"Aduh. sangat melelahkan" aku merebahkan tubuhku di tempat tidur di ruang tengah rumah ku.
"Loh kinan kok sudah pulang?" tanya ibuku pada ku yang melihat aku pulang lebih awal.
"Iya bu selesai cepat dan di suruh pulang karna uda gak ada kerjaan lagi" jawabku dengan malas dan menggeliat.
"Ya sudah, kamu sudah makan belum? Tadi ibu masak makanan kesukaanmu kalau mau makan makanlah dulu sebelum mandi." ucap ibuku dan beliau beranjak pergi kedalam kamarnya.
"Ya sudah kalau gitu aku makan sekarang aja bu" aku bangun dan berjalan dengan malas ke meja makan
"Anak-anak belum pulang ya bu?" sambung ku sambil menikmati makanan masakan ibuku.
"Belum tadi Nano telepon ibu katanya ada pelajaran tambahan karena mau ujian" ibu ku menjawab dengan teriak dari dalam kamarnya.
"Hem.. kalau Rara bu apa dia tidak menghubungi ibu?" tanyaku lagi
"Tidak, ibu rasa pasti sama" jawab ibu sambil berjalan mendekati ku.
ku tanyakan tentang anak-anak ku pada ibu karna mereka lebih suka menghubungi ibu dari pada aku. Karena kata mereka aku akan sulit di telepon saat ada di rumah majikanku, dan itu yang membuat mereka malas untuk menghubungi aku jika ada apa - apa.
Aku adalah Kinan Putri Pratama seorang ibu tunggal karena aku telah jadi korban perkosaan disaat usiaku masih sangat remaja sekitar 14 tajun, aku yatim piatu yang tinggal dengan bibiku tipi aku diusir oleh bibiku saat dia tau aku sedang hamil, karena dia berfikir kalau kehamilan ku itu adalah karena aku nakan dan menjual diri dan dianggap mencoreng nama baik keluarga.
Saat aku sedang terlunta - lunta dan tak tau harus kemana aku ditolong oleh ibu angkat ku Ibu Hamida, dan aku tinggal bersama dengan Bu Hamida sampai aku melahirkan kedua anakku. Aku punya 2 anak kembar yang masing - masing ku beri nama Kiandra Pratama Putri dan Kiano Pratama Putra yang masing masing dipanggil dengan nama Nano dan Rara.
Dan aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah majikan ibu angkat ku Bu Hamida untuk menggantikan posisinya yang sudah tua. Dan aku sangat menyukai pekerjaanku itu, karena selain teman - temannya enak, majikannya juga baik.
💮💮💮
Rumah majikanku ini tiap hari selalu ramai. Tapi hari ini lebih ramai lagi, entah akan ada apa. Tapi aku tak pernah peduli karena aku bekerja dibagian belakang bukan bagian dalam.
"Kinan apa kau uda denger kalau putra nyonya yang katanya ada di amerika sekarang pulang dan mau bekerja di perusahan yang di sini" Wira
"Hooo. pantesan tadi aku lihat ramai banget di rumah utama" kinan.
"Lah kamu tadi gak masuk lewat depan toh" Wira
"Ya elah kayak gak tau Kinan aja kamu wir. diakan selalu suka lewat belakang kalau masuk rumah" Santi
"Duh. ngagetin aja kamu san" Wira
"Ya elah.. Kinan aja gak kaget kenapa kamu selalu kaget sih" Santi
"Sudah, sudah kenapa kalian kok malah debat sih. tolong bantuin angkat jemuran ini" kinan
"Yep" jawab mereka kompak
💮💮💮
"Ibu nanti mau ada pertemuan wali di sekolah. karena mau lulusan nanti ibu bisa dateng gak? Rara ingin ibu bisa dateng." Rara
"Hm, ibu usahakan ya." kinan
"Selama ini ibu gak pernah dateng" Rara
Aku diam mendengar ucapan putriku dari telepon, karena selama ini aku memang tak pernah datang di acara apa pun untuk kedua anakku itu.
