Ken Ara nama lengkapnya, tapi orang-orang kerap memanggilnya dengan si gadis udik. Berbeda dengan teman-temannya yang selalu mengikuti perkembangan zaman, Ken sendiri selalu tampil dengan pakaian-pakaian lamanya tak teringat sudah berapa lama ia tak membeli dan memakai fashion baru.
Disekolah, saat jam istirahat tiba Ken berjalan menelusuri lorong-lorong kelas menuju kantin. Tapi seperti biasa Shisi and the gang selalu mengganggu nya.
"Eh anak udik mau lewat," Ledeknya.
Kemudian salah satu teman Shisi mendekati Ken dan menjinjit bajunya sambil terus tertawa ia berkata.
"Baju seragamnya aja sampai jadi warna coklat gini, gimana baju hariannya ya."
Ken mengepal tangannya, sementara kepalanya terus menunduk antara malu dan juga sedih.
"Ya paling outfitnya gak jauh-jauhla ya sama pakaian kamseupay lainnya," Sahut Caca yang kemudian disusul gelak tawa mereka bertiga.
Ken yang sudah tak tahan memutuskan untuk berlari meninggalkan anak-anak nakal itu. Dari matanya mengalir buliran air, sedangkan hatinya dipenuhi dengan dendam dan amarah.
=°°=
Waktu terus berlalu hingga tak terasa pelajaran hari ini sudah usai. Sepulang dari sekolah Ken mampir ke danau yang ada dibelakang sekolah ia duduk termenung dalam kesendiriannya Ken bergumam tentang harapannya.
"Andai aku punya banyak yang pasti aku nggak akan di bully Shisi dan teman-temannya."
Plung...
Ken melempar batu kearah danau, dan mulai beranjak dari tempat itu. Namun baru saja ia melangkah seseorang memanggilnya, suara tadi tepat berada di belakang nya. Ken terkejut dan segera menoleh.
Matanya membelalak saat melihat seorang gadis berjalan keluar dari dalam danau, ia mundur perlahan dengan ketakutan yang mendalam.
"Si.. Siapa kamu."
Gadis itu tersenyum dan terus mendekat.
"Jangan takut aku datang untuk membantumu."
"Ma.. Maksudmu?"
"Aku tahu kamu memiliki nasib yang kurang bagus maka dari itu aku datang dan akan mengubah segalanya," Gadis itu terus menatap Ken yang terus ketakutan.
"Apa yang kamu inginkan?!"
"Aku menginginkan dendamku terbalas setelah itu kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan," Bujuknya.
Ken melongo ia berpikir bahwa ini hanya mimpinya di siang bolong, tapi mimpi itu segera ia tepiskan saat gadis tadi mendekat dan menggenggam tangannya membuat nya hilang kesadaran.
=°°=
Keesokan harinya, Ken berangkat sekolah diantar dengan mobil mewah serta outfitnya yang sudah diatas level Shisi and the gang. Saat ia memasuki koridor sekolah semua mata tertuju padanya dan pujianpun datang tak henti-hentinya kecuali Shisi dan teman-temannya.
"Oh shit! Gimana bisa dia berubah dalam waktu satu hari," Gerutu Shisi.
"Kenapa? Kaget ya?" Tanya Ken yang baru saja tiba didepan kelasnya hari ini Ken terlihat berbeda bukan hanya dari penampilan tapi juga sikapnya.
Alis Shisi naik sebelah, saat ia hendak menumpahkan minumannya ke baju Ken, Ken malah lebih dulu menjatuhkan botol minumnya tepat di kaki Shisi.
"Argghhhhhh!!!" Shisi mengerang kesakitan.
"Ups! Sorry tapi ini belum seberapa kalian akan mendapatkan kejutan yang lebih daripada ini," Ucap Ken meyakinkan kemudian berlalu dari hadapan gang itu.
=°°=
Singkat cerita setelah kejadian di danau waktu itu semuanya seperti berubah, Ken yang dulu pemurung bahkan tak memiliki bakat apapun kini menjadi Ken yang serba bisa ia bahkan tenar di sekolahnya, berbagai lomba antar sekolah ia ikuti dari mulai kesenian dll.
Shisi yang memang tak menyukai dirinya selalu mencari cara untuk menjatuhkan Ken.
"Lo yakin Shi mau campurin racun ini ke minuman Ken kalau dia mati gimana?" Resah Hera.
"Bagus kalau dia mati biar gada lagi yang nyaingin gue disekolah ini!" Jawabnya lalu bergegas menghampiri Ken yang sedang menikmati makanannya di kantin.
Buggg!!
Shisi menggebrak meja makan Ken.
"Inget ya lo cuma orang udik dan nggak pantes buat jadi orang kaya!" Hardik Shisi sambil mencuri waktu untuk menuangkan racun tadi kedalam minuman Ken.
Ken tersenyum sinis, setelah usaha Shihi berhasil ia segera meninggalkan Ken. Dari raut wajah Ken terlihat ia sedang menyimpan sesuatu dalam benaknya.
Beberapa waktu kemudian, seorang siswa berteriak histeris membuat para guru dan beberapa murid menghampiri sumber suara.
"Ya tuhan Caca!!" Teriak salah satu guru saat melihat tubuh Caca yang berlumuran darah tergeletak begitu saja dilantai toilet.
