Part 2
Pagi hari yang cerah nan indah. Sinar cahaya mentari masuk malalui celah gordeng jendela, tak berselang lama sebuah tangan berjari lentik berhasil menyingkap kain gordeng penutup jendela tersebut. Ya dia adalah Dira seorang janda muda nan cantik sedang tersenyum sembari menggendong, mencium bahkan tak jarang mencubit gemas di pipi atau di hidung mungil anaknya.
Pagi yang indah ini ia awali dengan sebuah senyuman yang terukir di bibir ranumnya. Ia merasa begitu semangat karena sedari Pagi bangun tidur ia begitu antusias mendengarkan celoteh sang anak,
Azura Ananda adalah buah cintanya bersama mantan mendiang suaminya. Kini ananknya telah menjelma menjadi gadis kecil yang cantik dan aktiv meski usianya baru memasuki tahun ke empat namun siapa sangka jika paras ayu dirinya telah menurun ke buah hatinya.
Karena Azura sedang aktip-aktipnya dalam masa perkembangan dan suka menirukan gaya bicara orang dewasa di sekitarnya, Maka dari itu dira benar-benar menjaga sikap dan tutur kata bila sedang di dekat putrinya.
Pernah suatu hari ia sepulang bekerja mendapati Silvi Adik mantan suaminya tengah berbicara dengan asisten rumah tangganya dengan bahasa yang kurang pantas serta bentakan yang akhirnya membuat Azura ketakutan Dan menangis histeris.
Melihat hal tersebut mantan Ibu mertuanya alias Nenek dari anaknya bukannya menegur justru malah membiarkan acuh tak acuh bahkan seolah menganggap jika hal tersebut bukanlah sebuah masalah.
Dira yang sedari tadi menyaksikan hal tersebut di depan matanya mulai naik pitam, ia seakan tersulut emosi. Bukan hanya sekali Ini saja ia mendapati Adik iparnya berbicara dengan nada tinggi atau bahkan tak jarang makian di depan putrinya, alhasil Azura yang tak tau menau tentang hal yang tantenya ributkan pun akan ikut terkena imbasnya bahkan cubitan pun pernah di terimanya di paha mungilnya.
"Heh, Bi kamu sebenarnya niat tidak sih kerja! Apa ini. tadi aku suruh Kamu goreng telur setengah matang kenapa malah kamu goreng telurnya Setengah gosong!"
"Ma-af non tadi non Azura agak rewel karena kepalanya sedikit pusing sama badanya sedikit hangat, jadi bibi ngga fokus goreng telur sambil gendong non Azura yang sedang rewel. Takut kena cipratan minyak apalagi non Dira kan melarang keras bibi buat megang dapur apalagi di saat sedang megang non Azura" Ujar bi Mina gugup seperti lebih tempatnya ketakutan.
"Alah alesan! Bilang aja kamu males. Ingat yah bi, Jangan males-malesan aku tidak suka. Dan apalagi beralasan Azura sakit, aku tidak perduli dengannya dan aku nggak pengin ngerti! Mau sakit atau mat*pun!" Tugas bibi itu kerja disini untuk melayani semua keinginan aku bukan untuk ngurusi boc*l ini. dengar tidak! " Ujarnya. inginku tampar jika tak mengingat Silvi Adalah Adik dari mendiang ayah Azura.
Ibu? Oh, mantan ibu mertuakupun seakan tak perduli ia masih asik menonton tv film favoritnya sungguh tak punya hati memang.
Prok-Prok-Prokk!!!...
Ka-kaka... ujarnya dengan muka pucat pasi pun dengan ibu Mertuaku.