Menurut Rio ada dua hal yang paling dia benci di dunia ini, ulangan Kimia dan ...
Thalia
Tapi bagaimana mungkin ia khawatir pada Thalia yang sedang sakit?
Sepertinya bukan Thalia yang sakit, tapi otak Rio
.
.
.
.
*****
Rio panik, ia gelisah dan merasa tak tenang, meskipun ia sedang duduk dikelas bersama Ogi, pikirannya berkeliaran kemana-mana.
Tapi bukan itu masalahnya.
Musuh terbesarnya, Thalia, sedang sakit sampai tidak masuk sekolah hari ini, tapi kenapa Rio malah khawatir?
Seharusnya ia senang bukan, tidak ada yang mengganggunya hari ini. Lebih tepatnya, tidak ada yang bisa ia ganggu karena ia lah yang suka mengganggu Thalia.
Sepertinya Rio mulai tidak waras sekarang.
"Ri, kau ini kenapa sebenarnya, sejak tadi aku lihat kau hanya menghela nafas kasar, duduk berubah-rubah, sebentar menelungkup, sebentar tegak, pusing aku jadinya."
Rio tidak merespon pertanyaan Ogi yang sejak tadi sudah lelah memperhatikan tingkahnya, ia hanya berdecak lalu kembali gelisah sendiri.
"Ditanya malah sibuk sendiri, kau ini biasanya juga sibuk menjahili Thalia, Thalia tidak ada kenapa malah seperti orang gila?"
"Ck, bisa tidak kau diam saja, bukannya membantu malah terus saja merecoki ku, aku ini sedang berfikir jadi jangan menggangguku."
Ogi mengernyitkan dahinya, berfikir dia bilang?
"Mana ada orang berfikir begini, kau ini kenapa sebenarnya, kalau punya masalah itu seharusnya kau ceritakan padaku."
Rio menatap Ogi tak yakin, selama ini ia memang selalu menceritakan apapun masalahnya pada Ogi, tapi apa ia juga harus menceritakan masalah ini.
"Ngg...sebenarnya aku bingung harus cerita bagaimana."
Ogi menggaruk kepalanya kesal, sahabatnya ini benar-benar membuatnya hilang kesabaran.
"Kau tinggal bilang apa yang membuatmu menjadi seperti orang gila sejak tadi, apanya yang susah?"
Rio berdehem dan mengubah posisi duduknya menghadap Ogi.
"Aku sepertinya mulai gila, k-kau tau a-aku se-sebenarnya-"
"Kau mau bilang apasih Ri, bicara sudah seperti orang gagu saja, bicara yang benar Ri, jangan membuatku semakin penasaran."
Rio meringis, apa yang harus ia katakan pada Ogi?
"Aku mengkhawatirkan Thalia, sepertinya aku mulai gila."
.
.
.
"Buahahahaha"
Hening sejenak sampai akhirnya tawa Ogi meledak, ia tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila.
"Kau suka padanya Ri, makanya kau khawatir seperti itu."
***
Dan disinilah Rio, didalam sebuah kamar bernuansa biru muda dengan tatapan tajam seseorang yang sejak pagi sudah membuatnya tak waras.
Setelah mendapat ceramah panjang dari Ogi, Rio akhirnya memutuskan untuk menjenguk Thalia, awalnya ia tak yakin, tapi mengingat Ogi yang terus menggodanya dan mengatakan ia mulai suka pada Thalia membuat ia merasa harus menuruti saran Ogi untuk menjenguk Thalia.
Wajah cantik Thalia terlihat sangat pucat, mata coklat terang nya sayu dan tubuhnya lemah, tapi meski begitu, Thalia masih saja memasang wajah sok kesal pada Rio.
"Sedang apa kau disini? Aku sedang sakit jadi jangan menggangguku, kau tau gara-gara perbuatanmu kemarin aku jadi sakit seperti ini."
Rio meringis mendengar suara Thalia yang sengau saat memarahinya. Tapi dengan cepat ia mengubah ekspresinya, mendelik ke arah Thalia yang duduk bersandar di kepala tempat tidurnya.
"Enak saja kau bilang gara-gara aku, kau seharusnya bersyukur, aku si primadona sekolah datang menjengukmu yang sedang sakit, bukannya malah marah-marah, sakit saja kau masih saja bawel."
Thalia balas mendelik ke arah Rio, dasar tidak tau diri, tidak tau malu, brengsek!!.
"Oh ya!! kalau saja kemarin kau tidak mengambil bekalku, magh ku tidak mungkin kambuh, dan kalau saja usil tidak usil menantangku bermain hujan, aku tidak akan demam tinggi semalaman, dan sekarang kau dengan tidak tau dirinya datang kesini hanya untuk menghinaku? Pergi! Jangan ganggu aku."
