Aku masih ingat malam itu, malam di mana aku akhirnya jatuh hati padanya. Saat itu di cafe, aku bertemu dengannya. aku duduk di pojok ruangan, memerhatikan riuh ramai orang yang sedang berbincang dengan temannya. Lalu salah seorang darinya menarik perhatianku, membuat jantungku sedikit berdetak lebih cepat dari biasanya. Terus ku perhatikan orang itu, ia tampak menilik-nilik orang yang ada di sebelah mejanya yang hanya di batasi oleh besi-besi yang dibuat seperti pagar rumah-rumah pada umumnya.
Terus ku amati dia, dan mungkin ia sadar akan apa yang ku lakukan, ia berbalik dan akhirnya mata kita bertemu. Beberapa detik mata ku ini tak kunjung berpaling, tapi lalu mata ini mengikuti kata hati untuk tetap menjaga apa yang sepantasnya ia jaga. Karena ia tahu, pada akhirnya siapa yang akan terluka.
Aku kemudian segera meninggalkan cafe, menyalakan kendaraan roda dua ku yang permukaannya sudah basah oleh embun malam. Beberapa menit berkendara, aku akhirnya sampai di sebuah gang yang agak gelap. Ku percepat sedikit kendaraanku, ku coba menghilangkan semua pikiran yang sudah dari tadi merayapi kepalaku. Ada banyak hal yang kupikirkan, tidak terlalu banyak, yang kupikirkan hanya tentang dia, yang persoalannya begitu rumit dan bercabang-cabang.
Sekarang aku sudah ada di kamarku, menatapi buku-buku yang sudah terbuka dengan banyak rumus-rumus di dalamnya. Buku itu kini basah, dengan tintanya yang kemudian luntur. Air mata ini sudah tak bisa ku bendung, dengan teriakan yang masih ku coba untuk pendam di ujung tenggorokanku hingga tembus ke kepalaku.
Lalu aku beranjak dari kursi, meninggalkan buku-buku yang ada di meja belajarku. Ku langkahkan kakiku, ku tundukkan wajahku lalu ku telusuri beberapa ruangan untuk akhirnya sampai di kamar mandi. Ku basuh wajahku, masih ku coba tenangkan diriku yang semakin tak kuasa menahan pita suara nya agar tidak membuat suara apapun. Aku lalu keluar dengan tetap menundukkan wajahku, takut akan didapatinya ia dengan kedua mata yang sudah sembap oleh keluargaku yang saat ini sedang berada di ruang keluarga.
*******
" Eh, katanya ada murid baru lho, dia bakal masuk di kelas kita."
" Beneran? kok gue nggak dapat kabar sih tentang ini. Btw, cewek apa cowok nih muridnya?"
"Cowok deh kayaknya, gue juga nggak terlalu tau sih."
"Kalau dia cewek, udah, kalian-kalian udah, mundur aja, dia punya gue."
Begitulah kata teman-temanku, kata mereka ada murid baru dari luar kota yang akan mengisi kekosongan setelah pindahnya beberapa teman kelasku yang sudah lama pindah.
" Nis, lo tau nggak siapa murid pindahan itu?" tanya Aul, salah satu teman dekat ku.
" Ul, sejak kapan sih masalah begituan gue tau, kalau pun tau juga pasti taunya dari elu" Jawab ku lalu menggelengkan kepala.
“ Ya, siapa tau kan kali aja lo tau gitu.”
Setelah beberapa lama kemudian, bel pun berbunyi menandakan pelajaran pertama akan segera di mulai. Semua siswa yang tadinya berdiri, kemudian dengan cepat menuju kursi mereka masing-masing. Dari sini terdengar pula suara siswa-siswa lain di luar kelas yang sekarang tengah berlari menuju kelasnya. Suasana pagi yang begitu ricuh, namun memberikan kesan tersendiri di pagiku ini.
