Mulai menghitung mundur dari angka 10-1. 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1….. teriak seorang pemandu acara mengenakan setelan celana jens dengan atasan kemeja putih dan kacamata warna kuning bertengger di hidungnya. Pintu kemudian terbuka diiringi dari tamu undangan yang datang pada siang hari ini. Aku pun melangkah masuk dan tersenyum lebar dengan apa yang telah kuciptakan sekarang. Yaa aku Airin Gemilang, lulusan salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Kini berhasil mengepakkan sayap di dunia bisnis yang aku cita-citakan sejak duduk di bangku SMA.Dan di kedai kopi Airin ini semua cerita dimulai.
Di sinilah pertama kali aku bertemu dengan Angga Millano. Seorang youtuber terkenal dan sangat menyenangkan. Waktu itu, aku sendiri yang melayani Angga ketika memesan kopi pesanannya.
“Selamat datang di kedai kami kakak, ada yang bisa saya bantu?”
Angga tersenyum kemudian memilih-milih menu yang sudah kedai siapkan. “Oya, saya pesen kopi item 1, latte 1…. Lo mau apa bro,…. Oke, mocca 1 ya mbak. Terus makanannya kayaknya enak-enak nih, mmmm pisang keju 1, pangsit gorengnya 1, sama cumi saos kacang 1. Udah itu aja mbak.”
“Oke kak, saya ulangi sekali lagi ya pesanannya kopi hitam 1, latte 1, mocca 1. Untuk makanannya pisang keju 1, pangsit goreng 1, dan cumi sambel kacang 1 ya kak. Nggak mau nambah tahu pedasnya kak, mumpung lagi promo buy 1 get 1?”
“Ya udah deh, itu sekalian ya.”
“Oke kak, totalnya semua 150ribu ya kak. Dan ini voucher untuk kakak, jika kakak mengumpulkan 5 voucher ini, kakak bisa pesan satu kopi dan satu makanan gratis di sini. Dan ini Cuma berlaku satu bulan ya kak.”
“Oke mbak.”
“Baiklah silakan duduk dulu, biar kami menyiapkan pesanannya.”
Aku mengantarkan sendiri pesanan pada pelanggan. Selain untuk mengetahui langsung keadaan kedai juga sekaligus ingin mengetahui bagaimana komentar palanggan untuk Kedai kopi ini. Setelah kutanya-tanya secara random, aku senang banyak yang suka dengan peyanan dan makanan di sini. Aku juga menanyakan secara langsung pada Angga Milano. Dia suka semuanya. Dia besok juga ingin membuat konten di sini, aku pun menyetujuinya. Selain untuk markating pemasaran, juga untuk memajukan kedai ini.
“Oke, setuju!” ucapku setelah berdiskui panjang dengan Angga dan timnya. Kami pun akhirnya sepakat untuk membuat konten bersama dengan konsep kedai kopi ini.Setelah itu, Angga dan timnya pulang ke hotel tempat mereka menginap. Katanya, dia ada di Jogya selama 2 minggu. Kami pun saling bertukar nomor telepon. Dia juga memberitahukan padaku hotel dimana dia tinggal selama di Jogja.
“Besok kalau mau ke sini, aku kabarin.” Katanya sebelum dia pamit pulang.
“Oke.” Ucapku lalu dia pamit.
Ema, temanku sekaligus orang kepercaanku di kedai ini pun mengaguminya. Dia ngefans banget sama Angga Milano. Pria tampan dengan lesung pipi yang Ema bilang seperti aktor Korea. Aku pun tertawa melihat tingkah Ema yang seperti anak kecil melihat Angga pergi sambil melambaikan tangan.
”Ya ampun Ema, kayak anak kecil banget sih kamu.” Kataku pada Ema.
“Ya ampun Airin, hidup kamu kebanyakan kerja sampai kamu nggak tahu mana laki ganteng mana yang kagak. Semua cewek tergila-gila sama Angga. Cuma kamu cewek yang biasa aja. Kamu punya kesempatan emas ketemu sama Angga, buat konten sama Angga, pasti banyak banget cewek yang iri sama kamu Rin.” Kata Ema dengan nada centilnya.
