Naif. Kau bukan seorang yang naif. Hanya saja bodoh dan apa adanya.
Pamflet yang baru saja di pasang itu membuatnya berhenti dari aktivitas lari paginya. Isi dari pamflet itu tak lain adalah tawaran murah dari kamar yang terkesan mewah. Tempatnya berada di apartemen XX yang memiliki 3 bintang. Itu sudah cukup baginya.
Setelah menelepon nomor yang tertera di atas kertas putih itu, dia langsung meminta agar bertemu di kamar yang ditawarkan secepat mungkin. Dan sesampainya dia di apartemen itu, ada seorang pria yang tengah menunggu diluar gedung tersebut.
Pria itu terlihat seperti orang yang serius, namun santai. Hanya saja, dia terlihat seperti pernah dilihat oleh gadis tersebut di suatu tempat. Pria itu pun tersenyum padanya melihat pelanggannya datang sesuai janjinya. Dengan senyuman itu, dia terlihat hampir seumuran dengannya.
"Apa kau menunggu lama?" Tanya dia pada pria itu.
"Ah, tidak. Aku juga baru sampai." Jelas pria itu. Walau sebenarnya dia datang terlalu awal. "Namaku Carlos de herramienta. Apa kau kesini ingin menawar lagi atau semacamnya? Karena kau terlihat cukup berkeringat mengingat beberapa pelanggan yang cukup putus asa untuk mencari tempat tinggal." Sambungnya panjang lebar.
"Oh! Bukan! Aku tadi sedang lari pagi. Aku hanya tidak langsung pulang kerumah untuk mengecek apa yang harus aku pakai. Yah, lagipula Aku tak terlalu... memperhatikan penampilan. Apa kau keberatan?" Tanya gadis itu.
"Tentu tidak. Baiklah, sebelah sini nona." Kata pria itu.
Mereka melewati berbagai macam pintu dan menaiki lift sebanyak 3 kali. Aneh? Tapi ia tak menghiraukannya. Melewati pintu lagi, lagi dan lagi. Sampai dia melihat pintu warna ungu dengan salah satu not musik tertempel rapi di depan mata.
Cklek
"Bagaimana?" Tanya Carlos pada pelanggannya. Gadis itu terdiam dan terkesima dengan apa yang ia lihat. "Dan jangan menghiraukan not itu. Jika kau mau, kau bisa melepaskannya." Sambungnya sambil menunjuk not yang tertempel tadi.
"Aku suka." Kata gadis itu.
Beberapa menit kemudian. Pria itu menjelaskan berbagai macam hal yang biasanya dilontarkan pada pelanggannya. Dalam hati, Carlos berharap tawarannya dapat diterima oleh gadis itu.
"Jadi... bagaimana?" Tanya Carlos.
"Aku setuju!" Jawabnya.
"Tidak keberatan dalam ruangan yang di tawar?"
"Tidak." Jawab gadis itu.
"Kau bisa tinggal disini untuk sementara." Kata Carlos. "Untuk melihat lebih jelas. Baru kau bisa memutuskannya."
"Boleh aku ke rumahku dahulu?" Tanya gadis itu.
"Tidak! Jangan!" Bentak Carlos. Sontak gadis itu terkejut. "Ah, maaf. Jika ada barang penting akan aku kirimkan sekarang." Jelasnya.
"Oh... kurasa... tidak ada. Oh, mungkin ada beberapa perangkat di rumahku. Umm... mungkin aku akan membawanya sendiri saja." Kata gadis itu.
"Tidak, tidak biar aku saja." Katanya.
"Baiklah..." Ucap gadis itu walau agak sedikit meragukan.
Gadis itu berbalik memperhatikan piano yang menjadi pertama kali ia lihat saat memasuki ruangan tersebut. Sementara Carlos, sibuk dengan telepon masuk. Dia bergegas menuju pintu untuk keluar.
"Oh, ya. Apa ada jalur tercepat menuju lift?" Gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Nanti akan aku beritahu lagi." Jawab Carlos.
"Oke!" Pria itu menutup dan mengunci pintu tersebut.
Gadis itu hanya menuju dapur dan tersenyum lebar. Itu karena makanan favoritnya bertengker manis dalam lemari makanan. Lalu dia kembali menuju piano dan duduk di kursi yang telah tersedia. Lagunya sederhana. Dia lebih memilih lagu 'twinkle-twinkle little stars' daripada lagu hits. Sampai tak kenal waktu.
BANG!
"Astaga! Jam berapa sekarang?!" Lalu dia melihat jam dinding yang menunjukkan jam 9.11 dan berbalik menuju kamar mandi. Kalau saja tidak ada janji yang ia buat kemarin, dia tak akan terburu-buru untuk pergi ke tempat kuliahnya.
