Devina
Pelan-pelan berjalan mengendap dari pintu masuk ke kamar dengan melewati tangga. Sepatunya ia tenteng agar tak terdengar oleh orang rumah. Hal itu biasa ia lakukan jika sudah pulang lewat dari jam 12 malam. Meskipun usianya sudah 25 tahun, tapi orang tuanya tidak mengijinkan ia terlalu larut dalam pekerjaan sehingga ia lupa dengan urusan pribadinya. Ya…. Itulah Devina Anastasya. Perempuan dewasa yang gila akan pekerjaan. Ia berhasil mendirikan sebuah perusahaan jasa dari kerja kerasnya sejak jaman SMA dulu. Tak heran jika kini ia sudah menjadi direktur utama sebuah perusahaan. Persuahaannya ia beri nama Devina Agency yang ia ambil dari namanya sendiri.
Devina terlihat sempurna di mata teman-teman perempuan maupun laki-laki. Baik waktu dulu kuliah maupun sekarang di kantor. Klien-kliennya pun seringkali terpesonan dengan kecantikan dan didukung keterampilan marketing yang ia miliki.
Kulit putih, badan tinggi, rambut hitam panjang, dan dia selalu wangi dalam segala suasana. Wangi menurutnya merupakan modal awal untuk memenangkan sebuah tander. Di tas Devina pun selalu ada parfum untuk menunjuang penampilannya.
Ada satu teman kampusnya yang sampai sekarang masih sering mengejar-ngerjarnya meskipun sudah ribuan kali Devina menolaknya. Namanya Fandy Gunanda Hermawan, yang sekarang juga mendirikan perusahaan jasa. Fandy memang dari dulu ingin sekali menadpatkan Devina. Berbagai cara pun ia lakukan untuk meluluhkan hati Devina tapi tak pernah berhasil.
Fandy tahu untuk menyembuhkan luka hati Devina dari mantannya terdahulu agak sedikit berat. Ya.. Devina pernah berpacaran pada awal semester pada saat kuliah dulu. Pacarnya adalah seniornya. Namanya Gilbert Mahendra. Fandy sangat tahu bagaimana awal hubungan mereka dan bagaimana hubungan mereka berakhir. Setelah lulus kuliah Gilbert diminta orang tuanya untuk melanjutkan bisnis orangtuanya di Perancis. Dari situlah hubungan Devina dan Gilbert kandas. Gilbert tak pernah menghubungi Devina sekalipun. Hingga akhirnya pelan-pelan Devina mencoba move on dari ketidakpastian hati yang ia rasakan.
Devina memilih untuk menutup hati dan memblokir semua sosial media bahkan nomor telpon Gilbert. Devina memilih untuk kerja keras mewujudkan cita-citanya, membangun perusahaannya menjadi lebih maju. Dan terjawab sudah saat ini, apa yang ia lakukan membuahkan hasil yang memnbanggakan.
Pada hari Rabu siang, tepatnya pukul 12.30, Fandy datang ke kantor Devina. Hingga sekretaris Devina hafal dengan Fandy. Awalnya karyawan Devina mengira kalau Fandy adalah pacara Devina, tapi lama-kelamaan mereka tahu bahwa Fandy hanyalah orang yang tergilan-gila dengan Devina.
Tok … tok … tok ….
Fandy mengetuk pintu ruangan Devina dan kemudian membukanya. Alangkah senang hatinya, melihat Devina masih ada di ruangannya menatap monitor dengan kacamata bertengger di matanya. Devina hanya melirik sekejap, setelah itu ia kembali fokus pada pekerjaannya.
“Hallo Devina …. Udah makan siang belum? Pasti belum ya, ini gue bawain makan siang kesukaan Lo. Sushi …. Gue tau banget Lo suka banget sushi. Makanya gue bawain ini khusus buat Lo.” Kata Fandy panjang lebar sambil membuka makanan yang ia bawa di kursi tamu yang ada di ruangan Devina. Tanpa sepatah kata pun Devina masih setia dengan pekerjaannya. Meskipun Fandy sudah tak tahan ingin makan bersama Devina.
“Ayolah Dev …. Makan dulu napa, pekerjaannya bisa nanti lagi. Lo boleh gila kerja, tapi kesehatanmu juga perlu dijaga.” Kata Fany yang berusaha perhatian dengan Devina.
