***
Dahulu kala disuatu desa kecil di Roxeane Kingdom, hiduplah seorang gadis cantik dan baik hati bernama Irina, ia selalu bersikap ramah dan bersedia menolong siapapun yang membutuhkannya.
Irina adalah anak dari seorang saudagar kaya didesa itu, namun hal itu tak membuat Irina sombong dan angkuh. Irina hanya tinggal bersama ayah dan para pelayannya, sementara ibunya telah meninggal sejak Irina masih kecil.
Suatu hari sebuah kabar tersebar, tahun baru nanti akan di adakan sebuah pesta besar di istana Roxeane kingdom untuk merayakan ulang tahun pangeran Alva, semua orang diundang termasuk Irina yang saat itu masih berumur 16 tahun.
Tak ada yang tau bahwa irina membenci sebuah pesta, namun demi menghormati sang raja, Irina pun pergi bersama para pelayannya ke pasar untuk membeli perlengkapan yang akan ia gunakan ke pesta besar itu.
Para pelayan sibuk mencarikan barang-barang berkualitas untuk Irina, membuat ia bosan karena terus-terusan berdiam diri melihat mereka yang berlalu-lalang.
Diam-diam Irina pun berjalan menjauh dari para pelayan nya, dan berlari melewati gang-gang sempit ke arah danau.
Sejak kecil Irina memang sangat suka berjalan-jalan, akan tetapi 2 tahun yang lalu irina divonis menderita penyakit jantung, membuat ia tak lagi bebas bermain.
Irina berjalan diantara rumput ilalang dan berlari keatas jembatan ketengah danau sambil tertawa dan bernyanyi ceria.
Semua terlihat sangat menakjubkan, burung-burung kecil yang terbang melintas, gemericik air, angsa yang berenang ditengah danau, semua tampak sempurna, hingga tiba-tiba Irina merasakan sakit yang luar biasa didadanya, jantungnya berdegup kencang membuat pandangan nya buram dan tubuhnya limbung, hampir saja Irina jatuh kedanau, tapi seseorang meraih tubuhnya kedalam pelukan, lalu menggendongnya ketepi danau.
Seorang pemuda bertubuh tinggi tegap, bermata coklat keemasan, dengan bibir merah mungil. Wajahnya tampan dan berkharisma.
Ia Mahesa, seorang pemuda sederhana yang tinggal di sebuah pondok dekat pasar.
Irina sangat terkejut menyadari ia berada di pelukan seorang pemuda, tapi kemudian ia pun mengucapkan terima kasih karena telah menolongnya.
Mereka pun berkenalan dan bercerita banyak hal sambil memperhatikan kumpulan angsa yang berenang ditengah danau, hingga Irina tak sadar ia telah meninggalkan pelayannya sangat lama, ia pun berjanji kepada Mahesa akan menemuinya lagi besok ditempat itu lalu bergegas kembali kepasar.
Sejak kejadian itu Irina dan Mahesa selalu bertemu ditepi danau, mereka berjalan-jalan menelusuri padang ilalang sambil tertawa bersama.
Awalnya Irina tak mengerti, setiap kali ia bertemu dengan Mahesa, hatinya terasa begitu bahagia, jantungnya berdegup kencang tapi bukan sakit yang ia rasakan melainkan sebuah perasaan hangat yang begitu aneh.
Begitu pula Mahesa, ia tahu ia mulai jatuh cinta pada Irina, gadis cantik bermata biru dan berambut pirang, dengan bibir merah yang merekah, bukan hanya itu, Irina juga sangatlah baik hati membuat siapapun akan terpikat padanya.
Sebulan berlalu, pesta besar itupun tiba, malam ini semua orang akan hadir dipesata dengan pakaian terbaik yang mereka miliki.
Irina pun sibuk didandani oleh para pelayan nya, tepat pukul 7 malam ia tiba di pintu utama istana bersama ayahnya. Malam ini Irina terlihat sangat cantik, ia mengenakan gaun merah buatan seorang penjahit terkenal, wajahnya yang memang menawan dipolesi make up tipis. Ia terlihat bagaikan bidadari kecil disana.
