Kakekku memiliki teori bahwa bahwa di balik alur semesta diantara semesta lainnya, memiliki potensi kecacatan semesta yang memungkin manusia membuang semua imajinasinya berkeliaran hidup disana.
Glitch in the matrix yang memungkinkan sebagai penghubung diantara semesta tempatku berdiri dan pertengahan semesta satunya.
Namaku adalah Reanna, yang sekarang berusia 26 tahun, bekerja sebagai akuntan di sebuah kantor kecil pinggir kota.
Saat aku masih kecil, aku sering berbicara kepada seorang pria bernama Realm, pria keren dengan jas hitam, topi bundar layaknya detektif swasta seperti dalam deskripsi novel, komik atau acara televisi.
Realm memang tidak nyata, ia adalah sahabat imajinasiku semasa kecil, di dalam imajinasiku kami sering berpetualang seakan menangani mahluk-mahluk di dunia Phantasm. Seperti, Gregor dan Felix kucingnya, yang suka mengoleksi telinga manusia, Wanita putih yang senang sekali menculik anak-anak, Rovcot si tuan baik hati yang memiliki kebiasaan mencuri barang dari mereka yang berbaring di makam, dan masih banyak lagi.
Sering aku menulis kisah setiap perjalanan imajinasiku bersama Realm seusainya berpetualang, aku yang adalah asisten Realm membantunya menyelesaikan setiap tugasnya.
Berimajinasi sudah menjadi kebiasaan akhirnya, karena aku tidak memiliki teman di sekolah, tidak pernah diajak mereka untuk jalan-jalan bersama atau bahkan sekedar mengajaku mengobrol. Aku sudah berusaha pastinya, mencoba memulai percakapan dengan mereka, meski hal tak mengenakan yang akan aku dapatkan pada akhirnya, membuatku memilih untuk memisahkan diri dari mereka.
Aku semakin tumbuh. Yang awalnya murid Sekolah dasar, lalu menjadi seorang murid Sekolah Menengah Pertama. Petualangku dan Realm terus berlanjut. Kisah yang ku tuliskan sudah berbuku-buku banyaknya selama beberapa tahun sebelumnya.
Meski begitu, aku merasakan dengan jelas bahwa Realm selalu muncul dalam kehidupan yang ku jalani, aku bisa melihat dan mendengarnya kemanapun aku pergi. Aku tidak perlu takut untuk pergi sendirian, karena Realm akan menjagaku. Aku tidak takut akan gelap malam, karena Realm akan menemaniku. Aku juga tidak takut jika aku merasa sendirian, karena Realm akan pasti selalu bersamaku.
Kedua orang tuaku yang khawatir, membawaku ke sebuah rumah sakit, mereka mengatur pertemuan psikiater, untukku.
Psikiater itu menanyaiku banyak hal tentang apa yang ku pikirkan, rasakan dan keadaan fisikku. Tentu aku menjawabnya baik-baik saja. Bahkan ia menanyai soal Realm, karena ia bertanya cukup baik kala itu, aku juga menjelaskan banyak hal.
Setelah kembali pulang dengan obat yang psikiater itu resepkan, aku hampir meminumnya setiap hari. Orangtuaku memaksaku untuk mencoba berbaur dengan anak-anak lain. Aku sudah menjelaskannya hingga terkadang aku berteriak untuk menjelaskannya, tetapi mereka tidak mengerti.
Obat itu terus dan masih ku minum rutin, Aku selalu mengunci kamarku belakang ini. Realm selalu menanyai kabarku, terkadang ia membuatku lupa akan masalahku, membawaku kedalam petualang baru dan penuh hal meneggangkan.
Seminggu berlalu, rasanya Realm samar-samar terlihat dan di dengar. Entah kenapa hatiku juga merasa lelah, aku berbaring di ranjangku setiap pulang sekolah, saat malam aku belajar, seusainya lalu pergi tidur. Tidak seperti biasanya Realm tidak muncul.
