Sandro Joyo Kusumo, seorang pemuda miskin yang tinggal di desa. Umurnya sekarang menginjak 22 tahun. Dia mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Fifi Yulianti Kusumo. Dia bersama dengan adik perempuannya tinggal bersama ayah mereka. Ibu mereka telah meninggal 2 tahun yang lalu. Walaupun miskin, namun ayah mereka Hartono Kusumo masih mampu membiayai kuliah Sandro serta sekolah Fifi.
Ayah mereka bekerja sebagai kuli bangunan.
Suatu hari....
"Eh pak, ngapain sekolahin anak tinggi-tinggi. Toh suruh cari kerja kan bagus buat nambah penghasilan bapak." Ujar salah seorang tukang.
"Ya gapapa toh. Agar mereka bisa meraih cita-cita mereka dan menjadi orang yang sukses." Balas Pak Hartono.
"Halah sukses! Mimpi koe rek. Orang kayak kita mana bisa sukses. Toh kita cuma bisa dipandang rendah saja sama orang lain." Ujar tukang yang lainnya.
"Kesuksesan seseorang itu tergantung seberapa beratnya dia bekerja. Saya optimis bahwa anak-anak saya bisa sukses nantinya." Balas Pak Hartono.
"Ya amin dah." Ucap seorang kuli panggul.
"Yang penting kita juga harus rajin berdoa kepada yang maha kuasa agar diberi jalan dan petunjuk." Ucap Pak Hartono.
"Betul tuh betul. Hahaha." Timpal seorang kuli semen.
Pak Hartono pun tersenyum melihat kelakuan rekan-rekannya. Setelah beristirahat sejenak, Pak Hartono kembali bekerja. Namun di saat Pak Hartono hendak mengambil palu, dia tidak sengaja menginjak bercak air dari ember semen dan terpeleset jatuh ke dasar bangunan. Kepala Pak Hartono membentur batu dan menyebabkan pendarahan yang parah di kepalanya.
"Pak, bertahanlah pak. Woi!! Panggil ambulans jangan bengong aja!" Bentak seorang kuli setelah menghampiri Pak Hartono yang jatuh.
"Pak! Pak Hartono bertahanlah pak sebentar lagi ambulans datang." Ucap sang kepala tukang.
Namun, belum sempat ambulans datang, Pak Hartono sudah duluan menghembuskan nafas terakhirnya.
•
•
•
•
•
•
SMA Negeri Mutiara Bangsa.
Pulang sekolah...
"Eh abang. Tumben mampir kesini dulu." Ucap Fifi yang terkejut melihat Sandro menjemputnya.
"Iya. Hari ini abang pulang agak cepet, jadi sekalian jemput kamu deh." Balas Sandro sambil mengucek-ngucek rambut adiknya.
"Coba saja kalau setiap hari dijemput gini. Kan enak." Ucap Fifi dengan wajah manyun.
"Udah jangan manyun-manyun lagi. Yuk pulang. Ayah pasti udah pulang juga jam segini." Balas Sandro.
Singkat cerita
Kakak beradik itu telah sampai di rumah mereka.
"Yah, ayah kita sudah pulang nih." Teriak Sandro memanggil.
"Apakah ayah belum pulang bang?" Tanya Fifi.
"Aneh. Harusnya ayah sudah pulang jam segini." Balas Sandro.
Saat kedua kakak beradik itu lagi sibuk mencari ayah mereka, tiba-tiba.
"Dik Sandro, dik Sandro. Hosh.. Hosh.." Panggil seseorang dari luar pintu.
"Kenapa Pak? Silahkan masuk duduk dulu Pak." Ucap Sandro mempersilahkan orang itu masuk.
"Ndak usah dik. Bapak cuma mau mengabarkan bahwa ayahmu tadi kecelakaan saat bekerja dan sekarang telah dibawa ke rumah sakit." Ujar orang itu dengan nafas yang ngos-ngosan.
"A.. Apa? A.. Ayah masuk rumah sakit? Bapak tidak bercanda kan?" Tanya Sandro terkejut.
