Kita seharusnya tidak memulai perang ini. Pasti ada cara yang lebih baik... ayah.
Beberapa tahun yang lalu,
Ayahku masih saja tidur pulas di tempat gelap ini. Aku mulai menghampirinya dengan tubuh yang kecil ini. Sangat sulit untuk melewati bebatuan yang ada. Kamu bisa menebaknya. Ya, ini adalah gua.
Namaku? Kita sebut saja nanti. Sekarang aku hanya ingin mengejutkan ayahku yang pemalas ini. Aku lompat setinggi mungkin dan mendarat tepat di wajah ayahku yang memiliki goresan panjang.
"Hyaaa!"
Plak!
"Ah, hey! Apa yang sekarang kau lakukan?!" Tanya ayahku. Marah.
"Kau terlalu pemalas. Kapan kau akan membawaku untuk melihat dunia? Keluar dari gua yang masih sulit aku terjal! Ayolah, aku tidak sabar!" Kataku antusias. Dengan suaraku yang kecil kekesalan ayahku tak bertambah atau berkurang.
Malah,
"Kau baru saja keluar dari cangkang beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang?! Pergilah dan hapalkan jalan gua ini sekali lagi!" Bentak ayahku. Ya, hanya bentakkan.
"Maaf..." kataku turun dari wajah yang besar itu.
Tubuhku memang mirip seperti manusia. Tapi, hatiku tak seperti ayahku yang dimana hanya lingkungan inilah yang ia sukai. Tidur dan tidur. Sementara aku harus melakukan ini dan itu agar tubuhku bisa seperti dirinya.
Hah... beberapa tahun kemudian. Yang ada malah tubuhku menjadi sangat mirip manusia. Sebenarnya aku sangat membenci hal ini. Sangat. Tapi, ayahku hanya bilang bahwa aku terlambat untuk berkembang.
"... atau kau mungkin cacat. Naga cacat." Katanya datar.
"Apa?!" Teriakku.
"Jangan berteriak!" Katanya dengan malas.
"Tapi... kenapa harus begitu?! Apa yang harus aku lakukan?!" Kataku tak terima.
Namun, jawabannya hanya diam. Karena memang ia tak ingin menjawab atau aku memang tak pantas. Entah kenapa aku merasa bahwa harusnya aku tak seperti ini padanya.
Esoknya, aku tidak tahu ada apa dengan ayahku. Dia diam seribu bahasa saat aku melakukan hal yang biasanya membuat ia marah. Bahkan kalau aku pergi ke kota manusia berkali-kali, ia tetap tak marah.
Jikalau kau bertanya kenapa aku pergi ke sana. Aku hanya mencari kesenangan ku sendiri. Mulai dari berbisnis hingga bergaul bersama mereka. Aku selalu tertarik akan banyak hal yang ditawarkan manusia. Sempat aku dimarahi sampai dia lelah untuk mencegahku pergi ke kota manusia.
Aku tak mengerti. Kenapa aku malah lebih mirip seperti manusia dan bukannya bertingkah seperti naga yang seharusnya. Ditambah hari ini dia malah bungkam seribu bahasa.
"Apa sekarang aku melakukan kesalahan?" Tanyaku padanya.
"Kenapa kau tak berpikir saja dan pergilah." Katanya.
"Bagaimana jika aku pergi untuk selamanya?!" Teriak ku tak tahan dengan apa yang ayahku ucapkan.
"Itu terserah padamu!" Katanya.
"Baik! Kita lihat saja siapa yang akan mencari seseorang nanti!" Kataku menantang.
Jawaban dia? Dia hanya berbalik dan diam saja. Aku pergi meninggalkan sejumlah kekesalanku padanya. Menuruni bukit, melewati jalan bebatuan dan melihat seberkas cahaya. Rumahku mungkin akan menyambutku dalam diam kali ini.
Aku memasuki rumahku. Disini hanya barang rumahan biasa dan beribu-ribu kertas yang berserakan hampir ke lantai tempat pintu keluar. Aku menjatuhkan diriku di kasur dan tanpa aku sadari mataku menutup seiring dengan lelahnya hari.