Rio menelan ludah susah payah.
Gawat, dia murka.
"Baiklah... aku minta maaf, aku lapar makanya meminta bekalmu, tapi kau pelit sekali tidak mau membaginya denganku, jadi aku bawa lari saja, dan juga kemarin aku lihat wajahmu itu cemberut jadi aku berbaik hati mencoba menghiburmu dengan bermain tarian hujan."
Mau tidak mau, ini memang salah Rio, sudah seharusnya dia minta maaf, ia tidak tau kalau gara-gara perbuatannya Thalia akan jatuh sakit seperti ini, lagi pula ia bukan seseorang yang tidak mau mengakui kesalahannya sendiri.
"Oke aku maafkan, tapi awas saja kau mengusiliku lagi, aku tak mau bicara denganmu lagi."
Rio tersenyum lebar sambil mengangguk, berbaikan dengan Thalia selalu menjadi moment yang melegakan, ya meskipun pastinya nanti dia akan mengusili Thalia lagi sih.
Lagi pula Thalia akan selalu memaafkan nya.
Dan ntah kenapa mengusili Thalia adalah hal yang paling menyenangkan menurut Rio, apalagi kalau Thalia sudah berteriak marah sampai pipinya memerah, wajahnya menjadi sangat lucu, Rii jadi ingin menciumnya.
Ehh!! Astaga!! Apa yang aku pikirkan? Tidak boleh Rio,kau tidak boleh suka pada Thalia, dia kan musuh besar mu, sekali musuh tetap musuh.
Tanpa sadar Rio mengetuk kepalanya sendiri, membuat Thalia yang sejak tadi memperhatikannya mengernyit bingung.
"Dasar gila, kalau kau memang tak ada urusan lagi cepat pulang sana, aku mau tidur lagi."
Meskipun bersikap sok cuek begitu, sebenarnya Thalia sangat senang Rii mau menjenguknya, apalagi ia membawakan Thalia martabak manis kesukaan Thalia juga sebuah parsel besar berisi buah-buahan.
Jarang sekali Rio bersikap manis seperti ini, apalagi kalau sifat usilnya datang, jangan harap ia mau berbaik hati pada Thalia.
Rio akhirnya pamit pulang, tapi tepat saat ia sudah membuka pintu kamar, Thalia memanggilnya.
"Besok kau harus kesini lagi, kau yang menyebabkan aku sakit jadi kau juga yang harus merawat aku, jangan lupa kau harus membawakan aku makanan enak lagi."
Rio mendengus kesal.
"Iya-iya, dasar bawel."
Kali ini Thalia tidak marah, ia malah terkikik geli melihat wajah Rio yang bersungut-sungut sebelum keluar dari kamarnya. Thalia jadi makin sayang.
"Ehh mana ada musuh yang sayang pada musuhnya. Dan kenapa pula aku merasa senang sekali cuma karena Rio kesini? Ya ampun... demam sepertinya membuat otak ku sedikit miring."
***
Sesuai janji, esok harinya sepulang sekolah, Rio datang lagi kerumah Thalia, kali ini ia membawakan bubur ayam dari pedagang di ujung jalan sekolah yang memang favorit Thalia.
Tak masalah kalau hanya merawat Thalia selama sakit, lagi pula ini memang salahnya, ia senang melakukannya dan juga ia bisa memastikan perasaannya sendiri pada Thalia.
Dengan cekatan Rio memindahkan bubur kedalam mangkuk, ia juga menyiapkan nasi goreng yang dibelinya kedalam piring untuk ia makan bersama Thalia.
Mama Thalia, Ratna, kebetulan sedang ada urusan diluar, sebelum pergi tadi ia sempat menitipkan Thalia pada Rio, ia berjanji akan segera pulang begitu urusannya selesai.
Rio membawa bubur dan nasi gorengnya ke kamar Thalia, dilihatnya Thalia sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah novel.
Di taruhnya nampan yang dibawanya dinakas samping tempat tidur Thalia.
"Letakkan dulu buku itu, aku sudah membawakan bubur ayam kesukaanmu, langsung aku pesan dari warung di ujung jalan sekolah, jadi kau harus menghabiskannya, setelah itu kau harus minum obat."
Thalia bersorak kecil sambil bertepuk tangan, ia sudah sangat bosan seharian hanya berdiam diri dikamarnya, sebenarnya sakitnya sudah agak baikan, wajahnya juga tidak sepucat kemarin, tapi dokter bilang ia harus istirahat total setidaknya 5 hari kalau tidak mau terkena tifus.