"Bapak tidak bercanda. Sekarang ikut bapak ke rumah sakit." Ucap orang itu.
"Baiklah. Yuk Fi." Balas Sandro sambil menggandeng Fifi.
•
•
•
•
•
•
Sementara itu di rumah sakit.
"Bagaimana ini?! Kenapa bisa sampai terjadi kelalaian begini?!" Bentak sang bos kepada kulinya.
"Ki.. Kita juga tidak tahu Pak. Kecelakaan itu terjadi begitu saja." Jawab seorang kuli.
"Bagaimana kalian bisa tidak tahu?! Kalian tahu kan bahwa Pak Hartono itu sudah lebih tua dari kalian! Harusnya kalian menjaganya bukannya membiarkan dia kerja yang berat-berat!" Bentak sang bos.
"Ka.. Kami benar-benar minta maaf Pak. Semua ini akibat kelalaian kami." Ujar seorang kuli.
Tak lama kemudian, dokter pun keluar dari ruang otopsi.
"Apakah keluarga dari korban sudah datang?" Tanya sang dokter.
"Belum dok. Salah satu dari kita lagi memanggil keluarganya kemari." Jawab seorang tukang.
"Ayah, ayah.." Teriak Fifi ketika telah sampai di rumah sakit.
"Nah dok, itu keluarganya." Ucap sang bos.
"Keluarga dari Pak Hartono Kusumo?" Tanya dokter kepada Sandro.
"Iya dok. Saya anaknya dan ini adik perempuan saya." Jawab Sandro.
"Gimana dengan ayah saya dok?" Lanjut Sandro bertanya.
"Ayah anda mengalami pendarahan hebat di kepalanya ketika dia terjatuh. Namun kami mohon maaf, nyawa ayah anda tidak tertolong lagi." Jelas sang dokter.
"A.. Apa? Ayah." Ucap Sandro shock.
"Ayah.. Tidak ayah." Ujar Fifi menangis.
"Boleh saya lihat jenazah ayah saya dok?" Tanya Sandro.
"Boleh silahkan." Jawab dokter membukakan pintu kamar jenazah.
Sandro dan Fifi pun masuk ke dalam kamar jenazah dan melihat ayahnya terbaring di ranjang. Fifi tidak dapat menahan tangisnya.
"Kamu yang tabah yang dek. Abang akan berusaha mencari kerja untuk menggantikan ayah." Ucap Sandro menenangkan Fifi.
"Hiks.. Trus kuliah abang gimana?" Tanya Fifi.
"Abang bisa mencari kerja sambil kuliah." Jawab Sandro.
•
•
•
•
•
•
Beberapa tahun kemudian
Sandro telah menjadi seorang yang sukses dan telah berhasil menamatkan pendidikannya. Akibat kerja kerasnya, Sandro diangkat menjadi Sales manager di perusahaan tempat dia bekerja. Namun begitu, Sandro tidak sombong dan menjadi seorang yang sangat dermawan. Sementara itu adik perempuannya, Fifi tumbuh menjadi seorang gadis yang angkuh dan sombong. Dia suka memamerkan barang yang dimilikinya.
Suatu hari, Fifi melihat teman sekelasnya menggunakan HP I-Phone 6. Diapun sangat iri dan ingin memiliki HP tersebut.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Seluruh siswa pun berhamburan pulang.
Sesampainya di rumah, Fifi menceritakan apa yang dilihatnya tadi kepada Sandro.
"Bang tahu gak sih tadi di sekolah temen aku pakek HP I-Phone 6. Hpnya canggih banget bang." Ucap Fifi.
"Hmm.. Terus?" Tanya Sandro tenang.
"Ya aku mau HP yang seperti itu bang." Jawab Fifi.
"Bukannya bulan lalu abang baru belikan kamu HP? Keluaran terbaru lagi." Balas Sandro.
"Iya sih. Tapi ga secanggih HP yang digunakan teman aku itu bang." Ucap Fifi manyun.
"Yaudah deh. Nanti kapan-kapan kalau abang gak sibuk, abang bawa kamu lihat HP itu." Balas Sandro.