Esok hari,
Aku bangun setelah mendengar burung berkicau. Anehnya sinar matahari tak mencoba membangunkanku dengan keras atau semacamnya. Atau... aku yang tak terpengaruh akan hal itu?
Aku berjalan lalu mulai mengisi beberapa lembar kertas ke dalam buku. Bisa dibilang aku mengarsipkan kertas pada bidang yang sama. Dimulai dari sihir hingga perekonomian. Aku tidak tahu mengapa aku mulai membereskan lembaran yang sudah menumpuk ini. Mungkin kesedihanlah yang mendorongku untuk melakukannya.
Pergi ke kota dengan sejumlah buku berat ini tak menjadi beban walau menuruni gunung dan bolak-balik menuruni bukit. Sudah terlalu familiar dengan rute yang diambil, aku hanya perlu membuat tempat buku-buku itu mengecil sampai tak terlihat dan melayang di atas kepalaku.
Sesampainya di kota, aku lagi-lagi disambut oleh penduduk setempat dengan sebutan 'genius termuda' atau semacamnya. Apa mereka tak memiliki pikiran mereka sampai mereka berpikir bahwa akulah yang bisa mengubah sebagian yang menyusahkan dalam diri kota bahkan negara ini sendiri? Kupikir begitu.
Tapi, aku tak perlu tahu lebih banyak. Aku hanya seseorang yang kesepian dan menginginkan reaksi apapun itu bahkan dari makhluk seperti manusia sekarang.
"Apa kau tahu? Sekarang semua orang lebih memilih percaya penyihir aneh itu lho!" Kata seseorang saat aku sedang lewat.
Sejenak aku tertarik dengan topik itu. Dan... aku melewati mereka begitu saja. Sampailah aku di bangunan tua namun terlihat baru ini. Baru direnovasi karena permintaanku sendiri tentunya.
"Selamat datang nona. Apa yang akan anda lakukan hari ini?" Tanya seseorang yang tadinya tengah duduk, berdiri menyambutku yang baru membuka pintu ini.
"Apa yang sekarang orang-orang bicarakan?" Tanyaku. Bukannya menjawab pertanyaannya yang membosankan.
"Ah... itu... katanya seekor naga yang mungkin akan muncul malah akan mengutuk atau menghancurkan negeri ini! Tapi... itu hanya bualan seorang penyihir tua yang katanya bisa meramalkan masa depan dan mengatakannya pada pemimpin negeri ini." Katanya. Aku sebenarnya tak berpikir bahwa ayah akan melakukan hal itu.
"Dan... apakah raja mempercayainya?" Tanyaku.
"Raja masih memberikan jawaban sangsi. Itu karena sudah beberapa abad lalu tak ada kabar tentang hal-hal yang berbau naga." Katanya. Aku agak lega. Tapi perasaan ini tak lega sama sekali.
"Oh, dan... katanya dia juga menemukan cara agar dia dapat menghentikan naga itu sekaligus! Tentu saja raja tak percaya begitu saja. Namun, beliau juga masih waspada akan hal itu." Sambungnya
Omong kosong. Pikirku.
"Lupakan hal itu. Hal yang membuatku penasaran adalah mengapa sihir bisa terjadi. Semua itu masih samar dan tidak logis." Kataku mengalihkan pikiran.
"Tapi, anda malah mengembangkan sihir lebih banyak, kan, pada akhirnya?" Tanyanya. Aku memutar bola mataku meski itu adalah fakta.
Beberapa bulan aku sudah tak pergi menemui ayah. Kira-kira apa yang sedang dia lakukan? Aku sedang duduk di antara banyaknya daftar keluhan yang seharusnya bisa diselesaikan dengan mempertanyakannya pada diri mereka sendiri. Aku tidak begitu mengerti. Lamunanku buyar saat dia menepuk bahuku.