Dengan cepat dia membuka lemari pakaian yang terkesan elegan. Apa benar aku boleh memakai semua ini? Pikirnya. Kalau saja tak ada janji temu, mungkin dia lebih memilih menjelajahi lemari tersebut.
Dia berlari menuju pintu keluar dan memegang gagang pintu tersebut. Tapi, yang ia dapatkan malah getaran di tangannya.
"Apa?!" Teriaknya. Dengan segera dia menelepon pria itu.
"Halo?" Suara di telepon terdengar agak berisik.
"Bagaimana cara membuka pintu? Apa pintunya macet atau semacamnya?!" Katanya agak kesal.
"Ah, maafkan aku! Itu kebiasaanku untuk mengunci pintu ruangan itu." Kata Carlos.
"Hah..." Gadis itu menghela nafas panjang.
"Maafkan aku! Aku benar-benar tidak akan menyangka akan hal seperti ini terjadi..." katanya. "Kalau begitu secepat mungkin aku akan kesana setelah urusanku selesai. Tidak akan lama. Mohon maafkan aku!" Sambungnya agak menyesal.
"Huff... baiklah... secepatnya ya?" Kata gadis itu pasrah.
"Tentu." Lalu telepon ditutup.
Secepat mungkin dia menelepon orang yang terlibat dengan janji temunya.
"Ah, maafkan aku atas keterlambatanya pak. Sungguh, ada kejadian yang tak terduga akan menimpaku pada hari ini." Katanya.
Dia menunggu jawaban dari sebrang sana.
"Ti-tidak apa-apa. Sebaiknya kau persiapkan dengan matang apa yang harus kau persiapkan nanti dan ada salam dari dosenmu. Katanya kau bisa mengambil liburan sekarang." Kata suara yang agak parau itu. Terdengar agak gugup. Atau lebih tepatnya tergagap?
"Tapi kan..." perkataan gadis itu terpotong oleh suara yang agak membentak.
"Tidak! Kau harus liburan. Oke? Kalau begitu akan aku tutup." Teleponnya terputus.
Dia terdiam sejenak dan mulai duduk di kursi dekat piano tadi. Walau dia tahu pertemuan itu penting, namun nyatanya dia malah disuruh liburan. Pemilik suara tersebut malah agak sedikit mencurigakan. Dia hampir seperti di ancam.
Entah bosan atau apa, ia pun teringat dengan kertas yang tersalip di beberapa tempat. Yang satu ada di kamar mandi tepatnya di lemari obat. Saat dia membacanya ia cukup terheran-heran.
"Sederhana dan rumit itu berbeda. Jadilah seperti air. Apa maksudnya?" Tanya gadis itu.
Lalu dia mencari kartu yang kedua. Agak sulit untuk mengingat dimana letaknya. Dia hanya mengira-ngira dimana kartu lain diletakkan. Dan rak buku adalah jawaban.
"Ah! Ini dia. Sederhana dan rumit itu sama. Hal kecil itu sangat penting. Dan apa? Kenapa kartu ini ada?" Gadis itu bertanya-tanya. Sementara yang ketiga terselip diantara laci dapur.
"Sederhana namun rumit. Budak tetaplah budak. Ini malah jadi agak mengerikan!" Protesnya. "Lalu yang terakhir ada di... piano! Ya, piano itu! Kukira itu merek atau kartu nama." Sambungnya.
Dia menghampiri piano tersebut dan terlihat ada kartu yang terselip diantara tuts yang nyaris tak terlihat.
"Rumit namun sederhana. Not yang bermasalah. Apalagi ini?!" Di geram dengan tingkah orang yang membuat tempat ini jadi semakin mengerikan baginya.
Kini semua kartu itu ada diatas meja makan. Ia masih tidak yakin dengan apa yang ia temukan. "Aku sebaiknya mencuci mukaku." Katanya dan beranjak ke wastafel.
Setelah membasuh mukanya, air yang terbuang tak kunjung turun. Melihat ke bawah wastafel untuk memeriksa apakah ada yang salah. Tapi, dia mendapati semburan air yang tak terduga ketika dia menggeser sedikit pipa pembuangan wastafel tersebut. Tepat di matanya.
"Aaakkhh...!!" Teriaknya. Dia pun mencoba menjauh dari semburan air tersebut. Walau pandangannya agak kabur, ia dengan terburu-buru menuju kamar mandi untuk mengambil handuk.
BUGH
Dia menabrak sesuatu yang hangat.
"Are you oke?" Kata suara itu.
"Kau tidak lihat ada yang salah di ruangan ini?! Dan ada apa dengan bahasa inggris itu!?" Dia mengusap matanya agar melihat pandangan dengan jelas. "Ah, oh. Maaf aku tadi agak kasar."
"Tidak apa-apa. Aku membawa sesuatu yang mungkin kau butuhkan." Katanya. Rupanya dia adalah Carlos.
