Kakiku untuk pertama kalinya menginjak tanah di desa ini. Ya, desa ini sangat terpencil, begitulah kata orang-orang. Aku pun sependapat dengan mereka setelah aku melihat langsung kondisi desa ini. Desa ini sangat terpencil, tak ada listrik. Ya walaupun sekitar sepuluh persen anak di desa ini yang menjamah pendidikan. Itupun mereka harus berjalan jauh karena sekolah yang paling terdekat berada di luar desa ini.
Aku Yoona. Cita-citaku menjadi seorang dokter.
Aku telah lulus SMA. Aku tak bisa melanjutkan pendidikanku karena aku tak punya modal cukup banyak untuk kuliah. Lalu, aku memutuskan kesini untuk memberikan pengobatan bagi mereka yang memiliki kesehatan yang buruk atau memiliki penyakit.
Oh, sampeyan mau jadi dokter disini?” Tanya kepala desa.
“Iya Pak, saya ingin jadi dokter. Daripada ilmu yang saya miliki terbuang sia-sia, mending saya memberikan perawatan bagi mereka semua” jawabku.
“Oh ya nak, nama sampeyan siapa?” Tanya kepala desa.
“Oh ya pak, saya sampai lupa memperkenalkan diri,” aku tertawa kemudian tersenyum. “Nama saya Yoona, Pak,” sambungku sambil mengulurkan tangan berjabat tangan.
“Saya Arley,” ujar kepala desa yang bernama Winoto yang lantas menerima jabat tanganku.
“Kalau lihat dari wajah nak Yoona, mirip sekali dengan anak saya,” sambung Pak Arley.
“Emm, lalu anak bapak dimana sekarang?” Tanyaku penasaran.
“Anak saya telah gugur dalam peperangan saat dia masih menjabat sebagai anggota tentara,” jawab Pak Arley sambil meneteskan air mata.
“Maaf pak, saya tidak tahu,” ujarku turut bersimpati.
“Ya tidak apa-apa nak, orang bapak yang mulai bercerita kok,” ujarnya
"Kembali ke persoalan tadi, masalah gaji, saya tidak bisa menyanggupi jumlah gajinya, nak,” keluh Pak Arley.
"Ah tidak apa-apa, pak. Jangan khawatir dengan masalah itu. Saya menerima gaji dengan sukarela kok,” jawabku.
“Oh ya pak. Malam ini saya tidur dimana?” Tanyaku.
“Nanti mba Yoona bisa menempati rumah kontrakan saya. Bisa mba Yoona pakai sampai kapanpun mba Yoona mau,” ujar Pak Arley.
“Wah, terima kasih banyak, Pak!” Sahutku.
“Mari saya antar,” ajak Pak Arley.
Aku menatap lekat wajah-wajah di dalam foto yang tak asing bagiku. Mereka yang telah merawatku, membimbingku, dan menafkahiku selama 20 tahun terakhir ini. Ya, mereka adalah orangtuaku. Yang mendidikku dari TK hingga SMA. Hingga suatu saat kejadian itu terjadi…
"Papa, mama gak sabar deh lihat ekspresi Hendra saat melihat kado ulang tahunnya ini,” ujar mama bersemangat.
“Iya mah, papa juga gak sabar. Pasti mata Yoona berkaca-kaca melihat isi kado ini,” sahut papa
Di tengah asyiknya mengobrol, papaku tak sengaja menabrak sebuah pohon yang menewaskan papa dan mamaku. Saat itu, aku lagi di rumah menunggu kepulangan mereka. Waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Namun, papa dan mama belum juga pulang. Aku lantas menelepon orangtuaku. Kedua-duanya tak menjawab panggilanku. Lantas sesaat kemudian, aku mendapat telepon dari pihak kepolisian yang menyatakan bahwa papa dan mamaku mengalami kecelakaan yang menyebabkan mereka pulang ke Tuhan Yang Maha Esa.
"Papa, mama! Bangun! Jangan tinggalin Yoona! Yoona gak bisa hidup tanpa papa dan mama. Bangun papa! Bangun mama!” Teriakku histeris saat jenazah mereka tiba di rumahku.
“Sudahlah Yoona, ikhlaskan saja. Papa dan mamamu tak akan bangun lagi,” ujar tanteku menghiburku agar aku tenang.
