Angin dingin berhembus melewati pagar kawat, hanya berdiri sambil memandang langit yang berwarna hitam, hari-hari yang tak berubah setelah diri Mu Pergi.
Hari yang se-akan tak berganti, diriku yang masih terbayang-bayang bayangan Mu, seakan tak bisa hilang, keinginan untuk mengakhiri hidup yang selalu di gagalkan oleh dirimu yang datang ketika Aku ingin melakukannya, hanya bisa terdiam mematung dan merenungkan kembali apa yang terjadi pada Mu.
Sekali Lagi.
Sekali Lagi.
Ingin Ku mengakhiri hidup yang tak berubah Ini.
Selalu Sendirian.
Selalu Disalahkan.
Selalu Diasingkan.
Kau memberikan tangan Mu disaat Ku terpuruk, selalu memberikan senyuman yang membuat Ku tenang, suara yang selalu membuat Ku senang, ekspresi Mu yang selalu berubah-ubah, tawa canda dan gurau Mu yang membuat Ku melupakan masa kelam Ku.
Namun sekali lagi itu Terulang.
Sekali lagi Ku kehilangan orang yang Ku Sayang.
Orang yang selalu bisa membuat Ku kembali Hidup.
Sekali lagi diriku Sendirian.
Janji Mu yang Kau ucapkan waktu Itu.
Surat yang Kau tulis sebelum Kau Pergi.
Keinginan, Mimpi, Janji dan Lainnya.
Surat yang Kau tulis sebelum Kau pergi
Surat yang berisikan perasaan Terpendam.
Surat yang berisikan kata-kata khas Mu.
Dan juga Doa Mu.
Ucapan yang memberitahu untuk Diriku yang paling dalam, untuk sebuah diriku yang selalu terpuruk, untuk diriku yang sendirian untuk bisa Berjuang.
Wahai Diriku yang sekarang Aku bersumpah untuk berjuang dan membuatnya bahagia dengan diri Ku Sendiri.
Ini adalah surat yang Diriku tulis dari masa depan untuk diriku di masalalu, bahwa Kau tak perlu takut lagi karna dimasa depan nanti Kau akan menemukan sesuatu yang baru, teman baru, dan pengalaman baru, kau tak akan sendirian Lagi, itu Saja.
Salam dari Diriku dimasa Depan.
Tamat