Devina menghentikan pekerjaannya, Ia melihat Fandy sebentar. Kemudian melepas kaca mata minusnya. Devina berjalan ke meja tamu yang ada di ruangannya dan duduk di depan Fandy. Fandy pun tersenyum Devina agak sedikit lembut hari ini. Tidak ada nada tinggi dan tidak ada penolakan darinya.
“Lo nggak bosen-bosennya ya ke sini mulu, nggak ada kerjaan Lo?” Tanya Devina sambil melipat tangannya di dada.
“Kan ini jam istirahat, lagian di kantor ada karyawan gue. Itu perusahaan juga perusahaan gue, jadi santai aja.” Ucap Fandy yang begitu santai.
“Ya nggak bisa gitu dong, gue tau itu perusahaan punya Lo. Tapi kan Lo yang bertanggung jawab penuh ….” Fandy memotong kata-kata Devina.
“Udah … gue udah hafal apa yang mau Lo omongin. Denger ya Dev, selama gue masih bisa menjalankan perusahaan gue dengan seperti ini. Gue akan tetap seperti ini, kecuali nih ya amit-amit ada sesuatu sama perusahaan gue, gue juga bakal fokus sama kerjaan gue. Jadi, gue nggak harus 24 jam stanby di kantor, gue harus tau mana waktu buatu gue pribadi, waktu buat berterima kasih sama badan gue karena udah kerja keras selama ini, waktu buat keluarga gue, waktu dimana gue bisa santai menikmati hidup gue. Jadi nggak melulu masalah pekerjaan yang gue pikirin. Jadi, gue harap Lo juga begitu.” Pinta Fandy setelah berceramah panjang lebar pada Devina.
Devina terdiam mencerna apa yang dikatakan Fandy tadi. Menurutnya selama ini dia udah gila kerja, sampai ia lupa waktu untuk dirinya sendiri dan untuk keluarganya. Pantas saja orang tuanya selalu marah ketika Devina pulang ke rumah lebih dari jam 12 malam. Mungkin orang bakal mengira orang tua Devina marah pada Devina karena Devina kelayapan dan main nggak jelas sampai pulang larut malam. Kenyataannya tidak, Devina pulang larut karena harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor meski pekerjaan itu bisa ia kerjakan esok hari.
“udah Lo kotbahnya?” Ucap Devina.
“Lah … gue malah dibilang kotbah. Emang dasar ya Lo, gue itu ngomong kek gitu buat kebaikan Lo juga Devina. Orang tua Lo juga bilang ke gue kayak gitu. Mas David juga bilang gitu ke gue.” Fandy mencoba membela diri. David adalah kakak Devina, yang sekarang ia sudah menjadi seorang dokter dan sebentar lagi akan menikah dengan kekasihnya yang juga seorang dokter.
“Udah deh fan… nggak usah diterusin. Gue yang jalanin jadi Lo nggak perlu repot-repot buat ceramahin gue. Gue kan Cuma kerja, gue nggak dugem, gue nggak nakal, gue ini Cuma kerja Fandy.” Bela Devina.
“Susah ya Lo dibilangin ….” Ucap Fandy singkat kemudian memakan sushi yang ada di hadapannya.
“Lagian, Lo nggak ada capek-capeknya ngejar-ngejar gue.” Ucap Devina sampai membuat Fandy tersedak.
Fandy gelagapan kemudian mengambil air putih untuk meredakannya. Devina hanya terdiam melihat tingkah Fandy.
“Lo kalau ngomong jangan langsung to the point dong Dev,basa-basi dulu kek … gue udah percaya diri gini malah Lo patahin.” Ucap Fandy sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
Devina tak berkomentar lagi. Dia memakan sushi yang ada di hadapannya. Fandy pun tersenyum melihat Devina makan. Dia sangat senang akhirnya bisa makan siang dengan Devina meskipun masih hanya debatas teman. Fandy yakin suatu saat nanti, ia akan mendapatkan hati Devina.
“Gue udah selesai makan. Makasih ya udah bawain gue makan siang gratis. Kapan-kapan gue kirim makanan buat Lo buat gantinya.” Ucap Devina setelah meneguk air putih.
“Devina…. Devina, masih kaku aja sih Lo. Gue udah bisa makan siang bareng Lo aja udah seneng. Nggak usah makan siang deh, Lo nggak jutekin gue aja gue udah seneng.
“Oke … sekarang Lo pulang ya, gue mau kerja lagi. Jam istirahat udah habis.” Ucap Devina sambil melakangkah ke mejanya.
“Ya elah, orang perusahaan juga punya Lo sendiri, segitunya sih.” Kata Fandy sambil memperhatikan Devina berjalan.