"Nona! Sekarang ada banyak orang yang mempertanyakan apakah kau pernah bertemu seekor naga! Aku tidak percaya tapi... apa itu benar?" Dia bertanya pertanyaan yang seharusnya tak ia tanyakan.
"Lalu? Apa yang harus aku jawab jika aku tak pernah bertemu hewan purba seperti itu? Bahkan wujudnya saja masih samar bukan?" Tanyaku.
"Ternyata... anda bahkan tak tahu wujudnya?" Tanyanya balik.
"Tentu saja." Kataku yang kini melihat jendela yang sudah berembun karena hujan. Ini bukan pertama kalinya aku berbohong. Meski di deteksi oleh sihirpun, aku sudah mengubah kornea mataku yang kini menjadi bayangan kejujuran. Tak akan pernah bisa di lacak.
Lalu sekelompok orang berbondong-bondong entah ingin pergi kemana. Aku sejenak menatap dia, asistenku, dan dia mengerti tatapan mataku yang mempertanyakan apa yang terjadi.
"Ah, apa kita harus menenangkan amarah para warga dan para pasukan kerajaan itu bahwa sebenarnya tak ada naga? Masalahnya, hujan kini tak berhenti sudah lebih dari 4 hari... padahal bulan-bulan sebelumnya tak terjadi sesuatu yang aneh."
Siapa lagi kan, yang melakukan ini selain penyihir tua itu. Pikirku.
"Aku harus pergi." Aku rasa aku tahu mereka akan pergi kemana sambil membawa senjata yang ada dan mengikuti para prajurit dari belakang. Mereka yakin yang sedang mengutuk mereka adalah sang naga. Ayahku. Walaupun sihir itu telah hampir dibuat oleh manusia.
"Anda mau kemana?" Tanya dia sambil menatapku pergi dalam hujan yang deras ini.
"Aku rasa aku harus melakukan sesuatu." Kataku meninggalkannya.
Aku berlari tanpa ada yang bisa melihatku. Kalaupun ini hampir seperti buatan manusia. Hujan ini secara alamiah selalu membuatku risih saat aku sakit. Ayahku, selalu menurunkan hujan saat aku masih setengah sakit. Apa yang sebenarnya dia lakukan?
Sang naga. Ayahku yang dingin. Diam-diam menurunkan hujan hanya karena kesedihannya. Sekarang tepat berada di depan gua. Dia berbalik saat kita saling bertatapan. Aku berlari menuju ke arahnya.
"Ayah!" Teriakku.
"Apa?" Katanya. Masih dengan suara malasnya.
"Apa yang telah kau lakukan?!" Kataku bertanya.
Ah, bukan itu yang seharusnya aku ucapkan. Pikirku.
"Apa kau kemari karena meyerah?" Tanya ayahku dengan tak mengindahkan pertanyaanku.
"Apa... ayah, mungkin sudah tidak ada waktu lagi! Aku mencoba sihir memperlambat waktu. Sebaiknya ayah pergi sebelum mereka tahu engkau disini!" Kataku.
"Jawab dahulu pertanyaanku." Katanya.
"Kalau begitu, jawab pertanyaanku tadi!" Teriakku. Lalu dia berbalik.
"Kau tahu perasaanku seperti apa sekarang. Aku tidak bisa mengucapkannya bukan karena malu. Aku tidak ingin kau khawatir." Katanya.
"Lalu... sekarang--" dia memotong ucapanku.
"Sebenarnya, kau tak terlahir dari cangkang. Telur apanya. Aku tidak bisa mengobati ibumu yang sekarat tengah mengandungmu. Tak ada cara, aku hanya bisa mengabulkan satu permintaannya." Katanya.
"Ibu...ku...?" Tanyaku yang kini menatap lekat mata besar yang bersinar itu.
"Kau tahu apa permintaan nya? Hanya satu. Yaitu 'biarkan anakku ini hidup agar dia bisa membunuh naga brengsek sepertimu'. Dan dia meninggalkan pedang suaminya yang pernah menggores luka di wajahku ini." Katanya. Aku hanya bisa terdiam.
