Tanpa disadari kau menyembunyikannya. Perdengarkanlah suaramu yang sebenarnya, ayolah.
=•=•=
Bintang-bintang kecil bertebaran di atas langit. Cahaya terangnya menyinari suasana malam yang gelap di desa.
Sementara itu, dari salah satu rumah, terlihat seorang gadis berambut pendek sedang bersandar di kursi sambil menatap bintang-bintang melalui jendela. Pikirannya kosong, matanya hanya menatap tapi tidak memedulikan betapa indahnya sinar bintang-bintang ini.
"Hah ...." Ia menghela napas panjang.
Gadis itu lalu membenarkan posisinya menjadi posisi duduk semula. Ia membuka sebuah buku berhalaman tipis dan mulai mencari-cari sesuatu. Setelah membalik beberapa halaman, akhirnya dia menemukannya.
Halaman 13, "Ano Yume wo Nazotte".
Sesaat setelah menatap lirik-lirik lagu ini, dia mulai mengeluarkan suara. Diiringi irama bunyi ketukan meja, gadis itu pun bernyanyi.
"Yume no naka de mieta, mirai no koto ...."
Beberapa waktu berlalu. Ia masih mengalunkan nada-nada dari suaranya seraya menatap langit malam. Bulan yang saat itu kebetulan sedang dalam wujud sempurna pun seolah ikut menikmati lagu ini. Awan bergerak, menyingkir dari hadapan sang rembulan. Membuat pancaran sinarnya terlihat jelas. Masuk ke dalam jendela gadis ini.
Chiyoko Miyazawa namanya. Seorang siswi SMP yang memiliki hobi menyanyi sejak kecil. Tidak, lebih tepatnya bakat. Suara merdunya memang tidak akan bisa menipu siapapun. Suara yang lembut, membuatnya sangat cocok jika dia membawakan lagu sedih.
Meski begitu, Chiyoko sama sekali tidak merasa senang. Karena, tidak ada satupun orang-orang di sekitarnya yang mendukung bakatnya tersebut. Tak peduli berapa kali gadis ini menunjukkan suaranya, akan tetapi tetap saja.
"Menyanyi tidak akan membuatmu mendapat uang." Itulah kata kedua orang tua Chiyoko.
Ini hanya orang tuanya. Masih belum termasuk teman-teman di sekolahnya.
Setelah lagunya telah selesai dinyanyikan, tangan Chiyoko pun berhenti mengetuk meja. Setelah menyanyikan lagu itu, perasaannya menjadi sedikit lebih baik. Ia perlahan bisa melupakan kata-kata menyakitkan dari orang tua dan teman-temannya.
Setelah itu, Chiyoko kembali menatap jendela luar. Tetapi, sepertinya mata gadis ini sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Matanya berkedip dan menyipit. Memejam secara perlahan. Memejam dan akhirnya ... terlelap.
=•=•=
Keesokan sorenya, sepulang sekolah Chiyoko berjalan sendirian menyusuri lorong sekolah. Karena ini adalah jadwalnya untuk membersihkan ruang klub musik. Sambil membawa sapu dan kemoceng, dia membuka pintu ruangan.
Sreet ...
Pintu tergeser ke samping. Suasana sepi adalah suasana yang ditangkap oleh gadis itu. Karena tidak mau berlama-lama di sini, dia pun segera masuk ke dalam dan mulai membersihkan setiap sudut ruangan.
Walau Chiyoko bukanlah tipe gadis penurut, tapi dia sama sekali tidak pernah melawan dan membalas apabila teman-teman sekelasnya membully dirinya.
Bagi Chiyo, melawan bukanlah pilihan yang tepat. Ia lebih memilih untuk mengiyakan. Dan, mengacuhkan.
Di saat dia sedang sibuk menyapu, tiba-tiba tangannya tak sengaja menyenggol sebuah gitar hingga membuat gitar itu jatuh ke bawah. Suara benturan antara badan gitar dan lantai terdengar sangat keras. Seketika Chiyoko tersentak kaget. Dengan sigap, gadis itu langsung mengambil kembali gitarnya.
"Eh, ini baik-baik saja, 'kan?" tanya Chiyoko sambil membolak-balik gitar kayu berwarna coklat muda tersebut. Ia sedang memastikan bahwa gitar itu tidak rusak. "Hahh .... yokatta." Selepas mengetahui kalau gitarnya tidak rusak, dia menghela napas panjang.
Sekilas, terlintas sebuah ide di benaknya. Melihat gitar bagus membuatnya ingin duduk lalu memetik senar-senar gitar ini sembari bernyanyi.