"Cuma kami berdua yang gak ada wali tiap pertemuan wali murid" Rara
"Rara jangan bikin ibu susah kamu. ibu pasti gak bisa ijin dari majikannya" Nano
"Duh. Nano apa salahnya dicoba?!" Rara
"Sudah-sudah habiskan dulu makanan kalian jangan bertengkar" kinan
"Nanti ibu coba ijin sapa tau bisa" kinan
"Ini salah nenek, coba nenek masih kuat ibu kalian gak perlu gantiin nenek kerja di rumah majikan nenek" Bu Hamida
"Eh. tentu saja enggak mana bisa ini salah nenek. nenek kan melakukan itu untuk bantu ibu ngelahirin Rara sama Nano" Rara
Di gedung ****sekolah****
Keesokan harinya setelah meminta ijin pada majikan aku pun bergegas pergi ke sekolah anak-anak ku untuk menghadiri pertemuan wali yang bilang oleh mereka, dengan baju sederhana dan riasan tipis aku memasuki halaman sekolah dan melihat sekeliling untuk mencari tau dimana tepatnya tempat pertemuannya.
"Deg. andai dulu aku gak hamil aku pasti sekolah sampai selesai di SMP" batin ku saat melihat gedung sekolah itu.
"Maaf nona anda mencari siapa ya. mungkin ada yang bisa saya bantu" satpam
"Ah iya maaf saya ibu dari Kiandra dan Kiano. saya mencari ruangan untuk rapat mau masuk SMP" Kinan
"Ooo.. mari saya antar" satpam
"Terima kasih" kinan
"Gila cantik banget dan masih muda banget" gumam satpam yang mengantarku dan bisa ku dengar.
"Ibuuuu... wah aku gak nyangka ibu beneran bisa dateng, Rara seneng banget" sambut putriku saat selesai rapat pertemuan wali.
"Sudah selesai ayo pulang. mana adek mu?" tanya ku karena tak melihat putraku
"Nano nunggu di gerbang katanya" Rara
"Ibu..." Nano
"Hey.. boy kenapa kau memekku dengan manja begini?" kinan
"Aku senang ibu dateng ke sekolah" Nano
"Sebegitu senangnya?" kinan
"Hem" jawab Nano sambil menganggukkan kepala
"Ya ampun anak ibu" kinan
Cup
"Ibuuu.." Nano
Putraku ini beda dengan putriku yang tomboy, dia lebih kalem, tapi jika sedang marah dia bisa berubah jadi mesin pembunuh yang tajam.
💮💮💮
"Eh. wah kenapa orang ini?"
"Pak, mas, om aku harus panggil apa ini. Tuan, tuan kenapa apa ada yang sakit tuan?"
"Ya ampun badannya panas sekali. tunggu tuan aku akan mencari bantuan, tunggu ya"
"Eh. tuan apa yang tuan lakukan?"
"Tuan. tuan mau apa?"
Jeduk
"Aduh kepalaku sakit"
"Ah. eh tuan kenapa tuan mengikat tanganku?"
"Aaaahh... ja... jangan tuan"
Bret breeet
"Aaaahh. tuan kenapa tuan merobek bajuku"
Jedeeeeerrr klap jraaaaassh hujan mengguyur dengan sangat deras.
"Tolooong"
"Brisik.!"
"Tol.. hmpp"
"Eeeeehhm... hmmm... ehm"
"Aahh... hah.. haah.. haaah.." Rangga
"Sayang. sayang apa kau mimpi buruk lagi?" nyonya Amrita
"Aah...haaaaah Mama" Rangga
"Iya sayang ini mama" nyonya Amrita
Rangga memeluk mamanya dengan erat dan tubuh yang penuh dengan keringat.
"Uda ya sayang kenapa kau masih mengingat kejadian itu?" nyonya Amrita
"Ma" Rangga
"Sudah dong sayang. kamu uda berusaha mencarinya waktu itu dan dia tidak ditemukan" nyonya Amrita
"Sudah 13 tahun berlalu sayang. kau harus melanjutkan hidupmu" nyonya Amrita
"Mama juga ingin punya cucu sayang. apa kau tak ingin berumah tangga?" nyonya Amrita
"Gadis itu pasti baik-baik saja. kita do'akan yang terbaik untuknya" nyonya Amrita
Tak sengaja aku mendengarkan cerita tentang Putra majikan ku yang selalu dihantui mimpi buruk dan menanggung beban dalam hatinya.