"Kenapa wastafelnya seperti itu?" Tanya gadis itu.
"Ah... aku akan memperbaikinya." Kata Carlos sambil meletakkan barang barang yang mungkin penting.
Carlos mengutak-atik dan mencoba memperbaiki wastafel yang bermasalah itu. Gadis itu pun menghampirinya.
"Apa kau suka kopi?" Tanya gadis itu.
"Yah, suka dan tidak. Asalkan kau yang menjamunya, aku terima." Kata Carlos mencoba untuk menggodanya. Gadis itu hanya memutar bola matanya dan tersenyum. Dengan segera dia membuat kopi.
Gadis itu merasa nyaman mengobrol dengannya. Carlos pun tertarik untuk bicara lebih banyak dengannya. Karena pekerjaannya telah selesai, ia mengobrol dengan santai tanpa tahu waktu berjalan sampai sore hari.
"Ya ampun. Lihat sekarang jam berapa. Apa aku membuatmu terganggu?" Tanya Gadis itu.
"Ah, tidak. Tidak ada yang bisa aku lakukan hari ini. Kalau begitu aku permisi." Katanya dan pergi lalu mengunci pintu itu.
Lagi.
Gadis itu hanya melamun dengan kepergian Carlos. Dia masih tak sadar bahwa ada yang tak beres dengan dirinya dan ruangan itu. Saat dia sadar, telah lama pria itu pergi. Seharusnya dia menanyakan lebih tentang ruangan itu.
"Kartu. Aku lupa kartunya." Kata gadis itu. Itulah yang pertama ia pikirkan. "Ah, tapi aku agak mengantuk sedikit. Tak apa kan kalau aku tidur sejenak?" Tanpa pikir panjang dia menuju kamarnya dan tertidur pulas.
Esoknya,
Dia terkaget-kaget dengan sinar matahari yang menyirat matanya. Silau. Apa sudah siang? Pikir gadis itu.
"Jam berapa sekarang?" Lalu dia melihat jam dinding melalui pintu kamarnya yang terbuka. Tepat jam 10. Dia melempar selimutnya dan,
"Apa aku sempat memakai selimut?" Tanya gadis itu.
Cklek. Creek...
Pintu luar terbuka. Penyusup? Pikirnya. Tapi, Carlos datang dengan membawa beberapa tambahan barang penting milik gadis itu.
"Carlos?! Tidak sopan!" Katanya menghampiri pria itu.
"Aku sudah mengetuk beberapa kali namun, tak ada jawaban. Aku kira kau... terjadi sesuatu padamu... are you oke?" katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Yah, aku tidak tahu kenapa aku tidur pulas. Maaf sudah membuatmu khawatir." Kata gadis itu.
Seperti biasa, dia menjamu Carlos seperti kemarin. Tak ada yang berbeda. Kali ini telepon milik gadis itu berdering.
"Ya?" Temannya menelepon.
"Apa kau bisa menjenguk ku? Aku sakit~" Katanya. Suaranya agak serak.
"Aku... tidak bisa." Kata gadis itu.
"Kau enak ya malah bisa dapat libur. Tapi, hanya menjenguk teman mu saja kau tak bisa." Kata temannya itu.
"Sungguh. Aku tak bisa. Lain kali saja ya?" Tanya gadis itu.
"Dasar." Dengan suara seraknya, itu menjadi tambah mengerikan.
"Oke-oke aku akan kesana sekarang ya?" Katanya ragu. Teleponnya tutup begitu saja.
"Hah..." Gadis itu menghela nafas.
"Ada apa?" Tanya Carlos.
"Temanku sakit." Jawab gadis itu.
"Kalau begitu... aku akan pergi." Kata Carlos. "Ah, dan ini kuncinya." Sambungnya.
"Terimakasih." Gadis itu mulai membongkar barang bawaan yang dimana isinya adalah perangkat tambahan yang ia minta.
"Ini jadi pertemuan kita yang ketiga ya?" Tanya pria itu sambil menutup pintunya. Gadis itu hanya terdiam saja. Lalu petir menyambar. Sepertinya hujan akan lebat hari ini.
Dia mulai mencari kartu itu ketika kilat menyambar. Kartunya masih utuh dan tempatnya tak berubah. Dia mulai berpikir macam-macam. Tapi, ia menepis semua hal itu dan meraih payung untuk keluar dari sana. Alasannya untuk mengunjungi temannya.
Kunci yang Carlos berikan sebenarnya tak ada yang menuju pintu keluar. Lalu dia membanting kunci ke lantai dan duduk di salah satu jendela. Melihat keluar dan memperhatikan bulir air hujan.
"Hah... aku harus menjernihkan pikiranku." Selama seharian dia menghabiskan waktu di dalam ruangan itu.