Chiyoko mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Ia tahu bahwa sekarang sekolah telah sepi. Jadi, dia berpikir, menyanyi sebentar tidak ada salahnya.
Gadis itu mengambil sebuah kursi dengan tinggi kira-kira kurang dari seratus centimeter. Dia mendaratkan bagian belakang tubuhnya di sana dan membenarkan posisi mic. Ketika semuanya telah dirasa cukup, Chiyoko pun mulai menyelaraskan napasnya.
"Yoru no sora wo kasaru, kirei na hana ...." Masih dengan lagu yang sama. Lagu favoritnya dikumandangkan sekali lagi. Resonansi suara serta keseimbangan antara iringan musik gitar dan suaranya memang sangat sempurna.
Bahkan, di saat seluruh murid telah pulang, dia masih di sini. Hanya untuk sekedar menyalurkan apa yang dia inginkan.
Namun, lagi-lagi dunia seolah ingin menghalangi kepakan sayap melodi Chiyoko. Tanpa diduga, beberapa gadis berpenampilan glamour membuka pintu klub sekuat-kuatnya. Tentu hal tersebut membuat Chiyo terkejut.
"Heh, kau. Sudah berapa kali kukatakan, jangan pernah menyentuh gitar itu! Itu adalah gitar kesayanganku," pekik salah satu gadis yang berada di baris paling depan. Sudah bisa ditebak, dialah sang pemimpin.
"Tapi, kau sudah menyumbangkan ini ke klub. Jadi, ini milik semua anggota klub, 'kan?" Sambil menatap tajam kedua mata gadis pemimpin itu, Chiyoko dengan tenang memberi jawaban.
Setelah mendengar ucapan Chiyoko, mendadak gadis mewah ini malah tersenyum meremehkan. "Hahahaaa, sebegitu bodohnya kah? Nee, dengar aku. Gitar itu tidak pernah kusumbangkan ke klub dan tidak akan pernah kulakukan."
Chiyoko terdiam. Tak perlu menunggu lama, dia langsung turun dari kursinya. Meletakkan gitar coklat indah di sampingnya. Ia berjalan ke arah luar ruangan. Namun, meski begitu tatapan Chiyoko tidak mengarah kepada satupun dari gadis-gadis itu.
Alasannya, karena Chiyoko merasa malu.
Akan tetapi, di saat dia merasa bahwa ini hanya akan berakhir begini. Tiba-tiba, gadis itu mengangkat satu kakinya. Membuat Chiyoko tersandung dan pada akhirnya terjatuh.
Bruk!
"Awhhh ...."
"Hahahaahaa, oi oi Chiyoko. Ingat, ya. Kau itu tidak cocok menjadi penyanyi. Suaramu itu sangat cempreng dan jelek, semua orang pasti akan kabur waktu mendengar suaramu," ucap salah satu gadis tadi, lalu melanjutkan, "let's go, Girls."
Mereka berjalan pergi. Gelak tawa puas keluar dari mulut mereka. Sementara itu, Chiyoko menahan sedikit rasa sakit di lututnya. Ia bangkit.
Melupakan kejadian yang baru saja dialaminya. Chiyoko berjalan ke arah berlawanan. Ke arah gerbang sekolah. Tanpa disadari oleh dirinya, air mata mengalir dari sudut mata kirinya.
Walau dia sama sekali tidak mengkehendakinya, tapi air mata itu mengalir begitu saja. Seraya berjalan tertatih-tatih, punggung tangannya mengusap air mata penuh kesedihan tersebut.
=•=•=
Ketika Chiyoko sedang dalam perjalanan pulang, daun telinganya menangkap sebuah suara. Suara nyanyian seseorang, suaranya berat dan rendah tapi terdengar sangat menyatu dengan suara kibor.
Dan, yang membuat gadis itu menghentikan langkah kakinya adalah karena suara itu tengah menyanyikan lagu "Tabun". Lagu buatan grup band duo favoritnya. Benar, YOASOBI.
Karena merasa penasaran, Chiyoko pun mencari-cari sumber suara itu. Setelah cukup lama mencari, akhirnya dia menemukannya. Dikerumuni oleh banyak orang, terlihat seorang laki-laki muda sedang bernyanyi bahagia. Dia menyanyi dengan suara maksimalnya. Seperti tidak ada beban yang mengganggu laki-laki tersebut.
Suara yang lembut. Pergantian lirik membuat suaranya menyeret. Saat Chiyoko menatap wajah orang itu, matanya langsung terbuka lebar. Rambut hitam teratur, wajah tampan serta kulit putihnya, semua itu terlihat sempurna.