Semua orang terpukau, bahkan sang pangeran pun langsung mengajak Irina berdansa bersamanya, ia jatuh cinta pada seorang Irina Zhidler.
Pangeran berusaha terlihat ramah pada Irina, ia membicarakan banyak hal pada Irina untuk membuat gadis itu tertarik akan kepintarannya.
Diam-diam ditengah dansanya dan pangeran, Irina mulai gelisah, ia sudah berjanji akan menemui Mahesa ditaman istana, Irina akan mengungkapkan isi hatinya pada Mahesa.
Perlahan Irina mengatakan pada pangeran bahwa ia harus pergi, awalnya pangeran bersikeras menemani Irina, tapi irina menolak dan beralasan pangeran harus menemani tamunya yang lain.
Irina segera berlari ketaman, dan disana seseorang telah menunggunya, Mahesanya disana berdiri sambil memegang sebuket mawar merah.
Mahesa terlihat sangat tampan dengan setelan jasnya, rambut sekelam malamnya tersisir rapi kebelakang.
Irina tersenyum lalu perlahan berjalan menghampiri Mahesa yang mengulurkan bunga mawar untuknya.
"Kau sangat cantik malam ini Irina, mau berdansa bersamaku?"
Irina kembali tersenyum dan membungkuk kan badannya memberi hormat.
"Dengan senang hati tuanku."
Mereka berdansa, melangkahkan kaki beriringan sambil tersenyum satu sama lain, ditemani bintang dan bulan yang bersinar terang.
Lalu diakhir dansa Mahesa dengan lembut menyatakan cintanya dan mencium bibir Irina. Mereka tak tau sejak awal pangeran mengikuti Irina, ia sangat marah karena Irina lebih memilih pemuda biasa dibandingkan dirinya.
Dengan cepat pangeran bergegas menemui ayah Irina, ia menyatakan niatnya untuk menikahi irina.
Awalnya ayah Irina ragu, ia tau putrinya sedang jatuh cinta pada seorang pemuda sederhana yang begitu ramah. Bahkan Mahesa sering membantu menjual barang dagangannya dipasar.
Tapi dengan licik pangeran menghasut ayah irina, ia dijanjikan sebuah monopoli dagang yang akan membuatnya kaya raya jika ia menerima lamaran pangeran.
Akhirnya lamaran pun diterima. Irina tak bisa berbuat apapun karena ayahnya tak pernah mau dibantah.
Keesokan harinya, berita pernikahan Pangeran dan Irina tersebar hingga sampai ditelinga mahesa, hatinya hancur mendengar berita itu, ia bergegas pergi ke danau untuk menemui Irina, tapi nyatanya Irina tak datang menemuinya hari itu.
Sementara itu Irina sedang terbaring lemah diranjangnya, penyakitnya kambuh karena terlalu kelelahan dan stress, peluh bercucuran di keningnya, sementara itu tubuhnya dingin seperti es.
Semua orang kalang kabut dirumah besar Irina, bahkan ayah Irina turut menyesal karena menerima lamaran pangeran, ia seharusnya lebih memikirkan kebahagiaan Irina dari pada kekuasaan.
Dua hari berlalu kini Irina mulai tampak lebih baik, kulitnya yang putih semakin memucat, namun Irina tetap memaksa untuk menemui Mahesa ditepi danau.
Mahesa terkejut melihat Irina yang tampak lebih tirus, awalnya ia mengira Irina tak datang karena pangeran, tapi melihat itu ia yakin Irina tak datang karena memang sedang sakit.
Irina menangis, ia menceritakan semuanya, menjelaskan tentang ayahnya yang menerima lamaran pangeran, ia tak pernah berkeinginan untuk menikah dengan pangeran, hanya Mahesa yang ia cintai.
