Semilir angin malam dan taburan cahaya lampu perkotaan menyita perhatian Afifa. Kerlap-kerlip lampu rumah perkotaan, kendaraan yang silih berganti, dan gemerlap cahaya bintang-bintang di angkasa mengingatkan Afifa pada masa lalu. Di tempat ini, di Bukit Bintang tepatnya sekitar 2 tahun lalu seorang laki-laki membuat Afifa merasakan kebahagaiaan dan kesedihan dalam satu waktu. Kebahagiaan tentang perasaan laki-laki itu terhadapnya. Dan kesedihan tentang kepergian laki-laki itu beribu-ribu mil jauhnya. Hari itu tidak akan pernah Afifa lupakan. Hari dimana dia merasa diterbangkan ke angkasa namun kemudian dijatuhkan bebas dalam sekejap. Entah kenangan indah atau pahitkah yang harus dikatakan.
“Kamu masih mengingatnya?” suara seorang perempuan yang duduk tepat di samping Afifa, mengejutkannya.
“Semakin aku mencoba untuk melupakan, bayangannya semakin nyata” jawabnya dengan suara yang parau. Dirinya masih pada posisi yang sama, duduk di tanah dan menatap jauh pada indahnya gemerlap cahaya perkotaan.
Afifa menghela napas. “Entahlah kak, aku bahkan hampir tidak bisa membedakan antara rasa bahagia dan sedih saat ini”.
“Lepaskan. Bukalah lembaran baru di hatimu” jelas mbak Lala pada Afifa.
Perempuan berusia 27 tahun itu memang selalu berusaha untuk menghibur adik perempuannya, Afifa. Adik perempuan yang beda 3 tahun darinya itu memang sedang membutuhkan support darinya. Bahkan mbak Lala, sebutan kakak perempuan Nafisa ini, tidak tega melihat adik perempuannya seperti itu. Wajah Afifa terlihat pucat dan lesu setiap kali mereka mendatangi tempat ini, Bukit Bintang.
“Ayo pulang, ini sudah malam. Kakak gak mau kalau kamu sampai sakit, kedinginan di sini Afifa” ucap mbak Lala pada Afifa. Dia pun berdiri dan menarik lengan Afifa. Mereka pun beranjak pergi meninggalkan tempat indah yang penuh kenangan itu.
Ad by Valueimpression
Matahari pun tak malu untuk tersenyum terang di pagi itu.
“Anak perawan jam segini kok masih molor” Kak Lala menghampiri Afifa. Dia melihat wajah adiknya yang tertidur pulas. Dia pun berjalan mendekati jendela kamar. Membuka jendela kayu yang hampir rapuh karena usia.
Cahaya matahari menyilaukan mata Afifa. Memaksanya untuk membuka mata dan memeriksa siapa yang telah berani mengganggu paginya.
“Ahh, kak 5 menit lagi oke” Afifa hanya membuka sedikit kelopak matanya kemudian menjatuhkan diri dan memeluk gulingnya kembali.
“Kata ayah akan ada tamu hari ini. Ayah mau ngenalin kamu sama temen anaknya,” jelas kakak perempuannya itu yang berdiri tepat di belakangnya.
Afifa tetap diam tak bergeming sedikitpun.
Kak Lala berjalan mendekati Afifa dan duduk di tepi tempat tidurnya. Menarik lengan Afifa dan membenarkan posisi duduknya. “Ayolah, kamu harus bersiap Afifa. Bangun dan mandilah!” pinta kak Lala pada Nafisa.
“Iya iya kak, ishh”, Afifa pun segera beranjak dari tempat tidurnya, menyabet sebuah handuk di tangannya dan berjalan ke luar kamar dengan lunglai.
“Dasar! Pantes laki-laki pada takut deketin dia”, ucap kak Lala pada diri sendiri yang sedikit terkejut dengan sikap adiknya yang seperti itu.