Rio mengangkat mangkuk bubur diatas nampan lalu menyerahkannya pada Thalia, tapi Thalia hanya bergeming melihat nya.
"Ini ambil, kau harus makan agar cepat sembuh."
Lagi-lagi Thalia hanya diam sambil tersenyum jahil, ia mengangkat telunjuknya mengisyaratkan agar Rio yang menyuapinya.
Dengan pasrah Rio duduk disamping ranjang, mengangkat sendok dan mulai menyuapi Thalia yang langsung membuka mulutnya.
Kamar itu lengang sejenak, hanya ada suara dentingan mangkuk dan sendok.
Lima belas menit kemudian Thalia sudah menyelesaikan makannya, ia juga sudah meminum obatnya.
Kini giliran Rio yang menghabiskan nasi gorengnya.
"Rio apa kau tidak bosan menggangguku terus, kalau saja kau bersikap manis seperti ini setiap hari, aku pasti sudah suka padamu, atau jangan-jangan kau yang suka padaku, bukan begitu Rio? Atau selama ini kau menggangguku hanya untuk mencari perhatianku saja?"
"Uhuk-uhuk uhuk-uhuk."
Mendengar ucapan Thalia, Rio jadi tersedak nasi gorengnya dan terbatuk-batuk, dengan segera ia meraih air minum diatas nakas.
Sementara Thalia hanya memperhatikan Rio yang minum tergesa-gesa, sedikit penyesalan timbul dalam dirinya karena membuat Rio tersedak.
"Maaf Rio, kau tidak apa-apa?."
Setelah tenggorokannya lega Rio meletakkan piring dan gelas yang sejak tadi ia pegang, dan berganti menatap Thalia.
Ia memilih untuk berkata jujur pada Thalia tentang perasaannya.
"Sebenarnya aku juga tidak tau kenapa aku selalu mengusili mu, rasanya melihat kau marah sampai pipimu memerah itu hal yang menyenangkan, wajahmu begitu lucu. Aku suka melihat wajahmu seperti itu, apalagi kalau kau sudah mengejarku sambil mengoceh, itu sangat menyenangkan."
Hening sejenak, suasana dikamar itu menjadi canggung.
Thalia berdehem mencoba menanggapi ucapan Rio.
"Jadi kau bebar-benar suka padaku Rio?"
Rio menggaruk kepalanya bingung.
"Aku juga tak mengerti bagaimana perasaanku, saat kau mengabaikanku seperti seminggu yang lalu, rasanya sepi sekali, aku lebih suka kau marah-marah padaku dari pada mendiamkanku seperti itu, aku juga khawatir sekali mendengar kau sakit kemarin, makanya aku datang menjengukmu."
Kali ini Thalia menatap lurus pada mata Rio, mencoba mencari tau apa yang terjadi selama ini.
Thalia tersenyum teduh, ia tau Rio mungkin mulai suka padanya, hanya saja ia belum menyadarinya sepenuhnya.
"Kalau begitu, ayo cari tau bagaimana perasaanmu, mulai sekarang kau harus bersikap baik padaku."
"Baiklah tuan putri."
Rio tersenyum lebar menatap Thalia, ia tidak menyangka berbicara jujur kepada musuhnya bisa menciptakan perasaan berbunga seperti ini.
Dan sore itu, mereka habiskan dengan menonton film karena Thalia yang merasa bosan terus-terusan duduk di atas ranjang kamarnya.
***
Hari ini Rio datang lagi, sudah 4 hari Rio selalu datang kerumah Thalia, tapi bedanya hari ini ia tidak membawa makanan, melainkan sebuah laptop.
Awalnya Thalia sempat cemberut dan merengek ingin makan bakso mercon yang ada di ujung jalan menuju rumahnya, tapi Rio memelototinya sambil mengomel.
"Tidak ada orang sakit yang makan makanan pedas seperti itu, yang ada bukannya sembuh kau malah jadi sakit perut."
Dengan pasrah Thalia menuruti perkataan Rio, ia memakan buah yang sebelumnya sudah Rio kupaskan sambil menonton sebuah film romantis dari laptop yang tadi dibawanya.
Kemarin memang Thalia mengatakan ingin menonton sebuah film yang baru tayang, sebenarnya ia sudah punya rencana untuk menonton langsung di bioskop, tapi karena sakit, rencana itu batal.
Jadilah ia menonton film itu dikamarnya ditemani Rio yang ikut fokus menonton.
