always say “Mom would sacrifice for his child, until she not care for her self. If you became the teacher, you must sacrifice for your students don’t forget and what i say. And don’t look the student from face, wealty, possessions, and clothing, but from of willingness to change for the better.”
“Okey, before we continue our study, i want Fitri and Ely don’t forget study hard. If you not understang, you can ask to me any were. I will teach you, because i want like my Mom. Oke thak you very must.