Dengan sabar Mahesa memeluk Irina, ia berkata semua akan baik-baik saja kalau mereka melewatinya bersama.
Setiap hari Irina datang ketepi danau, menghabiskan waktu berdua dengan Mahesa, berjalan berdua atau sekedar duduk berpelukan sambil memperhatikan angsa ditengah danau.
Lalu lagi-lagi Irina tak datang kedanau, kali ini kondisinya semakin parah, dokter menyatakan bahwa ia sekarat, pangeran yang mendengar berita itu bersikeras mempercepat pernikahan, dua hari mendatang pernikahan akan diadakan dengan megahnya diistana.
Dan dengan liciknya, pangeran memerintahkan seseorang untuk membunuh Mahesa.
Hari pernikahan tiba, Irina didandani layaknya dewi, gaun putih cantik itu sangat serasi dengan kulit putih mulusnya, tapi tak ada sedikitpun senyum dibibir merahnya, tubuhnya lemah karena sakitnya yang semakin parah dan fikiran nya hanya tertuju pada Mahesa.
Sementara itu Mahesa sedang berusaha lari dari seseorang yang berusaha membunuhnya, ia lari ketepi hutan dan bersembunyi dibalik sebuah batu besar, tepat saat pembunuh itu melewatinya, Mahesa menarik pedang yang dipegang si pembunuh lalu dengan gesit di tusukkannya pedang itu keperut pembunuh itu.
Tak berfikir panjang Mahesa lari sekuat tenaga menuju istana, Irinanya tak boleh menikahi pangeran, Irina adalah miliknya.
Tepat sebelum janji pernikahan terucap dari mulut Irina, mahesa datang.
"Tunggu!!!."
Semua orang terperangah, Mahesa dengan beraninya menghadap baginda raja, ia berlutut sambil memohon agar pernikahan itu dihentikan, Irina tak bahagia dengan pernikahan itu, ia terpaksa melakukannya.
Mendengar cerita Mahesa sang Raja pun iba, dulu ia juga pernah berjuang untuk mendapatkan cintanya, ia tau bagaimana perasaan Mahesa saat itu.
Sementara itu pangeran murka dan berniat membunuh mahesa dengan pedang yang dipegang salah satu prajurit, tapi dengan tegas raja menyuruhnya berhenti, ia berkata bahwa cinta tak pernah bisa dipaksakan, biarkan mereka bersama karena Irina tidak mencintai pangeran.
Lagi-lagi para tamu dibuat terkejut karena Irina yang limbung, dengan sigap Mahesa menangkap tubuh irina dan memeluknya.
"Ma..he..sa.. a..ku.. men..cintaimu.."
Tepat setelah berkata, irina memuntahkan darah, membasahi gaun putih nya yang kini berubah menjadi merah darah. Lalu perlahan mata irina tertutup, bersamaan dengan rasa sakitnya yang menghilang.
Mahesa terdiam, kehampaan melandanya, sebuah rasa sesak membuatnya tak bisa berkutik melihat wajah Irina yang pucat. Hatinya hancur, segalanya yang ia perjuangkan sia-sia.
"Irina... aku mencintaimu."
Mahesa menangis sambil memeluk Irinanya, hatinya remuk redam, kepiluan benar-benar menenggelamkan jiwanya, semua orang yang hadir disana menangis melihat kemalangan nasib Irina dan Mahesa, takdir terlalu kejam membuat mereka tak bisa bersama.
Perlahan Mahesa mengangkat tubuh Irina dan membawanya pergi dari istana.
"Teruntuk Irina Zhidler ku tersayang, takdir begitu kejam irina, ia tak membiarkan kita memiliki bahagia, segalanya telah hancur bersamaan dengan kau yang pergi, tak mengapa, senja hadir memang pertanda gelap, hingga matahari terbit lagi, sampai jumpa dikehidupan mendatang irina, aku akan terus mencintaimu sekuat apapun takdir memisahkan kita."
-Mahesa Rhavn-
***