Setelah semua terdengar sedikit lebih hening, guru masuk melalui pintu kelas lalu ia berjalan menuju meja yang tidak terlalu jauh dari tempatku berada. Tidak ada seorang pun di belakangnya, mungkin murid pindahan itu memang tidak ada dan hanya gosipan saja.
Guru lalu memberikan salam, kami serentak menjawab salam itu. Pelajaran kemudian berlangsung seperti biasa. Dari belakang terdengar suara beberapa orang yang entah sedang membahas apa.
“ Bu, katanya ada murid baru” salah seorang temanku bertanya dengan suaranya yang sedikit cempreng.
“atau emang nggak ada murid baru bu?” sambungnya.
“ Murid baru nya ada, cuman emang lagi ada masalah sedikit, jadi di urusin dulu sama wali kelasnya.”
“Oh gitu ya bu, murid barunya perempuan atau laki-laki bu?”
“Laki-laki Kayaknya, ibu juga kurang tau, tapi kalau dari namanya sih laki-laki.”
Di tengah percakapan itu, seseorang mengetok pintu, membuat semua mata tertuju pada pintu kelas yang terbuka lebar, termasuk aku.
“Assalamualaikum bu" ternyata itu adalah guru PPKN kami yang juga adalah wali kelas kami. Kami serentak menjawab salam itu. Lalu ibu pun masuk ke kelas dengan seorang Pria yang mengikutinya dari belakang. Dia tampak tinggi, badannya kurus tapi tidak terlalu kurus. Pria itu putih tapi juga tidak terlalu putih. Aku terkejut, ia mengingatkanku dengan pria semalam yang ada di cafe.
Batinku mulai berbincang, dan dalam beberapa detik itu sudah banyak yang dibincangkan. Dengan pandanganku yang sudah tertunduk beberapa detik setelah melihat wajahnya. Wajah yang semalam terlihat kecil, kini terlihat lebih besar dengan jarak yang juga cukup dekat. Jantungku semakin berdetak kencang dengan napas yang terlihat seperti diri ini baru saja selesai berlari sejauh 100 meter dengan kecepatan 10 meter per sekon.
Beberapa menit kemudian berlalu, aku tidak tau jelas apa yang mereka bicarakan karena diri ini masih saja membatin. Ku angkat kepalaku, ku lihat tepat di depan ku yang adalah tempat dia berdiri tadi bersama guruku. Namun dia sudah tidak lagi di sana, yang kudapati hanyalah pundak guru bahasa Indonesia ku yang sedang menggoreskan tinta hitam di papan tulis besar.
“Lo ngapain dari tadi nunduk mulu?” kata Aul, sambil melihat papan tulis dan sesekali mencatat dibukunya.
“Hah? Apa?” Ku tahu keadaanku sekarang, aku linglung. Bingung dengan diri ku sendiri. Beberapa menit aku mencoba kembali pada apa yang sekarang terjadi, lalu diri ini mengamati sekeliling untuk mencari tahu keberadaannya.
“ Baris ketiga, sampingnya Aldi.”
Spontan mata ini tertuju pada apa yang di dengar oleh telinga. Hati ini kemudian merasakan sakit yang hebat, mengingat bagaimana rapuhnya hati ini yang sedang mencoba untuk bisa sembuh dan kuat kembali.
“ Bu, saya izin ke toilet sebentar, boleh nggak bu?” kataku meminta izin kepada guru.
“ iya, boleh.”
Aku lalu berdiri, meninggalkan kelas dan dengan cepat kakiku berjalan menuju toilet yang agak jauh dari kelasku. Rasa gugup menyelimutiku, saat ini sedang ku coba untuk mengontrol denyut nadiku yang tak karuan. Jantung ini seakan bergeser dari tempatnya, hidung ku terasa sulit untuk menarik oksigen di ruangan kecil ini.
Bel lalu berbunyi kembali, menandakan waktu istirahat sudah tiba. Aku kembali ke kelas dengan keadaan yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
“ Lo BAB ya tadi?”
“ Hah? Enggak.”