Kak Lala pun berjalan ke luar kamar menuju dapur. Membantu ibunya untuk menyiapkan menu hidangan untuk teman ayahnya yang akan datang siang nanti. Teringat dahulu bagaimana Afifa yang membantu ibu memasak hidangan untuk para tamu yang datang berkunjung saat dirinya belum bisa memasak. Namun kini, menjadi seorang istri telah menuntutnya untuk dapat menciptakan menu-menu yang dapat mengenyangkan perut orang lain.
“Hmm, enak nih kayanya”, sesekali Afifa mencomot makanan yang ada di hadapannya itu. Entah dari kapan gadis itu telah keluar dari kamar mandi dan berdiri di samping kakaknya.
“Ishhh… ganti baju dulu, baru makan. Udah sana!!” Kak Lala pun mendorong adiknya menjauh dari meja makan untuk masuk ke kamarnya. Dia tidak habis pikir bahwa adiknya itu masih saja kekanak-kanakan di usianya yang hampir menginjak 25 tahun.
Ahh depresi karena cinta itu memang lebih menakutkan. Lebih baik adikku itu tidak pernah mengenalmu, Beni. Katanya dalam hati.
Perempuan, 26 tahun itu, ingat betul bagaimana adik perempuannya itu datang kepadanya dengan mata sembab 2 tahun lalu. Menceritakan sosok laki-laki yang tidak pernah dia tahu bagaimana rupanya. Afifa yang datang kepadanya dan memeluknya dengan pipi yang basah dipenuhi air mata.
“Aku telah salah menempatkan cinta kak”, ucap Afifa dengan suara parau karena isakan tangisnya dalam pelukan kak Lala.
“Ada apa? Siapa?” tanya kak Lala kebingungan dengan keadaan adik perempuannya itu.
“Dia. Dia laki-laki yang dulu pernah datang padaku, juga pernah pergi dariku. Dan dia datang kembali, lalu kini dia pergi lagi, kak”, jelas Afifa yang masih menangis dalam pelukan kakaknya.
“Siapa? Siapa laki-laki yang berani mempermainkanmu seperti itu huh?” tanya kak Lala pada Afifa yang menangis dalam pelukannya.
“Dia… Beni… Alexander kak”, ucap Afifa terbata karena tangisnya. Terasa berat saat dirinya menyebut nama itu.
Beni Alexander? Entah siapa dirinya, tapi dia adalah alasan kenapa adikku menolak semua laki-laki yang ingin mendekatinya. Pikir kak Lala dalam lamunannya.
“kak? Ngelamun aja. Nanti kesambet setan loh”, ucap Afifa dengan jail yang mengejutkan lamunan kakaknya.
“Siapa yang ngelamun. Kakak itu lagi ngebayangin kira-kira anak temen ayah yang mau dikenalin sama kamu itu ganteng nggak ya”, celoteh kak Lala jail pada Afifa.
“Ishh apaan sih kak. Aku aja nggak tertarik sama sekali”, jawab Afifa sedikit cemberut.
“Kalian itu ngomongin apa sih”, suara seorang wanita yang muncul dengan sepiring pisang goreng hangat di tangannya. “Eh kok belum ganti baju?” tanya wanita separuh baya yang dipanggil ibu itu pada anak gadisnya, Afifa.
“Iya bu. Ini juga mau ganti baju”, jawab Afifa yang segera masuk ke kamarnya.
10 menit, 20 menit, 30 menit pun berlalu. Detik jarum jam di kamarnya dapat Afifa dengar dengan jelas. Namun dia tidak melakukan apapun. Jangankan berganti pakaian, memilihnya saja dia enggan. Afifa hanya berbaring diam di tempat tidurnya. Memandangi langit-langit kamarnya. Memikirkan suatu hal yang sebenarnya tidak harus dia pikirkan.
