KENAPA GEROBAK MIE AYAM ITU PADA UMUMNYA BERWARNA BIRU ?
(Asal usul gerobak biru mie ayam)
Begini ceritanya. Di suatu kerajaan entahlah berada yang dipimpin oleh raja bernama Kaisar Moeng. Ada seorang pemuda penjual mie kuah keliling. Pemuda itu bernama Tekwan.
Pada waktu itu kondisi ekonomi dinegeri itu memang sedang sulit. Sehingga tentu berimbas daya beli yang semakin menurun. Dan sudah pasti berdampak pula pada dagangan pemuda penjual mie kuah tadi.
Meski keadaan ekonomi sedang tak menentu, namun pemuda Tekwan tak pernah putus asa demi mengais rejeki untuk bertahan hidup dan yang paling penting adalah untuk biaya pengobatan ibunya yang sedang sakit keras.
Memang, sejak ayahnya meninggal, praktis beban ekonomi ditanggung oleh pemuda Tekwan yang merupakan anak semata wayang, demi menghidupi keluarga dan sang ibu yang disayanginya, yang juga sedang berjuang melawan penyakitnya.
Yang terbesit dalam benak pemuda Tekwan adalah terus berusaha tanpa sedikitpun mengharap belas kasihan orang lain. Dan gerobak mie kuah keliling peninggalan dari ayahnya menjadi harapan untuk terus memutarkan roda ekonomi keluarga.
Hingga pada satu ketika, pemuda Tekwan menghentikan gerobak mie kuahnya karena hujan begitu deras dan memaksa ia untuk menepi.
Saat menunggu hujan reda, pemuda Tekwan melihat seekor ayam jantan yang tampaknya kedinginan karena sekujur tubuhnya basah kuyup.
Karena kasihan, lalu pemuda Tekwan mencoba menolong ayam jantan tersebut mengeringkan bulunya dengan kain yang ia bawa digerobaknya. Lalu pemuda Tekwan membekap ayam jantan tersebut agar hangat dan tidak kedinginan.
Setelah hujan reda, pemuda tekwan akhirnya melepaskan ayam jantan yang rupanya sudah tak lagi kedinginan. Lalu pemuda Tekwan pun bergegas melanjutkan berkeliling menjual mie kuah.
Tanpa disadari oleh pemuda Tekwan, ternyata ayam jantan tadi mengikuti dari belakang sepanjang perjalanannya.
Pemuda Tekwan baru menyadari ketika akhirnya ia telah selesai berjualan. Dan betapa terkejutnya ia, ayam yang ia berikan pertolongan saat hujan tadi siang ternyata mengikutinya hingga sampai di rumah.
Namun begutu, ia juga tak bisa mengusirnya, karena hari mulai gelap. Maka pemuda Tekwanpun membawanya kedalam rumah untuk diberi makan. Mungkin esok hari, saat ia berkeliling akan membawa serta ayam jantan tadi untuk mencari tahu siapa pemilik ayam tersebut. Gumam pemuda Tekwan dalam hati.
Keesokan hari, seperti biasa pemuda Tekwan jualan mie kuah sambil membawa ayam jantan untuk mencari si pemilik.
Namun hingga sore haripun penjual mie kuah itu tidak menjumpai si pemilik ayam jantan.
Lalu dengan terpaksa pemuda Tekwan merawat ayam jantan itu kembali di rumahnya.
Sambil melamun, si pemuda Tekwan mengamati ayam tersebut.
Ayam jantan itu memang terlihat berbeda dengan ayam lain.
Posturnya tegap, dengan warna paruh keemasan. Kuku cakar berwarna perak, matanya berwarna biru cerah, sementara bentuk jengger dikepalanya seperti menyerupai mahkota.
Ayam yang aneh juga unik. Gumam si pemuda Tekwan sambil tersenyum. Dalam hati penjual mie kuah keliling itu sebenarnya mulai menyukai ayam jantan tersebut, sehingga ingin merawatnya.
Akan tetapi ia teringat akan prinsip kejujuran yang diajarkan oleh mendiang ayahnya, bahwa barang apapun yang bukan milik tidak boleh dimiliki untuk diri sendiri. Sehingga hal tersebut mengurungkan niatnya untuk memelihara ayam jantan tersebut.
Malam mulai larut. Pemuda Tekwan yang kelelahan itupun akhirnya terlelap tidur.
Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu dengan ayam jantan yang amat familiar. Yaa.. ayam jantan yang saat hujan dibekapnya agar tak kedinginan.
Dalam mimpinya, ayam itu bisa berbicara dan mengatakan sesuatu padanya. Ayam jantan itu berkata "sembelihlah aku, manfaatkan dagingku untuk campuran mie kuahmu, sementara gunakan darahku sebagai penanda gerobakmu !"
Saat pemuda Tekwan terbangun dari tidurnya, ia masih terngiang dengan ucapan ayam jantan dalam mimpinya. Tapi segera ia singkirkan dan menganggap itu hanya bunga tidur saja.
Hingga tiga malam berturut turut si pemuda Tekwan bermimpi hal yang sama. Yaitu ayam jantan memintanya untuk menyembelih dirinya.
Pemuda Tekwan sudah terlanjur sayang pada ayam jantan tersebut, sehingga tak sanggup pula kalau ia harus menyembelihnya.
Namun mimpi permintaan dari ayam tersebut disaat yang bersamaan juga menghantui pikirannya. Mungkin ada maksud tersembunyi dari permintaan ayam jantan tersebut. Pikir pemuda Tekwan.