"Orang kaya pun juga punya masalah" batinku
"Aduh kemalaman pulang karena keasikan ngobrol. pasti Nano akan ngomel lagi nanti" kinan
"Hahaha... kenapa putraku itu jadi sering mengomeli aku ya" kinan
"Aku jadi kayak punya ibu tiri" kinan
Bug bag
"Eh sapa yang gang itu?" ku lihat ada seseorang yang sedang berkelahi
"Hah?! bukankah itu?" aku mengernyit saat tau kalau itu adalah putriku
"Gak becus banget sih ngadepin bocah aja" berandalan
"Sudah dia kan sendirian kita keroyok aja rame-rame" berandalan
Bug brak buak
"Uh. sial" berandalan
"Dia gak sendirian bung" ucapku setelah memukul salah satu berandalan dari 4 orang
Bug.. bag... buk... palak... brak
"Uh... ah tanganku" berandalan 2
"Aduh kakiku" berandalan 1
"Kita pergi. tunggu aja kalian" bos berandalan
Aku dan putriku melakukan tos karena berhasil mengusir berandalan itu
"Yes.!" Rara
"Aduh.. ah aaah aahh sakit, sakit, sakit. Ampun, ampun" Rara
"Jam berapa ini?!" kinan
"Kenapa masih keluyuran dan bermasalah dengan berandalan hah!" kinan
"Bukan keluyuran. tadi ada ekstra" Rara
"Aduh sakit banget. Kenapa ibu jewer telingaku" Rara
"Dan bukan mencari masalah dengan berandalan. tapi nolongin noh" Rara
"Eh. sapa gadis yang meringkuk dipojokan itu?" kinan
"Mana aku tau" Rara mengangkat bahu
"Tadi ku lihat dia dipalak. jadi ku tolongin" jelas Rara
"Hay. sudah aman mereka uda pergi" kinan
"Ah" mendongak
aku saling pandang dengan putriku
"Terima kasih banyak kak terima kasih" gadis cantik
"Hah?! Kak" Rara
"Wahahahaaa kau memanggilnya kak?" Rara
Plak
"Aduh sakit. kenapa memukulku" Rara
"Eh.. apa aku salah panggil?" gadis cantik
"Tentu saja. namaku Rara dan dia ibuku Kinan." Rara memperkenalkan diri
"Ibu..?!" gadis cantik
"Tapi kok masih mudah" gadis cantik
"Ya karna ibuku emang yang tercantik sedunia" Rara nyengir lebar
"Kalian hebat" gadis cantik
"Ibu dan anak. Kalian Seperti super hero" gadis cantik
"Baiklah ayo kedepan jangan di gang sempit ini." ku ajak gadis cantik itu dan putriku ke depan mini market dan kami duduk disana sambil ngobrol untuk menunggu putraku Nano untuk mengantarkan gadis cantik itu pulang ke rumahnya.
"Bu.!" Nano
"Nano. sayang" kinan
"Hey. kenapa kau acak-acakan begitu sih" Rara
"Kau pikir ini jam berapa tentu aja aku bangun tidur" kesal Nano
"Kenapa sih kau dan ibu selalu mengganggu waktu istirahatku. nyebelin" Nano
"Sudah, sudah pergilah bersama kakakmu antarkan dia pulang" kinan
"cih. nyusahin aja" gerutu Nano
Cup *aku mencium pipi putraku yang sedang kesal
"Bu... kebiasaan jangan cium aku disembarang tempat" Nano
"Hem. putraku sangat menggemaskan kalau lagi merajuk" Kinan
Sekip kejadian
💮💮💮
"Eh. mama rara?" gadis cantik
"Ah. benar ternyata emang mama rara" gadis cantik
"Sayang kenapa memanggilnya mama Rara?" nyonya Amrita
"Namanya adalah mbak Kinan" nyonya Amrita
"Eh. hihihi maaf karena Angel lupa tanya namanya kemaren" Angel
Aku berdiri tersenyum dibalik meja dapur yang menghadap ruang makan
"Angel habiskan makananmu" Rangga
"Iya kak" Angel
"Ibu kinan nanti aku akan menemui ibu" Angel
Aku mengangguk dan pergi ke belakang lagi.