Aku semakin lupa bagaimana wajah Realm, pakaian yang ia selalu kenakan, topi bundar khas yang selalu menarik perhatianku kepadanya. Bahkan aku tidak lagi bisa mendengar suaranya.
Aneh rasanya, tidak ada gairah pada diriku untuk berimajinasi, seakan aku lupa bahwa Realm ada. Tiada lagi petualangan pada akhirnya.
Aku semakin dewasa seberjalannya waktu, aku menyelesaikan masa kuliahku, betapa senangnya aku. Dan menunggu mendapatkan pekerjaan pertamaku, walau aku harus menunggu cukup lama untuk itu.
Hari pertama masuk kerja, aku melihat seorang pria, teman kantorku, kami menjalin hubungan tak lama. Hingga aku bertemu lagi seorang pria yang ke temui di sebuah kafe, membuat kami bertukar kontak dan memutuskan untuk berpacaran, tak lama juga, hubungan itu selesai. Terus dan menerus hubungan yang ku jalani tak pernah memberikan hasil yang baik.
Teman kerjaku menegurku bahwa aku selalu memacari seorang pria yang visualnya identik sama. Aku bahkan tidak menyadarinya. Setelah ku pikir-pikir, benar ucapan temanku.
Aku memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan pria, beberapa waktu kedepan. Aku mengingat sesuatu, bahwa setiap orang yang ku pacari pasti lebih tua dariku dan memiliki wajah yang sama dengan Realm.
Sepulang kerja aku menuju ke rumah orangtuaku. Aku berencana akan menginap disana, orangtuaku senang dengan kedatanganku.
Saat di kamar lamaku, aku membuka semua tulisan lamaku mengenai dunia Phantasm. aku membacanya berlembar-lembar, dari malam hingga menuju pagi.
Di dalam kepalaku, aku kembali mengingat bagaimana rupa Realm, pakaiannya, suaranya dan semua hal tentang dirinya. Aku memejamkan mata, berharap, saat aku membuka mataku Realm berada di hadapanku, meski aku sudah menyadari bahwa Realm hanyalah sebuah teman imajinasi masa kecilku.
Benar, ia tak muncul, tak ada yang berdiri di ruang kamarku, tiada siapapun terkecuali aku.
Aku kembali pulang ke tempat kosku, berbaring mebayangkan Realm. Mengingat teori yang kakekku utarakan. Aku segera mengunjunginya.
Ia sudah cukup tua dan tak berdaya. Aku tidak bisa menanyai banyak hal, yang ku lakukan hanya menemaninya, ku lupakan semua niatan awalku kesini.
Aku hanya membaca catatan kakekku, bahwa hal seperti berpergian ke perantara semesta harus dalam kondisi waktu tertentu, dimana pergeseran rotasi bumi tidak sesuai bergerak lebih cepat atau matahari dan bulan berada di titik berlawanan. Aku tidak mengerti teori ini dan bagaimana bisa aku menerapkannya.
Tak lama, seseorang mengetuk pintu rumah kakekku, aku membukanya dan melihat sesosok pria yang wajahnya mirip dengan Realm, bahkan suaranya. Ia mengatakan bahwa sering ke tempat kakekku untuk melihat keadaannya.
Aku masih terpana oleh pria itu, yang wajahnya mirip seperti Realm, tetapi jika aku berfikir lagi aku pasti akan selalu jatuh hati dengan seseorang yang mirip dengannya dan berakhir begitu saja.
Setelah pulang ke kosanku meninggalkan rumah kakekku. Aku mengkhawatirkan kakekku, aku segera menelepon orangtuaku agar lebih baik membawa kakek untuk tinggal bersama. Orangtuaku menyetujui bagusnya. Aku lebih tenang, aku segera belajar melupakan Realm kembali, bahwa ia hanyalah sebatas kenangan bahagia yang ku buat semata. Kembali melangkah dan terus menjalani hidupku.
Tamat.