“Ngomong apa sih kamu Ema, nggak ngerti deh aku.” Ucapku dan kembali ke dalam.
“Dasar Airin, cowok cakep gitu dianggurin, dasar cewek gila kerja.” Ucap Ema kesal padaku.
Keesokan harinya Angga ngabarin aku kalau mau datang ke kedai lagi sesuai janjinya kemarin. Aku pun memberi tahu Ema, kalau Angga akan datang dan meminta bantuannya untuk mempersiapkan tempat untuk membuat konten nanti. Ema pun sangat senang karena Angga akan datang lagi hari ini. Ema dandan secantik mungkin hingga aku sangat heran dengan sikapnya.
“Ya ampun Ema … segitunya ya Cuma mau ketemu sama Angga doang.” Ucapku tanpa basa-basi.
“Airin sayang, cintaku, sahabatku tersayang,… dengerin ya. Orang kalau udah ngefans tuh nggak mau tampil jelek dihadapan orang yang dikaguminya. Siapa tahu aja nanti Angga bakal kepincut sama kecantikanku.” Kata Ema penuh percaya diri dengan memainkan rambutnya yang telah dicatok spiral itu. Aku pun hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatku ini.
“Hai …Airin.” Ucap Angga hingga membuatku kaget hingga aku mau jatuh dan Angga memengangi tanganku agar aku tak jatuh.
“Maaf … maaf … .” Ucapku lalu Angga melepaskan tanganku.
“Gpp,.. sory ya, aku ngagetin kamu ya?” tanya Angga.
“Ohh …enggak kok, tadi lagi ngobrol aja sama Ema, terus tiba-tiba kamu datang.” Kataku dan Ema tangannya memberi kode padaku. Aku paham Ema pengen dikenalin sama Angga.
“Angga, kenalin ini Ema sahabatku, dia juga orang kepercayaaku di sini. Kalau butuh apa-apa bisa ke dia ya. Oya… Ema ini juga sekaligus fans berat kamu lho.” Ucapku sampai Ema melotot tapi senang.
“Oya … terima kasih Ema.” Kata Angga sambil bersalaman dengan Ema. Ema sangat senang sekali hingga dia minta foto bareng dengan Angga.
Nah, sampai juga kita untuk membuat konten di lantai 2. Angga memintaku menyiapkan menu-menu yang ada di kedai ini dan kita bakal review menu-menunya. Aku lihat dia orang yang profesional dalam pekerjaan, bukan orang yang sombong apalagi dia publik figur. Ramah, dan juga sangat sopan pada siapa saja. Pantas saja Ema sangat ngefans sama Angga.
Berhari-hari Angga membuat konten di kedai ini, sampai aku pun semangkin akrab dengan Angga. Angga pun juga sering menelponku di luar pekerjaan kita. Aku tak tahu apakah pada semua orang dia juga bersikap yang sama. Entahlah, tapi aku berusaha menyikapinya dengan santai. Nggak mau terlalu mengambil pusing apalagi menaruh harapan padanya.
Ema pun karena seringnya bertemu Angga, diapun jatuh hati pada Angga. Ema minta tolong padaku untuk lebih dekat dengan Angga. Aku pun berusaha semampuku, sampai aku malu harus menghubungi Angga terus-terusan. Ema dengan perjuangan keras untuk mendapatkan cinta Angga, kadang sampai dia datang ke hotel hanya sekedar mengantar makanan atau memberikan hadiah pada Angga.Tapi Angga hanya menganggap Ema sebagai fans, tak lebih dari itu. Akupun juga tak mengetahuinya. Karena selebihnya itu urusan mereka.
Dua minggu sudah Angga dan timnya di Jogja, besok dia harus kembali ke Jakarta untuk bekerja. Dia ingin bertemu denganku di luar kafe. Katanya ingin sekaligus salam perpisahan saja karena sudah bekerja sama dengannya dengan baik. Aku pun menyanggupinya dan mengajak Ema untuk menemui Angga.