"Kinan" nyonya Amrita
panggil majikanku yang lagi duduk di ruang tengah bersama putranya dan putrinya
"Iya bu saya" kinan
"Bukankah kamu anaknya bu Hamida?" nyonya Amrita
"Iya bu benar" kinan
"Jadi kemaren yang menolong dan mengantar Angel pulang adalah putri dan putramu" nyonya Amrita
"Iya bu. maafkan saya karena saya gak tau kalau Angel putri ibu" nyonya Amrita
"Gak papa aku berterima kasih pada mu dan anak-anak mu. karena uda menolongnya" nyonya Amrita
"Kenapa anak perempuan diajari kekerasan" Rangga
"Maaf pak hanya untuk menjaga dan membela diri aja" kinan
"Deg. apa tadi" dalam hati Rangga
"Siapa namamu" Rangga
"Kinan pak. Kinan Putri Pratama" kinan
"Umur berapa kau menikah kok putrimu uda dewasa" Rangga
"Em.." aku bingung menjawab karena aku melahirkan anak-anakku diluar nikah.
"Kakak apaan sih!" Angel
"Emang apa hubungannya dengan umurnya" Angel
"Angel benar Ga. kau ini gak sopan" nyonya Amrita
"Maaf ya kinan. kau bisa lanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih" nyonya Amrita
"Kak Kinan nanti aku ikut pulang ya. Aku mau bertemu Rara" Angel
Aku mengangguk dan pergi
💮💮💮
Aku sangat senang setiap hari sepulang kerja aku selalu mendengar cerita tentang sekolah dari anak-anakku. Mereka selalu antusias menceritakan kegiatan mereka di sekolahnya dan juga pertemanannya dengan anak majikanku yang waktu itu kami tolong. Aku yang putus sekolah di SMP jadi merasa seperti mengikuti sekolah dari cerita anak-anakku, aku gak menyesal melahirkan mereka. Bagiku mereka adalah segalanya.
Dan kegiatan kami sekeluarga setiap hari adalah berolah raga bersama, karena sejak dari kecil aku telah memasukkan mereka semua ke sanggar bela diri dan aku pun juga mengikutinya, karena aku gak mau kejadian ku waktu itu menimpah putri ku.
💮💮💮
Saat aku melintasi ruang tengah rumah majikanku aku sangat terkejud mendengar cerita Angel. Jadi bibi menemui anak-anakku dan memukulnya saat mereka di sekolah, aku ingin sekali bertanya apa yang terjadi tapi gak mungkin aku menyela diantara majikanku itu.
"Ya ampun Kinan apa yang kau lakukan? Duh jadi banjir begini"
"Apa ada masalah? kau gak fokus dari tadi"
"Apa kau lagi sakit kinan?"
Wira teman kerjaku di rumah besar ini menegur aku saat aku sedang melamun dan tanpa sadar membuat seluruh lantai basah.
"Maaf, maaf Wira aku gak konsen, ada yang aku pikirin" jelas ku pada Wira
"Yasuda gak papa ayuk ini dibersihkan dulu. nanti kita kepleset ini air sabun soalnya" Wira
"Iya. maaf ya Wira" kinan
"Gak papa kinan, aku takut kamu lagi sakit aja" Wira
"Nana.!"
"Deg. siapa, siapa yang memanggilku? Tak ada yang memanggilku dengan nama itu lagi selama ini." jantungku berdebar kencang mendengar nama kecil ku diteriakkan
"Tidak, tidak mungkin, gak ada yang tau nama panggilan itu selain orang tuaku dan bibi ku." gumam ku dengan tubuh bergetar.
Setelah mendengar teriakan orang yang memanggil nama kecilku, tubuhku bergetar. aku pun minta ijin pada majikan ku untuk pulang lebih awal. Saat sampai rumah aku ceritakan pada bu Hamida rasa takut dan sakit itu muncul bersamaan. Aku memeluk anak-anakku yang melihatku dengan tatapan sendu, aku gak mau mereka menyalakan diri mereka. Karena aku lah yang menginginkan mereka terlahir ke dunia ini.