"Sekarang dong bang." Rengek Fifi
"Abang lagi sibuk. Nanti aja kapan-kapan. Sekarang kamu masuk kamar, mandi lalu kerjakan pr. Tapi sebelum itu makan dulu. Abang udah siapin makanan tuh di meja." Ucap Sandro.
Dengan hati yang gusar, Fifi masuk ke kamarnya.
'Aku pasti bisa lebih hebat daripada Mia.' Gumamnya dalam hati.
Malamnya.
"Fi, abang mau pergi ketemu klien abang nih. Kamu jaga rumah ya. Kalau udah mau tidur, tutup semua lampu." Perintah Sandro.
"Eh aku ikut dong bang." Bujuk Fifi.
"Ikut apaan? Abang cuma sekedar mau bahas bisnis abang saja kok." Ucap Sandro.
"Ikut dong bang. Aku malas di rumah seorang diri." Bujuk Fifi lagi.
"Hmm ya deh. Yaudah cepat ganti baju sana. Abang tunggu di garasi." Ucap Sandro.
Beberapa menit kemudian.
"Yuk bang. Jalan." Ucap Fifi.
"Lama amat sih ganti baju doang." Gerutu Sandro.
"Hehe maaf bang. Tadi bersolek bentar." Balas Fifi cengengesan.
"Huh! Pantes aja lama. Yuk berangkat. Abang udah mau telat nih." Ucap Sandro.
"Yuk. Tapi kenapa kita gak pakek mobil bang? Kan enak ada AC nya." Ucap Fifi.
"Naik motor lebih praktis. Lagian jam segini jalanan pada macet." Jawab Sandro.
"Yah gak enak dong." Gerutu Fifi
"Udah ayo. Nanti abang tinggalin nih." Ucap Sandro.
Dengan berat hati, Fifi naik ke motor Sandro.
"Pegangan yang erat." Perintah Sandro.
•
•
•
•
•
•
Singkat cerita
Mereka berdua telah sampai ke tempat yang telah dijanjikan klien Sandro.
"Wah.. Mall yang megah." Ucap Fifi.
"Bukan saatnya mengagumi mall ini. Ayo kita ke lantai 3. Klien abang udah nunggu di sana." Ucap Sandro menarik tangan adiknya menuju lift.
|
|
|
"Hai, maaf telat." Ucap Sandro setelah bertemu dengan kliennya.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai." Balas sang klien.
"Oke. Mari kita mulai. Ini pro.." Penjelasan Sandro terpotong.
"Ehem.. Ehem.." Dehem Fifi.
"Oh iya hampir lupa. Fi, ini klien abang, Tania. Tania, ini adik saya Fifi." Ucap Sandro memperkenalkan.
"Oh dia adikmu San? Cantik juga ya." Ucap Tania.
"Hehe. Makasih Mbak. Mbak juga cantik." Balas Fifi cengengesan.
"Oke cukup puji memujinya. Sekarang kembali ke topik." Ucap Sandro.
"Oh iya haha. Hampir lupa. Oke silahkan." Balas Tania.
Sandro pun menjelaskan produk-produk perusahaannya kepada Tania. Tania mendengarkan presentasi Sandro dengan seksama.
"Oke Sandro, saya tertarik dengan produk yang diproduksi oleh perusahaan anda." Ucap Tania kemudian.
"Jadi bagaimana? Deal?" Tanya Sandro sambil mengulurkan tangannya.
"Oke deal." Jawab Tania menerima uluran tangan Sandro.
"Saya akan membeli produk perusahaan anda dan akan saya promosikan nantinya." Lanjut Tania.
"Dijamin anda tidak akan kecewa dengan produk kami. Karena ini produk andalan perusahaan kami." Ucap Sandro.
"Baiklah. Eh kalian sudah makan belum? Kalok belum kita sama-sama pesan aja." Balas Tania sambil memanggil pelayan.
"Wah kita jadi gak enak nih Mbak." Ucap Fifi.
"Iya, kita jadi gak enak." Timpal Sandro.
