Hello perkenalkan Aku Ratu dari Kerajaan Mianco, namaku Felita Avanka Christeno. Aku berusia 30 tahun saat ini aku sudah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik.
Saat ini hidupku memang selalu ada yang menyediakan segala perlengkapanKu tapi kurasa kebahagiaan ini hanya kurang tanpa adanya kasih sayang seorang suami, setiap hari suamiku selalu mengerjakan tugasnya dan selalu sibuk berpergian ke Desa-Desa, aku tak tahu entah di mana dia berada di mana dan sedang bersama siapa dia di sana. Setiap aku bertanya padanya pasti dia selalu marah-marah padaku entah sebab apa aku dijadikan sasarannya saat amarah itu datang.
"Dari mana saja yang mulia, kok baru pulang ini kan sudah hampir pagi.” Tegurku.
“Aku sibuk, aku capek sudahlah kamu tidak usah ikut campur dalam urusanku tugasmu itu hanya menjaga harga diri Kerajaan dan merawat anak saja!” Jawabnya ketus.
Aku hanya bisa berdiam dan sampil meneteskan air mata.
Hari demi hari telah berlalu saat itu aku tak sengaja melihat surat suamiku tergeletak di sofa dan kebetulan aku melihat ada sebuah Cincin berlian yang aku inginkan. Karena itu aku mengira bahwa Cicin tersebut hanya untukKu dan Aku memakainya di jari manisKu.
[Cklek~]
Terdengarlah suara pintu terbuka oleh seseorang. Pria itu langsung menghampiri Felita dan mencengkram dagunya dengan sangat kasar.
"Auh...yang mulia tolong jangan mencengkram daguKu dengan sangat kasar"Ucap Felita dengan Air mata yang mengalir.
"Saya tidak peduli, sekarang saya tanya kamu. Mengapa Kamu memakai cincin tersebut?"Jawab Suami Felita
"Saya pikir itu untuk saya Yang Mulia"Jawab Felita dengan air mata yang masih mengalir
"Sekarang, cepat lepaskan dari tangan KotorMu itu"Jawab Suami Felita dengan tegas.
"I...Iya Yang mulia" Jawab Felita sambil melepaskan cincin tersebut dan masih menangis.
"CK"
Yang Mulia pun pergi dari hadapan Felita. Felita pun menangis sejadi-jadinya, karena perlakuan suaminya yang seperti itu.
Sore itu, Aku melihat suamiku pulang dari Desa Jells, Aku bingung karena tidak biasanya dia pulang sore. Aku memberanikan diri untuk menegurnya kembali yah meskipun nanti ujung-ujungnya aku yang disalahkan.
"Yang mulia sudah pulang?”
“Kamu ini istri macam apa pulang sore salah pulang malam salah aku ini capek bayak urusan di Kerajaan.”
“Banyak urusan di kerajaan apa kamu sibuk dengan Kekasih kamu?” ujarku dengan nada tinggi.
Dan hingga pada akhirnya tamparan pun mendarat di pipi kiriku betapa kerasnya suamiku saat ini Ya Tuhan.
Apa yang harus kulakukan kalau memang harus berpisah aku tak kuasa karena aku masih memiliki putri kecil yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
Saat itu aku hanya bisa pasrah pada keadaan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mengadu pun aku tak berani, yang aku bisa lakukan adalah hanya berdoa dan terus berdoa agar kelak suamiku cepat disadarkan.
Kukira dulu aku dan Yang Mulia Leon bisa hidup rukun dan damai tapi apa buktinya sekarang dia tega menduakanku hanya gara-gara Kekasih penggoda itu, hati wanita mana yang kuat melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain?
Bulan demi bulan telah telewati hingga pada saatnya aku sudah tak sabar dengan sikap suamiku yang suka kasar denganku aku memberanikan diri untuk meminta cerai padanya.
“Yang Mulia kalo kamu masih seperti ini lebih baik kita berpisah buat apa kita membina keluarga yang sudah tak bisa diperbaiki.”
“Baik kalo itu mau kamu kita cerai sekarang juga aku akan pulangkan kamu pada kedua orangtuamu.”
Bendungan air mataku menetes karena tak kuasa menahan tangis tapi aku mencoba kuat dan sabar.
Tepat pada Kemarin aku resmi berpisah dengan Yang Mulia Leon, saat itu aku hancur sehancur hancurnya tapi apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur dan aku segera pulang ke desa ibuku dan membawa putra semata wayangku ini.
▪︎THE END▪︎