Jantung Chiyoko berdebar kencang. Ia tidak percaya bahwa ada seorang pengamen jalanan berparas tampan sepertinya.
Detik demi detik, menit demi menit, telah berlalu. Chiyoko menikmati suara lembut dari si pengamen tampan ini. Sampai sampai dia tidak sadar bahwa lagu yang telah dibawakan telah selesai.
"Baiklah. Untuk selanjutnya, aku masih membawakan lagu dari YOASOBI. Kali ini berjudul 'Haruka'. Tapi, mungkin kalian akan bosan kalau mendengar suaraku terus. Jadi, mari kita pilih secara acak penonton yang akan ikut bernyanyi bersamaku. Siapa yang mau?" Pemuda itu menawarkan.
Dengan cepat, para penonton yang didominasi oleh para gadis sekolah mengangkat tangannya. Tak terkecuali Chiyoko. Namun, suara kecilnya terhapus oleh suara teriakan antusias para gadis lainnya. Jadi, gadis itu berpikir bahwa, bisa terpilih adalah sebuah hal yang mustahil.
Namun, siapa sangka.
"Baiklah, gadis rambut pendek di sebelah sana! Sini!" teriak laki-laki dengan jari telunjuk mengarah ke Chiyoko.
Chiyoko menengok ke kanan dan ke kiri. "Eh? Aku?" tanyanya tidak percaya.
Si pengamen mengangguk. "Ya, kau! Ayo maju!" jawabnya.
Meski diiringi rasa ragu-ragu yang kuat, tetapi akhirnya Chiyoko memberanikan diri untuk mendekat. Semua tatapan mata mengarah padanya. Membuat rasa keberaniannya sedikit demi sedikit terkikis.
Tap.
Langkahnya berhenti saat dia telah berdiri di dekat laki-laki itu.
"Baiklah. Kamu mau menyanyi pakai gitar?" tanya si pengamen.
"Eh?" Chiyoko terkejut. "E-eh, apa ada?" lanjutnya berbalik tanya.
"Tentu saja!" Dia berbalik mengambil sebuah gitar yang tersandar di kaki alat musik Kibor miliknya. "Ini," ucapnya sambil menyerahkan sebuah gitar berukuran sedang.
Chiyoko meraih badan gitar lalu memposisikannya dalam posisi nyaman. Mengatur posisi mic agar bisa pas dengan mulutnya. Setelah semua dirasanya cukup, dia berbalik menatap laki-laki pengamen seraya menganggukkan kepalanya.
Mengerti akan kode yang dimaksud. Si pemuda mulai menggerakkan jari jemarinya. Sehingga terciptalah suara musik. Karena lagu yang akan dibawakan adalah 'Haruka', maka arrangement yang tercipta pun harus terkesan ceria.
Ketika musik telah berbunyi, tanpa ada aba-aba atau perintah, Chiyoko mulai menggerakkan kedua tangannya. Mengatur kunci serta memetik senar gitar secara cepat, mengikuti tempo musik yang juga cepat.
"Omoidasu no wa deatta hi no koto~" Seperti biasa, suara lembut gadis ini terdengar sangat cocok dengan musiknya. Lagi-lagi.
Semua tatapan para gadis yang awalnya kesal seketika berubah menjadi kagum.
Suara gadis ini terlalu bersih. Itulah pikiran mereka. Mereka terpukau hingga membuat rahang bawah mereka turun, nyaris lepas.
=•=•=
Singkat cerita, setelah konser kecil jalanan itu berakhir. Si pengamen dan Chiyoko pun duduk di bangku plastik yang memang sengaja dibawa.
"Hei, suaramu bagus sekali. Aku sangat menikmati duet bersamamu," puji laki-laki tersebut.
Chiyoko hanya membalasnya dengan senyuman malu-malu. "Ah, tidak, kok. Suaraku tidak sebagus itu."
"Sungguh, aku tidak berbohong," ucapnya, lalu melanjutkan, "oh iya, kita belum berkenalan. Aku Tokisho Mirai. Siapa namamu?" tanya Tokisho sambil memperkenalkan diri. Satu tangannya menjulur, meminta Chiyoko untuk menjabatnya.
Gadis itu menjabat tangan Tokisho pelan. "Aku Chiyoko Miyazawa. Salam kenal."
"Chiyoko? Waahh, nama yang cantik. Oh ya, suaramu sangat bagus, apa kau sudah pernah ikut lomba pencarian bakat atau semacamnya?"
Chiyoko tertawa kecil. "Hehehe, aku belum pernah." Mimik wajahnya berubah 180 derajat. "Kedua orang tuaku tidak mengizinkanku untuk bernyanyi," jelasnya.