"Gapapa kali San. Saya kan klienmu. Jadi ya gapapa toh kalok kita sekalian makan bersama." Ucap Tania tersenyum.
Singkat cerita.
Selesai makan, Tania pun pamit pulang.
"Saya tunggu pengiriman barangnya segera." Ucap Tania sembari pergi.
Sandro dan Fifi pun hendak pulang. Namun saat melewati counter ponsel yang ada di Mall tersebut, Fifi mencoba membujuk Sandro.
"Bang, itu ada counter ponsel tuh. Kesana yuk." Ajak Fifi.
"Udah malam Fi. Besok aja." Ucap Sandro.
"Ayolah bang. Cuma sekedar tanya-tanya aja gak lebih kok." Bujuk Fifi lagi.
"Kamu tuh ya udah dibeliin HP bagus malah minta yang lebih bagus lagi." Gerutu Sandro.
"Tapi bang.." Rengek Fifi.
"Tidak ada tapi-tapian. Ayo pulang! Udah malam." Bentak Sandro.
Fifi yang memang takut pada abangnya itupun menuruti perintah abangnya.
•
•
•
•
•
•
"Sikat gigi, cuci muka, cuci kaki lalu langsung tidur. Abang gak mau dengar ada suara cekikikan dari kamarmu lagi ngerti?!" Perintah Sandro setelah sampai di rumah.
"Iya! Cerewet amat sih!" Balas Fifi yang kesal.
Sandro hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik perempuannya itu.
|
|
|
|
|
14 Februari 2015
Hari ini adalah hari ulang tahun Fifi yang ke-19 tahun sekaligus Hari Valentine.
"Fi, udah belum? Nanti kamu telat loh dek." Panggil Sandro.
"Iya bang. Udah kok." Balas Fifi sambil keluar dari kamarnya.
"Bang, tahu gak ini hari apa?" Tanya Fifi setelah keluar dari kamarnya.
"Hari sabtu kan." Balas Sandro.
"Ihh. Bukan loh bang." Ucap Fifi sambil menggaruk kepalanya.
"Ah.. Baru ingat." Ucap Sandro tiba-tiba.
"Baru ingat kalau hari ini ulang tahunku bang?" Tanya Fifi dengan senyum di wajahnya.
"Elah.. Jangan ge-er dulu. Abang baru ingat kalau hari ini ada kerjaan mendadak di kantor dan harus lembur." Jawab Sandro berbohong.
"Yah. Kirain." Balas Fifi kecewa.
"Udah akh jangan manyun gitu. Yuk, nanti telat ke sekolah kamu." Ucap Sandro sambil tersenyum.
Dengan perasaan kecewa, Fifi pun pergi kesekolah diantar oleh Sandro.
Singkat cerita.
"Hai Fifi, selamat ulang tahun ya." Ucap Renata sahabat Fifi.
"Hai Ren, makasih." Balas Fifi.
"Loh kamu kenapa? Kok wajah kamu murung gitu?" Tanya Renata.
"Tau dah. Aku merasa ulang tahun aku kali ini gak spesial." Jawab Fifi.
"Loh emangnya kenapa? Kamu dikasih kado apa sama abang kamu?" Tanya Renata lagi.
"Boro-boro ngasih kado. Ulang tahunku aja dia lupa." Jawab Fifi kesal.
"Gitu aja mewek. Udah jangan mewek lagi. Masa yang berulang tahun di hari valentine mewek." Ucap Renata sambil bercanda.
"Bisa aja kamu Ren." Balas Fifi tertawa.
"Nah gitu dong. Kan lebih cantik kalau kamu tertawa." Ucap Renata.
"Makasih Ren." Balas Fifi memeluk Renata.
"Eh Fi, tar pulang sekolah kita singgah ke warung yang ada di depan sekolah itu yuk." Ajak Renata.
"Wah boleh tuh. Aku juga udah lama gak singgah di warung itu lagi." Ucap Fifi setuju.
"Oke. Sampai ketemu pulang sekolah nanti ya Fi." Ucap Renata sambil kembali ke bangkunya karena sebentar lagi pelajaran dimulai.
Sementara itu.
