Nandira, gadis kecil berusia 15 tahun yang kini telah menginjak kelas 9 SMP yang sebentar lagi kelulusan nya akan segera tiba. Nandira terlahir dari keluarga yang miskin dan juga tinggal di tempat kumuh di padat penduduk.
Nandira yang sudah hidup susah tak kehilangan arah untuk membantu orang tuanya untuk mencari pundi-pundi uang. Nandira yang hanya sekolah di sekolah sederhana dan secara gratis tak henti-hentinya bekerja sepulang sekolah dengan cara mengamen di setiap jalan dan juga warung-warung di pinggir jalan.
Nandira selalu pergi mengamen dengan di temani gitar kecil kesayangannya yang ia dapatkan dari penjual rongsokan dimana ayahnya selalu menjual barang-barang rongsokan di sana.
Dulu gitar nya sangat tak terawat, warnanya sudah kusam dan senar nya juga putus. Namun Nandira bersikeras untuk memperbaikinya dengan barang yang murah dan mengecatnya kembali dengan warna kesukaan nya.
Suara Nandira yang begitu bagus membuat orang-orang suka dan sering memberikan uang lebih pada Nandira. Meskipun begitu Nandira tak pernah melupakan akan sekolah nya, di buktikan nya dengan nilai-nilai yang sangat memuaskan.
Hari ini Nandira sudah pulang dari sekolah. Setelah pulang ke rumah dan mengganti bajunya dengan baju yang sudah lusuh dia pergi dengan membawa gitarnya untuk bekerja.
Nandira mengayunkan kaki kecilnya menuju jalan raya, mendekati kendaraan-kendaraan yang berhenti tepat di lampu merah.
Suara emas nya mulai dia serukan di sana, dengan tangan yang terus aktif memetik setiap senar gitar yang cukup kecil dan hampir terputus.
' Sejak pertama bertemu..
Hatiku sudah terpaku..
Seperti bukan diriku..
Bila'ku tanpa dirimu oh.. oh...
Apakah rahasia mu..
Kau menjerat pikiran ku..
Ku jadi tak tahu malu..
Saat ku dekat dengan mu..
Lagu itulah yang selalu Nandira serukan berulang-ulang di setiap langkah nya. Tak hanya di lampu merah namun juga di setiap warung-warung yang dia datangi.
Uang receh lah yang selalu Nandira dapatkan, namun itu tak membuatnya menyerah begitu saja. Tak ada uang besar jika tak ada yang kecil, dan uang kecil jika di kumpulkan akan menjadi banyak dan besar di kemudian hari.
Nandira kembali melangkahkan kakinya, memasuki satu persatu warung setelah dia merasa lelah di lampu merah dan juga sudah tak kuat karena kepanasan.
Baru saja satu warung yang Nandira masuki, dia kaget karena di kejutkan oleh anak-anak kecil yang
kemarin sempat melihat aksinya saat dia mengamen dengan cara menyanyi dan juga menari tarian tradisional.
" Kak! kakak nari lagi dong. " rengek anak itu dengan wajah memohon.
Nandira menoleh, dia duduk berjongkok menyetarakan tinggi anak itu mengulas senyum manis nya sembari mengusap lengan anak itu.
" maaf dek, kakak tidak bisa " ucap Nandira dengan nada tak enak.
Anak itu cemberut, dan langsung mengeluarkan protes padanya. " kakak! kalau kakak nggak bisa, seharusnya kemarin nggak usah menari. Jadi aku nggak bakal lihat, ayo sekarang menarilah! nanti aku kasih hadiah yang sangat besar. " kekeuh anak itu.
" bagaimana ini, apakah aku harus mengikuti permintaannya? " batin Nandira bingung. Bukan karena Nandira tak mau namun kaki nya yang masih sedikit sakit saat kemarin menari dan berakhir dengan keseleo.
Anak-anak itu terus menatap Nandira, memasang wajah memelas untuk bisa melihat lagi tarian Nandira yang begitu lincah dan luwes.
" baiklah. " pasrah Nandira.
Nandira menaruh gitar nya, dan mulai menari dengan libcah meskipun tanpa di iringi musik sama sekali.
Perlahan-lahan bukan hanya anak-anak ya di yang melihat nya tapi satu persatu orang mulai berdatangan dan mengelilingi nya.
Nandira tak tau kalau apa yang dia lakukan sekarang akan mengubah hidupnya. Dengan suara emas dan juga tarian nya dia akan di kenal banyak orang.
Seorang produser film kebetulan melintas dan penasaran dengan apa yang terjadi di sana, kenapa begitu banyak orang yang melihat. Produser itu mengira ada sebuah kecelakaan dan dia bergegas melihat dengan berlari kecil.
Matanya terpesona melihat gadis kecil berambut sebahu yang tengah menari dan juga menyanyikan lagu.
" dialah anak yang aku cari " serunya dengan senyum sumringah.
******
Beberapa hari berikutnya, Nandira sangat bahagia dengan hasil ujian sekolah nya. Nilainya sangat sempurna membuat Nandira tak henti-hentinya tersenyum sembari berlari , ingin secepatnya memperlihatkan hasil kerja kerasnya kepada orang tua nya.
Nandira berhenti mendadak di depan rumah nya saat dia melihat ada dua mobil yang terparkir di depan rumah nya.
Nandira bingung melihat-lihat dan mengira-ngira mobil siapa yang ada di sana.
Nandira masuk rumahnya, Nandira semakin bingung karena ada banyak orang yang duduk di kursi kayu miliknya yang sudah reot.
" Nah.. itu anaknya sudah pulang " ucap Ayah Nandira seraya menoleh kearah Nandira. " sini nak " sambung ayahnya meminta Nandira untuk duduk di samping nya.
Nandira mengikuti perintah ayahnya dan duduk di sana dengan pelan. " ini ada apa, Ya? " tanya Nandira.
" Bapak itu adalah seorang produser film, Dira. Beliau pernah melihat kamu saat mengamen kemarin, dan beliau ingin menjadikan kamu seorang artis nya. " ucap Ayahnya.
" Artis?" beo Nandira berbunyi.
" Iya!, Ini adalah kesempatan baik untuk mu Nak. Kalau kamu jadi Artis dan terkenal, itu pasti akan mengubah nasib kita. "
" Tapi, Yah.? " Nandira begitu dilema.
Bagaimana Nandira akan menerima tawaran itu padahal baru saja dia menerima hal yang paling dia inginkan dari kepala sekolah.
Karena kecerdasan nya dan keberhasilannya
Nandira mendapatkan beasiswa untuk masuk ke sekolah SMA ternama dan dia juga harus tinggal di asrama selama dia menjadi pelajar di sana.
" Ini adalah kesempatan yang besar, Dira. Kesempatan ini tak akan datang setiap hari " ucap ayahnya merayu.
" Ta- tapi, Yah. Dira harus..."
" ayolah."
" Dira butuh waktu untuk berfikir, Yah. Maaf Pak, Saya belum bisa jawab sekarang " ucap Nandira.
Produser itu tersenyum kecewa, namun tetap berharap Nandira akan menyetujui nya. " saya tunggu jawaban nya, Dira. Semoga keputusan mu tidak mengecewakan "
" I-iya pak " jawab Nandira gugup.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Terima kasih dukungan nya...
😘😘😘😘😘