Rumah tua yang ditinggalkan oleh kakek dipinggir kota sekarang telah diberikan kepada Pian , Pian yang hidup nya masih belum bekularga dan masih kuliah, hanya tinggal sendirian dirumah itu sekarang.. Dengan model rumah klasik dua lantai , dengan halaman yang cukup luas , membuat pian sendiri menjadi kesepian bila tinggal dirumah itu .
Karena itulah pada hari hari berikutnya ia kuliah ia mengajak teman nya untuk tinggal bersama , yang tentunya pian hanya mengajak laki laki saja .
Total yang mau hanyalah 4 orang , ada Vino , Rian , Ilham , dan Raihan .keempat nya adalah teman dekat pino yang sama jurusan nya .
“udah diberesin semua vin barang bawaan lu ?”
“udeh ian”
Vino yang keluar dari kamarnya yang ia pilih , bertemu dengan pian yang sedang duduk dikursi bermain laptop .
“tapi rumah lu gede juga ya , pantes aja lu ngajak gua ama yang lain tinggal disini , tapi ada yang horror ga sih dirumah ini ,pass lu tinggal sendirian“
“engga kok santai , ngga ada yang horror”
(“kalo ada yang horror gua meningan pindah aja , daripada ngajakin yang lain tinggal“)
Pian sangat tidak berani dengan hal hal yang berbau horror , dia yang dulu nya pernah bertemu setan sampe pingsan membuat dirinya terkena trauma psikis yang cukup parah sampai sampai harus dibawa kerumah sakit.
“woi !!! ,pian ,vino semuanya kesini !!!”
Pian dan vino mendengar suara itu menjadi terkejut, mencari arah suara itu
“si ilham kenapa itu ?”
Salah satu orang yang berada dari kamar atas segera kebawah menanyakan kepada pian dan vino , yang sedang panik sendiri .
“gatau , dimana dia sekarang ?“
(“duhh kenapa sih “)
Pian yang mengeluh kesal dengan situasi yang berubah begitu saja , terlintas dalam pikiran nya seharusnya dia tidak membawa mereka untuk tinggal bersama .
Sampai pada semuanya berkumpul , dan akhrinya menemukan ilham , mereka semua menanyakan apa yang terjadi kepada ilham .
“lliat ini “
Membuka sebuah pintu yang berada di dekat ruangan aula , pian dan kawan kawan terkejut melihat apa yang ada didalam nya .
Ruangan bebatuan yang remang remang dengan sedikit pencahyaan dari hal yang tidak diketahui , mereka semua kecuali pian memasuki ruangan itu mencari tahu tempat itu .
Pian yang terdiam termenung , melihat mereka yang memasuki ruangan mencoba mengingat ngingat tentang kakeknya dan rumah ini .
“pian sini coba lihat deh , kayak nya ini Kristal yang ngeluarin cahaya “
Salah satu teman nya pian memanggil , pian yang termenung sendiri tidak menggubris mereka , dan terus mencoba mengingat kembali ingatan nya bersama kakek nya .
“ini kalo dijual kayak nya mahal , bisa dapet untung banyak kita “
“iya sih bener , tapi kan yang punya rumah ini si pian gabisa main ngambil aja “
“…”
Mereka yang berada di ruangan bebatuan itu berdiskusi tentang Kristal yang mungkin mereka bisa jual , yang lain ada yang setuju yang lain sendiri menolak untuk mencoba menjual nya
“kalau pun kita jual , yang ada nanti kita malah dicurigain ini Kristal dapet darimana , lu mau tukang baso bawa walky talky tiba tiba ada didepan rumah ini “
Sedikit perdebatan panas dari mereka , vino yang dengan keras menolak karena akan mencuri banyak perhatian dan juga ini semua milik pian jadi yang menentukan semua itu harus lahh pian .
(“ga ada yang bisa gua inget dari ruangan ini , uhh…”)
Pian yang menghela napas nya , tak menemukan jawaban tentang ruangan ini , yang kemungkinan akan berbahaya bagi dirinya maupun mereka untuk terlibat lebih jauh pada ruangan bebatuan ini .
“pian gimana?”