"Mbak, HP I-Phone 6 ini berapa ya?" Tanya Sandro yang sedang membeli HP buat kado ulang tahun adiknya.
"Oh kalok yang ini harganya 12 juta mas." Jawab sang pelayan counter.
"Itu harga promo atau harga asli mbak?" Tanya Sandro lagi.
"Itu harga asli mas. Tapi kebetulan kita lagi ada promo, jadi harganya lebih murah." Jawab pelayan menjelaskan.
"Oh gitu. Yaudah deh mbak, aku ambil deh I-Phone ini." Ucap Sandro.
"Yang ini ya mas? Bentar ya kita set-up dulu." Balas sang pelayan.
Beberapa menit kemudian.
"Nih mas, HPnya udah kita set-up tinggal pakai." Ucap sang pelayan sambil memberikan HP itu kepada Sandro.
"Ini uangnya mbak. Sekalian ini HPnya dimasukin ke kotak terus dibungkus pakai kertas kado ya." Ucap Sandro.
Tak lama kemudian, HP tersebut sudah terbungkus kertas kado.
"Ini mas. Terima kasih." Ucap sang pelayan.
"Oke sama-sama." Balas Sandro.
Dengan perasaan senang, Sandro berjalan ke parkiran dimana dia memarkirkan mobilnya. Setelah berada di dalam mobil, Sandro tidak langsung menstarter mobilnya namun mengirimkan pesan pendek ke Fifi.
"Hai Fifi, selamat ulang tahun ya. Wah, gak terasa adik abang udah dewasa sekarang. Panjang umur dan sehat selalu. Selalu jaga kesehatan kamu ya. Oh ya, abang ada beli kado nih buat kamu. Semoga kamu suka ya kado yang abang berikan untukmu."
Setelah mengirimkan pesan pendek tersebut, Sandro menstarter mobilnya dan melesatkan ke arah restoran.
•
•
•
•
•
SMA Negeri Mutiara Bangsa
'Kriiinnnggg' bel pulang telah berbunyi dan semua siswa pulang.
"Eh Fi, yuk cuss." Ajak Renata.
"Bentar Ren. Aku beresin barang aku dulu." Balas Fifi.
"Yaudah kalau gitu, aku tunggu di luar ya Fi." Ucap Renata sambil berjalan keluar.
Beberapa menit kemudian.
"Sori lama Ren. Yuk cuss." Ajak Fifi.
"Lama amat. Emang banyak ya bawaan kamu?" Tanya Renata.
"Hahaha. Biasala anak rajin." Ucap Fifi.
"Eleh rajin. Rajin apanya? Rajin nyontek pas ujian iya. Hahaha." Balas Renata.
"Hahaha. Kamu juga pas ujian nyontek." Balas Fifi juga.
Di sepanjang koridor sekolah, mereka terus mengobrol dan bercanda hingga tidak terasa mereka sudah sampai di warung depan sekolah.
"Aku nasi soto 1 ya bu." Pesan Fifi setelah masuk ke dalam warung.
"Kalau aku nasi uduk 1." Pesan Renata juga.
"Wah wah.. Sudah lama juga neng-neng gak kemari." Ucap sang pelayan warung.
"Hahaha iya bu. Kangen masakan-masakannya Ibu." Ucap Renata lepas.
Fifi hanya tersenyum.
Renata dan Fifi melanjutkan obrolan mereka. Sejenak Fifi merasakan getar di HPnya. Namun sifat cuek Fifi membuatnya tak mengubris getaran HPnya itu.
Tak terasa hidangan mereka telah ada di meja. Fifi yang haus pun langsung menuangkan minuman ke gelas yang telah disediakan. Namun saat akan meminumnya tiba-tiba..
'PRANG'
Gelas tersebut jatuh dari tangan Fifi dan pecah.
"Aduh cerobohnya aku. Maafin aku ya bu. Aku gak sengaja." Ucap Fifi yang terkejut.
"Iya ndak apa-apa kok." Balas si ibu pelayan warung sambil membereskan pecahan gelas.
