Untuk pertama kalinya aku di sentuh oleh seorang pria, Saling berdekapan, sentuhan dan kecupan diantara kehangatan yang ia berikan kepadaku, dengan lembut dan berintonasi seirama searah gerak tubuhnya bersama gerak tubuhku. Yang sebagaimana adalah malam pertama kami.
...
Sebelumnya, aku tidak begitu percaya dengan naga, begitu juga dengan warga di desa tempat dimana aku tinggal. Meski banyak kesatria yang mencari keberadaannya, tidak ada satu-pun orang yang berhasil menemukan keberadaannya, mereka hanyalah mahluk mitos.
Seperti biasa aku mengitari sisi lain dinding bata besar yang sebagai pagar pelindung batas desa. Ya, aku keluar desa untuk berjalan-jalan. Daratan kami beriklim tropis, tidak pernah ada salju yang turun saat awal desember sampai pertengahan febuari.
Hal favoritku saat berjalan-jalan di luar desa ialah aku dapat melihat hewan-hewan yang tidak pernah bisa ku temui di desa, tumbuhan dan pemandangan alam yang indah. Meski di desaku memiliki peraturan bahwa warga desa tidak diizinkan untuk keluar, aku tetap melakukannya, keluar diam-diam.
Hari itu, aku melihat seekor kelinci putih lucu yang sedang memakan buah ceri yang jatuh dari pohonnya. Aku berusaha mendekatinya, ia menyadari keberadaanku dan melompat-lompat kabur, entah tarikan apa yang membuatku berlari mengejarnya. Saat aku berhasil menemukannya, kelinci itu sudah mati di mulut seekor singa, bukan singa biasa, melainkan ia memiliki dua kepala yang dikirinya adalah kepala singa yang menggigit leher kelinci tadi dan bagian kanannya adalah kepala kambing. Tubuhnya besar setinggi dua meter dan ekornya ialah ular panjang. Warga desaku biasa menyebutnya Cerberus, alasan kami tidak di perbolehkan keluar desa adalah karena mahluk-mahluk seperti ini hidup di luar desa, Cerberus adalah salah satunya yang terkenal cukup berbahaya dan haus darah, meski dalam kondisi kenyang, ia akan selalu mengejar mangsa hidup, mengoyak-oyakan mangsanya dan meninggalkannya begitu saja.
Dengan hati-hati aku berjalan mundur kebelakang, meski mahluk itu tetap menatapku. Akupun segera berlari menuju desa, mahluk itu mengejarku, larinya lebih cepat tentu, syukur aku karena banyak pepohonan yang membuat Cerberus itu kesulitan mengejarku karena tubuhnya yang besar, memperlambat gerakannya.
Aku ingat arah dari mana aku datang, tetapi karena banyak pepohonan yang terlihat sama dan seakan membuat jalur yang ku lewati bercabang-cabang, aku sampai di jalan buntu yang di halang tebing besar. Aku tidak mungkin memanjatnya karena pasti sulit dan juga itu cukup tinggi.
Dengan inisiatif aku berlari kearah samping, mengitari dinding tebing, Cerberus itu semakin mendekat, terdengar kepala satunya yang berupa kambing mengembik-embik keras.
Aku melihat seorang pria yang berdiri di hadapanku, yang dimana aku dalam kondisi berlari kearahnya. Aku memintanya untuk ikut segera berlari, menarik tangannya.
Pria itu malah balik menarik tanganku dan membuat kami terhenti, berdiri menunggu Cerberus itu mendekat.
Saat tiba Cerberus di depan pria itu. Cerberus itu seperti anak kucing yang ketakutan, lalu segera mundur dan pergi.
Pria itu mengenakan jubah hitam yang menutupi tubuhnya sampai batas lutut, terlihat celana dan sepatu botnya yang juga hitam. Dari wajahnya terlihat usianya lebih tua dariku. Rambut putih pendek menyisir rapih kebelakang kepalanya, sedikit bergelombang, alis yang selalu ia tekukan membuat wajahnya terlihat serius, bola matanya hitam.
Ia mengantarku kembali menuju tempat aku tinggal. Lalu ia pergi begitu saja tanpa sepatah katapun.
Keesokan harinya, aku pergi keluar desa seperti biasa dan kali ini berharap dapat bertemu dengannya lagi. Menuju ke tempat dimana aku bertemu denganya sebelumnya.
Sayang, ia tidak berada disana lagi. Meski begitu aku tetap menunggunya. Tak lama, benar dugaanku bahwa ia kembali lagi. Aku sudah menyiapkan bekal kali ini, agar dapat makan siang bersamanya.
Banyak hal yang ia tidak suka, terutama sayuran dan buah-buahan.
Meski ia hanya diam saja tanpa kata, entah kenapa aku sangat senang dan nyaman berada di dekatnya.
Sama seperti kemarin, keesokan harinya, kami terus bertemu dan bertemu. Ia mulai berbicara dan banyak bercerita kepadaku soal keadaan di hutan ini. Meski ingin aku menanyakan dimana ia tinggal, aku tidak berani menanyakannya untuk sekarang.
Setiap malam saat berada di rumah, aku selalu membayangkan pria itu. Hingga aku menyadari bahwa sepertinya aku menyukainya.
Aku hanya bisa menunggu saat bersama dengannya, ku harap ia mengutarakan perasaannya seperti apa yang kurasakan pada dirinya. Tetapi, hal itu tak kunjung datang, bagai aku mengaharapkan rembulan di gengamanku. Aku tidak ingin juga, jika aku mengutarakan isi hatiku dan nanti malah hubungan kami menjadi berakhir. Aku menjaga hatiku terdiam menyimpan rasa.