Tokisho menatap lekat Chiyoko. Ia lalu tersenyum. "Yaahh, ternyata kita memiliki kisah yang sama."
"He? Maksudnya?"
Tokisho mengalihkan pandangannya menatap Kibor miliknya. "Ayahku juga melarangku bernyanyi dari kecil. Dia sama sekali tidak tahu apapun tentang hidupku. Tapi, dia selalu memerintah," lanjutnya menceritakan.
"Dan beginilah aku. Walaupun dia mengusirku dari rumah, tapi aku masih bisa tetap hidup hanya dengan bernyanyi. Ayahku harusnya bangga, 'kan?"
Sepasang alis Chiyoko terangkat ke atas. Ia menunduk. "Aku ... tidak tahu."
"Sukai apa yang kau suka," singkat Tokisho.
"Eh?"
Tak mau terjebak dalam situasi sunyi terlalu lama, Tokisho langsung mengubah topik pembicaraan. "Hahahaa lupakan! Ekhem, jadi begini Chiyoko. Karena suaramu sangat bagus, jadi aku akan memberi tawaran!" teriak Tokisho sembari meraih kedua tangan Chiyoko secepat kilat.
"E-eeh?"
"Mari kita buat duo band kita sendiri. Dan kau adalah vokalisnya. Jadi, kau mau menerima tawaranku ini, kan, Chiyoko?" tanya Tokisho berantusias.
Jarak pandangan mata diantara keduanya terlihat sangat dekat. Kira-kira 30 centimeter. Tentu saja, terjebak dalam keadaan seperti itu membuat pipi Chiyoko memerah.
"I-iya."
=•=•=
Sejak saat itu. Sepulang sekolah, Chiyoko dan Tokisho akan bertemu di tempat yang sama. Mereka berdua memutuskan untuk membentuk sebuah band duo.
Semakin hari, band mereka semakin terkenal. Banyak orang telah mempublikasikan video mereka ke khalayak ramai lewat media sosial. Kebanyakan dari mereka memberikan tanggapan positif. Dan, tidak sedikit juga yang penasaran dan akhirnya pergi ke sana hanya untuk mendengar performa band duo yang sedang dibicarakan hangat ini.
Hari itu, Chiyoko dan Tokisho tampil seperti biasanya. Kali ini mereka membawakan lagu berjudul "Taisho Romansu", lagu buatan YOASOBI juga. Karena mereka berdua sama-sama fans YOASOBI.
Dan seperti biasa, sorak sorai penonton memeriahkan penampilan mereka sore ini.
Sementara itu dari kejauhan, seorang wanita mengenakan atribut serba hitam serta masker dengan warna senada–sedang memperhatikan Chiyoko dan laki-laki itu dengan seksama. Berbeda dari para penonton lainnya, wanita itu hanya melihat tanpa bersorak sorai atau bahkan ikut bernyanyi. Dia mengambil ponselnya. Kemudian mulai memasukkan sebuah nomor ponsel.
=•=•=
Keesokan paginya, mentari pagi muncul untuk menyapa Chiyoko. Sinar terang menyilaukan menerobos masuk lewat jendela transparan kamar gadis itu.
"Pagi, Chiyoko." Seperti itulah ucap sang mentari, jika memang dia bisa bicara.
Di tengah-tengah lelapnya tidur, mata Chiyoko mulai memberi respon. Kelopak matanya bergerak-gerak, menyatu ke satu arah. Perlahan, dia mulai membuka matanya yang lengket.
Ia langsung bangkit dari posisi tidurnya. Memfokuskan pandangan mata sambil menggaruk-garuk bagian belakang lehernya.
Ting tleng.
Suara notifikasi ponsel adalah suara yang ditangkapnya pertama kali. Diambillah ponsel berwarna putih itu.
Awalnya dia tidak bersemangat, tapi setelah melihat apa yang ada di notifikasi e-mailnya, Chiyoko langsung melompat girang.
"Kompetisi pencarian bakat Band generasi milenial! Dengan total hadiah 200 ribu yen serta bonus rekaman lagu di bawah label Somy!"
Setelah membaca pesan serta poster kompetisi itu, dia semakin berteriak girang. Ia melompat-lompat di kasurnya, seperti seorang anak kecil yang hendak diberi permen.
Chiyoko menghentikan selebrasi gembiranya untuk sesaat. Mengesampingkan betapa senangnya dia sekarang, gadis itu membuka kembali ponselnya. Lalu melihat, siapa pengirim pesan ini agar dia bisa memastikan ini penipuan atau bukan.