"Duh Fi, kok bisa sampai jatuh sih gelasnya." Ucap Renata membantu membereskan pecahan gelas.
"Gak tahu Ren. Tiba-tiba saja jatuh dari tanganku." Jawab Fifi.
"Hati-hati makanya Fi." Ucap Renata.
"Kayaknya aku ada firasat buruk deh Ren." Ucap Fifi.
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja HP Fifi bergetar. Dilihatnya ada telpon dari nomor tidak dikenal. Karena penasaran, telpon tersebut diangkat oleh Fifi.
"Halo." Ucap Fifi.
"Ini Fifi?" Tanya suara di telpon.
"Iya. Ini aku Fifi." Jawab Fifi.
"Abang kamu kecelakaan dan masuk rumah sakit." Ucap suara di telpon.
"A.. Apa? Ka.. Kamu jangan bercanda." Ucap Fifi yang shock.
"Saya tidak bercanda. Segeralah datang ke rumah sakit." Ucap suara itu mengakhiri percakapan.
Setelah mendengar kabar tersebut, Fifi pun segera ke rumah sakit ditemani oleh Renata.
•
•
•
•
•
•
Sesaat sebelum kecelakaan..
"Halo Wen, aku butuh bantuan kamu nih." Ucap Sandro di telpon.
"Bantuan apa?" Tanya Wenario.
"Aku mau ngasih surprise buat adik perempuanku." Jawab Sandro.
"Wess.. Tumben kamu mau ngasih surprise ke adik kamu." Ucap Wenario.
"Hahaha. Habisnya kalok gak dikasih tar dia ngambek. Susah diatur tuh anak." Ucap Sandro.
"Yaudah kamu mau minta tolong apa?" Tanya Wenario di telpon.
"Tolong beliin kue ulang tahun di toko roti biasa." Jawab Sandro cepat.
"Oke.. Oke.. Itu aja kan? Itu sih gampang." Ucap Wenario.
"Oke trus kita ketemu di restoran biasa kita nongkrong ya." Ucap Sandro.
"Sip." Balas Wenario.
"Oke. Sampai jumpa disana." Ucap Sandro mengakhiri percakapan di telpon.
Wenario pun langsung berangkat dari rumahnya untuk membeli kue ulang tahun dan mempersiapkan segalanya seperti yang sudah diarahkan Sandro.
Singkat cerita.
Sandro telah sampai di tempat yang telah dijanjikan.
"Thank's ya Wen, kamu udah bantuin aku. Nanti aku ganti deh dari gaji aku." Ucap Sandro kepada Wenario.
"Hahaha. Santai aja kali. Kita sudah lama berteman. Jadi kalau kamu minta bantuan apa saja pasti aku bantuin." Balas Wenario.
"Sip deh. Oh iya, pesankan tempat ya. Aku mau jemput adikku dulu." Ucap Sandro sebelum pergi.
"Oke. Hati-hati." Balas Wenario.
Sandro pun langsung menuju mobilnya. Disaat Sandro akan berbelok, mendadak dari arah yang berlawanan datang sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dan 'BRAKKK.' Tak ampun lagi, mobil Sandro pun tertabrak dan terguling-guling. Wenario yang melihat kejadian itu langsung menghampiri mobil Sandro dan menarik Sandro keluar dari mobil. Dengan segala upaya dibantu oleh masyarakat sekitar, akhirnya Sandro dapat dikeluarkan dari mobil. Sandro mengalami luka parah.
"San, Sandro.. Sadarlah San. San!" Teriak Wenario.
"Hei kamu! Cepat panggil ambulans." Teriak Wenario pada seorang masyarakat.
"San, bertahanlah San. Ambulans akan segera datang." Ucap Wenario.
"We.. Wenario, to.. Tolong sampaikan hadiahku pada a.. Adikku." Ucap Sandro terbata-bata sambil memberikan HP yang dibungkus kertas kado itu pada Wenario. Setelah berkata demikian dan menitipkan hadiahnya, Sandro pun menghembuskan nafas terakhirnya.
"San, Sandro.. Tidak San bangun San bangun!" Teriak Wenario.