Ilham yang kembali dari ruangan bebatuan itu bertanya kepada pian yang sudah berhenti dari lamunan nya .
“kayak nya jangan ngapa ngapain dulu deh , kita gatau ini ruangan apa , dan mungkin juga ruangan ini berbahaya .”
“alah lu mah ian , bilang aja kamu takut ama setan hahahaha , karena kita gatau kita harusnya mencari tahu terlepas ini berbahaya atau engga “
Raihan yang mengetahui bahwa pian sangat takut sekali dengan hantu , mengejek pian yang terlihat menolak untuk terlebih jauh terlibat dengan ruangan ini . sedangkan itu rian dan vino yang segera keluar dari ruangan hanya terdiam dan mengucapkan sedikit beberapa kata kepada pian .
“itu gimana elu ian ,lagian yang punya rumah juga elu “
“iya , itu terserah lu ian , gua mah ngikut aja”
“yaudahlah kita makan dulu aja , nanti ngomongin tentang ini nya lain kali aja , bentar lagi juga kita masuk kelas ini “
pian yang segera mengajak mereka untuk berbincang nanti setelah semua urusan perkuliahan , tapi pian yang masih bersi kukuh tetap mengatakan untuk tidak masuk kembali kedalam ruangan yang tidak diketahui itu .
(“hal hal yang tidak diketahui itu menakutkan , gua aja ga inget pernah ada ruangan kayak gini , ya pastinya ini berbahaya… “)
Diwaktu jam selesai perkulihan , pian yang masih memiliki kegiatan latihan silat bersama vino terlebih dahulu , meninggalkan mereka yang langsung pulang kerumah. Pian yang masih was was dengan hal yang mungkin akan mereka lakukan memperingati mereka lagi .
“inget ya jangan coba keruangan itu lagi “
“iye ian santai aja “
Mereka bertiga yang berencana akan langsung pulang , dengan cepat mengiyakan peringatan dari pian .
(“feeling gua gaenak , uhh…”)
Teman teman nya yang berada satu jurusan bersama pian , lumayan Ia kenal sifat nya karena sering nongkrong bersama , vino yang selalu kalem dan tenang sangat handal dalam masalah perpolitikan apabila disaat nongkrong bersama dan topik yang dibahas nya tentang pemerintahan dan perpoliktan ia akan menjadi orang yang paling banyak bicara.
Sedangkan itu raihan orang yang paling suka dengan becanda , pernah suatu kali vino yang berbicara serius , diubah menjadi candaan oleh raihan dan akibat itu keduanya menjadi bersi teggang karena vino tidak suka bila ucapan yang sedang serius malah dibawa menjadi candaan , setalah itu banyak hal terjadi. akhirnya vino memberikan julukan kepada raihan sebagai sangkuriang ,karena kelakuan nya berserta asalnya dia emang orang sunda .
Ilham maupun rian sendiri , tidak terlalu diketahui tabiat aslinya dipandangan pian , mereka berdua yang sering nongkrong , hanya ikut ikutan memanasi permasalahan vino dengan raihan .
Tapi setelah mereka semua berdebat didalam ruangan itu , pian yang emang melamun waktu itu tetap memperhatikan mereka sedikit , dan menurut penilaian nya Rian sendiri orang yang tidak ingin mencari masalah , dan ilham adalah orang yang opurtunis ,yang selalu penasaran .
(“ ya entahlah…”)
Pian dan vino pun akhrinya pulang bersama setelah latihan silat nya selesai , jam yang menunjukan angka hampir jam 12 , setidaknya sudah terhitung 3 jam ia berlatih.
“kok sepi ya “
Vino yang turun dari motornya bersama pian memasuki rumah itu , tak ada satupun tanda tanda kebisingan mereka .
“mungkin udah tidur kali “
Pian yang tak ingin berpikiran buruk , ingin mempercayai teman teman nya .
tapi apa yang bisa dikatakan dengan hal itu , vino yang masih tidak meyakini bahwa mereka tidur , mengecek setiap bilik kamar mereka .