Ikutalilas@gmail.com
"Ikuta lilas?" Ia terdiam sejenak. Meluangkan waktu untuk berpikir. "Namanya seperti tidak asing. Tapi, di mana aku melihatnya, ya?"
"Ahh sudahlah."
Dia kembali meneruskan ekspresi girangnya. Hingga dia lupa, bahwa orang tuanya tidak setuju dengan mimpinya yang ingin menjadi seorang penyanyi.
=•=•=
Sore harinya setelah pulang sekolah. Chiyoko berlari sambil berteriak penuh rasa senang. Ia menghampiri Tokisho yang sedang menyiapkan alat-alat musik untuk penampilan mereka sore ini.
"Tokisho-san! Tokisho-san!" teriak Chiyoko memanggil nama Tokisho berkali-kali.
Melihatnya begitu, membuat Tokisho menghentikan pekerjannya.
"Kenapa, Chiyoko?"
"Hah ... hah ... hah ...." Napas Chiyoko terengah-engah karena dia berlari dari sekolah ke sini tanpa berhenti. Ia mengatur ritme napasnya agar bisa segera memulai penjelasan. "Tokisho-san, hah ... hah ... aku ... punya kabar baik!" lanjut Chiyoko tidak sabar menyampaikan kabar itu ke Tokisho.
"Hm? Apa?"
"Sebentar." Chiyoko membuka tasnya lalu mengambil sesuatu. Itu ponselnya. "Ini, lihatlah! Ada kompetisi pencarian bakat band. Apalagi, ini khusus untuk anak sekolah. Tokisho-san, aku harap kau mau ikut!" sambung Chiyoko seraya menatap Tokisho penuh harap.
Tokisho mengangkat alisnya. "Eh? Apa kau mendapatkan pesan itu dari akun e-mail Ikutalilas?"
Chiyoko yang awalnya girang seketika langsung terdiam. "Kok kamu tahu?"
"Yah, karena aku juga dapat pesannya. Padahal, aku mau memberi tahumu nanti." Tokisho merogoh saku kanannya, mencari-cari ponsel miliknya. "Ini." Ia lalu menunjukkan pesan yang dikirim oleh akun yang sama.
Chiyoko memperhatikan layar ponsel Tokisho dengan saksama. "Artinya, kamu juga ingin ikut kompetisi ini, iya, kan?"
"Tentu saja," jawab Tokisho pendek.
Senyuman bahagia Chiyoko muncul kembali. "Baiklah, aku juga ingin ikut!" teriaknya disertai tawa bahagia.
Melihat Chiyoko tertawa kegirangan, Tokisho pun juga tertawa kecil.
=•=•=
Sesampainya di rumah. "Tadaima!" Sambil melepas sepatu hitamnya, Chiyoko berteriak.
Namun, baru beberapa langkah dia berjalan. Sebuah pemandangan mengerikan langsung tersaji di depan mata. Langkah Chiyoko terhenti. Pasalnya, ayah dan ibu dari gadis itu saat ini sedang duduk di bangku sofa ruang keluarga. Mungkin, itu tidak menakutkan. Akan tetapi, yang membuat Chiyoko ketakutan adalah tatapan mereka.
Kedua orang tua Chiyoko menatap putri tunggalnya itu dengan tatapan sinis. Berpura-pura tidak tahu, Chiyoko membuang tatapan matanya ke arah berlawanan dan mulai melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Chiyoko!" Namun, suara itu membuat Chiyoko menghentikan langkahnya, lagi. Suara seorang wanita. Itu ibunya.
Gadis itu berbalik menatap kedua orang tuanya. "A-Ada apa, Bu?"
Ibunya tak bersuara untuk beberapa saat setelah Chiyoko merespon panggilan dari wanita tersebut. "Dari mana saja kamu, hem? Ibu tahu, beberapa hari terakhir kamu selalu bolos jadwal les. Kenapa?" tanyanya dengan suara berat. Suara yang mengerikan.
Chiyoko meneguk ludahnya. "I-itu karena ... emmm ... KLUB! Beberapa hari terakhir, seluruh anggota klub matematika sedang belajar ekstra karena ingin menghadapi olimpiade. Jadi, aku tidak sempat pergi les," ujarnya mengarang cerita agar bisa terhindar dari amukan.
Ibunya tak bersuara lagi. "Lalu, apa maksudnya video ini?" lanjutnya bertanya sambil menunjukkan sebuah video di ponselnya.
"Hm?"
"Aru hi totsu zen ni sore wa ...
