Sudah sebulan. Sebulan aku menatap langit, jalanan, burung-burung yang terbang dan embun hujan di kala ia datang. Aku bodoh. Ya, telah di bodohi oleh pria itu. Terkurung disini dan berharap bebas kembali. Aku tidak tahu aku akan menjadi tua di sini atau apa. Tapi--
Cklek. Creek.
"Aaaahhkk..." tubuh itu. Keadaannya sekarat. "Siapa kalian?! Kalian yang berbuat semua ini padaku, kan?!" Kataku dengan berteriak.
Tiba-tiba ada dua orang yang membawa Carlos yang sekarat. Tubuhnya sangat kurus. Dan wajahnya cukup pucat. Sudah sebulan ia lenyap. Tapi, yang lebih mengerikan adalah mereka yang sudah berbuat Carlos seperti ini.
Bruuk! Braak!
Mereka melemparnya begitu saja. Aku hanya merasa kasihan padanya. Tanpa sadar aku pun membelai wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Kenapa dia menangis? Tanyaku dalam batin.
Aku berusaha mengangkatnya dengan tenaga kecilku ini. Tak akan kubiarkan orang mati di hadapanku begitu saja. Aku hanya bisa membaringkannya di kasur dan mengompres dahinya yang kian mengkerut.
Aku bertanya-tanya mengapa mereka mengirimnya padaku. Apa Carlos sebenarnya tidak terlibat? Tidak! Aku harus waspada. Saatnya untuk memecahkan surat itu. Atau kartu yang membuatku bingung. Aku duduk menunggu respon pertamanya.
Pertama, sederhana dan rumit itu berbeda. Jadilah seperti air. Kedua, sederhana dan rumit itu sama. Hal kecil itu sangat penting. Yang ketiga, sederhana namun rumit. Budak tetaplah budak. Dan yang keempat, Rumit namun sederhana. Not yang bermasalah.
"Huh... kalau saja ini menjadi perumpamaan tentang cinta maka, yang pertama adalah ketenangan dan kedamaian saat menjalani hubungan." Kataku sambil memegang kartu pertama.
"Yang kedua, selalu menghargai hal sekecil kebaikan apapun itu. Yang ketiga... aku tak punya kata untuk itu. Hihi!" Kataku.
"Lalu yang keempat... apa itu untukku? Jika itu untukku, maka yang ketiga adalah... Carlos?!" Kataku kaget dengan fakta tersebut.
"Ugh..." lalu air mata mengalir dari pipinya. Mengapa? Mengapa kau menangis? Aku bertanya-tanya. Apa karena aku seharusnya tak keluar saat itu? Dan kau menjadi seperti ini karena aku? Semua ini membuatku merasa bersalah.
Aku menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti. Dadaku sakit melihatnya. Esok harinya pun sama. Walau sesekali dia tidur dengan nyenyak. Aku mulai mencari petunjuk lain. Tak mungkin kata-kataku itu fakta bukan?
Aku mulai mencari buku yang sama dengan seluruh perumpamaan dari kartu-kartu itu. Kupikir tak ada umpama lainnya lagi selain buku. Kalau begitu, buku dengan judul 'water in no matter' yang memiliki gambaran detail dan menghipnotis mereka agar tak berhenti membaca buku... apakah jawabannya itu?
Aku langsung mencari dan membukanya tanpa basa-basi. Dan saat itu aku ingin berteriak. Senjata api keluar begitu saja dengan sepucuk surat. Ternyata sampulnya hanyalah kedok. Sama seperti aku yang sebelumnya terjebak pamflet yang menggiurkan.
"Hah... ha-ha-ha." Kataku. Aku kembali ke kamar dan mulai menjaganya lagi.
"Ib..bu..." aku di kagetkan dengan suara igauannya. "Kau... meninggalkanku... sama seperti ayah..." igauan itu aku dengar baik-baik walau itu suara bisikan.
Aku... tidak mengerti. Batinku.
"Aku... telah berusaha... tapi... maaf... aku lagi-lagi... terlambat... ini karena... mereka... mengincar gadis... itu..." lalu igauanya berhenti sampai disana. Aku menutup mulutku.
Aku merasa sangat-sangat bersalah atas apa yang telah terjadi. Aku menahan teriakan kekesalanku pada diriku sendiri. Menangis sejadi-jadinya berhadapan denganya. Yang bisa kulakukan hanyalah merawatnya dengan lebih lembut lagi.