Devina kemudian duduk di singgasananya. Membuka lagi tumpukan berkas yang ada di mejanya. Dan sesekali melihat monitor di depannya. Sedangkan Fandy masih duduk di kursi sambil terus menatap Devina. Devina yang tak memperhatikan Fandi membuat Fandi beranjak dari kursinya. Lalu berjalan ke meja Devina.
“Baiklah, aku akan pergi. Tapi nanti malam gue mau jemput Lo jam 7. Sekalian kita makan malam… oke?” Pinta Fandy.
Devina tak menghentikan pekerjaannya, dia berbicara sambil bekerja.
“Kenapa Lo yang buat aturan?” Ucap Devina.
“Pokoknya gue jemput jam 7… bay …” Kata Fandy kemudian dia melangkah pergi.
“Orang gila …” Ucap Devina setelah menghentikan pekerjaannya.
Devina ingat apa yang diucapkan Fandy tadi, dia harus ada waktu untuk dirinya sendiri dan keluarga. Selama ini memang ia terkenal dengan orang yang kerja keras. Tak pernah peduli dengan dirinya sendiri bahkan dengan keluarganya. Ia terlalu larut dengan pekerjaannya setelah patah hatinya pada Gilbert. Mungkin ada benarnya ia sesekali mengakhiri pekerjaannya dengan cepat dan pergi makan malam bersama Fandy. Devina pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Fandy pun bersiap mengambil tasnya kemudian mengambil kunci mobilnya. Ia kemudian menuju ke perusahaan Devina. Dia langsung menuju ke ruangan Devina dan disambut senyum oleh Siska, sekretaris Devina. Fandy langsung masuk ke ruangan Devina.
“Hallo Devina …” Sapa Fandy pada Devina. Dan tentu saja Devina masih setia di mejanya bercengkrama dengan pekerjaannya. Devina pun hanya melirik sedikit lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
“Ayo … udah selesein besok lagi, lagi itu nggak harus selesai sekarang kan?” Tanya Fandy pada Devina.
Devina pun mengacuhkan Fandy ia tetap fokus pada pekerjaannya. Fandy pun langsung menghampiri Devina kemudian melipat semua berkas yang di hadapan Devina. “Udah Dev kerjanya, sekarang makan malam dulu. Kalau Lo sakit, gimana pekerjaan Lo bisa selesai.” Kata Fandy sambil membereskan semua berkas di meja Devina.
Devina hanya terdia melihat tingkah Fandy. Fandy kemudian mengambil tas Devina kemudian mengajak Devina untuk segera pergi.
“Ayo ….” Ucap Fandy.
Akhirnya Devina pun mengikuti kemauan Fandy. Meskipun dengan sedikit agak kesal karena seperti memaksa. “Lain kali jangan nutup pekerjaan orang kayak tadi, gue nggak suka.” Ucap Devina sebelum Fandy membuka pintu ruangan Devina. Fandy pun berbalik lalu meminta maaf pada Devina, dia janji nggak bakal mengulanginya lagi.
Saat keluar dari pintu, Siska sekretaris Devina tersenyum.”Tumben pulang cepet buk?”
Sebelum Devina menjawa, Fandy yang menjawab lebih dulu,”Biar kamu bisa pacaran sama pacar kamu.”
Siska pun tersenyum dengan ucapan Fandy, dia senang Devina pulang cepat. Dan dia juga bisa pulang cepat tentunya.”Sering-sering ya pak ajak Bu Devina pergi.” Teriak Siska pada Fandy.
“Kenapa diem aja sih Lo?” Tanya Fandy dalam mobil.
“Gpp, gue kan Cuma ngikutin kemana Lo pergi.” Ucap Devina sambi menatap ke depan.
“Paling nggak , nanya kek gue mau ajak Lo kemana. Diem aja, kalau Lo culik Lo gimana.” Jawab Fandy berusaha membuat Devina bicara.
“Tinggal lapor polisi aja ….” Ucap Devina membuat Fandy tertawa terbahak-bahak.
“Lucu banget sih Lo …. Oya gue mau ngajakin Lo ke sebuah tempat yang pasti Lo suka.” Ucap Fandy dengan santai sambil menyetir mobilnya.
“Ini kita udah lama jalan Lo Fan, mana nggak nyampe-nyampe lagi. Gue nggak mau tau ya sebelum jam 12 gue harus nyampe rumah. ” Ucap Devina sedikit kesal.