Lalu dengan sangat berat hati pemuda Tekwan melakukan apa yang diminta oleh ayam jantan tersebut.
Ajaibnya saat ayam jantan tersebut disembelih, ternyata mengeluarkan darah berwarna biru. Kemudian darah itupun dimasukan kedalam wadah, untuk segera dilumurkan pada gerobaknya sesuai amanat si ayam jantan dalam mimpinya. Sementara dagingnya ia manfaatkan sebagai campuran mie kuah dagangannya.
Setelah semuanya siap, pemuda Tekwanpun kembali berjualan mie kuah kali ini dengan campuran ayam dengan gerobaknya yang kini berwarna biru.
Tak disangka, mie kuah dagangannya laris manis dalam sekejap.
Pemuda Tekwanpun berpikir, mungkin inilah maksud dari amanah ayam jantan tersebut. Yaitu ingin membalas budi baiknya.
Mie kuah dengan campuran daging ayam itupun akhirnya semakin terkenal keseluruh penjuru negeri. Bahasa kekiniannya itu menjadi viral dimana mana.
Sehingga banyak orang mengikuti cara berjualan mie kuah sama seperti yang dilakukan oleh si pemuda Tekwan.
Berita viralnya mie kuah ayam itupun akhirnya sampai ke telingan Kaisar Moeng.
Seperti biasa, jika ada sesuatu menjadi perbincangan publik, orang, kelompok atau siapapun itu akan dipanggil ke istana kerajaan untuk dimintai penjelasan agar menjadi inspirasi bagi semua masyarakat. Sekaligus juga Kaisar Moeng ingin mencicipi hidangan mie kuah ayam yang amat terkenal kelezataannya tersebut.
Kemudian diutuslah salah satu menteri untuk mengundang pemuda bernama Tekwan ke istana.
Singkat cerita, sampailah pemuda Tekwan dihadapan Kaisar Moeng.
Lalu sang Kaisar bertanya tentang kiat kiat apa saja sehingga mie kuah ayamnya begitu lezat hingga sampai demikian terkenal.
Lalu berceritalah si pemuda Tekwan sesuai apa yang dialaminya secara rinci.
Ketika sang Kaisar mendengar kata ayam jantan dengan darahnya yang berwarna biru, bertanyalah Kaisar pada pemuda Tekwan tentang bagaimana wujud ayam jantan yang dimaksud.
Pemuda Tekwanpun kembali menerangkan prihal bagaimana ciri ciri ayam jantan yang dimaksud.
Mendengar cerita dari pemuda Tekwan tersebut, wajah Kaisar Moeng berubah menjadi muram. Dari raut wajahnya, tampak sekali sang Kaisar tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Kemudian dengan agak ragu pemuda Tekwan memberanikan diri untuk bertanya pada Kaisar Moeng, mengapa tiba-tiba saja Kaisar tampak sedih setelah mendengar cerita tentang ayam jantan tersebut.
Kemudian berceritalah Kaisar Moeng. Bahwa ayam jantan yang baru saja diceritakan adalah putra mahkota, yaitu anaknya sendiri.
Putra mahkota Kaisar semasa menjadi manusia memiliki sifat dan karakter yang amat buruk. Anak sang Kaisar tersebut juga terkenal sering menghamburkan harta kerajaan yang dipungut dari pajak rakyat untuk hal yang sia sia.
Maka tak heran kalau akhirnya kondisi perekonomian memburuk akibat ulah anaknya yang tak bisa memanfaatkan pajak rakyat pada hal yang positif. Sehingga membuat kondisi keuangan kerajaan defisit. Dan terjadilah bencana krisis ekonomi seperti yang sedang dialami oleh negeri itu
Atas kelakuan anaknya yang memalukan itu membuar Kaisar Moeng murka, lalu akhirnya sang Kaisar secara spontan berucap "anakku, andaikan kamu menjadi seekor ayam sehingga aku dapat dengan tega menyembelihmu untuk membayar hutang-hutangku pada rakyat, maka akan kulakukan itu."
Tak terduga ucapan sang Kaisar dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Anak kesayangannya tersebut menjadi ayam jantan sama persis dengan ciri fisik seperti yang sudah diceritakan oleh si pemuda Tekwan tersebut.
Kemudian ayam jantan perwujudan putra mahkota tersebut pergi meninggalkan istana entah kemana.
Mendengar cerita dari Kaisar Moeng, pemuda Tekwan merasa menyesal dan bersalah telah menyembelih ayam jantan yang ternyata putra mahkota kerajaan. Sebagai wujud kesalahannya, pemuda Tekwanpun meminta maaf, dan rela menjalankan hukuman yang setimpal.
Akan tetapi, sang Kaisar yang amat bijaksana tersebut tidak menghukum si pemuda Tekwan. Sebaliknya Kaisar Moeng justru memberikan penghargaan karena dianggap telah berhasil memutar roda ekonomi negeri itu dengan karya mie ayam kuah, yang kini terkenal dengan sebutan Mie Ayam. Dan sekaligus sang Kaisar menjadikan pemuda Tekwan sebagai anak angkatnya.
Sejak saat itu pemuda Tekwan memboyong serta ibunya ke istana kerajaan dan mereka menuai buah atas jerih payah, keuletan dan kejujurannya.
Itulah cerita asal usil kenapa gerobak mie ayam berwarna biru, yang ternyata warna darah putra mahkota.
Sebagai pernak pernik pendukungnya, mangkuk yang digunakan sebagai wadah atau tempat sajian mie ayam terdapat logo ayam jago sebagai tribute pada putra kerajaan.
Tamat.