Tolong tinggalkan jejak yang terindah. Komen,like, dan lovenya.
Silakan membaca!
"Bang, kayu bakar kita sudah habis." Galuh memberitahukan kepada Yusuf--suaminya.
Yusuf mengangguk seraya berkata, "Nanti Abang cari kayu bakarnya,"
Pria 40 tahun itu sedang memberi makan burung peliharaannya.
Pembicaraan mereka didengar oleh Santi putri bungsu mereka berusia 3 tahun.
"Santi ikut ya, Bah," ucap bocah cilik.
Yusuf menoleh ke arah Santi.
"Nggak, usah. Santi di rumah aja, ya. Sama nenek. Jauh Babah nyari kayunya,"
"Mama mau ke ke desa sebelah, Bah. Nggak bisa ajak, Santi. Santi ikut, Abah."
Galuh seraya menanak nasi.
"Ya sudah kalau gitu. Santi ikut Babah aja ke hutan. Tapi, jangan minta gendong, ya. Soalnya Babah bawa kayu."
Santi mengangguk dan loncat-loncat kegirangan.
"Hore!"
Yusuf dan Galuh mempunyai dua anak. Anak sulung mereka meninggal dunia karena sakit tersisa lah, Santi.
Galuh dan Yusuf adalah keluarga yang sederhana semua serba berkecukupan.
*
*
*
Yusuf bersiap-siap pergi ke hutan ia menyiapkan sebilah golok dan seutas tali. Tak lupa juga Yusuf membawa sebotol air mineral jika ia haus nanti.
Galuh pun bersiap-siap ia akan pergi ke desa sebelah. Entah mengapa Galuh merasa cemas terhadap putrinya ia menciumi dan memeluk Santi.
"Santi nanti jangan nakal, ya. Jangan jauh-jauh dari Babah."
"Iya, Mah." Santi mengangguk.
Kalau berpamitan dengan Yusuf.
"Berangkat, ya, Bang. Jaga Santi," ucapnya berpesan.
"Iya."
Galuh pun meninggalkan Santi dan Yusuf entah mengapa hatinya merasa berat meninggalkan, Santi. Ia pun menoleh ke belakang dan melambaikan tangan.
Yusuf pun mengajak Santi berjalan ke arah belakang rumah. Mengikuti jalan setapak ke arah hutan.
Lumayan cukup jauh dari rumah menuju hutan sehingga Yusuf menggendong Santi jika Santi merasa kelelahan.
Akhirnya sampailah Yusuf dan Santi di hutan. Santi disuruh duduk di bawah pohon ia melihat sang ayah memotong-motong kayu kering yang akan dibawa nanti.
Satu jam kemudian ....
"Pulang yuk, San. Sudah selesai nih, Babah!"
Yusuf mengadahkan kepalanya ke arah langit nampaknya, akan turun hujan dan hari pun mulai senja.
Keduanya bergegas pulang Yusuf memanggul kayu bakar yang telah diikatnya.
"Santi jalannya di depan, Babah ya," kata Yusuf.
"Iya, Abah."
Ketika Santi berjalan di depan Yusuf ia berjalan dengan lamban.
"Santi di belakang Abah, aja deh. Jalannya terlalu lama, Babah berat nih, bawa kayu."
Santi pun menurut ia kembali ke belakang Yusuf dan mengikuti langkah Yusuf.
Sesekali Yusuf menengok ke belakang untuk melihat putrinya takut jika tertinggal.
Namun karena Yusuf merasa lelah ia mempercepat langkahnya.
Yusuf lupa jika Santi berada di belakangnya ia melangkah dengan cepat dan meninggalkan Santi.
Tanpa sadar Yusuf dan Santi terpisah. Yusuf terus saja melangkah laju ia tak menunggu Santi yang entah di mana.
Santi ketinggalan jejak ayahnya karena ia mengejar kupu-kupu yang mengikuti Santi. Ia pun ketinggalan jauh dengan Yusuf dan jalan setapak itu memiliki 3 cabang. Santi bingung ia mau memilih yang mana.
"Babah! Babah di mana?!"
Santi celingukan iya berdiri diantara tiga cabang jalan setapak ke arah pulang.
Santi memutuskan jalan lurus yang ada di hadapannya. Padahal, jalan pulang menuju rumahnya adalah jalan setapak di sebelah kiri.
Sementara itu Yusuf terus saja melangkah menjauh dan tak menyadari Santi sudah tidak ada di belakangnya.
Tersadar ketika Yusuf hampir saja sampai.
"Astaghfirullahal adzim, Santi!" Yusuf memanggil Santi sambil membanting kayu bakar yang ia panggul.
Yusuf menoleh ke belakang dan mencari-cari di mana keberadaan Santi namun sayangnya, hari sudah mulai gelap dan turunlah hujan.