"Setelah kau bisa berjalan, aku baru teringat mengapa wanita yang malang itu begitu membenciku. Aku tak sengaja membunuh salah satu rekan ksatria yang kini membawa pedangnya jauh dariku. Wanita itu menikahi rekan ksatria itu. Aku menyimpan mu dalam cangkang, agar kau dapat berhibernasi selama berabad-abad." Sambungnya.
"Apa... pasti ini hanya kebohongan!" Teriakku.
"Ini bukan hanya sekadar kebohongan! Kalau saja... manusia tak menganggap naga sebagai ancaman. Mungkin semua ini tak terjadi." Katanya membantah.
"Tapi...!" Sebuah pedang kini terlempar padaku.
"Kau adalah manusia seutuhnya. Dan kau adalah satu-satunya alasan aku masih hidup. Alasan agar aku bisa tahu bahwa aku seharusnya tidak ada sejak awal. Cepat gunakan itu. Hanya itu yang bisa membuat mereka percaya padamu agar kau bukan orang yang munafik." Kata ayahku. Kini hujan semakin deras saja.
"Tidak!" Teriakku.
"Lakukan!" Bentak ayahku.
"Tidak akan!" Teriakku lagi. Bagaimana bisa aku melakukan itu pada orang yang paling berharga bagiku.
"Hah... satu lagi. Aku berharap kau bisa berbahagia. Kalau kau menolak aku tak akan memaksa. Tapi, pegang erat-erat pedang itu." Katanya seakan pasrah. "Kumohon." Sambungnya.
Aku pertama kalinya mendengar dia memohon. Seumur hidupku. Dia yang mengajarkanku segala hal dengan sikap dinginnya, kini memohon akan satu hal sepele. Aku pun meraih pedang itu dan memegangnya erat-era--.
Sruuk...! Brugh!
Dia menjatuhkan dirinya. Dan pedang yang aku pegang menusuk tepat ke titik lemahnya. Dia tak bergerak. Kini hujan mulai mereda. Sihirku melemah karena mentalku jatuh melihat hal yang paling berharga menghilang begitu saja.
Orang-orang kini berada di pintu masuk gua. Mereka bersorak seakan aku melakukan ini untuk mereka secara diam-diam. Aku langsung memakai sihir ilusi optik agar mereka tak melihat ekspresi syok dariku.
Beberapa hari kemudian setelah ayahku meninggal.
"Ayah..." kataku saat aku ada di tengah-tengah air terjun. Kakiku berdiri di salah satu batu yang sedikit licin. Air memantulkan sinar rembulan yang begitu indah.
"Aku... seharusnya kita tak berperang saat itu. Benar? Coba tebak." Kataku. Aku menatap ke atas bintang.
"Aku di fitnah. Oleh asistenku sendiri. Semua direncanakan olehnya. Bahkan kematianmu, ayah..." aku mengernyitkan mata. Alis tengahku naik. Mencoba menahan tangis adalah keahlianku.
"Penyihir itu adalah dirinya. Dia tahu segalanya dariku. Aku tidak tahu dia mendendam apa padamu." Pedang yang pernah ia berikan padaku melekat erat di kedua tanganku.
"Manusia. Seharusnya aku tak mempercayainya. Ayah. Kau adalah naga yang sebenarnya paling bijaksana. Hanya satu-satunya engkau naga yang paling bijaksana." Aku mengangkat pedang yang aku bawa.
"Manusia menganggapmu naga yang jahat. Pikiran mereka sempit. Tapi kau hanya dingin. Maka dari itu ayah, aku akan segera menyusulmu." Pedang itu kini dengan cepat menusuk dalam dadaku seiring pergerakan tanganku.
Tubuhku terjatuh dan tenggelam dalam jernihnya air terjun. Awalnya aku merasakan dingin di dadaku. Tapi, saat aku dibawah sini, tenggelam dalam air terjun sekaligus merasakan sakitnya perasaanku. Hanya itu yang aku bisa lakukan.
Ternyata rembulan dan bintang begitu indah.