Suara dentuman musik menggema di dalam sebuah ruang latihan dance. Seorang gadis sedang menari di dalam sana, menggerakkan seluruh tubuhnya dengan energik. Apelia nama gadis itu, dia baru berusia 13 tahun.
Walau masih muda dia sangat pandai menari, keterampilan menarinya itu dia dapat dari berlatih sendiri secara otodidak. Sebenarnya Apel juga sangat ingin berlatih menari dengan dibimbing oleh seorang yang profesional. Namun, keadaan ekonomi keluarganya membuat dia mengurungkan niatnya.
"Hish, kenapa salah terus gerakannya," gumam Apel mematikan musik yang diputar dengan speaker.
Memang saat ini Apel memutuskan untuk mendaftar di sebuah agensi musik dengan berbekal uang tabungannya, dia berhasil menjadi seorang trainee di sini. Sudah kurang lebih satu tahun Apel berlatih di tempat ini, tapi hingga saat ini masih belum ada tanda-tanda dirinya akan debut.
Apel kembali menyalakan musik dari speaker itu. Tubuhnya kembali bergoyang mengikuti irama musik yang disetel. Walau peluh membasahi seluruh tubuh, Apel masih sangat semangat. Malam sudah larut dan semua orang sudah kembali ke asrama masing-masing, hanya Apel saja yang masih bertahan di sini. Siang tadi dia baru saja dimarahi oleh pelatih karena gerakannya yang terus salah. Entah mengapa sejak siang tadi Apel tidak bisa fokus berlatih.
"Pel, ada telpon dari ibumu," ucap seseorang menghentikan kegiatan Apel.
Apel segera mematikan musik dan berlari keluar dari studio latihan. Wajahnya berseri-seri mengetahui sang Ibu menelponnya. Sudah lama sekali Apel belum mengabari keluarganya. Memang Apel tidak memiliki ponsel pribadi. Biasanya dia akan meminjam telpon milik agensi untuk mengabari keluarganya di rumah.
"Halo, Bu?" sapa Apel semangat.
Mendadak semangat yang tadi membara hilang entah kemana. Apel terdiam mendengarkan sang Ibu berbicara di seberang sana. Tidak lama kemudian air mata keluar dari kedua mata gadis kecil itu.
"Iya, Bu. Besok Apel akan mencoba berbicara pada pelatih."
Pembicaraan mereka telah usai, bahu Apel terlihat merosot. Dia berjalan gontai menuju asramanya. Air matanya juga masih belum bisa berhenti. Pupus sudah harapannya saat ini. Ternyata inilah yang menyebabkan seharian ini Apel tidak dapat fokus pada latihannya.
Sang Ayah sedang sakit keras dan kini harus mendapat perawatan di rumah sakit. Keluarga Apel sedang membutuhkan banyak biaya saat ini. Maka dari itu, tadi sang Ibu meminta Apel untuk segera pulang dan berhenti untuk sementara. Walau ibunya berkata sementara, tapi Apel yakin jika akan terasa sulit untuknya kembali ke agensi ini.
Akhirnya keesokkan harinya Apel pulang ke rumah. Dia dijemput oleh kakak sepupunya. Selama perjalanan gadis itu tidak berbicara sama sekali. Kesedihan masih terus menyelimuti. Sedih karena harus berhenti di saat perjuangannya hampir dua tahun ini, juga sedih karena sang Ayah. Apel juga mengkhawatirkan bagaimana keadaan sang Ayah saat ini. Ibunya belum memberitahu apa penyakit yang diderita sang Ayah.
Apel tidak langsung pulang ke rumah, dia pergi ke rumah sakit untuk.menjenguk sang Ayah terlebih dulu. Apel terdiam mematung melihat sesosok yang paling mendukungnya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dengan berbagai peralatan medis yang entah apa namanya.
"Pel, kamu sudah datang?" tanya sang Ibu.
Apel hanya mengangguk saja, dia berjalan menghampiri ayahnya yang terpejam. Entah tidur atau tidak sadarkan diri.
"Ayah sakit apa, Bu?" tanya Apel.
"Ayah jatuh di kamar mandi tadi, ada banyak darah yang keluar dari kepalanya. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa. Dokter sudah merawat Ayah."
Air mata itu kembali keluar, Apel menangis terisak. Melihat hal itu sang Ibu langsung mendekap putri semata wayangnya. Sang Ibu juga merasa bersalah pada Apel.