💮💮💮
"Kinan kau sudah dateng" Santi
"Eh iya San kenapa?" kinan
"Aku belum mengambil baju kotor di kamar Pak Rangga" Santi
"lah terus giman?" kinan
"Katanya tadi kamu yang disuruh langsung ambil kesana" Santi
"Coba kamu tanya pada Wira. karena tadi aku dikasih tau Wira" Santi
"Wira" kinan
"Eh kinan disuruh sambil baju kotor di kamar Pak Rangga" Wira
"Hem. yang mau aku tanyakan juga itu tadi" kinan
Aku berjalan perlahan menuju rumah utama dan berjalan mendekati kamar anak majikan ku dilantai 2, dengan pelan aku mengetuk pintu kamar itu, dan suasana rumah saat itu sangat sepi karena masih pagi dan semua orang masih berada di kamar mereka masing-masing.
Tok tok tok
"Pak saya masuk ya mau ambil baju kotor" kinan
ceklek
"Permisi pak" kinan
"Loh pak, bapak kenapa?" aku panik saat melihat anak majikan ku itu tersungkur dilantai.
"Kok bapak tiduran dilantai begini?" aku berusaha untuk mengangkatnya
"Pak, bapak tidak apa? Apa perutnya sakit pak?" aku terus bertanya dengan panik.
"Sebentar pak saya panggilkan ibu dulu." saat aku mau bangun tiba-tiba saja tubuhku kayak tersengat aliran listrik dan aku terjatuh
brrrrtt bruuuukk
"Auh. tubuhku tak bisa digerakkan" gumamku dan berusaha untuk bergerak
"Ah. pak bapak mau apa?!" aku terkejud saat melihat pak Rangga merangkak mendekati aku yang terjatuh.
"Au. sial tubuhku kesemutan seperti habis tersengat listrik" dlm hati
"Tunggu. sebenarnya bapak mau apa. Kenapa tangan saya diikat sama bapak" tanyaku bingung saat pak Rangga mengangkat tubuhku ketempat tidur dan mengikat kedua tangan ku keatas kepala.
"Bapak mau apa?!" aku bertanya dan mulai panik.
"Lepaskan.!" aku berusaha berontak
"Tidak akan. karena aku tau kamu bisa berkelahi" suara pak Rangga berat
Sraaaakk sraaaakk (pak Rangga merobek bajuku)
"Deg. tidak. tolong"
"Hentikan paaaakk.!"
Hiks hiks
"Tolong jangan lakukan tuan, Nana takut"
"Tolong lepaskan Nana tuan"
Pikiranku kosong dan bayangan akan masa laluku yang telah menghancurkan seluruh hidupku yang masih kecil itu terlintas dan membayang dalam ingatan ku
"Deg. Nana?" Rangga
"Aaah. sayang akhirnya aku menemukanmu" Rangga
Aku tersadar saat aku merasakan ada yang memeluk tubuhku dengan erat dan mencium kening
"Kinan, tolong maafkan aku. Aku sudah lama sekali mencari mu hingga hampir putus asa." suara pak Rangga ku dengar bergetar dan tubuhnya yang memeluk ku juga bergetar.
"Loh sayang apa yang terjadi?"
"Kenapa Kinan menangis?"
"Dan dia memakai bajumu?"
Nyonya Amrita bertanya banyak pertanyaan dengan bingung saat dia melihat aku yang turun dari lantai dua bersama dengan pak Rangga.
"Ma tenanglah dulu" Rangga
"Nana duduklah" Rangga
"Ma. dengarkan Rangga" Rangga
"Rangga ingin menikahi Kinan. Karena dia adalah Nana orang yang selama ini Rangga cari" Rangga
"Apa? jadi Kinan adalah gadis itu?" nyonya Amrita
"Iya ma dia adalah Nana" Rangga
"Ya ampun sayang. Kenapa kita berkeliling kalau ternya dia ada disekitar kita" nyonya Amrita
Aku tak tahu harus senang atau sedih semua bagai mimpi bagi ku. Majikanku ternyata ayah dari anak-anakku. Seperti ada beban yang terangkat dari hidupku, anak-anakku memiliki ayah mereka. Ku lihat mereka begitu bahagia, mereka bercanda dan tertawa bersama seolah sedang mengukir kenangan masa kecil yang terlewat antara ayah dan anak. Terima kasih Tuhan, kadomu sungguh sangat indah.