Sepasang mata saling beradu pandang di sebuah ruangan yang tiba-tiba hening setelah seorang pemimpin pertemuan itu mengetuk palu sebanyak tiga kali.
Benar, ruangan itu adalah ruang sidang pengadilan. Hari ini adalah sidang putusan cerai antara Santi dan Abi.
Air mata menetes begitu saja dari sudut mata Santi, dia berusaha untuk tegar dan kuat menerima segalanya tapi ternyata sangat sakit rasa yang dia rasakan di dalam hatinya.
Abi berdiri dan mengulurkan tangan pada Santi. Santi menghapus tangisnya dengan tissue lalu menerima uluran tangan Abi.
"Semoga kamu puas dengan keputusan mu!" ucap Abi lalu pergi meninggalkan Santi seorang diri yang meneruskan tangisnya di ruangan itu.
Mereka memutuskan untuk berpisah secar baik-baik. Bahkan mereka pergi ke pengadilan ini hanya berdua.
Santi dan Abi sudah menikah selama lima tahun, dan dalam waktu lima tahun itu mereka belum di karunia buah hati.
Beberapa bulan yang lalu mereka berdua periksa ke dokter dan menyatakan bahwa Santi memang tidak bisa memiliki keturunan.
Awalnya Abi bisa menerima kenyataan itu bahkan menawarkan pada Santi untuk mengadopsi seorang anak. Tapi kenyataan berkata lain, Ibu Abi, mantan mertua Santi mempertemukan Abi dengan Dian seorang wanita yang dulu pernah menjadi pacar Abi sewaktu kuliah.
Ibu Abi bahkan selalu membandingkan Santi dengan Dian dan hal itu membuat Santi lama-lama jadi tidak tahan.
Ibu Abi meminta Santi menyetujui Abi menikah lagi dan harus rela di madu. Santi menangis tersedu-sedu mendengarkan apa yang di katakan oleh ibu mertuanya itu.
Tapi daripada di madu, Santi memilih untuk bercerai.
"Apa kamu yakin bisa hidup tanpa aku?" tanya Abi pada Santi.
"Aku bisa.."
"Tapi aku tidak bisa Santi, aku sudah katakan pada ibu agar melupakan ide gila itu. Aku tidak akan menikah lagi!" ucap Abi.
Saat itu Santi begitu bahagia, dia mengira semua kan berjalan seperti semula. Tapi dia salah ibu Abi merencanakan hal lain.
Tiga bulan kemudian, Dian datang menemui Santi dengan membawa tes pack kehamilannya dan surat dokter yang menyatakan bahwa dia hamil.
"Lalu apa hubungannya kamu hamil dengan kamu memintaku bertemu disini?" tanya Santi.
"Ini adalah anak Mas Abi!" jelas Dian.
"Kamu harus merestui pernikahan kami Santi, aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang ayah!" ucap Dian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak percaya!" jawab Santi.
"Kamu bisa tanyakan pada mas Abi, dia dan aku melakukan nya atau tidak. Ibu Rani bisa menjadi saksi bahwa malam itu kami bersama!" jelas Dian.
Bak, di sambar petir di siang hari. Santi sangat sedih dan terluka mendengar penuturan Dian.
"Tidak, tidak mungkin..." ucapnya sambil berlari meninggalkan Dian.
Santi masih berusaha untuk percaya pada suaminya dan melupakan apa yang Dian katakan. Hingga suatu malam, Santi mendengar suaminya mengigau dan terdengar seperti sedang membantah ucapan ibunya.
Santi sangat sedih, dia tidak ingin menjadi penyebab Abi melawan ibunya hanya demi membelanya yang memang tidak sempurna.
Akhirnya Santi mengambil keputusan untuk melepaskan Abi.
Santi juga tidak mengatakan bahwa perpisahan ini adalah demi kebahagiaan Abi.
Beberapa bulan setelah bercerai dan setelah Dian melahirkan, Santi mendengar kabar bahwa Abi telah menikah dengan Dian.
Hati Santi yang rapuh itu pun semakin rapuh, setiap malam bahkan dia tidak bisa tidur dengan nyenyak dan tanpa sadar menyebut nama Abi dalam tidurnya.
Sungguh tidak mudah melupakan Abi yang sudah mengisi hidupnya selama lima tahun lebih