Tikaman hujan yang mendera bumi. Melengkapi Dea yang sedang menyendiri di sebuah halte bus. Roy yang sejak tadi ditunggunya selama berjam-jam tak kunjung datang. Raut wajahnya terlihat gelisah. Sebab tubuhnya itu tak kuasa menahan cuaca yang begitu dingin. Apalagi bagian atap halte bus yang berlobang menitikkan tetesan air hujan. Sehingga tempat itu menjadi lembab dan tidak membuat orang yang sedang menunggu di situ terlihat nyaman.
Seorang pria yang basah kuyup menghampiri halte itu. Awalnya Dea menebak itu adalah Roy. Tapi setelah pria asing itu muncul dibalik tirai hujan. Dia pun menghembus nafas sambil melemaskan tubuhnya.
Pria itu sesekali melontarkan senyuman ke arahnya. Walaupun belum mengenali siapa dia. Dea membalas tatapan lembutnya itu. Sehingga mereka tidak terlihat tegang. Dan berkatalah pria asing itu kepadanya. Sehingga membuat suasana tidak saling curiga.
“Kenalkan aku Raffa” sambil menyodorkan tangannya.
“Dea Ariska, tapi aku senang dipanggil Dea” balasnya sambil melepas gengaman tangan pria itu.
Dea mengenang pristiwa pertememuannya dengan Raffa tiga minggu yang lalu. Lamunannya terkadang terbungkus kala hujan menitik dibalik jendela kamarnya. Seolah hujan bagian dari cara Tuhan mempertemukan antara kegelisaan dan kebencian. Gelisah karna rindu yang kian merapikan lamunannya tentang pertemuanya itu. Dan kebencian yang berasal dari definisi hujan olehnya. Bagi gadis itu hujan adalah duka yang selalu mengingatkannya pada almarhum ayahnya.
Tepatnya dua tahun yang lalu. Kejadian yang tak bisa dilupakan oleh Dea. Dimana dia harus kehilangan nyawa seorang ayah yang sangat berharga. Gara-gara hujan yang menguyur lebat. Mobil yang dikemudikan ayahnya harus tergelincir dan menabrak pembatas jalan.
Karena hujan dirinya juga pernah mengalami kecelakan bersama motor Scoopynya. Ketika hilang kendali. Dea bersama motornya itu masuk ke dalan selokan. Hampir saja kecelakaan tersebut merengut nyawanya. Semenjak saat itu Dia tidak berani mengendarai motornya. Dan memilih dijemput oleh Roy. Yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Tidak selamanya hujan sebagai tanda buruk baginya. Berkat hujan Dea juga telah dipertemukan dengan Raffa. Karena setiap kali bumi menjatuhkan air matanya dari langit gelap nan pekat. Dibawah halte itu selalu terlihat mereka bercengkrama. Menanti hujan agar lekas berhenti.
Dari hujan yang selalu mempertemukan keduanya. Sampai pada ahkirnya hujan yang menurut Dea adalah tangisan bumi. Dimana selalu mengingatkannya akan beberapa pristiwa sedih. Tapi pada kenyataan hujanlah yang telah menyiram hati mereka. Sehingga tatapan mata selalu menjadi alasan hadirnya cinta. Mata selalu membawa sesuatu yang dilihat sampai ke dasar hati. Jika itu adalah kecocokan dan kenyamanan. Lalu hati pun menguasi pikiran. Maka jiwa akan merontak agar bisa memiliki seseorang yang baginya memiliki kecocokan serta kenyamanan itu.
Namun rasa cinta yang dimiliki baik Dea dan Raffa. Kini masih terbungkus rapi bagaikan bingkisan kado. Membuat siapapun yang melihat akan menerka apa isi dalamnya.
Begitulah Dea yang selalu menerka isi bungkusan hati Raffa. Dan begitu juga sebaliknya yang dialami oleh pria itu. sampai-sampai menjadi sebuah teka-teki. “Apakah dia memiliki rasa cinta yang sama?”. Tentu inilah pertanyaan yang selalu bertengger di dalam pikiran kedua-duanya.
Suatu ketika, Raffa mengajak Dea untuk menikmati ahkir pekan. Keduanya pun menjadikan pantai Pahlawan sebagai tempat destinasinya. Cuaca cerah menyambut kedatangan mereka. Sehingga membuat pantai itu juga ramai dikunjungi banyak orang.
Banyak yang mereka ceritakan. Salah satunya pertemuan mereka pertama di halte bus. Dimana perkenalan mereka bermula ketika sama-sama berteduh. Berteduh menanti bumi berhenti menangis. Sebab itulah Raffa mengatakan kalau hujan menjadi jembatan yang telah mempertemukan mereka.