Waktu terasa begitu cepat. Setahun rasanya seperti hanya sebulan berlalu.
Aku yang seorang gadis, memberanikan diri lebih agresif kepadanya, aku cukup jelas memaksanya agar dapat memahami apa yang kurasakan.
Hari itu saat kami berdua bersama, aku memulai aksiku. Dengan menggapai tangannya dan wajahku mendekati wajahnya, aku sungguh menciumnya, aku berusaha tetap menciumnya walau bibirnya hanya terdiam saja. Ku sudahi hal itu lalu menatapnya, ia hanya terdiam saja melihatku seakan berkata, kamu sedang apa.
Karena merasa malu, aku hanya bisa berlari dan pergi, ia tidak mengejarku dan hanya terduduk memperhatikanku yang berlari.
Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, ku hapus semua kenangan saat bersamanya, meski kenangan itu tak pernah terhapus sedikitpun di dalam kepalaku.
Aku sudah tidak pernah keluar desa lagi sejak hari itu. Menghabiskan waktuku untuk pergi berbelanja di pasar. Ada dua orang penjaga gerbang desaku terlihat mereka sedang mengobrol. Mereka mengatakan melihat seekor naga berwarna putih berkeliaran di atas langit tepat dibawah desa.
Gosip itu semakin menyebar, dan beberapa orang juga sudah mengaku melihatnya. Aku sungguh penasaran bagaimana wujud asli seekor naga. Aku teringat pria itu, ia masih diluar sana mungkin, akan sangat berbahaya jika ada naga yang menyerang dirinya.
Aku bergegas berlari menuju keluar desa lewat jalur rahasia yang biasa ku lewati. Sesampainya di tempat biasa kami berdua bertemu. Ia tidak berada disana. Tak lama langit menjadi gelap, aku menoleh keatas, terlihat naga berwarna putih. Aku tidak bergerak sedikitpun dari tempat dimana aku berdiri, Naga itu menatapku. Lalu bagai meledak menjadi kabut, Naga itu menghilang, sekarang pria yang ku kenal berada di hadapanku tanpa sehelai pakaianpun.
Ia mengatakan kepadaku, bahwa ia mencariku, ia meyakinkanku apakah aku yakin ingin bersamanya. Ia juga menjelaskan. Jika, aku memilih bersamanya, aku harus ikut pergi ke tempatnya, memberitahuku saat aku menciumnya, aku telah memberikan benang merah kepadanya, jadi aku sudah terikat olehnya. Tanpa berfikir panjang aku segera mengiyakannya, aku senang bagai rembulan yang aku impikan berada di gengamanku, sekarang itu terjadi, rembulan itu telah berada di genggamanku.
Ia membawaku ke sebuah kerjaan, disana juga memiliki penduduk layaknya di desaku. Ia menjelaskan semua orang yang ada disini adalah naga, mereka memilih hidup terpisah dari manusia, meski begitu ia menjelaskan, banyak juga penduduk desanya yang seorang naga menikahi manusia.
Hal yang membuatku terkejut, bahwa pria yang kucintai adalah seorang raja di tempatnya, hingga akhirnya kami menikah, merasakan malam pertama kami yang indah, menikmati berbagi kasih sayang, aku sungguh selalu ingin berada disisinya, meski aku tahu bahwa ia akan selalu berada disisiku.
Selang beberapa tahun, kami dikaruniai dua orang putra kembar. Saat mereka berusia 5 tahun, salah satu putra kami sudah dapat menyemburkan es, terkadang aku yang seorang manusia kerepotan dengan ulahnya. Sementara putraku yang satunya sering melakukan transformasi menjadi seekor naga kecil yang lucu dan berterbangan di lorong kastil, meski aku harus segera menangkap dan membawa mereka ke kamarnya, terkadang bayi naga sangat suka terbang dan lupa cara mengepakan sayapnya saat terbang terlalu tinggi, aku tidak ingin kedua putraku terluka, aku menyangi keduanya. Hidup kami begitu bahagia, aku merasa seperti tokoh dari negeri dongeng, meskipun itu juga memungkinan.
Setiap aku berjalan berdua bersama dengannya, pria naga yang adalah suamiku sekarang. Aku merasakan erat tangannya yang tak akan ia lepaskan dari gengamanku.
Naga adalah mahluk yang posesif dan protektif mereka akan selalu melindungi pasangannya, terutama manusia yang mudah melepaskan benang merahnya, naga tidak bisa melakukan hal seperti tu. Jika ia kehilangan pasangannya, ia tidak bisa terikat oleh naga atau manusia lain. Sebagai alasan juga, keberadaan mereka yang semakin sedikit. Bagai tersirat, jika aku melompat, ia akan melompat. Jika aku mati, ia juga akan mati. Manusia bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan naga, berpindah pulau ke pulau satunya, Jika aku melompat, ia tidak perlu harus melompat, jika aku mati, ia tidak perlu mati. Ikatan seorang naga adalah hal yang mengerikan, tetapi ia tak akan pernah mengingkari janjinya.
Bahkan dalam mitologi asia yang mengatakan bahwa naga adalah mahluk suci dan sakral. Sementara di barat, naga dapat leluasa memilih satu pasangannya entah mereka yang mencintainya ataupun tidak dan tak akan pernah melepaskannya jika sudah terikat. Menjadi hal yang propaganda bahwa sering naga di sebut juga mahluk jahat yang layak di musnahkan. Meski demikian, kisah itu akan selalu menjadi rahasia dunia. Jika mereka tidak ada, maka tidak akan pernah ada kisah tertulis di setiap belahan dunia menegenai mereka.
Tamat.