Ini... sudah ketiga harinya dia belum sadarkan diri. Aku masih menunggu dan memutuskan membuka gorden kamar. Aku menatapnya. Cukup melelahkan tapi, mengingat apa yang sebelumnya ai alami... ini bukanlah apa-apa.
"A-ah..." suaranya. Aku mendengar suaranya.
"Apa sekarang kau sudah sadar?" Aku sengaja menghalangi matahari yang datang.
"Mungkin." Jawabnya. Mungkin? Selama ini aku menunggu dan kau menjawab mungkin!
"Aku bukannya mengurusmu tanpa alasan ya! Aku ingin pertanggung jawaban! Bebaskan aku dari sini!" Kataku berbohong. Aku tak ingin bebas jika kau terluka lagi.
"Aku... akan berusaha..." katanya yang dengan suara yang hampir menghilang. "Maaf..." ucapnya lagi.
"Kalau kau ingin minta maaf, bebaskan aku!" Bentak ku. Aku hanya bisa khawatir. "Sarapan! Aku akan menyiapkannya." Sambungku.
Aku berlari menuju dapur dan mengeluarkan tangis haru yang aku tahan sedari tadi. Aku memasak sebaik mungkin dan mengantarkanya ke kamar. Kulihat dia berusaha untuk bangkit dari posisinya. Aku masih menahan tangis. Dan itu cukup.
"Makanlah!" Kataku. Lalu sesendok demi sesendok melayang ke mulutnya. Aku lega dia masih bisa makan. Wajahnya menampakkan ekspresi syukur saat aku menyuapinya selembut mungkin.
Oh... apa mereka tak memberimu makanan? Tanyaku prihatin.
Lalu aku menghentikan tanganku yang hampir menuju mulutnya. Bibir itu bergerak. Aku mulai mendengarkan. Dan katanya dia ingin pergi ke ruang tamu dengan suara yang berbisik. Lantas aku khawatir.
Lihat kondisimu! Kau sedang sakit! Umpatku dalam hati. Pikirku.
Dan dia mendesaku dengan mengatakan apa kau ingin bebas. Lalu bagaimana dengan kondisimu! Aku terpaksa mengiyakan dan menuntunya ke sofa yang menghadap piano. Aku membuat selimut beredar di seluruh tubuhnya walau itu tipis.
Tubuhmu... menggigil... batinku.
Lalu dia mengatakan bahwa dia ingin mendengar ceritaku disini. Aku malah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Carlos! Aku masih memberinya sarapan tadi. Dengan lembut dan hati-hati. Untung saja aku telah menyimpan senjata api itu dan suratnya.
Bahkan suratnya juga palsu! Pikirku.
Siang, lalu sore dan kini menuju malam. Bibir yang menggigil itu tak berhenti. Walau aku sudah mengabulkan permintaanya dengan mencaritakan apa-apa saja yang ada. Namun, aku tak menceritakan senjata api itu.
Dan dia menolak untuk tidur di kamar. Padahal aku ingin segera dia sembuh. Terpaksa aku menyeret selimut besar dan memeluknya karena tidak alat penghangat di ruangan ini. Walau aku terdengar seperti setuju-setuju saja dengan candaanya Carlos itu. Ruangan saja mewah, tapi tak ada yang berguna.
Pagi harinya, aku masih melihatnya tertidur. Namun, sekarang posisiku malah seperti dipeluk olehnya. Meski wajahnya pucat, dia cukup menawan. Dan tanpa sadar bibirku menyentuh lembut dengan bibir dinginnya. Aku tersentak.
Apa yang aku lakukan?! Pikirku dengan wajah yang kini memanas.
Kupikir dia sadar, tapi air mata kini mengalir kembali. Aku menyeka wajah dinginnya dan menyentuh bibir yang mulai menghangat itu. Dia tersentak saat aku menyentuh bibir itu. Apa aku membangunkannya? Pikirku. Atau memang sedari tadi dia sudah bangun saat ciuman itu?! Wajahku tambah panas.
"Jangan berpikir mesum!" Katanya. "Aku cuma... huh! Sarapan saja!" Kataku.
Lalu bibirnya bergerak lagi. Katanya dia ingin aku bermain piano. Aku setuju dan bilang dengan syarat dia harus makan setelah ini. Tapi, aku melihat tatapannya seakan bahwa aku tidak boleh mencintainya.