“Kita beruntung ketika hujan mempertemukan kita” Sahut Raffa sambil berjalan berduan dengan Dea. Mereka menelusuri gelombang yang berwarna kemerahan. Warna yang berasal dari langit sore. Sebab tidak lama lagi bumi akan menyambut langit gelap nan berbintang.
“Tapi” suara Dea menyeruak ketika Raffa sedang berbasa-basi.
Seketika itu Raffa kembali dibuat penasaran. Entah mengapa ketika dia mengatakan tentang hujan yang telah mempertemukannya dengan Dea. Sejurus itu pula raut wajah gadis itu terlihat murung.
“Kenapa Dea? Apakah menurutmu hujan telah berlaku salah. Ketika kita dipertemukan olehnya?” muncul sudah kalimat prasangka seiring dengan rasa penasaran Raffa kepada Dea.
“Tidak Raf, aku bahagia karena hujan telah mempertemukan kita” ucap Dea sambil berhenti berjalan sambil menendang lidah ombak yang menjilat bibir pantai. Kemudian matanya tertuju kepada Raffa yang juga memperhatikan raut wajahnya “Hujan selalu membuatku gelisah dan benci” lanjutnya dengan nada sedikit berat.
“Maksudmu” tanya Raffa dengan tatapan serius.
Dea bercerita tentang difinisi hujan olehnya. Saat hujan hadir dimana pun dirinya berada. Selalu saja hujan membuatnya gelisah dan benci. Gelisah karena merindukan sosok yang selalu hadir dalam lamunannya. Benci karena hujanlah ayahnya harus kehilangan nyawa. Karena hujan juga dia hampir berada diambang pintu kematian.
Beningan embun merambat pelan diantara sela-sela matanya. Kemudian tumpah di antara mulusnya punggung pipinya itu. Kemudian Dea langsung mendengkapkan tubuhnya. Dalam sekejap dia telah berada dalam pelukan Raffa.
“Raf, aku mencintaimu” ungkapnya sambil membenamkan suaranya di dada Raffa.
Dea terpaksa harus jujur. Kejujuran itu terungkap karna dia tidak mampu lagi menahan kegelisaan hatinya. Kegelisaan yang selalu hadir di antara tirai hujan yang tumpah dari langit. Kegelisaan yang selalu menciptakan rasa rindu direlung hatinya. Kegelisahan yang pada akhirnya memekarkan cintanya kepada Raffa.
Raffa kembali menyentuh kedua pipi Dea dengan tangannya. Sambil ibu jarinya mengelus-lembut sudut mata gadis itu. “Dea tataplah mataku” tak lama kemudian gadis itu menatapnya. “Jujur, semenjak pertemuan itu aku juga telah jatuh cinta kepadamu. Kita memiliki pikiran yang sama. Aku Selalu menerka dalam setiap kegelisaanku seperti yang kau alami. Namun pada sore ini semua itu terjawab dengan sendirinya. Ternyata antara kau dan aku menyimpan rasa yang sama” sambungnya.
Tak lama kemudian bibir Dea menghadirkan senyuman lembut. Rasa bahagia mengalir deras di sekujur tubuhnya. Darah mudanya mengalir cepat bersama degup jantung. ketika Raffa melumat bibir tipisnya. Seketika itu juga rangkulan keduanya semakin erat.
Gemuruh di langit pekat kian mengelegar. Kilat putih berkilau membela angkasa di ufuk barat. Mentari tak terlihat lagi. Bintang yang biasanya sudah terlihat muncul. Tapi terbungkus dengan awan yang menghitam. Hujan langsung tumpah dan alam menjadi saksi cinta mereka.
“Boleh aku memanggilmu dengan kata sayang?” tanya Dea ketika melepaskan tarian bibir dari bibir Raffa.
“Mengapa tidak?” balas Raffa.
“Sayang, aku baru menyadari kalau hujan telah mempersatukan kita” sambung Dea.
“Tidak selamanya hujan menjadi tanda buruk. Sayang hujanya semakin lebat dan hari pun semakin malam. Marilah kita beranjak dari tempat ini” pinta Raffa.
Dua tahun berjalan waktu. Ahkirnya Raffa memilih untuk menikahi Dea. Mereka pun mempersiapakan segala sesuatu yang dibutuhkan dihari pernikahan. Mulai dari undangan kemudian sampai pada acara pernikahan nanti.
Satu hari lagi Dea dan Raffa akan melangkah menuju pelaminan. Raut wajah keduanya pun terbungkus oleh bahagia yang terlampiaskan. Apa lagi langkah menuju kepelaminan direstui oleh masing-masing keluarga. Begitu juga dengan dukungan doa yang datang dari sahabat. Banyak diantara mereka yang mengatakan kalau keduanya pasangan yang serasi untuk disandingkan sehidup dan semati.