Chiyoko terkejut ketika melihatnya. Itu adalah video saat dia sedang membawakan lagu 'Taisho Romansu'. Perasaan gadis itu langsung membeku. Bagaikan terkena tusukan pedang dalam hati.
Setelah ibunya menunjukkan video itu, kali ini gilaran ayahnya yang bertindak. Ia menutup korannya.
"Chiyoko, sudah berapa kali ayah bilang kepadamu? Jangan pernah menyanyi! Cobalah untuk fokus meraih ranking kelas," kata ayahnya jelas tidak setuju.
"Apa kau tahu? Ayah dan ibu melakukan ini semua demi kamu. Kamu itu satu-satunya kami, Nak. Jadi, ikuti saja apa yang ibu katakan," timpal ibunya.
Chiyoko menunduk. Menutupi wajah di balik rambut pendeknya. Samar-samar terdengar suara.
"Hah, kalau memang kalian melakukan ini semua demi aku. Kenapa kalian tidak mencoba untuk memahamiku?" Chiyoko mengangkat kepalanya tegak. "KENAPA KALIAN TIDAK BISA MEMAHAMIKU? Cukup! Ibu, ayah, aku ingin melakukan hal yang kusukai. Hentikan! Aku tidak mau mendengar apa yang kalian katakan. Aku sudah muak dengan itu. Dan juga, lima hari lagi akan ada kompetisi band. Kalian mengizinkan atau tidak, aku akan tetap ikut. Terserah kalian mau melihatku atau tidak."
Setelah mengatakan itu, Chiyoko melangkahkan kaki cepat. Membanting pintu kamar sekuat-kuatnya.
"CHIYOKO!" teriak ibunya berusaha menghentikan langkah gadis itu. "Haisshh, anak itu ...," gumamnya.
Sepintas, muncul sebuah rasa di hatinya. Ia menatap kamar Chiyoko dengan perasaan tidak nyaman.
=•=•=
5 hari kemudian ...
Tiba saatnya di mana Chiyoko dan Tokisho mengikuti kompetisi band itu. Dalam jangka waktu yang pendek tersebut, mereka telah menyiapkan semuanya. Menentukan lagu yang akan dibawakan, memperbaiki penampilan, serta melatih kemampuan. Bahkan, mereka juga telah menentukan nama duo band mereka. "Yorunouta".
Di bawah panggung, Chiyoko mengintip sedikit suasana di atas panggung. Tampak sebuah band beranggotakan empat orang sedang tampil. Gemerlap cahaya menghiasi panggung. Membuat mereka terlihat semakin menakjubkan. Tanpa sadar, mata Chiyoko berbinar.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka selesai membawakan lagu. Mereka berempat pun turun dari panggung.
"Peserta selanjutnya, band yang akhir-akhir ini naik daun berkat penampilan luar biasanya! Mereka akan membawakan lagu Gunjou! Kita sambut, YORUNOUTA!" ucap pembawa acara mempersilahkan Chiyoko dan Tokisho untuk naik ke atas panggung.
"Ayo, Chiyoko!" ajak Tokisho sambil tersenyum.
Chiyoko mengangguk paham.
Mereka berdua berjalan langkah demi langkah menuju ke tengah panggung. Tepuk tangan meriah dari para penonton menyambut mereka berdua.
"Chiyoko! Aku penggemar beratmu!" teriak seorang pria sambil menunjukkan kipas bergambar wajah Chiyoko.
"Tokisho-kun! Ganbattee!" Sementara itu, di sisi para gadis, mereka menyemangati Tokisho.
Pertama, Chiyoko menatap ke arah juri yang mana terdapat banyak sekali musisi-musisi modern Jepang. Ikura, Ayase, Ado, Harutya, dan juga Kobasolo. Kedua, Chiyoko menatap ke arah penonton. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat kedua orang tuanya sedang duduk sambil menatapnya dengan serius. Chiyoko juga melihat ketiga gadis yang membully waktu itu. Ia melihat banyak sekali orang-orang yang dikenalnya.
"Chiyoko, kau sudah siap?" tanya Tokisho
Chiyoko menengok ke laki-laki itu. Ia mengangguk. Namun, jauh dalam hatinya, dia takut. Gadis itu merasa tidak percaya diri.
Ia menyesuaikan posisi mic agar bisa nyaman. Namun, ketika dia ingin bernyanyi, perasaan takut menyelimuti tubuhnya lagi. Chiyoko terpaku, terdiam mematung.
Dari belakang, Tokisho bisa membaca situasi ini. Ia tahu bahwa Chiyoko merasa tidak percaya diri. Pemuda itu memulainya lebih dulu.