“Santai aja kali Dev, gue udah ijinin Lo sama om dan tante, mereka seneng banget tau nggak Lo bisa jalan-jalan kayak gini.” Ucap Fandy sesantai mungkin.
Devina terdiam mendengar ucapan Fandy, Ia ingat orang tuanya. Ternyata mereka bener-bener nggak ingin Devina terlalu fokus sama pekerjaannya, tapi juga kebahagiaan Devina sendiri. Devina tertunduk, dan Fandy melihatnya terlihat sedih.
“Hei … Lo kenapa?” “Tanya Fandy dan Devina hanya menggelengkan kepala.
Fandy kemudian menepikan mobilnya. Kemudian menatap Devina. “Dev, Lo kalau ada apa-apa cerita sama gue. Gue siap dengerin Lo kapan aja. Lo tau kenapa gue selalu ngajakin Lo jalan? Itu karena …. Selain emang gue suka sama Lo juga gue pengen Lo bahagia, seneng, nggak mikiran pekerjaan terus, gue pengen Lo ada waktu buat Lo sendiri.”
Perlahan Devina mulai mengangkat kepalanya. Dia tidak menangis, tapi wajahnya terlihat sendu dan berusaha untuk tersenyum.
“Makasih ya Fan, makasih buat semua ini …” Ucap Devina sambil tersenyum. Fandy pun juga ikut tersenyum, kemudian ia kembali melajukan mobilnya. Akhirnya di dalam mobil mereka bisa ngobrol dengan santai hingga akhirnya meraka sampai pada tempat tujuan.
Ketika membuka mobil, betapa terkesimanya Devina dengan pemandangan yang ia lihat. Hamparan pasir putih, air laut yang begitu damai. Rasanya sudah lama sekali ia tak merasakan angin laut seperti ini. Mungkin sudah puluhan tahun yang lalu ia rasakan. Devina berjalan menuju pantai terdiam menatap laut. Ternyata benar, aku memang perlu waktu untuk untuk diriku sendiri, mengucapkan terima kasih pada diriku sendiri karena bisa sekuat ini. Fandy bergerak ke sampingku, dia mengatakan “ … tak ada salahnya menyenangkan diri sendiri, membahagiakan diri sendiri tanpa harus menghabiskan waktu terus-terusan untuk bekerja demi mencari kesibukan untuk masa lalu.”
Devina menatap Fandy, begitupun sebaliknya. Devina tidak suka jika Fandy mengungkit masa lalunya. Itu merupakan kesakitan yang luar biasa di hatinya. Devina berbalik arah dan berusaha pergi. Namun, Fandy dengan sigap mencegahnya.
“Lo nggak bisa terus-terusan seperti ini Devina, Lo terlalu berharga untuk menanggisi orang seperti Gilbert itu. Lo buang-buang waktu Devina …. “
“Jika Lo ngajak gue kesini hanya untuk mengungkit masa laluku, gue menyesal sudah ikut sama Lo.” Ucap Devina dengan tegas.
“Dengarin gue Dev, meskipun ribuan kali Lo tolak gue, gue nggak masalah, ribuan kali Lo cuekin gue, gue nggak masalah. Gue Cuma nggak pengen terjadi apa-apa sama Lo, gue Cuma ingin mastiin Lo bahagia, Lo menyayangi diri Lo sendiri.” Fandy berusaha meyakinkan Devina.
“Ini bukan urusan Lo Fandy, gue tau bagaimana cara agar gue bahagia. Gue punya cara gue sendiri.” Ucap Devina semakin keras dan akhirnya air matanya menetes.
“Itu bukan cara untuk bahagian Dev, itu semua Cuma pelarian. Gue kenal Lo udah lama, gue kenal keluarga Lo juga udah lama. Lo nggak tau bagaimana keluarga Lo peduli akan Lo, peduli akan kebahagiaan putrinya. Mereka Cuma ingin Lo bahagia Dev, mereka seneng Lo kerja keras tapi mereka juga ingin Lo ada waktu buat mereka, Lo mikirin masa depan Lo bukan Cuma tentang karir Lo.” Ucap Fandy yang semakin membuat Devina menangis sejadi-jadinya.
Fandy melepaskan tangan Devina, kemudian mengangkat wajah Devina yang tertunduk menangis. Mengusap air matanya dengan lembut dan berusaha untuk menenangkannya.”Kamu canti Dev, kamu cerdas, kamu punya masa depan yang cemerlang, kamu punya segalanya. Aku bakal dampiingi kamu, sampai kamu benar-benar bisa bahagia.”
