Di malam hari ...
"Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Hana mendengar suara tangisan seorang wanita.
Setahuku hanya ada aku dan Joshua di kastil ini.
Hana dan Joshua baru saja menikah. Dan teman mereka yang di Inggris mempersilahkan mereka untuk tinggal di kastil miliknya. Sedangkan teman mereka sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis.
"Josh ... Bangun ..." Hana berusaha membangunkan Joshua. Tetapi Joshua tidak bangun. Bahkan membuka matanya saja tidak.
Tangisan itu kemudian berhenti. Hana yang mengantuk tertidur.
Tapi kejadian itu terjadi lagi pada malam berikutnya. Hana tahu membangunkan Joshua itu sia-sia.
Hana bangkit dari ranjangnya dan berusaha mencari asal suara itu. Tetapi saat ia membuka pintu kamar, suara tangisan itu sudah tidak ada.
Malam ketiga ...
Hana masih mendengar suara tangisan. Ia mencari asal suara itu. Hana sangat terkejut. Ia mendapati seorang wanita mengenakan gaun jaman dulu. Dan ia memakai mahkota.
Mata mereka saling bertatap-tatapan.
"Kau bisa melihatku?"
Hana menganggukkan kepalanya. Ia terus berdoa di dalam hatinya. Ia tahu dia sedang berhadapan dengan makhluk alam lain saat melihat wanita itu melayang ke arahnya.
"Siapa namamu?" Wanita itu bertanya.
"Hana."
"Selama ini belum pernah ada yang bisa melihatku."
"Tetapi saya bisa melihat anda. Mengapa anda menangis setiap malam?" Hana berpikir jika ia tahu penyebabnya, maka tangisan setiap malam itu akan hilang.
"Aku ... Hiks ... Hiks ... Hiks ... Hanya menangisii kepergian suamiku. Hiks ... Hiks ... Hiks ..." Wanita itu menangis lagi.
"Ia meninggal?"
Wanita itu menganggukkan kepalanya "Ia tewas saat perang."
Hana merasa kasihan. Ia berpikir seandainya Joshua pergi meninggalkannya. Tentu saja ia merasa sedih.
"Kita tak pernah tahu kapan kita meninggal. Kapan kita akan berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Kita hanya bisa menerima takdir itu." Hana hanya ingin wanita itu mengikhlaskan kepergian suaminya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Wanita itu bercerita banyak hal ke Hana. Cerita yang hanya bisa ia pendam selama hidupnya karena ia harus menjaga imagenya.
"Hana ... Terima kasih sudah mau mendengar keluh kesahku."
Wanita itu perlahan menghilang seiring matahari yang mulai terbit.
Hana berjalan kembali ke kamarnya.
Ah! Aku lupa bertanya siapa namanya.
Ketika Hana sampai di kamar, ia melihat Joshua yang masih tertidur lelap.
Aku beruntung saat ini Joshua masih bersamaku.
Bisa melihat wajahnya setiap hari.
Bisa mendengar gelak tawanya.
Bisa melihat kelakuan anehnya yang terkadang aku nggak habis pikir.
Josh ...
Terima kasih sudah menemaniku.
Semoga kita bisa terus bersama dalam waktu yang lama.