"Aa, itsumo no youni, sugiru hibi ni akubi ga deru ...." (Ah, seperti biasanya, aku menguap pada hari yang berlalu ....).
Tidak seperti dugaan para penggemar dan para juri, ternyata yang memulai lagu bukanlah sang vokalis.
"Sanzameku yoru, koe, kyou mo~" (Melalui malam yang gila, bahkan hari ini~).
"Shibuya no machi ni asa ga furu~" (Pagi pun datang di kota Shibuya).
"Doko ka munashii you na~" (Rasanya terasa begitu hampa~).
"Sonna kimochi~" (Perasaan semacam ini~).
"Tsumaranai na~" (Sangat membosankan~).
"Demo sore de ii~" (Tapi bagiku tak masalah~).
"Sonna mon sa~ (Karena hal semacam itu~).
"Kore de ii~ (Lebih baik seperti ini~).
Setelah menyanyikan beberapa lirik pembuka, Tokisho melanjutkan ke lirik yang memang menjadi bagiannya untuk bernyanyi. Namun, anehnya, Tokisho bernyanyi dengan suara yang lebih keras daripada yang dia lakukan pada saat latihan.
"Shirazu shirazu kakushiteta~" (Tanpa disadari, kau menyembunyikannya~).
"Hontou no koe wo hibikasete yo, hora~" (Perdengarkanlah suaramu yang sebenarnya, ayolah~).
Hal itu menarik perhatian Chiyoko. Ia bingung kenapa Tokisho bernyanyi lebih keras. Mendadak, dia mengingat kembali perkataan Tokisho saat latihan.
"Chiyoko, ingat ini, ya. Kalau aku menyanyi dengan suara yang sedikit keras, maka itu pasti sebuah kode. Saat aku melakukan itu, kau harus memahami setiap lirik yang kunyanyikan. Dan resapilah," ujar Tokisho dalam klise ingatan Chiyoko.
"Minai furi shite ite mo~" (Meski berpura-pura tak melihatnya~).
"Tashika ni soko ni aru~" (Hal itu pasti ada di sana~).
Ketika mendengar bagian lirik ini, Chiyoko membisu. Akhirnya, dia tahu maksud dari memahami dan meresapi. Ia tersenyum. Semua rasa takut dan tidak percaya dirinya seketika lenyap.
"Aaaa, Kanjita mama ni egaku~" (Aku menggambar dengan perasaanku~).
Chiyoko menarik napas panjang, menempatkan suaranya di nada tertinggi. Lalu menurunkannya dengan cepat, sesuai irama melodi.
"Jibun de eranda sono iro de~" (Dengan warna yang telah kupilih sendiri~).
"Nemui kuuki matou asa ni~" (Di pagi hari yang masih mengantuk~).
"Otozureta aoi sekai~" (Aku mengunjungi dunia yang biru~).
"Suki na mono wo suki da to iu~" ("Sukai apa yang kau sukai" katanya~).
"Kowakute shikatanai kedo~" (Tapi aku hanya bisa merasa takut~).
"Hontou no jibun~" (Diriku yang sebenarnya~).
"Deaeta ki ga shita nda~" (Aku merasa telah bertemu dengannya~).
Chiyoko telah menemukan jati diri yang sebenarnya. Sekarang, dia tidak takut dengan mimpinya lagi, dia juga merasa sangat percaya diri. Cahaya panggung bersinar terang bersatu ke arahnya. Pada saat yang bersamaan, gadis itu menemukan gayanya.
Ia mengambil mic berwarna hitam tersebut. Kakinya melangkah ke seluruh sudut panggung, mengeksplorasi seisi panggung. Suaranya sangat indah. Membuat seluruh penonton bergemuruh, meneriakkan nama Chiyoko.
Tokisho tersenyum tipis saat melihat Chiyoko dapat menyanyi tanpa adanya beban. Seluruh penonton ikut menyanyikan lagu Gunjou. Berteriak mengikuti gerak bibir Chiyoko. Bahkan para juri juga. Termasuk Ikura dan Ayase.
=•=•=
Setelah seluruh peserta menunjukkan bakatnya, para juri pun mulai berdiskusi untuk menentukan siapa pemenang dari kompetisi ini. Chiyoko dan Tokisho berdo'a bersamaan karena mereka tahu ini sulit. Mereka berdua telah melakukan yang terbaik, tapi peserta lain juga.
Akhirnya, juri telah memutuskan tiga nama.
"Baiklah, akhirnya kita sampai pada waktu penentuan. Pengumuman ketiga juara kompetisi band generasi milenial!" ucap sang pembawa acara. "Mari kita mulai dari juara ketiga. Hmm ... yaap. Mari kita ucapkan selamat kepada ... Grup Band SHiNka!"