“Maaf, kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan bahwa kami menemukan sebuah kado di dalam mobil kejadian. Ini kadonya,” ujar Pak Polisi yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah dan memberikan kado itu padaku.
“Terima kasih banyak, Pak!” Sahutku sambil menerima kado itu
Sejak saat itu, aku berlatih hidup mandiri tanpa ada bantuan orangtua. Aku juga terpaksa tidak dapat melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomiku. Rumah orangtuaku juga kujual karena aku harus membayar hutang-hutang orangtuaku. Sekarang aku tinggal bersama tanteku yang bernama Soo-Jin. Tante Soo-Jin tak bisa berbuat banyak ketika aku mengutarakan maksud dan tujuanku datang ke desa ini. Tante hanya berharap aku berangkat dan pulang selamat sampai tujuan.
Ini hari kedua aku menempati desa ini. Sebelumnya, Pak Kades menerangkan tujuan dan maksud kedatanganku ke desa ini kepada warga.
Sebagian dari mereka bersorak senang dan sebagian dari mereka bingung karena mereka tidak dapat membayar perawatanya.
“Begini bapak dan ibu, kita tentukan harinya dan jam periksanya. Bagaimana kalau pagi saja?” Tanyaku dihadapan warga.
“Oh tidak bisa mba. Kami tak mempunyai biaya untuk membayar pemeriksaan” sahut salah seorang warga.
"Nah, pemeriksaan ini gratis?dan diadakan jam 3 sore” Tawarku lagi.
Sebagian warga mengangguk-angguk mendengar tawaranku yang kedua.
Mulai hari itu juga, setiap Senin hingga Sabtu pukul 3 sore, aku memeriksa kondisi mereka yang tidak mendapatkan vitamin dan lain sebagainya. Ternyata, kesehatan mereka sangat minim. Padahal, kondisi tubuh mereka yang minim seperti ini akan membuat semua orang atau ternak akan mengalami penyakit yang parah dan lain lainnya.
Malam harinya, aku diundang ke rumah Pak Kades.
“Yah, beginilah mba, suasana di desa ini saat malam. Tak ada listrik, sehingga suasananya mencekam. Setiap malam kami hanya menggunakan lilin,” kata Pak Arley memulai pembicaraan kami.
Aku pun mengangguk dan tersenyum seolah mengerti perasaan dan apa yang mereka alami. Di hadapanku ada beberapa lauk pauk, nasi, serta sambel terasi yang diterangi oleh cahaya temaram lilin serta Pak Arley yang berada di sampingku.
“Ayo mba Yoona, dimakan,” pinta istri Pak Arley yang menawariku sambil tersenyum ramah.
“Iya bu,” jawabku sambil menuangkan beberapa sendok nasi ke piringku. Lauk pauknya berupa ikan asin, tahu dan tempe.
Selama makan, aku terdiam sambil melamun. Ternyata beginilah kehidupan di desa ini. Bahkan, saat malam tiba, seakan tak ada kehidupan di desa ini. Sunyi dan mencekam. Baru beberapa hari aku disini, aku dapat merasakan menjadi seorang penduduk di desa ini. Ah, tidak, aku belum merasakan bagaimana rasanya berpanas-panasan di sawah untuk menanam dan memanen padi. Aku sangat bersyukur, kehidupanku di kota tidak sesusah di desa.
Satu bulan sudah aku menetap di desa ini. Aku rasa cukup banyak ilmu yang kuberikan kepada mereka. Aku segera kembali ke kota. Memang, targetku berada di desa memang hanya satu bulan. Mereka kini sudah mengerti berbagai penyakit, cara menyembuhkannya, cara membuat obat-obatan dan lain sebagainya. Mereka juga telah kutambahi ilmu agama yang tentunya bermanfaat di dunia dan di atas sana.
“Hati-hati ya di jalan, Kak!” Pesan anak-anak desa ini sebelum aku meninggalkan desa ini.
“Terima kasih banyak mba Yoona, karena telah mengajari kami disini dengan berbagai macam ilmu yang tentunya sangat berguna bagi kami,” sahut salah seorang warga.
“Ya Pak, Ibu dan adek adek, semoga sehat selalu ya!” Pesanku kepada mereka.
Akhirnya, dengan berat hati aku meninggalkan desa ini. Aku juga harus mencari masa depanku agar masa-masa belajarku tidak sia-sia. Karena aku tahu, pendidikan merupakan hak setiap orang.
♤THE END♤