Aku mencintainya. Sangat.
Seperti sepucuk mawar yang merindukan ciuman namun tetap melukai jantung manusia yang menciumannya.
Ia mencintaiku, seperti itu.
Aku tidak tau, bagaimana caranya ia membuatku jatuh cinta pada nelangsa yang menyanyat sekujur tubuhku.
Setiap kali, kami bersama.
Rasanya ia mampu mengambungku ke surga, kemudian menenggelamkanku pada lautan api neraka hingga aku terbakar perlahan secara pasti, mati dalam akar penderitaan.
Tetapi rasa sakit itu, candu. Aku menginginkannya.
Sebab... Ia akan tersenyum kepadaku sembari berkata, "Aku mencintaimu, Sayu."
Aku tidak bisa menjawab perkataan cintanya. Aku hanya bisa tersenyum lirih dengan anggukan pelan, "aku juga," batinku.
Sunyi.
Dalam pelukan dinginnya, terasa sangat semu. Kami berdansa dalam balutan temaram lampu kuning, di ruang tamu. Sofa berukuran kecil yang rapuh di makan rayap, terpojok lusuh sendirian pada sudut ruangan. Televisi tua yang enggan hidup, sudah mati dari beberapa tahun yang lalu.
Lemari kaca yang menjadi tempat duduk televisi. Memantulkan bayanganku dan dia, sedang berdansa pelan teramat mengilhami. Aroma tubuhnya semerbak mawar namun semakin kuhirup, semakin sesak menguliti paru-paruku.
Aku mencintaimu, tapi bagaimana bisa?
Sesakit ini, seakan-akan cumbuanmu adalah racun mematikan yang akan melahap nyawaku.
Tapi... Aku mencintaimu.
Air mataku menetes ketika ia menusukkan durinya pada jantungku. Seperti kataku di awal, sepucuk mawar yang merindukan ciuman namun tetap melukai jantung manusia yang menciumannya.
Aku tidak bisa menahan air mata ini. Mereka berjatuhan tanpa jeda, permisi atau ingin berhenti. Penderitaan tidak pernah mampu mengeringkan sungai, sungai di mataku.
Kami masih berdansa, meskipun duri itu, telah menembus jantungku. Refleksi lemari kaca, mampu membuatku melihat ketajaman duri yang mencuat di punggungku.
Darah menggenang di bawah air mata. Darahku membasahi lantai ruang tamu. Menyuburkan akar penderitaan yang mulai tumbuh di antara kami.
Aku rasa, harus berhenti sekarang.
Tetapi tubuhku terus berdansa bersama duri yang tertancap di jantung. Aku tidak bisa menghentikan perdarahan ini, ia bahkan mengatakan padaku, kalau aku tidak berdarah sama sekali.
Sementara air mataku, ia sebutkan sebagai bagian dari kisah haru percintaan kami.
Ah, mungkin dia benar. Aku terlalu berlebihan akhir-akhir ini.
Paranoid.
Tapi... Ketika kami telah usai berdansa.
Aku tiba-tiba terjatuh. Dalam genangan darah merah, bau amis dan bisu.
Ia mengatakan, "Aku mencintaimu."