Kami bertemu di sebuah restoran, aku berpikir Angga bersama timnya ternyata dia sendiri. Ema begitu bersemangat bertemu dengan Angga. Dan aku hanya bersikap biasa saja, tak lebih menganggapkan sebagai partner kerja semata. Tapi ada apa dengan hatiku, kenapa seperti ada sedih di sana, ahhh tidak, ini hanya perasaanku saja.
“Sama Ema juga?” Tanya Angga, aku pun mengangguk kemudian Angga menyuruh kami untuk duduk. Aku mendengar semua perkataan Angga dengan baik, sedangkan Ema matanya berbinar-binar melihat Angga. Angga pun jadi risih sepertinya dengan kelakuan Ema.
“Sekali lagi aku ucapin terima kasih pada kalian, karena selama dua minggu di sini kita bisa bekerja sama dengan baik. Nanti kalau kalian ke Jakarta, hubungi aku aja. Aku bakal ngajak kalian keliling Jakarta, sama seperti kalian yang udah ngajak aku keliling Jogja.
“Tentu saja …. Mmm … Angga, aku mau ngomong sesuatu sama kamu boleh?” Tanya Ema pada Angga. Dan Ema memberikan kode padaku dengan menyenggol kakiku. Aku pun mengerti, aku pamit ingin ke belakang namun Angga mencegahku.
“Rin, tunggu sebentar ya …. Boleh Airin di sini?” Tanya Angga pada Ema.
Ema pun kaget dengan ucapan Angga, tapi Ema pun meng-iyakan keinginan Angga.
“Tadi, kamu mau ngomong apa Ema?” Tanya Angga, meskipun sepertinya Angga sudah mengetahui apa yang ingin disampaikan Ema hingga menahanku di sini.
“Mmmm …. Sebenarnya aku malu mengatakan ini, apalagi di depan Airin. Tapi, sebelum kamu kembali ke Jakarta, rasanya nyesel banget kalau aku nggak bilang ini sama kamu. Angga …. Aku suka sama kamu.” Ucap Ema hingga membuatku kaget. Seberani itu Ema menyatakan perasaannya, aku mengenalnya dari kecil, dan baru kali ini aku dikagetkan dengan keberaniannya menyatakan perasaannya pada cowok. Dia seperti bukan Ema yang kukenal dulu.
Angga pun bingung harus menjawab apa pernyataan cinta dari Ema ini. Angga menatapku, matanya seperti bicara, tolong aku Airin aku harus menjawab apa, aku bingung. Mungkin seperti itu jika ditranslit. Aku berinisiatif untuk menghindari suasana ini, saat aku hendak berdiri, kaki Angga menyenggol kakiku. Aku paham maksud dan kode yang Angga berikan. Aku menghela nafas panjang. Bingung dengan situasi seperti ini.
Aku melihat Ema begitu bersemangat menanti jawaban dari Angga. Matanya berbinar penuh dengan cinta. Sedangkan Angga, terlihat datar tanpa ekspresi malah seperti orang bingung harus jawab apa.
“Mmmm …. Ema … kamu keren, kamu cantik, kamu hebat, kamu energik, kamu juga sangat baik. Terima kasih sudah mengagumiku selama ini, terima kasih sudah menjadi penggemar setiaku, terima kasih juga sudah mengungkapkan perasaanmu padaku. Tapi, aku minta maaf Ema. Mungkin kita lebih baik berteman, aku sangat suka berteman denganmu.” Ucap Angga dengan pelan-pelan agar Ema tidak sakit hati.
Ema tersenyum mendengar jawaban dari Angga, sedangkan aku malah bingung kenapa Ema malah tersenyum cintanya ditolak seperti itu.
“Aku tahu bakal jawab itu Angga, aku sudah mempersiapkan hatiku jauh-jauh hari. Aku seneng bisa mengungkapkan perasaanku langsung sama kamu. Aku lega aja … aku sudah seneng banget bisa berteman sedekat ini dengan orang yang selama ini aku kagumi. Meskipun nggak bisa dipungkiri juga, aku kecewa dan sedih kamu menolakku. Tapi setidaknya aku bisa mengungkapkan semua isi hatiku. Terima kasih Angga.” Ucap Ema dengan senyuman.
