Mendapat hadiah liburan tentu sangat menyenangkan. Bisa liburan gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun tentu hal yang didambakan oleh setiap orang. Begitu yang dialami oleh Bhi Hun bersama dengan sahabatnya Kwe Tiau.
Keduanya baru-baru ini mendapatkan hadiah fantastis, yakni liburan gratis selama tiga hari dua malam di sebuah pulau. Hadiah itu didapatkan setelah Bhi Hun membeli sebotol air dan menggosok bungkus botol itu.
“Yakin mau berangkat?” tanya Kwe Tiau.
“Yakinlah, kapan lagi bisa liburan gratis.”
“Tapi, cuma kita berdua yang berangkat.”
“Memangnya kenapa? Takut tersesat? Tenang saja, sekarang zaman sudah sangat maju. Kita bisa menggunakan teknologi masa modern ini,” hibur Bhi Hun.
Akhirnya Kwe Tiau menurut dan ikut liburan bersama Bhi Hun. Keduanya menaiki kapal menuju sebuah pulau yang letaknya cukup jauh dari kota tempat tinggal mereka. Membutuhkan kurang lebih selama lima jam perjalanan air hingga sampai di pulau itu. Bhi Hun yang sedang tidur nyenyak terkesiap ketika tiba-tiba Kwe Tiau membangunkannya.
“Ada apa?” tanya Bhi Hun mengernyitkan dahinya.
“Lihat itu!” tunjuk Kwe Tiau.
Bhi Hun mengikuti arah pandang sahabatnya. Mata Bhi Hun berbinar melihat pulau yang sangat indah berada di depan mereka. Dia merasa beruntung mendapat hadiah seperti ini.
“Sudah kubilang untuk mengambil hadiah itu,” ucap Bhi Hun bangga.
Namun, senyum dan tatapan binar itu seketika lenyap saat kapal yang mereka tumpangi hanya lewat di pulau indah itu. Keduanya saling tatap dengan ekspresi kebingungan. Bhi Hun pun mendekati sang nahkoda yang berada dibalik kemudi kapal.
“Tujuan kita bukan pulau tadi?” tanya Bhi Hun.
“Bukan, melainkan pulau itu. Kalian akan di pulau itu selama tiga hari, kan? Nanti kapal akan menjemput kalian tiga hari lagi,” jawab sang nahkoda sembari memberi penjelasan.
Tidak lama mereka sampai di sebuah pulau yang sebenarnya juga lumayan indah. Melihat pulau itu membuat Bhi Hun dan Kwe Tiau sedikit terobati dari rasa kecewa. Keduanya turun dari kapal dengan membawa barang bawaan masing- masing, lalu melambai pada kapal yang berjalan menjauh.
“Lho? Perasaan tadi pulau ini terang, kenapa sekarang jadi gelap?” tanya Kwe Tiau menatap sekitar pulau ini.
“Mungkin hanya perasaanmu saja, sekarang ayo kita cari penginapannya. Aku lelah setelah perjalanan jauh.”
Dua orang itu pun berjalan menyusuri jalan setapak dari bibir pantai hingga memasuki pulau. Namun, makin masuk jalan setapak itu semakin hilang digantikan dengan semak belukar. Keduanya lagi-lagi saling berpandangan, merasa aneh dengan pulau ini.
“Ini hutan?” tanya Bhi Hun dengan suara gemetar.
“Ayo kembali ke pantai lagi,” usul Kwe Tiau.
Bhi Hun mengangguk setuju dan mereka kembali berjalan untuk menuju ke bibir pantai. Namun, sudah berjalan sangat lama pantai masih juga belum tampak. Sementara langit sudah mulai gelap juga keadaan sekitar terasa lebih mencekam.
“Bagaimana ini? Coba gunakan ponselmu untuk mencari jalan keluar,” ucap Kwe Tiau memberi ide.
Bhi Hun menurut dan segera mengeluarkan poselnya. Namun nihil, tidak ada sinyal di tempat ini. Wajah pucat Bhi Hun membuat Kwe Tiau mengernyit heran.