Devina menatap Fandy sendu, kemudian Fandy memeluk Devina dengan hangat. Malam itu, mereka berdua menatap laut dengan suasana haru tapi melegakan. Fandy lega akhirnya Devina bisa meluapkan semuanya. Bisa setenang ini sekarang, secara pelan-pelan Devina mulai sadar bahwa ternyata apa yang dilakukannya selama ini memanglah salah.
“Kamu sudah tenang?” Tanya Fandy dan Devina mengangguk. Mereka akhirnya pulang dengan perasaan tenang. Dan mereka banyak ngobrol di mobil hingga tak terasa waktu cepat berlalu dan sampailah di depan rumah Devina.
“Terima kasih untuk malam ini,” Ucap Devina sebelum ia masuk ke dalam rumah.
“Oke, semoga setelah ini kamu mimpi indah ya, inget nggak boleh mikir yang aneh-aneh lagi, fokus pada pada kebahagiaanmu,” Balas Fandy dengan semangat.
Akhirnya Fandy pamit dan pulang, Devina masuk rumah dan disambut senyum bahagia dari orang tuanya. Orang tua Devina memeluk Devina dan mereka merasa bahagia, putri mereka sudah kembali ceria seperti dulu.
Waktu berjalan dengan cepat, Devina dan Fandy sering jalan berdua. Bahkan mereka sering makan malam keluarga. Meskipun mereka masih berhubungan sebagai teman saja. Tapi mereka sering menghabiskan waktu berdua, entah itu berbelanja, makan, jalan-jalan bahkan proyek pekerjaan sering mereka habiskan bersama.
Hingga suatu saat ketika mereka jalan-jalan ke pantai Devina duduk di hamparan pasir putih. Fandy pun mengikutinya. “Hari ini indah ya Fan?” Fandy pun mengangguk.
“Kamu senang?” Tanya Fandy.
“Tentu, aku seneng banget. Makasih ya Fan, kamu udah bikin aku sebahagia ini.” Ucap Devina
“Sama-sama, dulu kan aku pernah bilang aku bakalan bantuin sampai kamu bahagia.”Ucap Fandy dengan senyum.”Selagi kita seperti ini, saling membuat bahagia nggak ada salahnya kan?” Fandy kembali berbicara dan menganggap hubungan mereka selama ini hanya sebatas pertemenan. Fandy berusaha melupakan perasaannya sejenak untuk membuat Devina bahagia. Meskipun Fandy tau jauh di dalam hatinya ia sangat mencintai Devina. “Makan yuk, laper nih …” Ucap Fandy.
“Fan…” Devina menarik tangan Fandy lembut mencoba untuk mencegah Fandy pergi. Fandy pun kembali duduk mendengarkan Devina.
‘Mmmmmm … Fan … mmm … Begini, Aku ….. “ Ucap Devina terbata-bata dan seperti sangat gugup untuk mengatakannya. Fandy pun heran dengan sikap Devina, tak biasanya dia seperti ini.
“Kamu kenapa? Sakit?” Ucap Fandy sambil memegang kening Devina takut kalau Devina sakit. Devina menggelengkan kepala.
“Fan … apa kita akan seperti ini terus?” Tanya Devina. Fandy pun mengernyitkan dahinya.
“Maksud kamu?” Tanya Fandy balik.
“Apa perasaan kamu masih sama seperti dulu?” Ucap Devina dan membuat Fandy terkejut. Devina merasa gugup dan merasa salah mengucapkan itu lalu dia menarik kata-katanya itu. “Ehhh…. Maaf, lupain aja. Ayo …” Ucap Devina sembari ingin beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Fandy.
“Dev … apa hatimu sudah terbuka buat aku?” Tanya Fandy dengan degupan jantung yang luar biasa. Devina pun mengangguk. “Apa kamu sudah bisa menerima aku dalam hidupmu?” Tanya Fandy lagi dan Devina pun mengangguk. “Dan apakah kamu mau menjadi pendampingku, hidup bersama denganku sampai surga nanti?” Fandy kembali bertanya dan disertai anggukan dari Devina. Fandy sangat senang, akhirnya cintanya terbalaskan juga. Pengorbanannya tak sia-sia. Fandy memeluk Devina dan kemudian mencium kening Devina. Dia sangat bahagia sekali. “Terima kasih” ucap Fandy pada Devina. Ya …. Akhirnya mereka bahagia.