Luar biasa memang Ema ini, sekuat ini ini hatinya ditolak oleh cowok. Padahal dia yang nembak duluan, mungkin kalau itu aku, aku nggak akan bisa sekuat Ema.
“Sebelum kamu pergi, boleh aku meluk kamu Angga?” Tanya Ema pada Angga.
Angga pun menganggukkan kepala, kemudian dia berdiri dan merentangkan tangannya. Ema pun menyambutnya kemudian memeluk Angga. Ema mengucapkan terima kasih, lalu ia pamit untuk pergi.
“Aku harus pergi dulu, aku lupa ada janji sama temenku.” Kata Ema sambil mengambil tasnya di kursi.
“Ema … kamu kan datangnya sama aku.” Kataku pada Ema.
“Airin, kamu kan masih ada urusan sama Angga, kamu belum sempat membahasnya kan. Jadi, aku duluan gpp ya. Oke, Angga aku duluan ya.” Pamit Ema pada kami.
Aku pun dibuat bingung dengan sikap Ema, aku tahu pasti dia sakit hati atas penolakannya pada Angga. Aku juga bingung harus memulai bicara dari mana pada Angga. Mau membicarakan bisnis juga mungkin waktunya tidak tepat karena suasananya sudah terlanjur seperti ini.
“Kamu bener, nggak ada rasa sedikitpun sama Ema, dia anaknya baik banget lho, dia juga dari keluarga yang berada.” Ucapku pada Angga berusaha membela Ema.
“Airin, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Dia menyukaiku karena terbiasa melihatku, mengagumiku. Bukan benar-benar cinta yang tulus yang kulihat dari sorot matanya. Mungkin hanya sesaat, tapi aku melihat kagumnya lebih besar dari rasa cintanya. Aku pun juga tidak ada rasa sedikitpun sama dia, untuk berteman okelah aku mau hanya sebatas teman saja.” Bela Angga.
“Ya setidaknya kamu ada basa-basi sedikit gitu …” Aku kembali membela Ema.
“Airin ….basa basi itu hanya untuk mengulur waktu, jika jawabannya sama kenapa tidak dikatakan sekalian. Aku bukan tipe orang yang suka basa basi. Kamu pasti sudah tau itu.” Angga kembali menjawab.
Angga ada benarnya juga, meskipun dia meminta waktu untuk menjawabnya toh hasilnya juga sama. Malah akan lebih sakit karena menanti harapan yang tak pasti. Aku menanyakan dimana timnya, kenapa dia sendiri yang datang ke sini. “Oya … kenapa kamu sendirian? Tim kamu kemana?”
“Mereka lagi packing … aku sengaja sendiri buat ketemu kamu. Tapi ternyata kamu mengajak Ema, dan malah jadi gini suasananya.” Ucap Angga.
“Aku sih nggak masalah …. Cuma aku nggak enak sama Ema.” Kataku.
“Airin… besok aku harus kembali ke Jakarta, dan nggak tau lagi kapan aku bisa kembali ke Jogja. Jujur, rasanya berat kali ini aku harus balik ke Jakarta, seperti ada yang tertinggal di kota ini.” Ucap Angga.
“Kota ini memang penuh dengan kehangatan, semua orang yang datang ke sini pasti berat untuk meninggalkannya, dan mereka pasti akan selalu ingin kembali ke kota ini.” Ucapku pada Angga membanggakan kota kelahiranku.
“Itu pasti Airin, ..selain itu, ada satu hal yang membuatku jauh lebih berat. Aku sudah jatuh cinta pada kota ini, aku juga jatuh cinta dengan salah satu perempuan di kota ini.” Ucap Angga.
Aku pun membelalakkan mata, kaget mendengar penuturan Angga. Ternyata Angga menolak Ema karena dia sudah jatuh cinta pada perempuan lain. Aku mengerti sekarang.
“Kamu tahu siapa gadis itu?” Ucap Angga. Aku hanya menggelengkan kepala, aku tak tahu siapa yang Angga maksud.