“Kenapa?”
“Tidak ada sinyal di tempat ini. Lalu kita harus bagaimana? Aku lapar juga lelah.”
“Kita makan dulu bekal kita, nanti kita jalan lagi.”
Mereka pun duduk di atas rerumputan dengan beralaskan tikar yang tadi dibawa Kwe Tiau. Bhi Hun mengeluarkan semua bekalnya, sementara Kwe Tiau menonton aktivitas sahabatnya itu.
“Hanya ini yang kamu bawa?” tanya Kwe Tiau.
“Iya, aku pikir akan ada penginapan yang nyaman serta banyak makanan yang tersaji. Aku hanya membawa mie instan dan teko listrik ini,” jawab Bhi Hun.
Kwe Tiau mengusap wajahnya frustasi, ternyata sahabatnya satu ini sangat mengesankan. Namun, tidak ada gunanya berkelahi saat ini. Dengan berat hati, Kwe Tiau mengambil salah satu mie instan itu dan memakannya tanpa dimasak terlebih dulu.
“Enak?” tanya Bhi Hun.
“Enak. Makan saja, dari pada kelaparan. Kita baru beberapa jam berada di sini, masih ada dua hari lagi baru kapal akan datang menjemput,” jawab Kwe Tiau berusaha menahan rasa sesak di dada.
Dia sangat menyesal mengikuti Bhi Hun pergi berlibur. Kwe Tiau baru menyadari satu hal, di dunia ini tidak ada yang gratis. Bisa-bisanya dia melupakan hal yang amat penting itu.
Gggrrrr!
Suara menggeram itu menghentikan aktivitas piknik dua sahabat. Keduanya saling pandang, lalu kompak menatap pada semak- semak yang gelap.
Seekor macan kumbang tiba-tiba meloncat keluar, membuat Bhi Hun spontan menjerit. Keduanya langsung lari tunggang langgang menghindari amukan macan itu. Sementara sang macan terlihat kebingungan dengan dua manusia yang berlari tanpa membawa barang-barangnya. Namun, macan kumbang itu tetap mengejar mereka karena menganggap dua makhluk itu seperti mainannya. Bhi Hun dan Kwe Tiau memanjat pohon untuk menghindari amukan sang macan.
“Macan tidak bisa memanjat pohon, kan?” tanya Bhi Hun dengan suara bergetar.
“Semoga macan yang ini tidak bisa memanjat pohon,” jawab Kwe Tiau penuh harap.
HUP!
Kedua bola mata sepasang sahabat itu hampir saja keluar dari tempatnya saat macan kumbang tadi berhasil menghampiri mereka.
“Loncat! Cepat loncat!” teriak Kwe Tiau.
“Tidak! Pohonnya terlalu tinggi!” tolak Bhi Hun masih memeluk erat pohon itu.
“Lompat saja! Kamu mau mati dimakan macan itu?”
Suasana yang sangat mencekam bagi Bhi Hun. Tangisnya sudah pecah sedaritadi, saat ini dia harus memilih. Pilihan yang sangat sulit baginya.
“Cepat!” teriak Kwe Tiau dari bawah sana.
“Oke, oke. Beri aku aba-aba!”
“Satu… Dua… Tiga… Lompat sekarang!” teriak Kwe Tiau.
BRUKK!
“Aduh!” rintih Bhi Hun mengusap bokong serta punggungnya yang terasa sakit setelah membentur lantai.
Ah tunggu dulu! Lantai? Mengapa lantai? Bukankah seharusnya tanah dengan rerumputan? Ini di hutan, kan? Bhi Hun membuka matanya lebar-lebar dan menatap sekeliling. Ini bukan hutan gelap dan mencekam, melainkan kamar tidurnya.
“Apakah aku tadi hanya bermimpi?” tanya Bhi Hun pada dirinya sendiri.
"Bhi Hun, cepat bersiap! Kita bisa ketinggalan kapal nanti!" teriak Kwe Tiau. "Katanya mau liburan?" lanjutnya.
🏝🏝🏝