Aku memainkan lagu dari Yiruma yaitu river flows in you. Walau aku tak yakin dengan permainan pianoku. Wajahnya memerah saat aku mengintip sebelum menekan tuts lainnya. Lantas kenapa aku tak boleh mencintainya? Aku mencegah mataku berair. Entah kenapa ini seperti permintaan terakhirnya.
Saat permainan berakhir, aku mencoba menyombongkan diri untuk tak terlihat sedih dengan bertanya bagaimana permainanku. Hanya satu kata. Indah. Kata yang keluar dari mulutnya. Lalu dia menanyakan namaku.
"Huff, baru menanyakan nama. Notas. Notas incorrectas Itulah namaku!" Aku menyilangkan tangan ke dadaku.
"Salam kenal." Katanya. Aku tak melihat dengan jelas namun, benda itu. Aku pernah melihatnya.
Dor!
"Apa yang kau..." aku berbisik. Sudah jelas bahwa dia terjerat surat palsu itu. Karena keputus asaan miliknya itu.
"Selamat tinggal." Baru saja aku menyeka air matamu. Sekarang kau menodongkannya ke kepalamu sendiri.
Berhenti! Tidak! Kumohon! Aku ingin berteriak mengatakannya, tapi--
Dor!
Peluru kini diluncurkan begitu saja. Tepat di kepalanya. Aku mencoba bangkit dan menghampirinya.
"Bangun brengs*k! Cepat bangun! Kumohon padamu! Kumohon... hiks..." aku malah kehilangannya dengan darah yang kini kian muncul dari bagian bawah dadaku. Mungkin pandangannya sudah sedikit mengabur dan mengira dia tepat sasaran.
Lalu suara mengerikan terdengar sampai telingaku berdengung. Dugaan Carlos benar. Bahwa mungkin saja ini semua adalah taruhan.
"Selamat! Anda menang! Selamat! Anda menang!" Dan suara itu diputar berkali-kali. Lalu asap muncul dimana-mana. Aku perlahan tak bisa mempertahankan kesadaranku dan--
(Sudut pandang Carlos a.k.a. scene yang terlupakan.)
Beberapa hari kemudian, aku menunggu kedatangannya. Jadwal yang biasanya ia duduk bersandar dan menceritakan keluh kesahnya padaku.
"Ah... akhirnya aku sampai! Ini hari yang sepertinya akan panjang!" Katanya. Aku tersenyum lebar mendengar suara itu.
"Hei, Carlos! Bagaimana kabarmu? Kalaupun iya, pastinya baik-baik saja, kan? Keadaanmu sekarang jauh lebih nyaman dari orang lain kau tahu. Mungkin aku juga harusnya sesekali beristirahat. Yah, bukan berarti istirahat selamanya." Katanya.
"Yah, kau benar. Aku seharusnya bersyukur. Ditambah, kurasa kau bahagia. Dengan apa yang kau lakukan sekarang tentunya." Kataku.
"Oke, aku memang mengakui kalau aku memang bahagia. Tapi, tanpa kehadiranmu yang seperti waktu itu... entahlah. Terasa kosong." Katanya.
"Mungkin kau bisa mencoba mengisinya dengan bermain piano? Kau tahu, kan bahwa kau hebat dalam hal itu. Lagipula semua akan terasa sangat damai ketika kau lebih memilih memaafkan dirimu." Kataku.
"Maafkan aku..." katanya yang perlahan mulai menahan tangis.
"Kebiasaan. Jangan katakan maaf lagi. Aku sudah mengatakan bahwa aku memaafkanmu bukan? Dan jangan menahan tangismu lagi!" Kataku.
"Iya, juga ya. Aku harusnya tak menahan tangis... tapi, sekarang. Seiring berjalannya waktu aku mulai lega. Terima kasih." Katanya. "Terima kasih untuk segalanya." Lalu air matanya bisa kurasakan mulai menetes lagi.
"Sekarang kau akan pulang benar? Lalu, bukannya kau harus mengatakan satu hal padaku?" Dia lalu meletakkan buket bunga untukku.
"Ah, ya! Aku janji waktu itu aku akan mengatakan ini padamu." Katanya.
Aku menunggu lho! Pikirku.
"Aku mencintaimu juga, Carlos." Katanya.
Kini dia sudah pergi. Bisa jadi dia tak akan kembali padaku. Bisa jadi kita akan bertemu lagi. Asalkan pertemuan seperti ini, kau setidaknya tak akan menderita lagi. Olehku.
"Aku juga mencintaimu. Kau tahu." Kataku. Walau dia sudah pergi jauh meninggalkanku.