Ayub adalah anak yang soleh,tampan,dan anak tunggal dari ibu Aisnyah dan pak zulkifli, ayahnya meninggal sejak Ayub kelas 1SMP. Tetapi, semenjak ibunya mulai sakit-sakitan ketika Ayub lulus SMA. Ayub yang menjadi tulang punggung keluarga, dia bekerja sejak pagi sampai malam, tanpa kenal lelah. Setelah setahun bekerja Ayub di pecat karena setiap kali seseorang berbicara padanya, dia tidak pernah memandang matanya, Terutama pada lawan jenis. mereka mengatakan Ayub sombong, sok ganteng, sok baik, dan banyak perkataan lainnya. Setiap berganti pekerjaan, Ayub selalu di pecat dengan permasalahan yang sama.
Sampai akhirnya Ayub bertekad membuka kantor penerbitan sendiri, dengan modal yang dipinjam dari bank atas nama ibunya. awalnya Ayub ingin meminjam atas namanya, tetapi tidak terima dari pihak bank karena usia dan tak ada pekerjaan tetap. Ibunya yang mendukung anaknya, lalu meminjam uang ke bank tanpa diketahui Ayub (walaupun akhirnya Ayub mengetahuinya).
Karyawanya pun dia dapat dari teman dekatnya yaitu Fitri. Fitri adalah teman Ayub sejak SD. Dia karyawan pertama di kantor penerbitan Dan juga yang merasakan jatuh bangunnya kantor tersebut, Sampai-sampai pernah tak di gaji,oleh karena itu Ayub sangat mempercayai Fitri.
Ibu menghampiri Ayub yang sedang duduk di kamarnya ,“Ayub... ibu ada calon untukmu, seperti yang sudah kita bahas 2 tahun yang lalu. Kamu janji akan menikah di usiamu yang ke 28 tahun, besok calon istrimu akan datang. Jadi cutilah bekerja untuk satu hari,” Kata ibu menatap mata anaknya itu. Ayub yang tak bisa menolak keinginan ibunya, dia mengiyakan dengan senyum dan menganggukan kepala.
Besoknya gadis yang di calon kan untuk Ayub datang, Namanya Ratifa berumur 25 tahun. Dia berhijab, cantik, baik, dan pandai mengaji. Dan saat berbicara dengan Ayub, dia menundukan pandangannya. Dia bekerja sebagai guru mengaji dan TK.
Setelah seminggu mereka saling mengenal ibunya bertanya, “Ayub anakku sayang, bagaimana hubungan mu dengan Ratifa? Dia calon istri yang sesuai dengan kriteriamu, benarkan?”
Ayub yang melihat wajah ibunya yang berharab supaya dirinya menikah dengan Ratifa, sangat sedih menceritakan bahwa Ratifa bukanlah gadis kriterianya. “Ibu, maaf kan Ayub. Karena Ratifa bukanlah gadis yang akan menjadi istri Ayub, karena dia tidak buta ibu.” Kata Ayub lembut dan pelan supaya tak menyakiti hati ibunya.
Ibunya terkejut dan bertanya dengan suara keras, “kenapa?, bukannya Ratifa buta. Saat kalian pertama kali bertemu ratifa tak sekalipun melihat matamu, tetapi bagaimana kamu tahu kalo Ratifa tidak buta. berarti kamu juga tentu tidak buta.”
Ayub yang tidak mau adanya salah paham lalu menjelaskan, “ Ibu maafkan saya, saya memang bukanlah laki-laki yang buta. tetapi mengapa saya memutuskan tidak menikahinya, karena dia tidak bisa menjaga matanya dan juga hatinya. Saya mengetahuinya ketika saya mengajaknya pergi ke Restoran yang dipilihnya. Saat saya mengajaknya berbicara, ia tak menjawab, kemudian saya tanya lagi ia pun tak menjawab lalu saya pun melihat wajahnya. Kupikir ia hanya ingin mengetesku, supaya melihat wajahnya. Tetapi ketika kulihat matanya, matanya... sedang menatap ke setiap laki-laki yang melewatinya dan mata tersebut tertuju pada pria yang sedang makan di Restoran itu juga”
Ibunya yang mendengar penjelasan anaknya terkejut, juga menyesal telah berkata kasar pada anaknya. Terlihat sekali wajah anaknya sedih. “Lalu bagaimana Apa kamu sudah menanyakan padanya?” tanya ibu penasaran dengan nada lembut. “Aku sudah menanyakannya, dan ia menjawab iya. Dia mencintai laki-laki itu sejak SMA dan sejak SMA pun mereka pacaran,” kata Ayub sedih lalu menatap mata ibunya yang terkejut.Sejak itu ibunya tak mencari calon istri untuk Ayub, tetapi itu tak bertahan lama.