“Kamu Airin ….” Kata Angga hingga membuatku kaget. Nggak mungkin Angga menyukai perempuan sepertiku. Rasanya itu tidak mungkin, seorang Angga publik figur terkenal menyukaiku, aku tak yakin akan itu.
“Mungkin sulit bagi kamu menerima ini setelah aku menolak Ema, sahabatmu. Tapi sejak pertama kita bertemu, kamu yang melayaniku di kedai waktu itu. Aku sudah menaruh hati, mungkin bagimu terlalu cepat, tapi ya begitulah adanya. Airin … aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Berat rasanya kalau aku nggak ngomong ini sekarang sebelum aku balik ke Jakarta.” Ucap Angga padaku dengan penuh percaya diri.
Aku cuma bisa terdiam mendengar kata-kata Angga, masih tak percaya Angga mengatakan itu. Bagaimana kalau Ema tahu Angga bicara seperti ini padaku. Aku takut Ema akan membenciku, aku takut Ema akan menjauhiku. Aku tak mau Ema sakit hati karena aku.
Tanpa sepengetahuanku ternyata Ema menguping pembicaraanku dengan Angga, dia juga kaget mendengar pernyataan Angga padaku. Ema meneteskan air mata, sedih memang, tapi dia tahu bahwa cinta tak bisa dipaksakan. Akhirnya dia pergi, karena tahu alasan kenapa Angga menolaknya.
“Airin … kamu nggak perlu jawab sekarang, aku bisa menunggu.” Katanya sambil tersenyum.
“Seperti kamu … aku juga nggak bisa basa basi, aku minta maaf Angga. Mungkin kita lebih cocok sebagai partner kerja saja. Nggak lebih dari itu ….” Ucapku meski aku nggak tahu kenapa hatiku terasa berat mengatakan itu.
“Oke, aku ngerti. Tapi aku seneng Airin, bisa kenal sama kamu. Aku harap setelah ini kita tetap bisa menjadi parter kerja yang baik. Tapi, aku masih berharap perasaanmu padaku berubah.” Ucapnya padaku dan aku hanya bisa mengangguk.
Kami berjalan pulang bersama, Angga ingin mengantarkan aku pulang. Tapi aku menolaknya. Akhirnya sampai di sini pertemuan kami hari ini. Angga kembali ke hotelnya, dan aku kembali ke kedaiku. Aku segera mencari Ema, ternyata dia belum kembali ke kedai. Aku mengirim pesan padanya, tetapi belum dibaca olehnya. Mungkin dia sedang sibuk saat ini, dan aku harus memakluminya.
Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Angga tadi, benarkah dia menyukaiku. Benarkah dia jatuh cinta padaku. Rasanya tidak mungkin, tapi kenapa hatiku berdebar ketika melihatnya, kenapa jantungku berdegup kencang ketika dia mengatakan perasaannya padaku. Aku malah pusing dengan masalah ini.
Keesokan harinya aku bertemu dengan Ema di kedai. Dia menyapaku dengan penuh suka ria seperti biasanya. Dia masih terlihat energik, centil, dan semangat. Dia seperti orang yang tak terluka hatinya karena penolakan cintanya. Ema menghampiriku,”Kusut banget sih mukanya Rin, kayak orang habis putus cinta aja. Aku aja yang habis ditolak biasa aja tuh.” Ucap Airin dengan sangat percaya diri.
“Serius kamu gpp? Terus kenapa kemarin kamu nggak jawab telponku, nggak jawab pesanku?” Tanyaku curiga dengan Ema.
“Ya maaf … hpku mati, aku sampai rumah jam 10 malem terus tidur. Ini baru aku buka pesan kamu, perlu aku jawab?” katanya.
“Nggak usah …..” kataku ketus.
Ema malah berjingkrak-jingkrak menggodaku. Tapi aku tak fokus pada Ema apalagi pekerjaan. Hari ini Angga balik ke Jakarta, mungkin dia sudah terbang. Katanya dia balik dengan penerbangan paling pagi. Kenapa aku jadi berat seperti ini ya. Aku terdiam di meja kerjaku, melamun, bingung dengan perasaanku sendiri.