Shisi dan hera yang baru tiba dilokasi langsung menjerit sejadi-jadinya saat melihat temannya tergeletak tak bernyawa.
=°°=
Malamnya setelah kejadian naas disekolah kini giliran Shisi yang mendapatkan gangguan, sebuah sebuah ketukan terdengar keras dari dalam lemarinya, ia melangkah dengan penuh ketakutan ia mengulurkan tangan untuk membuka lemari, tiba-tiba....
Drrtt... Drrrtt...
Ponselnya berdering 1 panggilan masuk dari Hera. Shisi terkejut lalu segera mengangkat telepon.
"Hallo Ra ada apa?"
Didalam panggilan Hera tak menyahut yang ada hanya suara-suara angin yang terdengar menyeramkan.
"Are you okay?" Shisi kembali bertanya.
Bukannya jawaban dari Hera, ia malah mendengar seseorang tertawa didalam panggilan setelah itu panggilan terputus, dan menampilan pesan teks yang berisi "MASIH INGAT AKU?"
Shisi melempar ponselnya dan meringkuk diatas ranjang. Hingga pagi menjelang sebuah tayangan televisi mengabarkan penemuan mayat yang tergantung di pohon dekat danau belakang sekolah Shisi yang kebetulan melihat acara itu langsung menggeleng ia menjerit saat tahu mayat itu adalah sahabatnya.
=°°=
Pukul 13.00 wib diarea pemakaman.
Shisi menangis meratapi nasib kedua sahabatnya ia terus duduk diantara 2 makam yang masih baru kemudian seseorang datang dan memberikannya sapu tangan.
Kepalanya mendongak menatap seseorang yang berdiri tepat dihadapannya.
"Ngapain lo disini? Lo senengkan liat keadaan gue yang sekarang?!"
Orang itu menggeleng, "turut berdukacita ya, aku juga sedih dengan semua yang terjadi."
"Ahaha sedih? Sejak kapan lo peduli sama gue? Tapi apa jangan-jangan selama ini lo yang udah bunuh temen-temen gue?! Iya kan ngaku!" Tekannya.
"Selama ini aku cuma mau berteman sama kalian tapi...
" Gue nggak level temenan sama lo Ken!" Hardiknya sembari mendorong tubuh Ken hingga terjatuh lalu pergi meninggalkan nya sendirian di pemakaman.
Ken terus memandang langkah Shisi, kali ini tatapannya kembali berubah ia mengepal tangannya kemudian berlari menyusul Shisi dan....
Plakkkk
Sebuah balok menghantam kepala Shisi dan membuat gadis itu tak sadarkan diri. Bangun-bangun ia terkejut karena hari sudah gelap dan ia berada di danau dalam keadaan terikat disebuah pohon.
"Heh anak udik! Lepasin gue!" Teriaknya.
Ken yang juga baru tersadar dari pingsannya ikut terkejut melihat keadaan ini ketika ia hendak menolong Shihi sebuah kekuatan gaib menghempaskan tubuhnya. Shisi semakin dibuat terkejut saat matanya tertuju pada sosok yang keluar dari dalam danau.
"A.. Amel," Ucapnya tergagu.
"Jadi rupanya kamu masih ingat aku?" Tanya hantu itu.
Shisi menangis dan memohon ampunan.
"Maafin aku mel, tolong jangan sakiti aku, aku janji nggak akan bully anak-anak lagi, maafin aku mel."
Hantu itu terkikik, matanya yang melotot terus memandangi wajah Shisi yang ketakutan.
"Ayo kita tuntaskan semuanya," Ajak Amel pada Ken.
Ken menggeleng,"Nggak udah cukup semua ini! Aku nggak mau kamu pakai tubuhku lagi untuk menyakiti oranglain!"
Amel kembali terkikik, "Bukankah ini seperti mutualisme? Aku mendapatkan dendamku dan kamu mendapatkan impianmu? Jadi ayo kita selesaikan semuanya dan kamu akan menjadi satu-satunya siswi populer disekolah."
Ken kembali menggeleng, "persetan dengan nama ketenaran! Aku nggak butuh semua itu!"
Ken berlari kearah Shihi dan bergegas melepaskan ikatannya.
"Ayo kita harus pergi dari sini!" Ajak Ken sembari menarik tangan Shihi.
Amel menyeringai, ia murka karena Ken melanggar perjanjian mereka. Hantu itu terus mengejar Ken dan Shisi.
Buuuuggggg...
Amel menghempaskan tubuh Shisi kebatang pohon ia memuntahkan darah. Sambil terbatuk-batuk ia terus meminta ampun pada hantu Amel.
"Aku mohon lupakan dendammu dan kembalilah dengan tenang," Teriak Ken.
"Orang seperti dia tidak pantas untuk hidup!" Tegas Amel.
Ken tak mau menyerah ia terus membujuk hingga kemudian Amel meminta satu persyaratan, ia menginginkan jiwa Ken ikut bersama nya.
Dengan rasa berat hati Ken mengangguk, sedangkan Shisi terus menangis melihat kejadian itu.
Keesokan harinya... Terlihat Shisi yang masih ada disekitar danau ia duduk sambil memeluk jasad Ken orang yang menjadi pahlawan dalam hidupnya, sebelum akhirnya sebuah ambulance dan mobil polisi berdatangan dan ceritapun TAMAT.
=°°=
hai terimakasih sudah mampir jangan lupa like dan komen ya^^