“ga ada ian , mereka semua ga ada dikamar .“
Pian yang menggeleng gelengkan kepala nya, dengan cepat bergerak dan memanggil vino
“no ayo kita coba keruangan itu “
Keduanya pergi menuju ruangan itu , terlihat pula pintu dalam ruangan itu menjadi terbuka , dan terdapat bekas tapak sepatu yang kotor menuju ruangan itu .
“gimana ini ian , udah jam 12 lewat lagi , kayanya mereka udah masuk daritadi kita di luar “
“gamungkin kita manggil polisi… , kita coba masuk aja “
“…”
Vino yang tak tahu harus menjawab apa ,sebenarnya ingin menolak tapi melihat pian yang seharusnya sangat ketakutan pada situasi ini , memaksakan dirinya untuk masuk kedalam ruangan itu , membuat dirinya menjadi malu .
(“mau gak mau harus ikut masuk am apian “)
Vino dan pian yang kini memasuki ruangan itu , mencoba menulusuri kedalam yang ternyata ruangan itu bukanlah ruangan semata , jalan yang dimasukinya cukup dalam , dan semakin vino memperhatikan itu , ruangan itu sebenarnya seperti gua yang besar .
Jejak kaki kotor mereka kini terlihat sampai pada ujungnya , terdapat berkas darah terlihat dimana mana , dan ada sebuah kepala tanpa tubuh yang ditemukan mereka berdua .
“raihan…”
“…”
Pian yang bergumam melihat kepala yang tergeletak menunjukan sosok identitas dari kepala itu , sedangkan vino yang tak bisa berkata apa apa hanya terdiam menahan rasa takut yang ia rasakan , dengan mencoba mengalihkan pandangan nya ketempat lain .
“ tas!? , kayanya…”
“hmm?”
Vino yang melihat itu spontan berbicara , membuat pian mmengalihkan pandangan nya langsung kearah tas itu .
“no kita harus buruan pergi dari sini , kita coba bawa tas nya , siapa tau ada petunjuk dari situ “
“…”
Tanpa berkata apa apa lagi vino dengan segera mengambil tas itu , dan mencoba segera pergi bersama pian , tapi sebelum mereka akan berjalan menjauh dari tempat itu , tiba tiba sebuah panah melesat menuju tempat vino berjalan , yang untungnya bisa dengan reflek ia hindari .
“apa itu…”
“lari!!!”
Keduanya segera berlari meninggalkan suara yang begitu kencang , diikuti mereka yang ada diberada dibelakang , vino sama sekali berani melihat kebelakang serta tak berani menurunkan larinya .
Sampai pada pintu itu terlihat , pada akhirnya mereka berdua berhasil kabur dari tempat itu , keduanya segera menutup pintu itu dengan napas yang ngos ngosan .
Vino yang mencari barang untuk menahan pintu itu , ditahan oleh pian
“udah dikunci kita gaperlu khawatir lagi no .”
“tapi kalo mereka ngedobrak gimana ?”
“gamungkin udah udah lebih baik kita istirahat aja dulu , yang penting kita selamat , kalau ada apa apa kita bisa ngelawan mereka kalau badan kita fit“
“…”
Vino tak habis pikir dengan ucapan pian… , dia yang mau tak mau melihat ini mendapat kan pikiran buruk yang terlintas dalam benak nya .
“gua kekamar dulu ya , cape banget “
“iya… gua mau disini aja dulu , sekaligus nutupin nih pintu sama yang lain”
“oke, tapi jangan cape cape banget no ”
Pian kembali kekamar nya meninggalkan vino yang masih diam didekat pintu menuju ruangan itu , mengecek hape nya yang berada didalam jaket nya .
“pesan dari ibu ya…”
Melihat pesan dalam hapenya , pian dengan segera melempar hape nya menjauh dari tangan nya kearah kasur
“obat nya udah lama dibuang , buat apa juga minum obat , orang sehat gini “
Pian yang bergumam sendirian , merentangakan tubuh nya dikasur dengan keadaan yang begitu santai .
Tamat
Sebuah misteri lebih nikmat bila dipecahkan sendiri , setiap cerita kadang memiliki banyak makna yang tersirat , tergantung mereka yang membaca , makna yang di interpentasikan itu akan memberikan hasil yang sama dan kadang berbeda .