Tok tok tok. “Fa, are you okay?” tanya kakak perempuannya yang mengetuk pintu kamar Afifa. Memastikan keadaan adiknya yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Tok tok tok. Tetap tak ada jawaban dari adiknya.
“Fa?”, panggil kak Lala sekali lagi sedikit khawatir.
Huff… Afifa menghembus kesal. ”Iya kak ini juga sebentar lagi keluar kok”, jawabnya.
“Okee ditunggu Ayah soalnya, cepetan yaa”, pinta kak Lala padanya.
Kak Lala pun kemali ke ruang tamu untuk menemui Ayahnya.
“Gimana?”, tanya Ayah pada kak Lala.
“Sebentar lagi katanya”, jawab kak Lala pada Ayahjya. Dan Ayahnya pun hanya mengangguk mengerti.
“Ohh iya Pak Bu silahkan dinikmati hidangannya. Ini semua buatan sendiri. Ayo nak Bima dicicipi”, celoteh Ibu yang memecah keheningan.
Bima? Itukah nama laki-laki yang akan dikenalkan Ayah padaku? Batin Afifa. Langkahnya terhenti setelah dia mendengar nama itu. Kemudian Afifa pun melangkah lagi.
“Ayah, Ibu”, ucap Afifa yang datang tiba-tiba. Semuanya terdiam. Dan semua pasang mata yang ada di ruang tamu saat itu melihat ke arah Afifa, Bingung. Karena Afifa mengenakan jaket, dan tas ransel di punggungnya, serta sebuah kunci kendaraan dimainkannya di tangannya.
Ayah pun juga ikut bingung. “Afifa kamu…”
“Ahh Ayah, aku lupa kalau hari ini aku udah punya janji sama temen” potong Afifa saat Ayah hendak mengatakan sesuatu.
Afifa pun mendatangi Ayah. Meraih tangannya. Dan mencium punggung tangan Ayahnya. Dia pun melakukan hal yang sama pada Ibu, bahkan pada laki-laki dan perempuan paruh baya yang belum sempat memperkenalkan diri padanya atau begitu juga sebaliknya. Setelah itu Afifa memberi salam, menyunggingkan senyum terbaiknya, dan melangkah ke luar.
Saat Afifa hendak meyalakan motornya, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya. Dan Afifa menoleh padanya.
“Ayah, Afifa minta maaf tapi Afifa harus pergi, ada pekerjaan lebih penting di kantor”, ucap Afifa sebelum Ayahnya sempat mengatakan sepatah kata pun. Karena Afifa tahu apa yang akan Ayahnya tanyakan.
“Assalamualaikum”, ucapnya lagi sesaat sebelum Afifa melajukan motornya.
Sebenarnya Afifa enggan melakukan ini. Pergi tanpa arah dan tujuan. Benar, kepergiannya kali ini hanyalah sebuah alasan agar dia tidak bertemu dengan laki-laki itu. Tidak ingin tepatnya. Karena sejak 2 tahun lalu, Afifa telah mengunci hatinya untuk satu laki-laki.
Aku tidak pernah meminta akan cinta ini. Dan aku juga tidak bisa memilih dengan siapa aku akan jatuh cinta. Tapi setidaknya aku bisa memilih dengan siapa hatiku bertahan. Dan aku telah memilih untuk menantinya. Entah sampai kapan. Beni Alexander. Batin Afifa. Dan pikirannya pun melayang. Mengingat kenangan 2 tahun lalu. Hingga membuat pikiran Afifa tidak fokus pada jalan raya.
Dan tiba-tiba. Brakkk!! Suara benturan keras terdengar siang itu. Membuat semua orang berlarian ke arah suara itu. Seseorang telah terjerungup di aspal. Membuat aspal siang itu dihiasi cairan warna merah pekat. Dan orang itu, perempuan itu tepatnya, terbaring lemah di aspal sambil menyebutkan satu nama berulang kali. Beni Alexander…