“ kirain, lama amat sih balik kelas.”
“ Kenapa emang? Ada lagi yang gue lewatin?”
“Ada. Tadi ada tugas, tugasnya tuh perkelompok. Tapi sayang, dia udah diambil sama cia.”
Jujur saja mendengar hal itu perasaan ku sedikit lega, tapi ada lebih banyak rasa kecewa di sana. Tapi tidak mengapa, aku akan tetap berusaha untuk tidak terjebak dalam cinta yang sudah tentu akan membawa ku ke jurang yang curam ini sendirian.
“ Eh gue bisa pinjam buku catatan lo yabg tadi nggak? Gue tadi nggak nyatet sama sekali nih.”
“ tenang, lo bisa pinjam. Bawa pulang juga boleh kok. Apa sih yang nggak buat lo.”
“ Hehe, makasih. Emang sih gue nggak salah pilih sahabat.”
“Enggak, gue yang bersyukur Nis, untuk dapat sahabat kek lu.”
Percakapan kami terus berlanjut, hingga seseorang datang dan menyapa kami dengan suaranya yang begitu berat dan asing di telingaku.
“ Hai, nama kamu Aul kan?” kata orang itu.
“ dan nama kamu...” ada jeda lalu ia melanjutkan, “Nisa?”
Entah kenapa, tapi hati ini terasa kembali sakit mendengar jeda yang begitu kosong pada beberapa detik saat ia berbicara. Tapi rasa itu dengan cepat tertangkiskan saat ia kembali mengatakan sesuatu.
“ Kalian satu kelompok? Boleh nggak aku gabung sama kalian?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, tapi yang jelas aku sangat senang mendengar itu. Rasa bahagia ku ini masih bisa ku sembunyikan.
“ Boleh sih, kalau lo mau, tapi lo udah izin belum sama ketua kelompok lu, si Cia?” kata Nisa, sembari memasukkan pulpen dan bukunya ke dalam tas.
“ Udah kok" kata pria itu.
“ Ya udah kalau gitu masuk aja, tapi jangan tanya gue sih. Tanya dia ni, dia yang ketua nya, gue mah goblok mana paham sama jurusan pertugasan kayak gitu.” Kata Aul, sambil mendongakkan kepalanya padaku yang tepat berdiri di depan mejanya. Aku hanya bisa menatapnya bingung.
“ Oh gitu, kalau gitu... aku pinjam temen kamu sebentar boleh nggak?” Katanya dan itu membuat ku mengerutkan kening.
“ Oh boleh, silakan. Pake sepuasnya, eh maksudnya iya silakan ngobrol bareng aja. Gue mau ke kantin juga kok.” Kata Aul, yang kemudian aku sedikit merasa kesal, tetapi jujur sedikit berbunga-bunga dengan itu.
Tapi kembali lagi, jarak antara kami sekarang lebih dekat. Dia tepat berada di sebelahku kembali membuat perasaan gugup ku muncul.
“ mau ke kantin juga nggak?”
Beberapa detik itu ada keheningan, tapi lalu ia kembali berbicara.
“ Kalau gitu kita di sini aja.”
“ Eh, nggak. Maksudnya kita ke kantin aja kalau itu mau nya kamu.”
“Tapi kalau kamu nggak mau nggak usah, aku nggak maksa. Tapi kalau emang kamu juga mau ke kantin, ayo ke kantin bareng, soal nya aku nggak tau kantin di mana.” Ia lalu menggaruk kepalanya, memperlihatkan satu tangannya dengan tangannya yang satu masih bersembunyi di balik tubuhnya.
Kami lalu meninggalkan kelas, menyusuri koridor kelas lain tanpa saling bertukar kata. Lalu ia kemudian mengeluarkan suara dan memulai percakapan di antara kami.
“ Kamu yang semalam di cafe, kan?” kalimat itu sontak menghentikan langkah ku.
“ Oh, iya kenalin aku Ridho, Muhammad Ridho Saputra....”
Bersambung