Siang berganti malam, hari demi hari juga berganti, waktu ke waktu semakin terlewati. Setiap hari akan ada yang datang dan akan ada yang pergi, kita tidak pernah tau apa dan siapa yang akan datang atau pun yang akan pergi.
Setiap saat selalu bersama, namun ada kan tiada itu semua sudah aturan main di dunia yang hanya sementara ini.
Kehilangan sudah tidak asing lagi di tangkap oleh indra pendengar, pula kepergian itu mesti terjadi. Seindah apapun bahasa untuk merangkai kata demi kata untuk mengungkap sebuah arti perpisahan, kehilangan dan ke pergian. Semua bagi ku tetap di hiasi air mata. tTidak ada manis manisnya yang dapat di kecap, kepergian itu adalah luka, di tambah lagi yang hilang dan pergi adalah sebagian besar dari diri kita. Satu-satunya surga bagi seorang anak, malaikat yang tampak bagi seorang anak, siapa lagi jikalau bukan sang matahari yang menghangatkan putra-putri tercinta nya, sosok ibu. Ya seorang ibu, aku tidak tau seperti apa patah dan rapuhnya hati seorang anak dengan kepergian sang malaikatnya. Tapi aku merasakan luka dari diamnya kekasih ku yang kini di tinggal selamanya oleh wanita terbaiknya, malaikat nyata baginya.
Tidak basah, tidak tergambar bulir air mata dari rongga-rongga matanya yang teduh. Akan tetapi aku dapat membaca bait- bait puisi dalam diamnya.
"Kaulah cinta terbaikku,
Tak pernah pudar ditelan waktu,
Meski dirimu telah mendahulu"
Bagaimana bisa ku katakan aku baik-baik saja, saat keadaan serumit ini menimpa kekasih hati ku. kekasih ku kehilanggan kekasihnya, menutupi segala keluhnya. Aku, sayang sekali tidak sedikit pun aku dapat membangunkan semangatnya, bahkan raga ku berjauhan dengannya. Saat dia rapuh, saat dia jatuh, saat dia melakukan hal-hal seperti perjuangan, kenapa? kenapa aku tidak bisa mendampinginya.
Untuk malaikat terbaik kekasih ku.
"Ibu, terimakasih telah memilih aku untuk putra mu. Ibu, aku hanya sempat satu kali bertatap muka dengan mu, mencium tangan mu, maaf kan kelalaian ku atas tuntutan pendidikan ku. Ibu izin kan aku menjadi gadis terbaik untuk putra kesayangan mu.
Maaf aku tidak hadir, saat engkau berpulang."
setiap yang bernyawa pasti akan mengalami ke matian. Laki-laki terhebat, aku tau kamu kuat, senyum yang terukir di wajah mu membuat hati ku terketuk dan berucap, "aku tidak keliru memilih mu" semoga malaikat baik mu di tempatkan di antara orang-orang yang beriman.
Aku tidak bisa menjadi wadah ke sedihan mu, tidak bisa menjadi kehangatan seperti malaikat baik mu yang telah pergi. Namun, akan aku usahakan agar engkau tetap seolah masih merasakan kasih sayang nya, meski tidak sepenuhnya aku dapat mencontoh kasih sayang nya pada mu.
Bimbing aku, kamu terlahir dan di besarkan orang yang hebat, maka bantu aku menjadi sosok seperti itu, yang mampu menjadikan mu laki-laki terbaik.
Meski nanti, aku tidak sebegitu persis membuat mu nyaman seperti sang malaikat mu.
Namun, untuk saat ini ke ikhlasan lah bukti cinta tertinggi kamu atas kepergian malaikat mu.