Sebulan kemudia ibunya mengenalkan gadis lain bernama Misa Khairunnisa berusia 26 tahun. Dia samahalnya dengan Ratifa seorang guru, cantik, pandai mengaji, dan saat berbicara dengan Ayub dia menundukan pandangannya.
Tetapi takdir berkata lain, Nis bukanlah juga istri yang di takdirkan bersama Ayub. Ibunya yang penasaran lalu bertanya dengan nada lembut, tidak seperti sebelumnya. “Anakku sayang, kenapa kamu memutuskan sendiri hubungan mu dengan Nisa?. Dia anak yang tuli, buta, dan bisu.”
“Ibu Nisa memang buta ketika ada saya, tetapi dia tak tuli dan bisu.” Kata Ayub sedih, ibunyayang mendengar perkataan itu pun bertanya kembali, “Apa sebabnya kamu mengatakan Nisa tidak tuli, bisu dan buta ketika hanya ada kamu.” “Ketika saya kembali dari toilet, dari kejauhan saya melihat Nisa sedang teleponan dengan temannya. semakin dekat jarak saya dengan Nisa, apa yang di bicarakan terdengar jelas. Dia mengatakan dengan suara mengejek, “Hei friend lo tau gak, cowok yang dijodohin sama nyokap gue cakep dia juga kaya. Tapi dia so alim, masa tatapan mata aja gak mau. Gue terpaksa nunduk mulu , pegel kelama-kelamaan leher gue.” Itu yang dia katakan bu,” kata Ayub sedih.
Ibunya yang mendengar penjelasan kaget,dengan sifat asli Nisa. lalu berkata dengan sangat menyesal, “Ayub maaf kan ibumu yang selalu salah memilih calon istri untukmu,” ibunya pun memeluk Ayub dengan sangat erat. Sejak itu ibunya tak pernah lagi memilih gadis untuk Ayub, biarkanlah anaknya yang memilih istri yang dia impikan.
Ibunya mengetahui kalau anaknya sangatlah dekat dengan Fitri, yang usianya berjarak 5 tahun. Awalnya ibuAyub, ingin menjodohkan ayub dengan Fitri. Tetapi karena tak mau hubungan persahabatan mereka putus hanya karena perjodohan, ibunya urungkan niatnya tersebut.
Dan di kantor mulai tersebar bahwa Fitri yang akan menjadi calon istri Ayub, Fitri yang mendengar gosip tersebut lalu mendatangi ruangan Ayub. “Tok,tok.. assalamu’alaikum pak Ayub” kata Fitri gugup sambil mengetuk pintu. Ayub yang mendengar lalu menjawab, “Walaikumsalam, masuk!.” “ada apa Fitri?” tanya Ayub sambil melihat layar leptopnya.
“Apa pak ayub sudah mendengar gosip , kalo saya calon istri pak Ayub....” kata Fitri sangat gugup, sambil menggenggamkan kedua tangannya sanangat kencang. Baginya ini seperti bertatapan langsung dengan singa dan ingin melarikan diri. “Ya! saya sudah mendengar gosip tersebut, lalu kenapa?.” Tanya Ayub penasaran, tatapannya masih tetap kelayar komputer. “Sebenarnya saya ingin pak Ayub menjelaskan, bahwa saya bukan calon istri pak Ayub. Karena saya tak ingin calon suami saya berfikiran saya selingkuh,” jawab Fitri gugup dan tatapannya masih tetap ke bawah.
Ayub yang mendengar perkataan tersebut, tanpa sadar matanya menatap wajah wanita yang ada di hadapannya. Walau hanya sekilas melihatnya, hati Ayub terasa sakit. Seperti ditusuk oleh ribuan panah, lebih sakit dari saat kejadian tentang Ratna dan Nisa.“Lalu siapa calon suamimu, Apa dia bekerja disini?” tanya Ayub penasaran. “Iya, beliau adalah pak Hardiman. Kami sudah ta’arufan selama 3 bulan, dan sudah setuju ingin melanjutkan kejenjang pernikahan.” Kata Firti gugup dengan tatapan yang masih tertuju ke bawah.