Tapi bukannya menonton film, Thalia malah sibuk memperhatikan Rio, belakangan ini Rio selalu bersikap manis, rasanya Thalia selalu ingin bersikap manja kalau ada Rio, padahal biasanya juga ia selalu kesal setiap bertemu Rio, karena sudah pasti Rio akan mengusili nya.
"Aku tau wajahku lebih tampan dari pada artis di film itu, tapi jangan kau pandangi terus, nanti kalau kau jatuh cinta padaku bagaimana?"
Rio menyeringai, menggoda Thalia yang langsung mengalihkan pandangannya.
"Siapa pula yang memandangi mu, lagi pula kau tidak ada tampan-tampannya."
Rio terkekeh geli, padahal sudah jelas-jelas pipi Thalia memerah malu, tapi masih saja ia berusaha mengelak.
"Sudahlah kau akui saja, aku ini memang tampan, dan kau sudah jatuh cinta padaku."
Kali ini Thalia tidak mengalihkan matanya, ia malah balas menatap Rio.
"Sepertinya memang begitu, awas saja kalau kau tidak bertanggung jawab karena sudah membuat aku jatuh hati."
Rio tersenyum, kini ia tau bagaimana perasaannya pada Thalia.
"Oke kalau begitu mulai sekarang kau adalah pacarku. Titik."
Kali ini Thalia memutar bola matanya kesal.
"Huh! Tidak ada romantisnya sama sekali. Dasar Rio menyebalkan!"
***
Setiap hari, sepulang sekolah Rii selalu datang kerumah Thalia, menyuapi Thalia makan dan minum obat, lalu membicarakan hal-hal menyenangkan yang sudah terlewati, kadang Thalia juga menceritakan bagaimana ia kesalnya pada Rio yang dulu sering mengganggunya.
Hubungan mereka juga sudah semakin dekat, Rio bahkan selalu jujur pada Thalia mengenai apapun yang dirasakannya.
Ia akhirnya tahu, mungkin sejak awal ia memang sudah menyukai Thalia, tapi ia hanya tak tau bagaimana cara menunjukkannya.
Dan hari ini adalah hari pertama Thalia masuk sekolah kembali setelah seminggu sakit.
Rio bahkan sudah siap menunggu di rumahnya sejak pukul 6:15, ia juga ikut sarapan bersama Tomi, Ayah Thalia.
Sementara Ratna sedang sibuk merapikan peralatan dapur yang tadi dipakainya memasak.
Selesai sarapan mereka bergegas berangkat menggunakan Ferrary merah milik Rio.
Lapangan parkir hari ini lumayan penuh oleh siswa yang baru saja tiba di sekolah, dengan sigap Rio menggandeng tangan Thalia berjalan menuju kelas mereka yang memang sama.
Hampir seluruh penghuni sekolah terkejut, bahkan ada yang sampai terbengong-bengong kaget melihat Rio yang menggandeng tangan Thalia.
Sudah menjadi hal biasa bila Rio membuat keributan dengan mengusili Thalia, tapi apa yang mereka lihat saat ini benar-benar hal yang luar biasa.
Seorang Orion Wilbert menggandeng musuhnya tanpa menimbulkan keributan, sungguh sulit dipercaya.
Tak heran memang, Rio memang terkenal sebagai primadona disekolah nya, tampan, kaya, dan tentunya berkharisma, hampir semua gadis menyukainya, tapi satu-satunya yang bisa membuat Rio tertawa lepas adalah dengan mengganggu si cantik Thalia Georgino.
Dan melihat Rio menggandeng Thalia tentu saja membuat mereka patah hati.
"Rio sepertinya sejak tadi mereka terus-terusan memperhatikan kita?"
Rio mengedikkan bahunya.
"Bukan kita tapi kau, mereka pasti sakit hati karena primadona tampan mereka sekarang sudah menggandeng bidadari cantik."
"Dasar gombal."
Setelah menarik hidung Rio keras-keras Thalia berlari menghindari Rio yang mengejarnya sambil tertawa.
Nyatanya perasaan itu memang tak ada yang tau ujungnya, jadi kau sendiri yang harus mencari tau bagaimana perasaanmu.
***
Orang bilang, cinta dan benci itu hanya dipisahkan oleh sekat setipis kabut asap, kau tidak akan sadar apa yang kau rasakan jika tak mengerti keinginan hatimu sendiri, dan jangan sampai terlambat untuk sadar.
-Orion Wilbert
Benci dan cinta itu relatif, awalnya benci, lama-lama terbiasa, lama-lama jadi cinta, kalau hidup saja bisa menyesuaikan diri sedemikian rupa, apalagi perasaan. Ah cinta selalu saja misterius.
-Thalia Georgino
.
.
.
.
End
.
.
.
.