Dan pagi ini langit terlihat hitam pekat tanpa sebuah sinar mentari. Gerimis yang mulai merintik bagaikan jarum menghujam kain. Merubah sukmanya menjadi tirai yang lebat. Dea menatap ke arah luar dengan simpulan senyum yang membingkai. Tak kalah jiwanya hendak mendamaikan raga dengan gerimis. Yang saat ini menjadi lebatnya hujan.
“Tuhan, damaikanlah hatiku bersama dengan hujan. Agar hati tak menyimpan benci atas hujan yang tumpah. Kalau boleh biarlah hujan tetap hadir hingga besok sebagai saksi pernikahan kami nanti” bisiknya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Sembari memejamkan mata malasnya untuk enggan beranjak dari kasurnya itu. Akibat lelah tubuhnya saat mempersiapkan acara pernikahannya hingga bermalaman.
Tiba-tiba pintu kamarnya digedor. Dea membukanya dan melihat siapa di balik pintu itu. Ternyata Roy dengan wajah pucat pasi. “Kenapa raut wajahmu Roy?” tanyanya gadis itu sambil menyangulnya rambut yang berantakan.
“Ra… Raaa… Raff… Raf Dea” Sahut Roy dengan nada terbatah-batah.
“Raffa kenapa?” tanya Dea dengan wajah berubah gelisah.
“Aaaa aakk aaku tadi baru mendapat telepon kalau Raffa mengalami kecelakan. Sekarang dii… dia ada di RS Elisabeth. Kitaa susul sekarang” Jelas Roy terbatah-batah.
Berpalinglah Dea dari wajah Roy dan menatap hujan yang semakin lebat dibalik daun jendela kamar. Wajahnya kian memerah dengan mata mulai berkaca-kaca. Seolah hujan tiada jenuh membuatnya kecewa. Timbulah pertanyaan yang mengukir dibenaknya. Apakah benar hujan yang tumpah adalah malapetaka? Ataukah hujan sudah menjadi takdir untuk meleraikan setiap kebahagian?.
Secepat kilat Roy menyambar lengan Dea. Membuat lamunannya pecah seketika “Ayolah Dea kita kesana. Buang jauh gelisahmu kita berharap dia baik-baik saja” sahutnya.
Sesampai di sana Raffa terbaring tanpa daya. Darah segar masih mengucur deras di antara wajahnya. Alat pedeteksi denyut jantung terhenti seketika dan menciptakan garis lurus. Ketika itu juga detak jantungnya berhenti.
Dea langsung teriak histeris memeluk tubuh Raffa yang sudah tak bernyawa. Air matanya tumpah diantara duka yang menikam raganya. Begitu juga dengan suara hujan yang semakin deras diluar sana. Seolah alam turut berduka bersamanya.
“Rafffaaaaaa, jangan pergi Raffa!!!” Teriaknya sambil merontak disamping jasad Raffa. Roy yang berada di situ mencoba memeluk dan menenangkan Dea.
Harapan Dea agar bisa hidup dengan Raffa pudar seketika. Janur kuning yang disulam untuk siap dipajang. Kini berganti kain putih yang tergantung digerbang rumah. Sebagai tanda bahwa bahagia berubah menjadi duka.
Kecupan hangat mendarat di atas kening dan menyadarkannya. Dengan sisa beningan air mata Dea membuka kedua matanya. Tampak sedikit kabur bayangan wajah seorang pria yang berjarak bebarapa senti dari dahinya. Suara gemuruh hujan perlahan terdengar semakit kuat.
“Raffa jangan tinggalkan aku” Seru Dea sambil memeluk Raffa yang duduk di samping kasurnya.
“Kamu kenapa sayang? Apakah kau habis bermimpi buruk?” Tanya Raffa.
“Aku bermimpi bahwa kau meninggal” sambil membenamkan wajahnya ditubuh Raffa dan menahan isak tangis.
“Sudahlah jangan bersedih aku masih di sampingmu sayang. Lagi pula mimpimu itu pertanda bahwa aku akan berumur panjang” jelas Raffa.
Raffa meletakkan lututnya di atas lantai. Kemudian berlutut di hadapan Dea yang masih duduk di samping kasur “Sayang percayalah semua baik-baik saja. Ingat besok hari bahagia kita tak usah menyimpan gelisah. Hari sudah semakin siang. Marilah kita siapkan diri, sudah banyak keluarga kita yang berdatangan” pinta Raffa sembil Dea menganguk dan menyekahkan air matanya.
“Makasih sayang” tutup Dea.
Kecupan hangat menyentuh kening Dea. Kemudian Raffa segera kelaur dari kamar dan menyusul ke ruang tamu.
“Apakah mantan istrimu sudah bangun Raf?” tanya wanita paruhbaya yang tidak lain adalah ibunda Dea.
“Sudah bun dia sudah kupanggil sekarang dia hendak mandi” balas Raffa.
“Maklumlah simpan tenaga untuk besok” guyon paman Raffa yang memecahkan gelak tawa di ruang tamu.