"Maafkan Ibu, kamu harus berhenti meraih mimpimu. Juga untuk saat ini, mungkin kamu tidak bisa kembali ke sekolah. Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Ibu menatap mata Apel.
"Tidak apa-apa, Bu. Kesembuhan Ayah lebih penting dari apapun saat ini," jawab Apel.
Ibu merasa bangga pada Apel yang ternyata bisa memiliki pemikiran yang sangat dewasa. Setelah menjenguk sang Ayah, Apel pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Berisitirahat sebelum memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ada keinginan Apel untuk bekerja, mencari uang untuk membantu membayar biaya pengobatan sang Ayah. Namun, Apel tidak tahu pekerjaan apa yang bisa dia lakukan.
"Kamu mau bekerja jadi penjual koran?" tanya salah seorang sepupu Apel yang juga seorang penjual koran.
"Mau, Kak. Apapun akan Apel lakukan," jawab Apel bersemangat.
Apel memulai menjajakan koran bersama dengan sepupunya di jalanan. Tiap lampu merah dirinya akan mendekati para pengendara untuk menawarkan dagangannya. Lalu di saat lampu berubah hijau, Apel akan berteduh dipinggir jalan. Ketika Apel sedang berteduh, telinganya tidak sengaja menangkap suara musik. Matanya spontan mencari sumber suara itu. Ternyata ada sekelompok anak pengamen yang sedang mengamen tidak jauh dari tempatnya berada.
Tanpa sadar Apel berdiri dan melakukan gerakan menari. Gerakannya dia sesuaikan dengan tempo lagu yang dimainkan. Melihat Apel yang menari, para pengamen itu mendekatinya. Para pengamen itu memainkan musik untuk Apel. Ada senyum bahagia yang menghiasi wajah Apel saat ini. Sementara tidak jauh dari sana sepupu Apel memperhatikan.
"Gerakannya sangat bagus," ucap seseorang membuat sepupu Apel spontan menoleh. "Ah, maaf. Apa anda mengenal gadis yang sedang menari itu?" tanya orang itu pada sepupu Apel.
"Ya? Dia sepupu saya."
"Boleh saya meminta nomor telpon anda? Saya tertarik dengan gadis itu. Saya ingin menawarkan pekerjaan untuknya."
"Pekerjaan apa?" tanya sepupu Apel merasa was-was.
"Ah saya lupa, ini kartu nama saya. Saya bekerja di sebuah agensi hiburan dan sedang mencari orang-orang berbakat untuk bergabung dengan agensi kami."
Sepupu Apel menerima kertas kartu nama itu. Membacanya dengan seksama. Lalu pandangannya beralih pada Apel yang masih asyik menari, bahkan kini ada beberapa orang yang menyaksikan penampilannya.
"Apel tidak punya ponsel. Apa bisa kalau memakai nomer saya?"
"Bisa, saya akan segera menghubungi anda kalau begitu."
Sepupu Apel pun memberikan nomor ponselnya pada orang itu. Setelahnya orang itu pamit pergi dari sana. Sepupu Apel hanya berharap semoga saja mimpi Apel nanti dapat terwujud. Segala kerja kerasnya selama ini dapat terbayarkan.
Benar saja, keesokkan harinya orang itu langsung menghubungi sepupu Apel. Apel yang belum tahu apa-apa sempat merasa bingung saat tiba-tiba sepupunya memberikan ponsel padanya.
"Ya? Saya Apel," ucap Apel.
Apel terdiam mendengarkan orang yang berbicara dari seberang sana. Namun, matanya membulat sempurna dan tatapannya beralih pada sepupunya yang sedang tersenyum serta mengangguk.
"Benarkah, Pak?" tanya Apel yang masih belum percaya.
"Benar, saya mengundang anda ke agensi kami untuk melakukan tes wawancara. Agensi kami sedang mencari orang-orang berbakat untuk bergabung. Kemarin saya melihat potensi yang ada pada diri anda dan saya sudah membicarakannya pada pihak agensi. Anda bisa langsung debut dalam waktu beberapa bulan, tenang saja semuanya gratis. Pihak agensi yang akan menanggung semua biaya yang ada. Bagaimana? Apa anda mau menerima tawaran ini?"
"Ya, saya mau," jawab Apel dengan air mata yang berlinang.
Kali ini Apel akan membuktikan bahwa dia bisa. Bisa meraih mimpinya menjadi seorang penari profesional.
💃💃💃