Tak apa jika diriku dibilang wanita paling egois didunia, memaksamu untuk berada disisiku selamanya. Aku sudah begitu jatuh hati padamu, sampai semuanya menjadi obsesi.
Tujuh tahun lalu, aku memutuskan mengungkapkan perasaanku padamu. Namun kau berkata," iya aku juga mencintaimu tapi maafkan aku, aku gak bisa hubungan jarak jauh". Jawaban yang begitu menyesakkan dadaku namun dikalahkan oleh rasa bahagia. Aku begitu senang kau memiliki perasaan yang sama. Aku membujukmu agar kau mau menjalani hubungan ini, kau hanya terdiam. Aku yang menganggap jika diammu mengartikan ia. Ternyata aku keliru kau tak ingin berjuang bersamaku, meski kita masih berbalas kabar, saling memberi perhatian dan kau sering memanggilku sayang aku tak tahu artinya apa saat itu.
Hari ini aku kembali setelah tujuh tahun aku meninggalkanmu. Aku tak gemuk lagi sekarang, aku banyak berubah demi dirimu.Saat ini aku terlalu senang tanpa tau apa yang akan ku dapat, aku terlalu berpikir berlebihan saat kau akan menyambutku dibandara dengan sebuah buket bunga kesukaan kita.
Dipertemuan pertama setelah tujuh tahun, bukan kabar baik yang kudapat darimu meski kenyataannya itu baik untukmu, dadaku begitu sesak, sangat sesak dan amat sangat menyakitkan saat kau memperkenalkan wanita yang kau bawa itu tunanganmu dan akan menikah sebulan lagi tepat di hari ulang tahunku.
Aku terlalu berharap banyak padamu yang bukan siapa-siapa, aku begitu bodoh. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar, begitu banyak hal yang berubah. Apalagi masalah perasaan. Aku memilih pulang tanpa meminta penjelasan tentang hubungan kita selama ini. Aku yang memang bodoh, apa kau yang begitu berengsek. memberikan harapan padaku selama ini. Kau tak bilang jika sudah bertunangan, saat kau masih memanggilku sayang. Aku tak menyadari jika aku hanya sebuah hiburan dikebosananmu.
Tepat diulang tahunku nanti, dihari pernikahanmu. Aku akan membawa bunga kesukaan kita, mengucapkan selamat dan semoga kau bahagia. Aku ingin kau mengingat aku masih aku yang sama yang masih mencintaimu. Meski aku dikecewakan berulang kali olehmu aku akan memaafkan. Karena aku tahu ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku yang terlalu bodoh, tak bisa membaca situasi saat berpamitan denganmu kala itu.