Yusuf berlari menuju rumah dan meninggalkan kayu bakar itu begitu saja. Ia meminta tolong kepada warga untuk membantunya mencari Santi.
"Tolong-tolong, Santi hilang!" seru Yusuf. Ia berlari ke tiap-tiap rumah warga.
Galuh yang menanti kedatangan mereka panik dan syok.
"Ya Allah, Abang di mana, Santi?!" Ia menangis histeris dan berguling-guling.
Yusuf memeluk Galuh untuk menenangkannya.
"Ketinggalan, Dek. Abang nggak tahu kalau Santi masih di belakang abang. Abang kira Abang sendirian."
Galau menangis dan terduduk
"Santi ..., Di mana kamu?!"
Tetangga pun berbondong-bondong melihat keramaian Yusuf dan Galuh.
Mereka mencoba membantu Yusuf meskipun hujan turun dengan deras.
Ucap salah satu dari mereka, "Kita cari sedapatnya, kalau memang tidak ketemu kita lanjut besok lagi."
Para warga dan Yusuf pun bergegas mencari ke hutan. Karena hari gelap dan diguyur hujan deras maka, mereka mencari Santi tak sampai di tempat lokasi waktu Yusuf mencari kayu.
Pencarian pun dilanjutkan besok pagi.
*
*
*
Keesokan harinya Yusuf dan para warga kembali mencari Santi yang masih belum ditemukan. Mereka bahu-membahu bergotong-royong mencari Santi.
Pencarian dilakukan sampai seminggu tak juga mendapatkan hasil warga pun pasrah, ada yang menduga bahwa Santi meninggal ataupun dimakan hewan buas.
Bertahun-tahun Galuh dan Yusuf menunggu kedatangan Santi. Galuh rapuh tanpa buah hatinya ia sering sakit-sakitan karena jiwanya terganggu.
Begitupun dengan Yusuf ia merasa bersalah kepada Galuh karena tak becus menjaga Santi.
Sementara itu Santi yang tersesat ditolong oleh seekor orang utan dewasa yang berjenis kelamin perempuan.
Ia digendong oleh orang utan itu ke atas pohon yang tinggi di situlah rumah orang utan itu.
Santi menangis ketakutan tapi orang utan itu layaknya seorang ibu yang menimang anak ketika rewel.
Santi diberi makan buah-buahan oleh orang utan itu.
*
*
*
Lima belas tahun kemudian ....
Udin membuka lahan untuk berkebun sayuran. Tiba-tiba ia melihat seseorang tanpa busana.
Seseorang itu sedang berusaha memetik pisang yang sudah masak.
Udin berusaha mendekati seseorang itu.
"Loh, Dek. Kok, enggak pakai baju?" tanya Udin.
Seseorang itu nampak kebingungan dengan ucapan Udin.
Udin berteriak memanggil teman-temannya.
"Kita bawa saja yuk, ke kampung. Siapa tahu mereka kehilangan salah satu keluarganya,"
Seseorang itu itu dipakaikan sarung salah satu teman Udin. Dan ia pun dibawa ke kampung.
Teman-teman Udin mencari tahu siapa gerangan yang kehilangan anggota keluarganya. Karena seseorang ini tidak mampu berkomunikasi menggunakan bahasa manusia teman-teman Udin merasa kesulitan.
Salah satu teman Udin menghampiri rumah pak Yusuf.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum, Suf."
"Waalaikum salam, ada apa, Din?"
Udin pun memberitahukan kepada Yusuf. Galuh yang mendengar pembicaraan mereka yakin bahwa yang ditemukan itu adalah anaknya yang hilang 15 tahun.
Akhirnya Yusuf dan Galuh mendatangi seseorang itu ke rumah Udin.
Sesampainya mereka di sana Galuh mengenali seseorang itu.
"Ya Allah, Santi. Nak, ini mama!" Galuh memeluk seseorang itu yang rupanya adalah Santi.
Galuh menangis dan menciumi Santi begitu juga Yusuf penuh haru.
Santi hanya berdiam ia bingung apa yang orang-orang bicarakan. Santi hanya menggunakan bahasa isyarat melalui gerak tubuhnya.
Penantian Galuh selama bertahun-tahun akhirnya, membuahkan hasil. Santi telah ditemukan dalam keadaan sehat meskipun, Santi tidak bisa berbicara.
Santi pun kembali ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Akan tetapi, Galuh dan Yusuf mengalami kesulitan karena Santi tidak mau memakan makanan manusia pada umumnya.
Karena bingung dan takut Santi kelaparan Yusuf mencoba memberikan ia buah-buahan.
Rupanya Santi melahap buah-buahan itu.
Wow!
Lambat laun Santi mulai normal ia mengikuti dan mempelajari bahasa yang digunakan kedua orang tuanya, serta mulai menerima makanan-makanan yang disuguhkan Yusuf dan Galuh.
Tamat