“Lalu saya akan menikah bulan ini, dan juga ingin mengundurkan diri dari kantor.” Lanjut Fitri. fitri lalu melihat ke arah Ayub yang sedang menatapnya, tanpa sadar mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka. Keduanya sangat gugup, tak bisa berkata.
“Maafkan saya karena tiba-tiba berkata ingin menikah dan juga berhenti dari kantor,” kata Fitri semakin gugup, karena Tatapan ayub tadi. “Tidak apa-apa, lagi pula kamu sudah bekerja di sini selama 5 tahun. Dan kamu juga sudah sangat membantu saya, walau sedih saya hanya ingin kebagiaan untukmu dan Hardiman. Saya sangat berterimakasih karena selama 5 tahun ini, kamu selalu menyemangati dan membantu saya ketika kantor ini jatuh maupun naik. saya sangat berterima kasih,” kata Ayub dengan suara yang serak , air matanya menetes. Mendengar perkataan itu, Fitri sangat sedih. Air mata pun terjatuh kepipinya yang cantik itu.fitri pun permisi dari ruangan Ayub setelah menghapus air matanaya.
Bagi Ayub Fitri adalah seorang wanita yang sangat sesuai dengan kriterianya, tetapi ia tak dapat menggapainya.
Setelah itu Fitri sering cuti dari kerjaannya untuk mempersiapkan pernikahannya. Pekerjaan Ayub semakin banyak dan sering pulang malam. Fitri yang melihatnya merasa kasihan lalu memanggil temannya untuk menggantikan posisinya.
Fitri menghampiri Ayub yang sedang duduk di “Pak Ayub, maaf karena ini hari terakhir saya bekerja. Dan saya selalu melihat pak Ayub pulang tengah malam, karena mengerjakan tugas saya. Saya membawa teman saya, namanya Jamilah dia dulu juga pernah bekerja diperusahaan penerbitan. Tapi karena ia ingin melanjutkan kuliah ia pun berhenti kerja.” Kata Fitri, lalu memberi kode pada Jamilah untuk memperkenalkan diri. “Walaikumsalam,” kata Ayub dengan tatapan kearah kertas yang di pegangnya.
“Assalamu’alaikum pak Ayub, Nama saya Jamilatun akhlakun. Umur saya 24 tahun, dan ini surat dan berkas lamaran saya.” Kata jamilah lembut dan kemayu, lalu menaruh kertas laraman tersebut keatas meja ruang tamu tanpa memandang kearah wajah Ayub.
“Walaikumsalam” Ayub lalu mengambil berkas tersebut, ketika dia mengangkat wajahnya untuk melihat sekretaris barunya. Hatinya bergetar,seperti tersambar petir lalu gumamnya dalam hati. “Perasaan apa ini ya ALLAH?, mengapa hati hamba mu ini bergetar ketika melihat wajah Wanita ini. Jika ini persaan karena rasa nafsu, tolong kuatkan iman hambamu ini.” Lalu Ayub memalingkan matanya kearah berkas yang di bawa Jamilah. Dan dia pun mengetahui Jamilah tak memandang kearahnya, tatapi kearah berkas yang di pegang Ayub.
“Baiklah, mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Kalau ada yang tidak dimengerti kamu bisa tanyakan ke saya atau ke Pak Hardiman,”kata Ayub dengan perasaan gugup. “Terima kasih Pak Ayub” kata Jamilah senyum, walau senyum itu tak dapat dilihat oleh Ayub. Jamilah lalu melihat kearah Fitri yang juga tersenyum, Fitri mengode Jamilah untuk keluar duluan . “Pak Ayub, saya permisi terlebih dahulu. Assalamu’alikum,” kata jamilah lalu keluar dari ruangan Ayub.
“Bagaimana anak yang baik kan?,”kata Fitri senyum. “Ya sepertinya dia anak yang baik,” jawab Ayub. “Baiklah saya...., pak saya akan memberitahu satu hal pada kamu. Jamilah adalah prempuan yang sesuai dengan kriteriamu, saya sudah mengenalnya sejak SD. Semoga saja kalian berjodoh, assalamu’alaikum,” kata Fitri senyum lalu keluar deri ruangan Ayub. “Walaikumsalam,” jawab ayub.
“Aamiin ya ALLAH semoga saja dia berjodoh dengan ku, dan menjadikannya sesuai dengan Istri Impian ku. Dan jadi kanlah rasa cinta ini atas namamu bukanlah karena nafsu.” Serunya dalam hati yang terdalam.