Matahari sudah di ufuk barat. Cahaya jingga mewarnai sore ini. Suasana pantai perlahan semakin sepi membawa wajah dan tubuh yang lelah setelah beraktivitas.
Orang-orang membelakangi mentari indah yang akan mengucapkan selamat tinggal pada hari. Tapi tidak dengan seorang wanita. Tubuhnya ramping dengan rambut pamjang terurai tertutup selendang yang meliuk dipermainkan angin. Ia menatap ke arah laut. Pandangannya jauh menerawang menembung cakrawala.
Aku urungkan niatku untuk kembali ke penginapan. Entah mengapa sosoknya membuatku penasaran. Apa yang dipikirkannya? Apa yang ditunggunya? Apa yang membuatnya menatap rindu pada lautan yang tak bertepi?
Bukan hanya kali ini aku melihatnya berdiri pada suatu tebing. Menatap laut terkadang sambil tersenyum, terkadang ia sedih dan menangis. Terkadang ia membawa sebuah bunga yang nanti akan diletakkan di tebing. Hingga nanti diterbangkan angin atau jatuh dan terbawa ombak.
"Apa yang kau lihat?" tanya Pak Aiman, salah satu penduduk aali daerah ini.
"Ti... tidak," jawabku mengalihkan pandangan.
"Anak muda, aku tahu arah pandangmu ke arah gadis itu. Banyak juga pemuda sepertimu di sini yang melihatnya tapi lama kelamaan mereka mundur," Pak Aiman terkekeh.
"Kenapa?" rasa penasaran ini begitu kuat. Memang wanita iti cantik sekali wajar jika banyak pemuda meliriknya. Tapi mengapa mereka malah mundur?
"Dia gadis setia. Dia selalu menunggu kekasihnya pulang,"
"Apa kekasihnya bekerja? Atau pelayar juga?" aku semakin penasaran. Betapa setianya wanita ini. Berbeda dengan gadis di kotaku. Sebagian diantara mereka dengan mudahnya berselingkuh.
"Kekasihnya juga penangkap ikan. Seorang pemuda gagah. Tapi sayang hingga kini pemuda itu belum pulang,"
"Kenapa? Apa dia menemukan wanita lain di seberang sana?" tanyaku sedikit geram.
"Ehehehehe... tahan emosimu anak muda! Pria itu berangkat ketika cuaca sedang baik-baik saja. Matahari bersinar terik, angin hanya semilir. Tapi berita terakhir yang kami temui adalah adanya badai dan angin puting beliung di tengah lautan menyisir ke pinggiran pantai,"
"Lalu apa yang terjadi?"
"Angin itu memporak-porandakan kapal. Kapal mereka hancur. Diantara mereka di temukan dengan kondisi sudah menjadi mayat akibat dari putaran air dan angin secara bersamaan,"
"Apa pria itu juga menjadi mayat? Hingga beberapa kali gadis itu membawa bunga untuknya yang di letakkan di pinggiran tebing?"
Pak Aiman menggeleng sambil tersenyum miris. Sedih menyelimuti wajahnya.
"Hanya jasadnya yang tidak ditemukan. Bahkan sudah berbulan-bulan hingga kini berganti tahun. Sedikitpun tak ada tanda-tanda ditemukan,"
"Apa gadis iti percaya bahwa kekasihnya masih hidup?" tanyaku.
"Ya, ia selalu berkata demikian bila di dekati pemuda sini. Bahkan banyak sekali yang akan melamarnya tapi jawabannya selalu begitu. Ia menunggu kekasihnya hingga orangtuanya menyerah menyadarkan gadis itu,"
Alu menatap gadis itu di kejauhan. Ia menunduk memainkan bunga di tangannya. Aku memicingkan mata karena harus melawan sinar mentari. Ia meletakkan sesuatu. Tapi apa? Aku semakin penasaran. Jelas itu bukan bunga. Benda pipih. Aku beranjak berdiri.
"Kalau kau mengharapkan gadis itu, lupakanlah! Dia hanya dengan dunianya sendiri,"
"Tidak! Coba lihat itu!" Aku menunjuk gadis itu yang berjongkok menahan benda pipih diatas tebing. Benda apa itu?
"Dia meletakkan sesuatu? Biasanya ia hanya meletakkan bunga, menaburnya atau hanya berdiri diam di sana. Apa yang dilakukannya?"
"Tidak! Tidak! Ayo pak!" Aku menarik tangan pak Aiman. Tak banyak yang menyaksikan gadis itu.
Gadis itu terpeleset dan jatuh kebawah. Selendangnya diterbangkan angin. Aku dan pak Aiman memanjat tebing yang tingginya sekitar 5 meter. Gadis itu! Ia berbaring di bawah. Tapi air disekitarnya memerah seketika.
"Pak, ayo tolong dia!" aku menyentak tangan pak Aiman yang terdiam. Ia lalu menggeleng.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan," jawabannya membuatku melongo.
"Mengapa? Gadis itu butuh pertolongan!" Aku berjalan mondar-mandir mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk turun.
"Lihat!" Pak Aiman menunjuk ke bawah. Tangan gadis itu terombang ambing seolah melambai ke arah lautan. Bibirnya tersenyum. Apakah kematian seindah dan sesedih ini?
Aku menatap tebing. Mustahil mengangkat tubuh gadis itu. Tebing itu tak ada tempat menambat. Dan lagi di bawah sana penuh bebatuan. Juga ombak besar yang selalu menghantam dinding tebing. Berkali-kali tubuh gadis itu terhantam batu. Lalu perlahan hanyut menuju lautan.
Pak Aiman meraih sesuatu. Sepertinya itu yang diletakkan gadis tadi. Ia meletakkan selembar kertas yang dihimpit sebuah batu. Kertas dan juga sekuntum mawar putih.
Aku membuka lipatan kertas dan mulai membaca...
" Kekasih yang telah lama menunggu...
Aku masih berdiri setia di sini
Menggenggam dan menghirup aroma mawar putih yang kau titipkan padaku...
Aku setia seperti janjiku...
Terimakasih kau juga masih setia untuk datang menjemputku...
Aku percaya suatu saat kau menjemputku meski aku harus menanti berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Kini penantianku berakhir, kau hadir dalam tidurku dan kini saatnya menjemputku...
Aku siap...
Kapanpun...
Seperti aku siap memiliki pendamping sepertimu...
Tak lama lagi kita akan bersatu
Meski banyak menentang tentang kita
Aku percaya, kita akan bersatu.
Akhirnya hari ini tiba...
Aku merindukanmu..."
Salam Hangat
S
Isi surat itu hanya ditanda-tangani dengan inisial nama. Sepertinya gadis itu enrah memang merencanakan pembunuhan atas dirinya atau memang kekasihnya menjemputnya dari alam sana. Entahlah... misteri ini tak ada yang tahu. Pertemuanku dengannya hanya sebatas melihat dari kejauhan.