Ema mencoba mendekatiku, menanyakan keadaanku. Aku menjawab kalau aku tidak apa-apa mungkin hanya kelelahan saja. Berhari-hari aku merasa menjadi orang yang suka melamun. Selalu terbayang wajah Angga. Seperti aku merindukannya. Ingin menghubunginya dulu tapi aku tak punya keberanian. Angga pun juga tidak menghubungiku sama sekali. Tapi, akhir-akhir ini aku sering mendapat kiriman bunga tanpa nama, aku tak tahu siapa pengirimnya. Dia sangat tahu seleraku.
“Ema …. Kamu tahu siapa orang yang setiap hari mengirim bunga-bungan ini untukku?” tanyaku pada Ema. Ema menggelengkan kepala, Ema curiga ada orang yang menyukaiku dalam diam. Aku menampiknya, tidak mungkin ada orang yang menyukaiku seperti ini.
Tiba-tiba aku teringat dengan Angga, apa mungkin dia yang mengirimiku bunga selama ini. Tapi aku berusaha menampiknya, Angga di Jakarta tidak mungkin dia mengimiku bunga setiap hari seperti ini.
Saat Ema cerita padaku baru saja ditembak oleh cowok, dan Ema menerimanya, aku berpikir apakah aku harus cerita juga sama Ema kalau Angga juga menembakku. Tapi aku takut melukai perasaan Ema. Tapi dengan keberanian, daripada aku memendamnya sendiri, dan aku bisa gila lebih baik aku cerita pada Ema.
“Ema … aku mau cerita sama kamu.” Ucap Ema.
“Ya udah cerita aja, biasanya juga gitu kan.” Katanya sambil dia memainkan hp.
“Ema, please aku serius.” Kataku pada Ema.
“Iya Airin, apa aku dengerin.” Ucap Ema padaku.
“Tapi kamu jangan kaget, atau marah sama aku ya?” ucapku takut kalau Ema marah.
“Iya … apa?” tanyanya penasaran.
“Kamu tahu setelah kamu bilang suka sama Angga, Angga bilang suka sama aku …..” Katakuku spontan membuat Ema ingin menjerit tapi ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
“Serius?” Tanyanya. Aku menganggukan kepala.
“Gila …. Kali ini aku marah sama kamu.” Ucap Airin dengan nada marah.
“Ema …. Aku mohon kamu jangan marah sama aku, aku ngga nerima Angga kok. Aaku nggak mau kamu sakit hati, aku nggak mau lihat kamu sedih. Dia seharusnya nerima kamu, kenama malah nembak aku. Kan aneh …” Ucapku.
Ema tersenyum mendengar kata-kataku, dia mendekat padaku dan memelukku. “Airin sayang, sahabatku tercinta denger ya … wajar kok kalau kita sama orang tapi nggak dibales sama orang yang kita suka, itu namanya pilihan. Kalau Angga suka sama kamu, itu artinya pilihan dia itu ya kamu. Ngga bisa dipaksain juga dia harus nerima aku. Airin …. Kalau kamu emang suka sama dia, terima aja, aku gpp kok, aku juga udah punya pacar sekarang, nggak kalah ganteng dari Angga.” Ucap Ema percaya diri.
Aku terdiam mendengar omongan Ema, Ema ada benernya juga. Tapi aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. tidak mungkin aku mengungkapkan perasaanku duluan pada Angga, apalagi aku pernah menolaknya. Gimana harga diriku nanti.
“Airin denger ya, kalau kamu suka sama Angga, kejar dia, aku yakin Angga masih menyimpan perasaannya buat kamu. Aku yakin Angga itu tulus suka sama kamu, dia nggak mungkin cepat berpaling meskipun kamu udah nolak dia. Pergi ke Jakarta, temui dia, biar aku urus semua di sini.” Kata Ema memberikan semangat padaku.
Aku masih terdiam, memikirkan apa apakah perlu aku pergi ke Jakarta untuk menemui Angga. Rasanya nggak mungkin, ke Jakarta hanya untuk bertemu dengannya. Aku mengurungkan niatku.