Host mengumumkan ketiga juara satu per satu. Grup Band SHiNka pun berteriak kegirangan.
"Untuk juara duaa, mari kita beri tepuk tangan yang kuat kepada ... YORUNOUTA!"
Mendengar nama bandnya disebut, Tokisho berteriak girang. Dia sangat senang. Senyuman lebar terlukis di wajahnya.
Berbanding terbalik dengan reaksi Tokisho.
Deg!
Jantung Chiyoko seolah berhenti berdetak ketika mendengarnya. Nama band mereka disebut, tapi bukan juara satu melainkan juata dua. Ia tertunduk lesu.
Tokisho pun berhenti bergerak. "Eh? Kau kenapa, Chiyoko? Kenapa kau sedih begitu?" tanya Tokisho bingung.
Chiyoko menghela napas. "Tokisho-san, aku minta maaf. Gara-gara aku, kita gagal menjadi juara pertama. Padahal, impian kita adalah rekaman lagu. Hah ...."
Laki-laki itu tersenyum ramah. "Heei, jangan sedih begitu. Tidak apa-apa, kau sudah melakukan yang terbaik," ungkap Tokisho. "Lagi pula, kita juga tetap bisa merekam lagu, kok. Juara satu sampai tiga diperbolehkan untuk ikut rekaman lagu."
"Heh? Beneran?"
=•=•=
Chiyoko dan Tokisho kembali dengan senyuman bahagia di wajah mereka. Ternyata benar, yang boleh merekam lagu bukan hanya juara satu. Tapi juara satu sampai tiga. Hal itu membuat Chiyoko tidak sedih lagi.
Saat mereka berniat pulang, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari arah belakang. "Chiyoko! Tokisho!" Suara seorang perempuan. Suaranya sangat lembut.
Mereka berdua berbalik. Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa yang memanggil adalah Ikura–vokalis YOASOBI.
Terlihat di samping Ikura terdapat banyak musisi kondang. Kenshi Yonezu dan para juri.
"I-Ikura-san?!"
Ikura tertawa kecil. Dia mendekati Chiyoko. "Iya, ini aku hahahaahaa. Oh ya, selamat, ya Chiyoko, Tokisho. Walaupun kalian belum bisa menjadi yang pertama tetapi penampilan kalian berdua memang sangat luar biasa," ungkap Ikura. "Bahkan, aku ikut bernyanyi tadi haha! Terima kasih karena kalian telah membawakan lagu kami."
"Haaa, sa ... sama-samaa! A-Aku juga senang membawakan lagu Ikura-san dan juga Ayase-san."
Ayase menyahut, "Aku merasa tersanjung."
"Hahahaaha." Gelak tawa pecah di antara mereka.
"Suaramu bagus sekali, Chiyoko!" ucap Harutya.
"Terima kasih, Harutya-san!"
"Yo, Tokisho, caramu bermain kibor bagus sekali. Saat seusiamu, aku itu masih menekan-nekan menggunakan jari telunjuk, kau tahu." Ayase memuji Tokisho.
Laki-laki itu tertawa kecil. "Haha, tidak juga, kok. Ayase-san lebih luar biasa lagi. Aku tidak sebaik itu," ucap Tokisho merendah.
"Baiklah, kami pergi dulu, ya. Intinya, kalian itu sangat luar biasa!"
"A-Arigatou gozaimashita!"
Ikura tersenyum. Mereka berjalan pergi ke arah yang berlawanan. Tokisho dan Chiyoko menatap mereka dengan senyum senang. Namun, saat sedang berjalan, Ikura berhenti. Dia berbalik.
"Chiyoko!" panggil Ikura.
"Eh?"
Ikura memertahankan senyuman imutnya. "Kapan-kapan, kita duet, ya? Ehe."
Chiyoko tersenyum lebar. Dengan spontan, dia menjawab. "Haik!"
Ikura berbalik lagi, tangannya melambai-lambai di udara. Ia dan para musisi lainnya berjalan menuju ruang tunggu.
Sementara di sana, Chiyoko tersenyum sangat lebar. Pengalaman yang tak terduga mengantarkannya menjadi seorang penyanyi terkenal. Bertemu dengan banyak musisi serta idolanya.
"Arigatou."
~ Tamat ~
• Ada sedikit unsur fanfic YOASOBI
• Jangan lupa like & komen, ya.
• Lirik lagu Gunjou kuambil dari internet
• Boleh saran kalau menemukan ada yang salah