Tepat ketika fajar menyingsing menggantikan bulan. Disitulah kegaduhan terjadi. Bukan suara burung berkicau atau kokokan ayam yang menyambut, ini bahkan lebih keras dari itu.
Ini disebut teriakan Seokjin di pagi hari.
Agus yang merupakan teman sekamar Seokjin sampai menyumpal telinganya dengan bantal. Teriakan Seokjin terus menggema sampai semua isi Kost pak Lee mendadak rajin, sebab semua nyaris bangun pagi setiap hari. Walaupun setelahnya tidur lagi.
"Lo nyari apaan sih?" Tanya Agus ketika sudah tak tahan lagi. Kupingnya hampir melepaskan diri dari kepala Agus lantaran tidak tahan menerima gelombang suara yang masuk.
"Kaos kaki gue! Beda sebelah. Ketuker sama punya Lo?" Tanya Seokjin sembari memperlihatkan dua kaos kaki berbeda warna.
"Maaf, gue nggak pake kaos kaki merk itu." Seokjin mengamati kembali kaos kaki miliknya. Satu berwarna putih dan satu lagi berwarna merah. Tentu ini semua milik Seokjin sebab disini yang memakai kaos kaki dengan merk ini hanya dirinya. Seokjin ingat betul ia sengaja membeli merk yang ini agar tidak tertukar dengan milik yang lain. "Lah terus kaos kaki gue kemana dong?" Tanya Seokjin.
Agus berdecak sebal. Perkara kaos kaki dirinya harus terbangun dari mimpi indahnya. Lihat saja nanti Agus bakar saja semuanya biar selesai.
"Lo pikir gue nyokap Lo? bisa nyari kaos kaki yang ilang? cari sendiri lah." Agus sudah bersiap menarik selimutnya kembali tetapi Seokjin menarik ujung selimut tersebut hingga kembali tersingkap.
"Apalagi sih?" Tanya Agus kesal. Tolong dong, jadwal tidur Agus tidak panjang. Jangan diganggu, apalagi nanti siang ia ada kelas.
"Gus, Lo kan abnormal. Lo pasti tau dimana kaos kaki gue." Seokjin merengek sembari menarik kaos milik Agus. Sementara disini Agus terdiam sebab berfikir keras. Bukan karena sedang melihat dimana persis nya kaos kaki milik Seokjin menghilang. Tetapi kata yang dipakai Seokjin seperti tidak sinkron.
"Heh, maksud Lo nyebut gue abnormal apa?" Seokjin menaikkan sebelah alisnya. "Loh itu kan sebutan buat yang punya Indra keenam." Terang Seokjin.
"Paranormal Weh. Pa.ra.nor.mal. Bukan abnormal. Kalau abnormal itu nggak normal." Banyak sekali kata normal yang harus Seokjin cerna pagi-pagi. Bukankah seharusnya Agus tak menambah beban pikiran Seokjin? Kehilangan kaos kaki saja sudah membuat Seokjin pusing.
"Terserah Lo deh, tapi kasih tau gue dimana kaos kaki gue."
Akhirnya setelah berperang batin, Agus memutuskan untuk membantu teman sekamarnya itu. ia mencoba fokus mencari dimana kaos kaki Seokjin berada.
setelah beberapa saat Agus membuka mata sembari terkejut. Ia menatap Seokjin lekat-lekat.
"kenapa Lo udah Nemu?" tanya Seokjin yang penasaran akan ekspresi Agus.
Agus menatap tajam Seokjin. Tidurnya terganggu hanya karena kaos kaki? Agus benar-benar akan membakar kaos kaki itu sekarang.
"Lo kenapa Gus?"
"Kaos kaki Lo nggak hilang sebelah. Yang itu kena lunturan warna merah." Terang Agus hingga membuat Seokjin terdiam. Ia berfikir sejenak.
"Ah iya gue baru inget. Gue udah bosen sama warna putih. Jadi gue bikin eksperimen ngewarnain kaos kaki gue biar jadi merah." Ucap Seokjin, dengan tersenyum lebar pula. Agus sampai membulatkan mata dengan mulut terbuka lebar.
"Tapi gue harus gimana ya? Gue lupa ngewarnain yang sebelah lagi. Mana gue harus cepat-cepat ke kampus." Seokjin merubah ekspresi menjadi sendu.
Hingga akhirnya Agus yang kesal pun mendekati Seokjin, merampas kedua kaos kaki itu lalu membuangnya ke arah jendela lantai dua. Agus berbalik, menatap Seokjin dengan tatapan puas.
"kelar kan?"