Esoknya lagi. Dia bertekad untuk keluar dari ruangan ini. Apapun yang terjadi. Jelas semua tanda yang mencurigakan ini tak bisa ia biarkan begitu saja. Lalu ketukan pintu terdengar oleh kedua telinganya.
Tok. Tok. Tok.
Dan apa yang bisa ia lakukan? Tak bisa membuka pintu karena kunci yang Carlos berikan bukanlah kunci pintu keluar melainkan kunci yang lain.
"Aku tahu itu kau Carlos. Memang siapa lagi yang akan tahu aku disini." Kata gadis itu.
Ckelek. Creek.
"Apa kau marah?" Tanya Carlos. Gadis itu hanya terdiam dan menatap sinis pada pria yang selalu menguncinya itu.
"Menurutmu?" Katanya.
"Apa karena sesuatu? Aku tidak tahu apa kesalahanku kali ini. Oh, dan aku membawa beberapa barang yang mungkin kau suka." Kata Carlos sambil menyodorkan barang bawaannya pada gadis itu.
"Kunci."
"Apa?" Carlos heran.
"Dimana kuncinya? Cepat berikan padaku." Kata gadis itu dengan menahan amarah.
"Tunggu. Bukankah aku sudah memberikannya padamu?" Tanya Carlos.
"Yang ada kunci itu bukan kunci pintu keluar! Sudahlah!" Lalu gadis itu merebut kunci milik Carlos yang masih ditanganya dan langsung mengunci pria itu.
Suara yang meraung dibalik tanda not itu cukup membuat gadis itu berlari menjauh. Gadis itu dengan cepat menuruni tangga, melewati berbagai macam pintu dan menaiki lift seperti waktu itu. Dan saat di pintu terakhir ia mendapati dirinya sepoi-sepoi udara segar.
Angin yang mulai menerpa wajah serta rambutnya itu cukup untuk dirinya merasa bebas. Tak ada rasa takut lagi dalam ruangan itu. Saat dia mulai melangkah, telepon umum berdering. Aneh, apa telepon itu rusak? Harusnya telepon umum memakai koin untuk menelepon seseorang. Pikirnya. Tapi, telepon umum yang terus berdering itu bukanlah jawaban.
Apa itu untuk ku? Gadis itu bertanya-tanya. Dia mendekati dan langsung mengangkat gagang telepon itu.
"Kau adalah boneka. Sekali budak tetaplah budak. Tapi, sekarang kau bukan lagi sekedar budak. Kau adalah notas incorrectas. Dan kau akan tinggal di sana selamanya!" Lalu panggilan itu terputus. Suaranya mencekam dan agak serak.
Tangan yang dingin langsung membungkam mulut gadis itu. Itu mengejutkannya. Gadis itu memberontak namun, dia ditahan oleh tangan yang lainnya. Dia pun jatuh pingsan. Atau di bius lebih tepatnya. Sebelumnya tisu yang sudah di isi cairan yang biasanya untuk membius wanita lain seperti dirinya sudah siap sedia ketika dia membuka pintu terakhir tadi.
Dalam ruangan, dia terbangun di lantai. Ruangannya masih sama seperti ruangan yang ditawarkan oleh Carlos.
"Tidak... ini tidak mungkin... hiks... hiks... apa salah ku..." lirihnya.
Malamnya, Carlos datang dan melihat gadis itu tidur di tempat tidurnya. Dia menyelimutinya dan melihat wajah gadis itu. Lalu bibir manisnya mulai bergerak. Sepertinya dia mengigau. Pikir Carlos. Lalu di dekatilah wajah gadis itu dan mendengar apa yang ia igaukan.
"Maafkan... aku... semuanya... aku tidak akan... bertemu kalian lagi... ayah, ibu... jangan marah kalau... aku tak kunjung pulang kampung..." suaranya lirih. Bahkan sampai tak bisa didengar dengan baik.
Lalu Carlos hanya bisa terdiam dan bersikap seperti kupu-kupu yang meminum air mata kura-kura. Dia menutup pintu kamarnya dan bersandar di pintu tersebut.
"Kalau saja ada alasan lain kita bertemu, maka semua ini tak terjadi. Aku tak ingin ini terjadi. Keterpaksaan yang membuatku terkekang. Maaf. Maaf jika pertemuan kita malah mendatangkan kesialan bagimu." Carlos beranjak pergi dan hendak mengunci pintu itu lagi.
"Kumohon maafkan aku..." katanya.
Pintu itu tak dibuka lagi selama sebulan. Kabar Carlos dan nomor telepon miliknya seperti lenyap di tenggelamkan ke dasar laut. Sementara gadis itu hanya diam. Melakukan apa yang ia biasanya lakukan namun, dengan hatinya yang mulai membiru. Kesedihan abadi ada pada ruangan itu.
End?
Kira-kira... kalian mau gak yah... itu lho kamar mewah harga murah gitu... 🤔