Tak lama kemudian, ambulans datang dan membawa jasad Sandro ke rumah sakit untuk diotopsi.
•
•
•
•
•
•
"Bang, bang Sandro." Teriak Fifi ketika sampai di rumah sakit ditemani Renata.
"Kamu Fifi?" Tanya Wenario.
"Iya aku Fifi. Kamu siapa?" Tanya Fifi.
"Aku Wenario. Aku teman abangmu." Jawab Wenario.
"Trus sekarang kondisi abangku gimana?" Tanya Fifi panik.
Wenario hanya diam.
"Hei jangan diam aja. Abang aku gimana?" Teriak Fifi pada Wenario.
Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruang otopsi.
"Dok, bagaimana keadaan abang saya dok?" Tanya Fifi pada dokter.
"Anda siapanya saudara Sandro?" Tanya dokter balik.
"Saya adiknya." Jawab Fifi.
"Oh. Kami mohon maaf dik, abang kamu tidak dapat ditolong lagi. Lukanya sangat parah." Ucap sang dokter.
"A.. Apa? Ti.. Tidak mungkin! A.. Abang." Ucap Fifi terisak dan langsung jatuh berlutut.
"Maafkan kami. Kami sudah berusaha sebisa kami." Ucap sang dokter lagi.
Di rumah sakit itu, Fifi menangis sejadi-jadinya. Wenario dan Renata berusaha menenangkannya.
Ranjang yang berisi jasad dari Sandro yang belum ditutup wajahnya pun keluar dari ruang otopsi.
"Tunggu sus. Aku ingin melihat wajah abangku untuk terakhir kalinya." Ucap Fifi terisak.
Fifi pun mendekati jenazah Sandro yang terbujur kaku.
Untuk yang terakhir kalinya, Fifi melihat wajah Sandro. Untuk yang terakhir kalinya, Fifi membelai wajah Sandro. Dan untuk yang terakhir kalinya Fifi memeluk jenazah Sandro sambil menangis dan bahkan dia tidak pernah melakukan itu semasa Sandro masih hidup.
"Fi, sebelum meninggal abang kamu menitipkanku ini." Ucap Wenario sambil memberikan kado yang dititipkan Sandro kepadanya.
Fifi menerima kado itu dengan air mata yang deras mengalir di pipinya. Dia tidak menyangka bahwa Sandro mengingat hari ulang tahunnya. Dia menyesal telah marah kepada abangnya karena masalah sepele.
•
•
•
•
•
14 Februari 2015
Jam 15.35 sore
Pemakaman Sandro Joyo Kusumo
Di upacara pemakaman tersebut, Fifi kembali menangis terisak sambil memeluk kado yang diberikan oleh Sandro melalui Wenario.
Renata berusaha menenangkan Fifi, begitupun dengan Wenario. Fifi tidak mampu menahan kesedihannya.
Setelah upacara pemakaman selesai, Fifi pulang ke rumahnya diantar oleh Wenario. Di dalam kamarnya, Fifi membuka isi kado tersebut yang ternyata sebuah HP yang diimpikannya. Dia kembali menangis. Sejenak dia mengingat tadi ada sms yang masuk ke HPnya.
"Hai Fifi, selamat ulang tahun ya. Wah, gak terasa adik abang udah dewasa sekarang. Panjang umur dan sehat selalu. Selalu jaga kesehatan kamu ya. Oh ya, abang ada beli kado nih buat kamu. Semoga kamu suka ya kado yang abang berikan untukmu." Begitulah bunyi isi pesan singkat Sandro yang dikirimkan 3 jam yang lalu.
Membaca pesan itu dan melihat kadonya, Fifi kembali tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis di dalam kamarnya.
"Maafin aku bang, maafin aku. Aku sudah menjadi adik yang nakal." Ucap Fifi sambil terisak.
Fifi sangat menyesal. Dia tidak menyangka bahwa abangnya, Sandro akan pergi meninggalkannya secepat itu. Takdir memang tidak dapat dihindari setiap manusia. Sekarang yang bisa dia lakukan hanyalah menangisi kepergian Sandro.