Tapi aku yakin Tuhan sudah menggariskan semua ini. Cabang kedaiku sudah buka di Jakarta, aku harus datang untuk opening, ya… akhirnya aku datang ke Jakarta bersama Ema. Membuka cabang kedai di sana. Setelah acara selesai, Ema mengajakku untuk jalan-jalan keliling Jakarta. Aku teringat pesan Angga nanti kalau ke Jakarta, jangan lupa hubungi aku ya, aku bakal ngajak kalian keliling Jakarta …
Ema menelpon seseorang, ternyata dia menelpon Angga. Ema ngasih tau Angga kalau Ema dan aku ada di Jakarta.
“Ema … kenapa kamu nelpon Angga sih?” Tanyaku sebel sama Ema.
“Ya gpp … dia pernah bilang mau ngajak kita muter-muter kalau kita ke Jakarta.” Ucapnya santai.
“Tapi kan dia orang sibuk Ema …. Ihhh kamu mah …” Ucapku kembali sebel dengan Ema.
Kami pun akhirnya kembali ke hotel, tempat kami menginap. Aku beristirahat sejenak melepas lelah seharian sudah bekerja. Ema, pergi menjemput pacarnya yang nyusul dia ke sini. Sungguh, apakah cinta emang harus serepot ini. Selalu ingin bertemu meski jaraknya jauh. Aku tak mau ambil pusing dengan semua ini.
Setelah selesai mandi, Ema menelponku. Dia bilang ada klien yang ingin ketemu denganku, tak jelas siapa namanya. Dan klien itu menungguku di loby hotel. Aku bersiap dan merapikan rambutku dan bermake-up tipis. Aku turun ke bawah, melihat orang itu berdiri membelakangiku.
“Hallo … saya Airin, apakah Anda yang sudah membuat janji dengan Ema?” kataku.
Lelaki itu membalikkan badannya, betapa kagetnya aku ternyata dia adalah Angga. Rasanya lemas aku melihatnya ada di hadapanku, orang yang selama ini ada di pikiranku, orang yang selama ini ternyata aku rindukan tapi aku berusaha menepisnya kini ada di hadapanku.
“Angga ….” Sapaku sedikit tak percaya aku tersenyum melihatku.
“Hai Airin … “ sapanya. Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa.
Akhirnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sekitar hotel. Kami banyak ngobrol selama kami tak bertemu, membicarakan bahwa karir Angga semakin cemerlang dan bisnisku juga semakin maju. Tiba-tiba Angga menghentikan langkahnya dan berhenti di depanku.
“Airin… aku merindukanmu.” Katanya membuatku kaget. Tubuhku seperti kaku tak bisa digerakkan.
“Airin maaf… aku tak bisa berhenti memikirkanmu selama ini, aku selalu teringat denganmu, aku selalu merindukanmu, aku nggak tau harus gimana, yang aku tau aku hanya bisa mengirim bunga setiap hari ke kedaimu.” Ucapnya..
“Jadi, kamu yang selalu ngirim bunga untukku?” tanyaku dan Angga menganggukkan kepala.
“Airin, aku bener-bener sayang sama kamu … aku serius.” Ucapnya.
“Terus kenapa kamu nggak pernah menghubungiku selama ini, jika kamu memang kangen sama aku, sayang sama aku …” tanyaku mengharap jawaban pasti darinya.
“Aku nggak mau kamu terbebani dengan rasaku, aku nggak mau mengganggumu. Karena dulu kamu bilang kamu nggak ada rasa sama aku …” ucapnya.
“Terus sekarang?” Tanyaku.
“Aku sayang sama kamu, aku pengen punya hubungan lebih sama kamu. Bukan sekedar pacar, tapi aku ingin kamu menjadi istriku?” katanya sambil memegang tanganku.
Aku semakin kaget dengan pernyataannya. Ini bukan ingin pacaran lagi, tapi menjadi pendamping hidupnya. Aku meneteskan air mata, dan dia mengusapnya dengan halus. Aku menganggukan kepala, aku menerimanya. Angga pun memelukku dan berteriak “Ak diterima ……..”